
Happy Sunday semua ...
Bahagia semua kan??
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
‘First love is amazing, but the last love is a Perfect'
☘️☘️☘️☘️
Malam ini terasa begitu mendebarkan. Rumahku sejak beberapa hari yang lalu sudah sangat ramai karena kedatangan sanak saudara dari Mama maupun Papa. Aku dan Sam sudah menjalani masa pingit selama enam hari, ya hanya enam hari tapi rasanya sudah rindu sekali. Maklum, biasanya ketemu terus. Semua perasaan bercampur aduk jika mengingat hari esok.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, kulihat nama 'Sayang' tertera di sana. Aku segera menggeser tombol dan mengangkat panggilan dari Sam.
“Kok nggak video call aja sih aku kan kangen.” Aku langsung menodong Sam dengan pertanyaan tersebut ketika panggilan tersambung.
Terdengar suara kekehan pelan dari seberang sana.
“Kan kita masih di pingit nggak boleh dong.”
Aku tersenyum. “Nggak asyik kamu.” Aku seperti mendengar suara keributan di sekitar Sam. “Siapa tuh?”
“Saudara-saudaraku, mereka sejak tadi memaksa akan mengadakan pesta pelepasan masa lajangku.”
“Hah?” aku mengernyit heran. “Pesta melepas masa lajang? Kamu jangan bilang kalau bakalan ada penari telanjangnya ya, awas kamu.”
Setahuku tradisi orang barat memang seperti itu, sebelum melepas masa lajang pasti mereka akan mengadakan pesta dengan menghadirkan penari wanita yang akan bertelanjang di depan calon pengantin.
Sam terkekeh. “Yang ada Raffael sama Kai yang akan telanjang.”
Aku langsung tertawa mendengarnya, ya semoga saja seperti itu. “Hati-hati dan sampai bertemu besok pagi.” Entah kenapa hanya dengan mengucapkan kalimat tersebut membuat jantungku berdebar keras sekali.
“Iya, jangan gugup. Aku akan menunggumu di depan semua orang besok. Good night, sayang.”
Aku langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur lalu berguling-guling. Aku tidak boleh gugup. Sekarang lebih baik tidur supaya besok kelihatan cantik.
•••
Dan akhirnya hari ini tiba. Saat dimana Sam akan menjabat tangan Papa dan mengucapkan ijab disana pukul delapan pagi nanti.
Aku dan keluargaku sepakat mengadakan resepsi pernikahan di Balai desa kompleks rumahku. Karena aku sangat suka sekali dengan tema outdoor dan ternyata Balai desa kompeksku sangat mendukung sekali, dengan bangunan utama yang menyerupai pendopo dan halaman yang hijau dan luas.
Seluruh akses jalan masuk ke kompleks perumahanku di tutup untuk umum. Keluarga Sam juga sudah menyiapkan sejumlah keamanan khusus untuk acara pernikahan kami. Hanya teman dan kerabat dekat yang memiliki undangan yang di perbolehkan masuk. Tidak boleh ada wartawan ataupun sejenis media berita lainnya yang boleh masuk dan meliput acara pernikahan ini.
“Kok kamu nggak milih acara di gedung mewah aja sih, Mbak. Malah milih di kampung seperti ini.” Aku mendengar Tante Nurma mulai bicara.
Aku dan Mama tengah di rias oleh make up artis terkenal yang menjadi langganan Bunda Eliza.
“Hm.” Mama hanya bergumam sambil menatap kaca.
Tante Nurma mengangguk-angguk. Lalu menatapku. “Kamu minta mahar apa, Del? Dewi dulu maharnya seratus juta lebih.”
“Maharku nggak sampai segitu, Tan.” Ujarku berdiri di depan kaca besar, dimana asisten make up artis tersebut tengah membantuku mengenakan kebaya pernikahan.
“Ck, kalau mahar seperangkat alat sholat, beli sendiri juga bisa kali, Del.” Cibirnya sambil memperbaiki sanggul besarnya.
