
Happy weekend all, jangan lupa selalu bahagia ya...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Akhir-akhir ini aku sangat suka mengganggu Sam. Entah dia sedang tidur atau sedang makan. Aku suka memperhatikan rahangnya saat sedang mengunyah, dia sering kali kaget saat aku tiba-tiba mencium rahang dan mengecup pipinya. Aku juga suka sekali mengamati wajah Sam ketika dia sedang tertidur. Atau saat dia sedang asyik bermain game, aku akan memeluknya dari belakang sambil menutup matanya.
Sam tidak akan marah, hanya mendelik dengan wajah datar dan melanjutkan permainannya. Mengacuhkan aku yang terkadang duduk di pangkuannya.
Dan satu hal lagi yang terasa sedikit aneh bagiku, aku begitu menyukai bau badan Sam akhir-akhir ini. Aku suka sekali mengendus leher, dada bahkan ketiaknya. Sampai terkadang Sam risih dengan kelakuanku tersebut. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi yang pasti rasanya begitu nyaman dan menenangkan ketika aku bisa mencium bau badannya.
“Sam.” Aku tengah merebahkan kepala di pangkuannya, sedangkan Sam sedang menonton TV.
“Hm.” Dia hanya bergumam.
“Nanti anak kita mau di kasih nama siapa?” tanyaku sambil menatap wajahnya dari bawah.
Sam menoleh ke bawah. “Aku masih belum kepikiran buat cari nama.” Ujarnya jujur. Aku hanya memutar bola mata. “Lagian kita belum tahu jenis kelaminnya, baby boy or baby girl.” Sambungnya sambil kembali fokus pada TV.
“Itu juga karena kamu bilang sama dokter untuk di rahasiakan.” Ujar ku sewot sambil bangkit duduk dan gantian meletakkan kakiku di pangkuannya.
“Aku lebih suka jadi kejutan.” Ujar Sam sambil mulai memijit kakiku dengan gerakan pelan. “Kata Papa kalau baby boy harus ada Gavin nya seperti namaku.”
“Ya iyalah, masa iya Miller kayak nama Raffael.” Ujar ku meraih remote dan mengganti saluran TV, aku bosan setiap kali Sam menonton TV pasti dia hanya menonton berita. Acara yang menyebalkan bagiku.
Sam tidak tertawa, hanya menatapku datar sambil ikut menatap layar TV.
“Kalau baby girl di kasih nama siapa?” Tanyaku lagi.
Sam tampak berpikir. “Memangnya kamu nggak ada ide buat kasih nama? Jangan ngambek lho kalau nanti aku kasih nama sesuai keinginanku sendiri.”
Aku hanya menatapnya datar, karena sebenarnya aku juga sama sekali belum kepikiran. Mungkin besok-besok aku harus meluangkan waktu untuk mencari ide nama deh.
“Acara tujuh bulanannya jadi?” Sam bertanya lagi sambil meraih toples keripik kentang.
“Kata Mama sih jadi. Terus acaranya di rumah kita aja, di sini jauh lebih luas kan dari pada rumah Mama.” Ujar ku.
Berhubung Papa dan Mamaku asli Jawa dan terutama Papaku, jadi mereka tetap memintaku untuk mengadakan acara tujuh bulanan sesuai dengan adat tradisi. Berbeda dengan keluarga Sam, awalnya mereka hanya ingin menggelar acara pengajian saja. Dan berhubung aku tidak ingin timbul perdebatan karena adanya dua budaya yang berbeda, jadi aku putuskan untuk tetap menggelar acara tujuh bulanan seperti biasa. Seperti tradisi di Jawa pada umumnya, setelah itu baru di lanjut acara pengajian.
“Ok.” Hanya itu respon dari Sam.
Dasar ya, Sam itu terkadang memang sangat kaku dan cuek. Tapi bagaimanapun aku mengeluh, dia memang seperti itu. Ada hal-hal yang membuatnya bisa menjadi cerewet, terutama masalah pekerjaan yang harus sempurna baginya. Atau akhir-akhir ini dia mulai sedikit cerewet jika aku terlalu banyak beraktivitas hingga kadang membuatku kelelahan.
Sam bisa menjadi cerewet dengan caranya sendiri.
••
__ADS_1
Di usia kehamilan yang sudah memasuki 25 minggu ini, tak jarang membuatku susah tidur. Sering kali aku kepanasan meski AC sudah berada di suhu terendah, dan juga aku semakin sering pergi ke toilet.
“Sam.” Aku menepuk bahu Sam yang sedang nyenyak tertidur. “Bangun dong.” Rengek ku padanya.
“Hm.” Dia membuka sebelah mata, lalu kembali terpejam. “Kenapa?”
Aku duduk bersandar di kepala ranjang. “Aku nggak bisa tidur.” Ujar ku sambil memainkan rambutnya.
“Kamu lapar?” Sam kembali membuka mata, lalu menguap. Berusaha keras membuat mata itu tetap terbuka.
