My Boss Samuel

My Boss Samuel
46. Ternyata Licik


__ADS_3

Yey... Yey... Balik lagih.


Semangat selalu ya buat semuanya..


Selalu dukung saya ya dengan,


Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi, boleh banget..


Happy reading !!


##


Aku berlari ke arah lift yang pintunya hendak menutup. Setelah cukup dekat aku gunakan tanganku untuk menghentikan pergerakan pintu lift tersebut, supaya aku bisa ikut masuk ke dalamnya. Maklum ini sudah hampir telat jadi sangat terburu-buru.


Setelah pintu lift tertutup kembali aku langsung kaget begitu menyadari kalau yang ada di dalam lift adalah Mira.


OH MY GOD!!!


Ingin ku musnahkan saat itu juga rasanya. Rasa kesal dalam diriku memanglah sudah terlanjur dalam. Andai saja dia tak mendekati Sam di depanku secara langsung mungkin aku masih bisa untuk tak membencinya.


Bagaimanapun juga, perasaan seorang wanita yang mengetahui pacarnya di dekati wanita lain itu pasti sangat kesal.


Aku segera melipat kedua tanganku lalu berjalan ke sisi kanan, memilih untuk menyender di dinding lift. Biar apa? Biar aku bisa agak jauh dari si Mira.


“Mbak Adelia.” Aku yang sejak tadi memasang wajah jutek seketika langsung terpaksa tersenyum ke arah Mira. Ya, walaupun senyum kecut sih. “Pak Sam kalo jam segini sudah berangkat belum, ya?”


Dih ... Ngapain pagi-pagi nyariin pacar orang. Kurang kerjaan banget!


Aku menaikkan alisku. “Hm, Pak Sam? Memangnya ada perlu apa?”


Mira menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Saya mau nanyain promosi yang kemarin. Soalnya produknya sudah di kejar untuk segera di pasarkan.”


“Belum selesai.” Ucapku cuek.


“Kok belum sih, Mbak? Besok kan sudah harus siap di pasarkan.” Aku memutar mataku malas saat mendengar ucapan Mira. Dan untungnya pintu lift sudah terbuka.


Aku melipat kedua tanganku dan berjalan angkuh mendahului Mira. “Iya, nanti gue usahain selesai.” Aku meliriknya sekilas sebelum berjalan keluar dari lift.


Persetan dengan wajah Mira yang kini mulai tampak kesal. Aku segera membanting tas ke mejaku, lalu menarik kursi untuk aku dudukki.


Mira terlihat berjalan ke arah ruangan Sam dengan wajah kesalnya. Salah sendiri sih, pagi-pagi sudah bikin orang kesal. Aku nggak maulah kesal seorang diri.


“Eh, Mira. Pagi banget ke sininya.” Aku langsung menatap Rizal yang sedang menyapa Mira.


Mira yang sedang berjalan seketika berhenti. Lalu segera memasang senyum sok manisnya ke arah Rizal. “Iya, Mas. Ada perlu sama Pak Sam.”


“Oh ... Pak Sam kalo jam segini belum datang. Paling bentar lagi.” Tepat saat Rizal berhenti bicara, pintu lift pun terbuka dan menampilkan sosok Sam. “Nah, itu baru datang.”


Mira hanya membalas ucapan Rizal dengan senyuman. Lalu dia segera berbalik badan untuk menyapa Sam.

__ADS_1


“Selamat pagi, Pak Sam.” Sapa Mira ramah.


Aku yang mendengarnya pun langsung merasa muak setengah mati. “Uhuk ... Uhuk ...”


Dan suara batukku berhasil mencuri perhatian semua orang yang ada di ruangan ini.


“Adelia, kamu sakit?” aku langsung menatap ke arah Sam yang kini sudah berdiri di depan meja Mas Angga.


“I-iya Pak,” sakit hati, lanjutku dalam hati.


“Sudah minum obat?” tanya Sam lagi.


“Ah, nggak perlu pakai obat, Pak. Nanti juga hilang sendiri kok ... kalo virusnya juga pergi.” Aku sengaja menatap Mira saat mengatakan kalimat terakhirku.


“Penyakit jangan di sepelekan, Del. Atau lo mau gue temenin ke Klinik sekarang?” kata Rizal.


Aku hanya tersenyum meringis ke arah Rizal. “Makasih, Zal.”


“Oh iya, Pak. Saya di suruh atasan saya untuk menanyakan promosi yang kemarin. Tapi ... Kata Mbak Adel belum selesai.” Mira melirik ke arahku.


Oh ... Jadi seperti itu cara mainnya. Dia sengaja bilang begitu di depan Sam supaya aku kena marah. Licik sekali anak baru.


“Loh, memangnya belum selesai, Del?” Sam menatap ke arahku.


“Belum.” Jawabku singkat.


“Kamu gimana, sih? Ini sudah sampai di tanyakan dari pihak pemasaran. Kalo kamu belum selesai nanti saya juga yang kena marah. Memangnya kamu mau divisi kita di anggap tidak berkompeten dan tidak bertanggung jawab? Jangan buat saya malu!” Sam berujar panjang lebar ke arahku.


“Iya, nanti saya coba selesaikan.” Aku masih menanggapinya dengan datar.


“Jangan bilang coba! Harus! Harus selesai hari ini.” Bentak Sam.


“Ya, kan saya nggak bisa memastikan. Saya juga di kejar oleh pekerjaan yang lain.” Ucapku membantah.