Ini kenapa sih? Dimana-mana kok banyak banget tukang nyinyiers. Aku tidak meminta pendapat orang untuk mengomentari pesta pernikahan yang akan kami laksanakan. Karena ini hanya acara keluarga dan teman dekatku saja. Dekorasi memang tidak terlalu mewah namun terlihat pas bagiku, sesuai dengan tema yang aku inginkan hari ini. Tapi Tante Nurma bilang, dekorasi halamannya terlihat biasa saja baginya.
Aku benar-benar tidak peduli. Terserah mau berkomentar apa. Bagiku ini sudah terasa sempurna. Apalagi nanti siang aku dan keluargaku akan langsung terbang ke Nusa Dua untuk mengadakan pesta yang kedua yang diadakan keluarga Sam. Jadi dari pada bolak-balik macet di jalanan mending di sini kan, bagus dan menghemat waktu.
__ADS_1
•••
Aku meremas tangan Mama sambil menatap layar besar TV yang ada di kamar rias yang aku tempati dari tadi. Sam duduk di depan Papa dengan mengenakan beskap putih. Serasi dengan kebaya yang kukenakan saat ini.
“Nanti sama suami jangan malas-malasan ya.” Mama berujar sambil meremas jemariku, suaranya terdengar serak menahan tangis.
“Iya.” Ujarku, entah kenapa aku juga ingin menangis.
“Jangan suka marah-marah nggak jelas. Nanti suami kamu pergi baru tahu rasa.”
Aku mengerucutkan bibir. “Kayak Mama nggak suka marah-marah aja sama Papa.” Ujarku sewot.
Mama tertawa sambil mengusap ujung matanya dengan tisu. Aku tersenyum menatap Mama, lalu memeluk Mama sambil memperhatikan Sam yang mulai menjabat tangan Papa dan mengucap ijab. Jantungku berdetak lebih cepat saat mendengar suaranya mengucapkan ijab dalam satu tarikan nafas.
Aku pun ikut menahan nafas.
“Saya terima nikahnya Adelia Rinjani binti Pramono Sulistyo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!”
“Bagaimana? Sah?” penghulu bertanya kepada dua orang saksi.
“Sah!” ujar Ayah Reino, selaku salah satu saksi pernikahanku dengan lantang.
Aku melihat Sam mengerjap dan mengusap pipinya. Dia menunduk sambil tersenyum. Dan aku ikut menunduk untuk menyembunyikan air mataku.
“Jangan nangis ih, jelek.” Mama mengajakku berdiri, namun aku masih tetap mengeluarkan air mata sama seperti Sam di depan sana. Air mataku berjatuhan tanpa bisa kuhentikan.
“Ma ...” aku memeluk Mama sambil menangis haru di bahunya. Seolah ada kilasan kehidupan yang telah ku jalani berjalan bagai film dalam benakku.
Saat aku masih kecil dan Papa sering menggendongku, saat Papa mengantarku ke sekolah setiap pagi dengan motor Vespanya, saat aku masuk SMA. Dan saat Mama dan Papa menangis haru di hari wisuda sarjanaku.
Kilasan masa lalu yang membuat dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang membahagiakan.
“Sekarang kamu sudah jadi istri.” Mama mengusap air mataku dengan jemarinya, tapi wajah Mama sendiri juga bersimbah air mata. “Anak Mama udah gede.” Ujarnya dengan suara serak lalu memelukku sekali lagi.
“Jangan lupakan Mama ya, Del. Sering-sering ke rumah jenguk Mama, Papa dan Vino. Mama sama Vino pasti bakalan kangen berantem sama kamu.”
Selama hidupku aku tumbuh besar dan menjalani hidup dengan Mama, Papa dan Vino. Dan untuk pertama kali aku membayangkan akan berpisah dengan mereka. Akan berpisah dengan dekapan Mama saat aku sakit, nasehat Papa saat aku terjatuh dan kekonyolan bersama Vino. Berpisah dengan mereka untuk memulai hidupku sendiri.
Ya Tuhan, rasanya sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Aku mulai berjalan perlahan di samping Mamaku. Aku tersenyum ketika Sam menatapku, walau air mata masih menetes di pipiku. Kami mulai bertukar cincin dan hal tersebut langsung di sambut tepuk tangan dari semua tamu yang hadir.
Kini acara berlanjut dengan sungkeman, aku duduk bersimpuh di hadapan Mama. Aku lihat Mama sudah meneteskan air matanya yang bahkan aku belum sama sekali mengeluarkan sepatah kata.