Di awal kehamilan, dia yang sering kali bangun di tengah malam dan menginginkan sesuatu. Tapi, di usia kandungan yang mulai memasuki dua puluh lima minggu ini, lebih sering aku yang terbangun dan menginginkan sesuatu.
“Aku haus.”
Sam bangkit duduk, meraih gelas yang ada di nakas lalu menyerahkannya padaku.
“Nggak mau itu.” Aku menggeleng mendorong gelas itu menjauh.
“Terus?” Sam menaikkan kedua alisnya.
“Aku mau susu coklat, tapi kamu yang bikin.” Ujar ku manja.
“Ya udah, tunggu di sini.” Sam bangkit ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Tak lama dia datang sambil membawa segelas susu coklat hangat untukku. Aku menerimanya sambil tersenyum.
“Jangan tidur dulu.” Ujar ku sambil menahan tangannya yang hendak berbaring.
Sam tampak menguap beberapa kali, berusaha keras agar matanya tetap terbuka. Aku merasa kasihan melihatnya, tapi aku juga tidak ingin merasa bosan sendiri.
“Nyanyi dong buat aku.” Ujar ku sambil menatapnya.
“Nyanyi?” Sam melirik jam yang menunjukkan pukul satu malam.
Aku mengangguk antusias. Sam segera menarik bahuku, lalu memeluk tubuhku ke dalam dadanya. Aku pun melingkarkan tanganku di pinggang Sam dan bersandar nyaman di dadanya.
“Lagu apa?”
Aku menggeleng. “Terserah kamu.”
Dia diam sejenak, lalu mulai bernyanyi. Aku sangat suka mendengarnya bernyanyi, suaranya terdengar begitu indah di telingaku. Aku tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya. Aku terus mendengarkan suara Sam bernyanyi, sambil memejamkan mata ketika aku merasakan sebuah gerakan samar ... Aku terdiam. Dan Sam juga terdiam menatapku bingung.
“Kenapa?” dia berhenti bernyanyi, melepaskan pelukannya pada tubuhku. Menatapku cemas saat aku meringis sambil memegangi perut. “Perut kamu sakit?”
Aku menggeleng saat gerakan samar itu berubah semakin jelas. Dan kali ini, gerakan itu seolah-olah ingin menunjukkan padaku bahwa dia sedang bertumbuh di dalam sana.
“Sam.” Aku meraih tangan Sam.
“Kenapa?” wajahnya mulai pucat.
Aku menatapnya berkaca-kaca, meremas tangannya semakin kuat. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku meletakkan tangan Sam di perutku dan menunggu. Sam juga diam, menatap perutku lekat.
__ADS_1
Aku dan Sam lalu terkesiap bersama, terkejut dengan perasaan bingung dan juga bahagia.
“A-anak kita bergerak?” Sam semakin mendekat. Meletakkan kedua tangannya di perutku dan kembali menunggu. Lalu dia tertawa saat kembali merasakan gerakan tepat di telapak tangannya, seolah anaknya sengaja menyapa Daddy-nya.
“Dia bergerak.” Ujar ku menahan haru.
“Ya.” Sam mengerjap dengan mata basah. “Lagi dong, sayang. Once again, kick Daddy, please.” Bujuknya dengan suara lembut.
Dan seolah mengerti, anak kami kembali menendang di dalam sana. Sam tertawa sambil mengusap pipinya, begitu juga aku. Sam mengusap ujung matanya lagi, lalu menatapku sambil tertawa.
“Hai, sayang.” Sapanya pada perutku dan mengecupnya lembut. “Daddy udah nggak sabar untuk bertemu kamu.”
Aku tersenyum dengan air mata yang tiba-tiba mengalir. Aku mengusap rambut Sam saat dia meletakkan kepalanya di pangkuanku, membelai perutku dan mengajak anaknya bicara.
“Di dalam sempit ya?” tanyanya, seolah-olah bayi dalam kandunganku mengerti dengan ucapannya. “Kenapa belum tidur? Mau ikut dengerin Daddy nyanyi ya?” tanyanya lagi pada perutku.
Aku hanya tersenyum geli, terus membelai rambut Sam dan membiarkan dia mengajak anak kami berbicara.
••
“Kamu ngapain?” aku menatap Sam yang tengah bersila di sofa, dengan sepiring nasi goreng di tangannya.
“Makan.” Jawabnya sambil mengunyah.
Aku melirik jam yang menempel di ruangan ini. “Nggak ke kantor?”
Dia menggeleng. “Minum dong, Del.”
Aku mendengus sebal, salah satu kebiasaan Sam adalah makan tanpa membawa air minum.
“Makanya kalau makan bawa minum sekalian.” Sam hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan aktivitas makannya. “Bisa apa kamu tanpa aku?” omel ku sambil bangkit berdiri.
“Bisa gila.” Jawabnya santai sambil menatap televisi.
Dan siaalnya aku malah terpana. Siaal, dia itu paling bisa membuatku senyum-senyum tidak jelas seperti ini.
Dasar suami tampan!
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1