
Happy reading yay !!
##
Aku membuka mata saat merasakan sepasang lengan hangat memelukku, dan usapan lembut di rambutku, bahkan beberapa kali kecupan di keningku.
Dan aku langsung ingat kalau tadi aku pasti ketiduran.
Aku hendak menjauh saat menyadari Sam tengah memelukku, tapi dia mengeratkan pelukannya dan membawa kepalaku ke dadanya.
“Aku minta maaf.” Bisik nya dengan suara bergetar. “Aku minta maaf, Adelia.” Ujarnya seperti menahan tangis.
Aku hanya diam.
“Aku kekanakan, aku berlebihan, aku posesif aku tahu itu. Aku mengabaikan kamu, melimpahkan semua kesalahan ke kamu padahal aku tahu itu kesalahanku. Tapi aku sama sekali tidak mau mengakui bahwa di sini adalah salahku. Aku egois.” Bisik nya pelan.
Aku memilih untuk tidak memberinya respon apa-apa.
“Seharusnya aku bilang sama kamu soal aku ingin di panggil dengan sebutan yang lebih lembut, seharusnya aku lebih perhatian ke kamu, seharusnya aku bisa ngertiin kamu. Tapi ternyata aku salah. Aku nggak bisa.” Sam memberi jeda sesaat.
“Bukankah dulu memang aku yang meminta agar kamu memanggilku dengan sebutan Sam. Harusnya aku sadar dan ingat ... aku benar-benar merasa konyol karena sudah marah hanya karena sebuah panggilan.”
Aku meremas kaos yang Sam kenakan dan kembali menangis di dadanya.
“Maafkan aku, maaf.” Bisik nya menangis di rambutku. “Aku nggak pernah memikirkan kamu selama ini. Aku selalu sibuk dan mengabaikan kamu, nggak pernah ada di sisi kamu setiap kamu butuh aku.” Tubuh Sam bergetar. “Pagi tadi, saat aku bangun dan kamu nggak ada, kamu nggak akan tahu betapa paniknya aku. Takutnya aku menyadari kamu meninggalkan aku. Dan tadi ...” dia memelukku lebih erat. “Saat kamu bilang capek menghadapi aku, aku takut, Del ... Aku takut.”
Aku menggeleng. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu padanya. Aku hanya sedang emosi dan tidak bisa mengendalikan ucapan ku.
“Aku minta maaf.” Bisik nya sekali lagi lalu mengurai pelukan dan mengusap pipiku yang basah. “Maaf belum bisa menjadi suami yang sempurna untuk kamu.” Dia mengusap air mataku dengan ibu jarinya. “Jangan tinggalin aku. Tolong.” Mohon nya dengan mata memerah.
Aku memeluk lehernya erat. “Aku yang salah.” Bisik ku pelan. “Aku nggak butuh suami sempurna. Aku Cuma butuh kamu yang meluangkan sedikit waktu untuk aku, kesepian itu rasanya nggak enak.”
“Aku yang salah.” Ujarnya pelan. “Aku yang salah. Aku yang nggak pernah memikirkan perasaan kamu.”
“Kalau begitu kita berdua salah.” Ujar ku kemudian, memeluknya lebih erat. “Kamu salah dan aku juga salah. Kita sama-sama salah.”
Kami berdua salah. Aku tidak mengajaknya bicara dan dia juga tidak berniat bicara. Kami kehilangan komunikasi akhir-akhir ini dan membuat semuanya menjadi kacau.
Demi Tuhan, harusnya dia tahu kalau sampai kapanpun aku tidak akan pernah sanggup pergi dari hidupnya.
Sam menenggelamkan wajahnya di leherku. Untuk menyembunyikan air mata yang mulai menetes dari matanya. Aku ikut menangis melihatnya, dan untuk pertama kalinya aku melihat Sam menangis dan itu karena dia takut kehilangan aku.
••
“Jadi kamu mau di panggil, Mas?” aku bertanya sambil berbaring di atas dadanya, tangannya memelukku erat.
Sam menggeleng. “Aku rasa itu sudah nggak penting. Aku kekanakan hanya karena sebuah panggilan.”
Aku mendongak, mengusap matanya yang memerah. “Jadi kamu mau di panggil apa? Sayang?”
Sam terkekeh pelan, mencium keningku. “Itu lebay.” Ujarnya geli.
Aku ikut tersenyum geli. “Jadi aku harus panggil apa? Tetap Sam?”
“Kalau Mas aku merasa jadi Tristan sama rekan dosen kamu itu. Dan lagian Mas itu nama panggilan dari Vino untuk aku kan?” Sam tampak berpikir. “Nggak ada yang cocok rasanya.”
Aku tertawa pelan dan mengecup dada bidangnya. “Jadi aku harus gimana?”