Aku menatap mata kedua orang tuaku yang selama ini sudah dengan sabar membesarkanku.
Aku menghela nafas sesaat sebelum mengucap kata yang selama ini terpendam dalam lubuk hatiku,
“Persiapan yang ku jalani sungguh sangat melelahkan. Namun semua itu aku lakukan dengan ikhlas dan penuh dengan perjuangan. Di saat aku menemukan seseorang yang tepat dalam hidupku yang ku harap bisa menemani seumur hidup nanti. Dan kini merupakan sebuah perjuangan yang penuh dengan tantangan. Namun aku tak akan bisa melakukan itu semua tanpa bantuan kalian ... Mama dan Papa ...” aku merasakan cairan bening mulai membasahi kedua pipiku.
“Kalian dengan tulus ikhlas membantuku dalam proses peminangan. Kalian tidak pernah mengeluh. Harapan kalian hanya satu ... Ingin melihatku berbahagia dengannya. Dengan orang yang ku pilih untuk menemai hidup baru kelak, dalam ikatan suci pernikahan.” Air mata Mama mulai menetesi punggung tanganku begitu juga aku. Tak pernah aku merasakan perasaan sesak yang begitu mendalam dalam dadaku.
“Di saat aku kesulitan, di saat pikiranku sudah penuh kalian hadir memberikan bantuan. Memberikanku hiburan. Mencoba menguatkan hatiku saat sedang kacau dan terus memberikan semangat serta mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Semua pengorbanan apapun rela kalian lakukan. Materi, tenaga bahkan jiwa dan raga pun rela kalian berikan. Demi melihatku berbahagia dengannya, demi kebahagiaan anakmu tersayang.” Air mataku semakin deras mengalir dan Mama semakin merangkul dan mencium kepalaku.
“Kini aku akan melangkah sendiri dengan jalan hidup yang ku pilih. Bersama orang yang aku sayang, aku tidak akan lagi bergantung pada kalian. Kini aku akan melepaskan diri untuk bisa mandiri. Di saat terakhir, kalian membantu dengan sekuat tenaga. Memberikan yang terbaik hingga semuanya selesai dan aku akan benar-benar lepas dari kalian. Menempuh hidup baru dengan dia yang ku cinta.” Aku menatap Sam dengan air mata berlinang dan dia membalas tatapanku dengan tersenyum.
“Terima kasih Mama ... Terima kasih Papa ... Doakanlah kebaikan selalu menyertai dalam setiap langkah yang ku lalui.” Aku memeluk Mama dan menangis di dalam pelukannya.
Aku sangat cengeng, aku adalah anak Mama dan Papa yang begitu cengeng. Sampai Vino yang duduk tak jauh dari posisi ku saat ini pun berjalan mendekatiku, lalu memberikan sebuah sapu tangan untuk mengusap air mataku.
Dia mencoba tersenyum, walau aku tahu matanya juga begitu sembab. “Hari bahagia lo, Mbak, jangan nangis.” Aku tersenyum pada Vino.
Papa menunduk dan menepuk bahu Sam.
“Papa tidak berharap satu sen pun harta yang kamu punya, yang Papa harap adalah bahagiakan anakku selama-lamanya. Jangan sekali-kali kamu sakiti anakku, jangan sekali-kali kamu mendzalimi anakku apalagi menduakannya ... Karena sakit hatinya anakku akan menyakiti seluruh keluargaku. Papa percaya kamu bisa membimbing putriku. Arahkan anakku ke surga-Nya Allah, dan jangan sekali-kali kamu masukkan anakku ke neraka-Nya Allah. Jadikanlah anakku bidadarimu di surga kelak nanti.” Aku semakin sesenggukan ketika melihat Papa mulai menyeka cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Aku tak menyangka sosok Papa yang selama ini selalu ku kenal tak secerewet Mama dalam mendidik anaknya, Papa yang tidak pernah memarahi ketika anaknya membuat kesalahan, Papa yang selalu terlihat lebih cuek dan tidak sedetail Mama, Papa yang selalu terlihat tegar dan humoris. Tepat di hari ini, di hari pernikahanku Papa menunjukkan sikap lemah lembutnya itu padaku, dia menangis di hadapanku karena akan melepaskan aku untuk hidup bersama dengan laki-laki yang telah menjadi suamiku.
