
Selamat hari Sabtu semua...
Sehat dan Happy selalu ya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Kamu kenapa sih tadi di kantor?” Sam memutuskan untuk pulang bersamaku setelah selesai makan siang.
Dia sudah berpesan kepada Aroon untuk menyelesaikan kesepakatan dalam meetingnya tadi. Awalnya Aroon menolak, tapi berhubung Sam punya kalimat andalan yang selalu berhasil membuat saudara-saudaranya itu luluh, jadi mau tak mau Aroon harus bersedia menggantikannya. Tahu kata apa yang selalu di gunakan Sam?
“Ini bawaan baby. Kamu mau buat anak aku sedih di dalam perut? Punya Uncle jahat banget.”
Aroon maupun Raffael sudah tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi jika kalimat itu sudah terlontar.
“Sebel aja.” Aku merebahkan diri ke atas ranjang.
“Kayaknya emosi terus.” Tangan Sam bergerak membelai perutku, aku mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya hanya selutut rancangan Dior. Akibat terlalu banyak bergaul dengan Tante Monika, sekarang aku mulai terbiasa menggunakan barang-barang mewah juga.
“Aku ngantuk.” Bisik ku sambil menatap Sam.
Sam menunduk. “Nggak mau ganti baju dulu.” Ujarnya membelai rambutku, aku melingkarkan tanganku ke lehernya.
“Kamu nggak mual kan?” aku membelai rambut belakang Sam, sesekali membelai leher belakangnya juga hingga membuat Sam bergidik.
Aku suka sekali memperhatikan wajah Sam dari dekat seperti ini. Dia semakin bertambah tampan di usianya sekarang. Apalagi sekarang rahangnya mulai di tumbuhi rambut-rambut halus, dan aku menyuruhnya untuk tidak bercukur untuk beberapa waktu ke depan, karena menurutku dia terlihat lebih seksi.
“Nggak, tumben siang ini aku nggak muntah-muntah. Pasti karena makan masakan yang kamu buatin. Makanya setiap hari kamu harus masak buat aku.” Dia mengecup bibirku dan aku hanya terkekeh.
“Aku mau tidur.” Bisik ku memejamkan mata.
“Ganti baju dulu, aku juga mau ganti baju.”
Aku menggeleng dan semakin memeluk lehernya, menenggelamkan wajahku di sana dan mengecupnya beberapa kali.
“Del.” Sam berujar serak saat aku terus mengecupi lehernya. Aku tersenyum lalu menjulurkan lidah untuk menjilat nya. “Adelia ...” dia mengerang dengan mata tertutup.
__ADS_1
Aku tersenyum ketika Sam menatapku. Tiba-tiba Sam meraup bibirku dalam sebuah pagutan dalam yang berhasil membuat gairahku bangkit. Ciuman yang begitu lembut dan pelan pada awalnya, namun perlahan berubah menjadi lebih menuntut.
Sam menggigit bibir bawahku agar terbuka, begitu aku membuka bibir, lidahnya langsung menyusup masuk, menjelajahi rongga mulutku. Aku terengah, memejamkan mata saat tangan Sam mulai membelai pahaku dan menarik ujung dress ku ke atas. Sam mulai melepas dasi dan kancing kemejanya satu persatu sambil terus mencium bibirku.
Begitu terbuka, tanganku langsung menempel dan membelai dada bidangnya, begitu hangat dan nyaman. Ciuman itu beralih ke dagu saat aku nyaris kehabisan nafas, aku mendongak ketika bibir Sam mengecupi leherku, menjilat dan menghisapnya hingga aku terkesiap.
“Sam.” Aku mengerang ketika salah satu tangannya mulai menyentuh inti diriku. Dia kembali mencium bibirku, menyusupkan lidahnya masuk dan membelitnya di dalam sana.
Aku menahan nafas seperkian detik ketika salah satu jarinya berhasil menyusup masuk ke dalam ku. Bergerak begitu pelan dan teratur hingga membuat kepalaku terasa semakin pening.
Sam menarik ku duduk lalu melepas dress beserta pakaian dalam yang masih melekat di tubuhku, kemudian mendorongku lagi hingga kembali berbaring di atas ranjang. Kini mulutnya sudah bermain di puncak dadaku, dan salah satu tangannya kembali membelai ku di bawah sana.
Tanganku tak mau kalah, aku membelai dadanya semakin turun hingga berhasil menyentuh miliknya yang masih tertutup oleh celana. Aku segera mendorong tubuh Sam, dan berganti posisi, kini aku berada di atasnya. Aku mulai mengecup lehernya, turun ke dadanya lalu ke perutnya hingga berhenti di depan miliknya yang sepertinya sudah mendesak ingin keluar sejak tadi.
Aku menurunkan resleting celananya dan menariknya ke bawah. Tanganku langsung menggenggam miliknya yang ternyata sudah berdenyut. Aku mulai menunduk dan mengecup ujung miliknya yang aku genggam. Sam mengerang, mencengkeram rambutku dengan mata terpejam. Aku sangat suka menggoda Sam hingga wajahnya memerah seperti itu.