Sam tersenyum dan mengusap mata sembabku. “Tetap seperti biasa saja, Sam.”
Aku tersenyum, membelai tubuh polosnya. “Nanti aku pikirin panggilan yang cocok buat kamu.”
Sam tertawa. Seolah tahu apa yang ada di dalam kepalaku. “Jangan yang aneh.”
Aku terkikik sambil mengecup bibirnya. “Oppa?”
Sam tertawa geli sambil menggeleng. Aku mengangguk mengerti lalu memeluknya lebih erat, meletakkan kepalaku di dadanya.
“Sam.”
“Hm.” Sam bergumam dengan tangan membelai rambutku.
“Kita baik-baik aja?”
__ADS_1
“Ya, kita baik-baik aja.” Jawabnya tegas.
“Meski belum ada anak?” Tanyaku sedikit ragu.
Sam mengangkat wajahku agar menatapnya. “Aku tidak ada masalah dengan itu, ada atau tidak adanya anak, kamu tetap orang yang paling aku butuhkan selama ini.”
Mataku kembali berair.
“Jangan nangis. Kamu jelek.” Ledeknya dan berhasil membuat aku tersedak tawa dan juga air mata. “Aku Cuma butuh kamu. Aku nggak butuh yang lain lagi.”
Air mataku kembali mengalir deras. “Tapi kamu pasti ingin punya anak.”
“Aku memang ingin, tapi bukan berarti aku harus memaksa harus ada. Aku Cuma mau kamu, Adelia. Cuma kamu.” Bisiknya mencium bibirku lembut.
Aku memeluk tubuhnya. “Jangan terlalu sering lembur, aku kesepian.”
Sam balas memelukku. “Aku minta maaf, aku sudah membagi pekerjaan dengan Aroon. Akhirnya dia mau terjun ke perusahaan kakek juga. Mulai besok aku nggak akan lembur lagi.” Bisiknya sambil mengecup puncak kepalaku.
“Janji?”
“I promise.” Bisiknya sungguh-sungguh. “Setahun ini aku hampir saja kehilangan kamu. Aku nggak mau itu terjadi.”
Aku tersenyum. Mengangguk dan mengecup bibirnya.
Sam tersenyum tipis. “Pernikahan. Kata orang memang tahun pertama itu yang tersulit.”
Aku menatapnya lama. “Tapi kita bisa melewatinya kan?”
Sam mengangguk lalu kembali mengecup bibirku. “Selama kita selalu bersama. Kita akan selalu bisa melewatinya.”
Sam mencium bibirku lagi, bahkan kini mulai menggigit kecil bibir bawahku hingga membuatku menggelinjang geli.
Semua akan baik-baik saja. Aku percaya itu, selagi Sam ada di sampingku, menggenggam tanganku dan memelukku seperti ini, semua akan baik-baik saja. Bukankah memang seperti itu yang selama ini aku pikirkan.
Karena dia suamiku.
Benar kan?
Suamiku Sam adalah lelaki yang mempunyai ego yang besar, maka sebagai istri aku harus pandai menempatkan situasi. Kini aku baru mengerti makna dari ucapan Mama. Tidak hanya Sam, aku juga merasa kekanakan.
Tapi bukankah semua ini proses dalam mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya? Tidak ada jalan yang benar-benar mulus untuk mencapai tujuan yang di inginkan, akan selalu ada batu, kerikil dan jurang penghambat. Tergantung manusia mau menyerah atau memilih terus melangkah, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan setelah melewati hambatan tersebut.
••
Aku dan Sam menatap kunci motor Vespa yang Papa ulurkan padanya. “Buat kamu.” Ujar Papa pada Sam.
Sam meraihnya dan menatapku. Lalu menatap Papa. “Motor Papa, buat saya?”
Papa mengangguk, membelai Juki yang terawat baik. “Papa belum kasih kado pernikahan buat kalian.” Ujar Papa sambil menatap sayang pada Vespanya. “Mau kasih uang, kamu punya lebih dari yang Papa punya. Mau kasih barang, kamu punya semua barang yang kamu mau. Jadi akhirnya Papa putuskan untuk kasih kamu salah satu yang paling berharga yang Papa punya.”
Sam merangkul bahuku. “Papa sudah kasih Sam hal yang tak ternilai. Harta yang paling Papa jaga selama ini.”
“Elaaaah, adem banget kata-katanya. Habis ini jadi film keluarga Cendana nih kayaknya.” Celetuk Vino yang baru saja datang dan memarkirkan motornya di depan rumah.
“Lo merusak suasana aja sih, Vin.” Tukasku sedikit kesal.
Vino hanya terkekeh sambil mengangkat bahu seperti orang tak berdosa, setelah itu berlari masuk ke rumah. Sam dan Papa ikut tertawa.