Di keluargaku, setiap kali lebaran ada yang namanya sungkeman untuk memohon maaf dengan orang yang lebih tua, termasuk Mama dan Papa. Dan setiap lebaran aku dan Vino juga selalu menangis. Tapi aku tidak tahu kalau sungkeman di hari pernikahan jauh lebih mengharukan seperti ini.
Tidak cukup kata untuk menggambarkan perasaan yang menyelimutiku saat ini. Aku benar-benar bahagia dan bercampur haru.
••
“Yang udah sah, jangan bikin baper yang belum sah lah. Pake pegang-pegang tangan segala.” Celetuk Rizal yang membuat aku maupun semua yang ada di meja ini tertawa.
Aku dan Sam tengah berbincang dengan Rizal, Mbak Sari, Mas Angga, Tiwi dan Rio. Di sebuah meja yang di atasnya sudah terdapat berbagai macam makanan pembuka maupun pencuci mulut. Jangan tanya ini ulah siapa?
“Sam buat kamu nih.” Mas Angga meraih tangan Sam dan memberikan sebuah bungkus obat kuat.
Ya Tuhan, ingin sekali aku menendang teman-teman lucknut ini keluar dari sini. Dan anehnya semua malah tertawa.
“Elaaah, Ngga. Gue yakin kali kalo Sam nggak usah pake beginian juga udah setroong !!!” Sambar Mbak Sari sambil terbahak.
“Mbak!!” Pekik Rio setengah tertawa.
Bahkan Rizal sampai membekap mulutnya supaya tawanya tidak meledak keras. “Berarti yang harus di kasih obat ya Adel dong.” Celetuknya.
“Haha, iya tuh. Nanti makan yang banyak, Del, sebelum bertempur habis sama, Sam.” Lagi-lagi ucapan Mbak Sari membuat semuanya terpingkal-pingkal.
Ah, membicarakan hal seperti ini kok malah membuat hatiku berdebar begini ya. Jangan sampai pipiku ikut merona.
“Kalian ngomong apa sih?” Tiwi mengerucutkan bibirnya ke arah kami.
“Yah, lupa! Ternyata ada bocah di sini. Makanya cepet nikah biar tahu.” Sahut Rizal.
“Dih ngaca dong! Yang ngomong juga belum nikah.” Tukas Tiwi yang langsung di sambut tawa dari yang lainnya.
Kali ini Sam angkat bicara. “Walau belum nikah pasti Rizalnya udah pengalaman ya.” Rizal langsung menutup wajah dengan telapak tangannya, malu.
“Eh, sepuluh juta lo jadi kan.” Sambarku sambil melotot ke arah Rizal.
Dia meringis sambil membenarkan kerah batiknya. “Jadi dong ... Tulisannya doang tapi.” Entah kenapa Rizal langsung tertawa terbahak-bahak.
“Brotheer!!” Rizal langsung mengangkat tangan ke arah Vino yang kini sudah berjalan ke meja kami.
“Wah calon adek yang tak kesampaian nih ...” Rizal meringis lalu tersenyum ke arah Sam. “Bercanda, Pak.”
“Elaaah, mulut lo, Mas. Foto bareng yuk!” ajak Vino.
Aku dan Sam tak punya pilihan lain selain mengiyakan segala kemauan mereka. Bagaimana pun juga suatu hari nanti foto-foto kebersamaan ini akan menjadi kenangan yang akan selalu aku rindukan. Dan ... Mungkin juga akan aku ceritakan ke anak-anak ku nanti, Ck.
Aku akan bercerita betapa senangnya mempunyai teman-teman lucknut seperti mereka. Haha.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Ada yang ngerasa juga kalau momen sungkeman itu hal yang paling mengharukan?? Soalnya aku pribadi juga ngerasa begitu, bahkan sampai sekarang masih suka terharu kalau ingat dulu pas nikahan. hehe..
__ADS_1
Yuk, kasih selamat buat Samuel dan Adelia yang udah SAH!! wkwkwkwk.