Tiba-tiba Sam menarik diriku agar duduk di atasnya. Dia membantuku mengangkat pinggulku sedikit lalu memasuki dengan mudahnya. Kami berdua mengerang dengan mata terpejam. Dia membantuku bergerak, naik turun di atas tubuhnya. Selama aku hamil dia selalu mengalah dan membiarkan aku yang memimpin. Bergerak bebas dan nikmat di atas tubuhnya.
Tapi tetap ada saatnya, ketika Sam tidak bisa mengendalikan diri, dia akan membuatku menjerit saat dia menghujam ku dari belakang dengan gerakan cepat, tapi tetap memastikan bahwa aku menikmati dan nyaman dengan semua itu.
••
Aku berbaring lemah di sofa depan ruang TV, menatap cemberut pada Sam yang sejak tadi berjalan sibuk sendiri dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Sam tidak mengomeli ku, tapi aku tahu dia mengomeli Veronica sampai Veronica meneleponku sambil meminta maaf. Sam juga melarang ku pergi keluar rumah untuk satu minggu ke depan. Baru sehari saja, aku sudah bosan rasanya mendekam di rumah mewah ini. Aku baik-baik saja. Tapi Sam bersikap seolah-olah aku baru saja pendarahan. Memang, kandunganku masih di bilang cukup kuat, tapi tidak terlalu kuat.
Dokter mengatakan kalau aku hanya kelelahan berjalan. Dan sudah memberikanku vitamin agar kondisiku pulih kembali.
“Aku bosan.” Ujar ku sambil mengganti-ganti saluran TV.
“Hm.” Sam hanya bergumam sambil terus bekerja dengan laptopnya.
“Aku mau ke rumah Mama.” Ujar ku merengek.
“Biar Mama yang ke sini, aku suruh sopir buat jemput Mama.” Ujar Sam tanpa mengangkat kepala.
“Tapi aku bosan, Sam!”
“Kalau kamu ke rumah Mama, aku yakin kamu nggak akan diam. Kamu akan banyak bertingkah seperti biasanya.” Sam mulai mengomel.
“Ya, tapi ...”
__ADS_1
“Dokter sudah bilang kamu harus istirahat dulu seminggu ini.” Sahutnya memotong perkataan ku.
“Tapi kan a~”
“Nggak boleh!” Sam mengangkat wajahnya dan menatapku datar.
Jika dia sudah memberi perintah menyebalkan seperti itu, aku tidak akan bisa lagi membantah. Keputusannya tidak akan bisa di ganggu gugat.
“Kamu nyebelin!” aku berteriak sambil menangis padanya, mengusap pipiku dan melangkah menuju kamar. Membanting pintu saking kesalnya.
Aku mulai bosan seharian di rumah, jika di rumah Mama, setidaknya aku bisa mengobrol bersama Mama maupun Vino. Apalagi Sam juga sudah menyuruhku berhenti mengajar beberapa waktu yang lalu, begitu tahu kalau aku sedang hamil. Jadi, sekarang aku benar-benar tidak mempunyai kegiatan sama sekali.
Aku hanya ingin punya teman mengobrol. Jika di rumah ini, siapa yang ingin aku ajak ngobrol? Kedua ART ku selalu sibuk. Dan jika mengharapkan Sam mengobrol denganku, rasanya seperti mengharapkan Park Seo Joon mencium ku. Alias tidak akan terjadi karena dia lebih banyak sibuk dengan laptopnya.
Aku merasakan kasur bergerak dan sebuah tangan menepuk puncak kepalaku. Aku masih menangis di dalam selimut.
“Aku khawatir sama kamu.” Ujar Sam pelan sambil terus membelai rambutku.
“Aku bosan, kamu Cuma mikirin kerjaan kamu aja.” Aku tersedu-sedu di dalam selimut.
Sam menghela nafas, ikut berbaring di sampingku dan memelukku erat di balik selimut.
Aku semakin terisak mendapati perlakuan manisnya, aku segera membalikkan tubuh dan mulai menangis kencang di dadanya. Terisak-isak seperti seorang bocah yang baru saja kehilangan mainannya.
Hormon kehamilan memang berbahaya.
Sam membiarkan aku menangis hingga aku lega, terus membelai rambutku dalam diam. Sesekali mengecupi puncak kepalaku. Setelah tangis ku reda, Sam bergeser ke bawah, mengecup perutku yang sudah terlihat membesar. Dia mengangkat daster yang aku kenakan dan membelai perutku secara langsung.
“Sehat-sehat ya, Nak. Biar Mommy kamu bisa pergi main ke rumah Oma kamu lagi. Daddy sayang kamu.” Bisik nya pelan lalu kembali memberikan sebuah kecupan.
Aku kembali tersedak dalam tangis. Kenapa sih dia harus bersikap semanis ini???
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TO BE CONTINUED...