Papa kemudian tersenyum dan menatap ke arahku. “Papa tahu Adel adalah yang paling berharga buat Papa. Termasuk bocah semprul yang baru aja lewat tadi.” Kami terkekeh bersama. “Tapi, Papa tetap ingin kasih kamu sesuatu.” Ujar Papa ngotot.
Aku meletakkan kepala ke dada Sam. Aku tahu betapa berharganya Vespa itu bagi Papa. Vespa yang menjadi saksi perjalanan hidupnya bersama Mama, Vespa itu sama tuanya dengan usiaku. Jadi mendengar Papa memberikan Vespa itu kepada Sam, membuatku mengerti kalau Papa tidak hanya menganggap Sam sebagai menantu, melainkan putranya sendiri.
“Papa yakin mau memberikan Vespa kesayangan Papa ini buat Sam?”
Papa mengangguk mantap dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang kamu punya dua harta berharga Papa yang harus kamu jaga baik-baik.”
Aku mendengus. “Papa menyamakan aku sama motor?”
Sam terbatuk menyembunyikan tawanya sedangkan Papa melotot.
“Ya kali, cukup Mama aja yang di tigakan sama Juki dan Jazzy, Papa mau bikin aku di tigakan juga sama Vespa dan kerjaan Sam?” aku mendengus kesal, lalu Sam merangkul pinggangku.
“Ngambekkan.” Bisiknya mengecup pipiku di depan Papa.
__ADS_1
Aku mencubit perutnya dan dia hanya tertawa.
“Kamu sama Mama, sama aja. Ngomel mulu, kayak bebek.” Ujar Papa melangkah masuk ke dalam rumah.
“Tuh, tuh. Papa juga sama kayak Sam, mulutnya minta di cabein.”
“Kok aku yang salah?” Sam menggigit ujung hidungku.
“Iya tetap kamu yang salah.” Ujarku tidak mau kalah.
“Ck, this woman.” Dia berdecak sambil mencubit pipiku. “Makan mie ayam lagi, yuk.” Ajaknya sambil menarikku mendekati Juki yang sudah bersih di garasi.
Aku memutar bola mata. Kami baru saja selesai makan siang tiga puluh menit yang lalu. “Yang benar kamu masih lapar, Sam? Tadi udah makan banyak lho.”
Sam tertawa, memasangkan helm ke kepalaku. “Masih pengen makan lagi. Gimana dong?”
Aku hanya berdecak dan duduk di belakangnya, memeluk pinggangnya yang mulai mengendarai Vespa keluar dari halaman rumahku.
••
Keadaan menjadi jauh lebih baik. Sejak Sam membagi pekerjaan dengan Aroon. Seharusnya dari dulu memang seperti itu. Dia tidak lagi terlalu sibuk.
Malah aku mulai berpikir kalau Sam jadi malas bekerja, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau menungguku mengajar di kampus. Bahkan terkadang Aroon dan Raffael akan tiba-tiba datang ke rumah kami dan marah-marah ke Sam, menuduhnya tidak tanggung jawab dengan pekerjaan. Dan kalau kalian pikir Sam tersinggung dengan ucapan Aroon, kalian salah.
Sam tidak peduli dan bodo amat.
Sejak aku dan Sam menempati rumah ini. Apartemen yang dulunya di tinggali Sam kini menjadi milik Raffael dan Aroon. Namun berhubung Raffael beralasan jika tinggal bersama Aroon, dia tidak bisa bebas maka dari itu dia membeli satu apartemen lagi yang berada tepat di samping apartemen Sam dulu. Mereka tinggal di sana setelah bekerja di perusahaan Sam, dan akan menginap di rumah kami ketika hari libur.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
.
.
.
.
.
.
.
.
##
Ya begitulah pernikahan...
Kehidupan rumah tangga memang tak bisa di samakan dengan hubungan sewaktu pacaran. Yang dulunya pacaran kelihatan adem-adem aja, toh ... nyatanya tidak bisa menjamin kalau setelah menikah juga bakalan adem.
Menikah itu bukan hanya sekedar hidup bersama, tapi menikah itu menyatukan dua sifat yang berbeda. Sikap, pendapat, ego dan segalanya.
Yang namanya masalah pasti akan selalu ada. Walaupun mungkin kebanyakan orang akan lebih memilih menyembunyikan dan menunjukan hal yang baiknya saja. Toh, aku juga tidak memungkiri kalau masalah pasti muncul walau hanya segelintir upil. wkwkwkwk...
Saling terbuka, mengerti, percaya, mengalah dan komunikasi mungkin itu contoh kecil yang bisa dilakukan untuk menyatukan dua perbedaan dalam pernikahan.
Duh, malah jadi ceramah kan... Haha
Ya kurang lebih seperti itulah pesan yang bisa di ambil dari masalah Adelia sama Sam.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote yey !!!! ❤️