“Saya nggak mau tahu, Adelia! Sebisa mungkin kamu harus selesaikan itu.” Sam berujar penuh dengan penekanan. Hah, rasanya kepalaku ingin meledak saat ini juga.


Rasa kesal itu terus berlanjut begitu saja. Ini yang paling aku benci. Sebisa mungkin aku selalu berusaha mengawali hariku dengan semangat supaya seharian ke depan juga akan membawa semangat. Tetapi, kalau kejadiannya seperti tadi pagi yang ada juga begini, seharian kesal terus-terusan.


“Del ...” Mbak Sari memanggilku.


“Apa sih, Mbak? Gue lagi sibuk. Jangan ganggu gue.” Kataku sensi.


“Ya Allah ... Sabar, Del. Istirahat dulu bentar nggak pegal apa tangan lo.” Aku segera menghentikan aktivitasku. Lalu aku memutar kursi ke belakang tepat di mana ada Mbak Sari.


“Gimana gue mau istirahat? Nanti Mira kampret itu ngadu lagi ke Pak Sam. Terus gue di omelin lagi.” Kataku penuh emosi. “Lagian, Pak Sam juga ngeselin banget. Beraninya dia marahin gue di depan anak divisi lain.”


“Lah ... Dia kan Bosnya terserah dong. Kalo dia ngomong baik-baik di kiranya dia nggak tegas jadi Bos.” Sahut Mas Angga yang berhasil mencuri perhatianku. Aku segera memutar kursiku lagi ke depan.


“Ya, tapi nggak usah di depan dia dong. Mira apa Miras itu namanya!” Aku mengerucutkan bibirku.


“Lo nggak rela banget, ya? Kalo Mira sama Pak Sam dekat.” Aku langsung mengerjap setelah mendengar ucapan Rizal.

__ADS_1


Gawat! Aku lupa gara-gara terbawa emosi. Ya walaupun sebenarnya memang nggak rela karena Sam adalah pacarku. Tetapi, saat ini aku harus menutupi semuanya dari teman-temanku. Bisa gawat kalo sampai keterusan dan mereka tahu.


“Ya, bukan begitu maksudnya. Gue sebel aja sama itu orang. Lo nggak tahu sih, dia itu nyebelin banget kalo sama gue. Kayak mau nantangin gitu.” Ucapku sungguh-sungguh agar teman-temanku percaya.


“Gue lihatnya juga begitu, Del. Itu anak kayaknya suka cari perhatian deh.” Aku mengacungkan ibu jari ke arah Mbak Sari. Emak satu ini memang selalu jadi tim suport yang bisa di andalkan.


Tidak seperti Rizal dan Mas Angga. Mungkin karena memang mereka berdua itu laki-laki kali ya. Jadi nggak tahu apa yang aku rasakan sebagai wanita.


##


Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan aku masih harus menyelesaikan tugasku. Aku merasa seluruh tenagaku terkuras habis seharian tadi. Perasaan aku sudah membuat promosi itu sebaik mungkin. Tetapi, Sam selalu menolaknya dengan alasan terlalu biasa.


Sam memang terlalu profesional kalo menyangkut masalah pekerjaan. Bahkan aku yang berstatus sebagai pacarnya saja kalau di kantor sama sekali tak pernah mendapat toleransinya sedikit pun.


Sama seperti hari ini.


“Kamu gimana sih, Del? Kan tadi saya sudah bilang saya nggak mau ada bagian ininya.” Sam keluar lagi dari ruangannya dengan membawa file yang sejak tadi ku berikan padanya hingga puluhan kali.


“Ya, terus gimana maunya?!” kesabaranku benar-benar sudah habis.


“Kan tadi saya sudah bilang! Jangan pakai kata ini.”


“Sam ...” aku menatap Sam dengan kesal. “Aku udah capek! Perasaan itu sudah sesuai dengan apa yang kamu mau. Kenapa masih salah terus?!”


“Kalo sudah sesuai dengan permintaanku nggak mungkin aku suruh ngulang, kan? Kamu kurang teliti.” Sam membanting filenya ke atas mejaku. Dan itu membuatku langsung berdiri.


“Semua ini gara-gara kamu!” Tudingku padanya.


“Lho, kok aku?” tanyanya bingung.


“Iyalah, kamu yang kurang teliti. Coba aja kamu lebih teliti pasti nggak akan ada masalah promosi dadakan begini. Nggak becus kamu jadi Bos.” Kataku sinis dengan melipat kedua tanganku.


“Apa kamu bilang?” Sam tampak tak terima dengan ucapanku.


“Kamu nggak becus jadi BOS!!” aku sengaja mengucapkan perkataan tersebut dengan intonasi yang jelas dan perlahan. Supaya Sam tersindir.


“Terus mau kamu apa?” tanya Sam padaku.


Aku menatap Sam dengan tajam. Dia benar-benar ingin tahu apa mauku. Oke, aku akan mengatakannya.


“Aku mau pulang! Capek!”


“Baik ... Silahkan pulang.” Kata Sam santai. Aku tidak salah dengar kan. Dia mempersilahkan aku pulang saat ini juga. Aku mengamati Sam sejenak untuk memastikan kebenaran dari ucapannya. “Kenapa? Katanya mau pulang, silahkan.”


Aku segera mengemas barang-barangku ke dalam tas. Lalu melenggok begitu saja di depan Sam. “Nah ... Kalo begini kan Bos yang baik. Terima kasih, Bos.”


Aku mengedipkan sebelah mataku dan tersenyum saat berjalan melewati Sam.


To Be Continued...


__ADS_1


wajahnya Sam kalo lagi marah serem ya...


__ADS_2