My Boss Samuel

My Boss Samuel
29. Tugas Dadakan


__ADS_3

Hai genkss apa kabaarr ??


Sehat selalu ya..


aku balik lagi nih..


Jangan lupa di Like, Vote dan Komen kalo suka.. di share juga boleh kok hehe..


Happy reading !!


##


“Kemarin di ajak kemana sama Bos?” Tanya Rizal ketika aku baru saja sampai.


Aku tersenyum jenaka, “kepo ya? Ini rahasia antara gue sama Pak Bos.”


Rizal merengut. “Wah... sekarang udah rahasia-rahasiaan nih. Jangan-jangan bentar lagi ada yang nggak beres.”


“Kok nggak beres sih, Mas? Yang ada sebentar lagi Mbak Adel jadian sama Pak Sam. Terus gue siap-siap patah hati deh.” Ucap Tiwi lebay


“Ah lo mah... patah hati juga gampang ngobatinya, di kasih coklat sekotak juga udah nggak rewel lo.” Sindir Rizal.


“Yang penting kan udah ada look patah hatinya dulu.”


“Heh... kalian pada ngomongin apa sih?” sahut Mbak Sari yang baru saja datang. “Pada gosip nggak ngajak gue.”


“Kita nggak lagi gosip kok Mbak, kita Cuma nanyain Adel soal kemarin.” Ucap Rizal jujur.


Aku hanya memutar mataku jengah, kalau sudah ketambahan personil emak-emak yang satu ini pasti bakalan ribet.


Mbak Sari melihatku penuh selidik, “lo nggak di ajak mampir kan?”


Tuh kan bener, emak satu ini pasti selalu aneh-aneh. Mampir apaan coba? Mampir mall ??


“Mampirlah.” Jawabku nyaring dengan tatapan menyombongkan diri. “Mampir mall tapi.”


Mereka semua memasang wajah kecut karena mendengar jawabanku. Dan belum sempat mereka membalas ucapan ku, Pak Sam sudah keluar dari pintu lift bersama dengan Mas Angga.


“Sari sama Angga langsung ke ruangan saya, ya? Rizal dan Tiwi jangan lupa jadwal hari ini.” Semua nama yang di sebut Pak Sam langsung mengangguk mengerti dan segera menjalankan perintah Pak Bos.


Karena hanya namaku yang tak terpanggil. Akhirnya aku hanya menghidupkan layar komputer, lalu melanjutkan tugasku kemarin.


Setengah jam kemudian Mas Angga dan Mbak Sari keluar dari ruangan Pak Sam dengan wajah masam.


“Kenapa?” pertanyaan dasar itu seolah tak boleh kelupaan jika ada anak buah Pak Bos keluar dari ruangannya.


“Sam ngasih kita tugas buat acara event bulan depan.” Sahut Mas Angga.


Aku menaikkan satu alisku, “loh, bukannya enak ya? Itu kan udah berjalan 50% tinggal sisanya aja.”


Mbak Sari menghembuskan nafas kasar, kemudian duduk di kursinya. “Masalahnya, Sam maunya ada sedikit perubahan dengan konsep awal kemarin. Di kira kita nggak mumet apa? Mengubah konsep sama aja mulai dari awal lagi dong.”


Aku hanya tersenyum melihat ekspresi Mbak Sari. Aku tahu perasaan yang sedang mereka alami. Karena setahuku Event bulan depan itu merupakan Event besar, pasti bakalan menguras tenaga dan pikiran.


Beberapa menit kemudian pintu Pak Sam terbuka.


“Adelia, tolong kamu bantu Sari dan Angga, ya.” Dan pintu kembali tertutup.


Sudah nggak heran lagi aku tuh kalo Bos kampret itu memberi tugas dadakan. Aku hanya menatap Mbak Sari dan Mas Angga dengan tatapan datar. Lalu melanjutkan tugasku lagi.


Setelah beberapa hari kita nggak ada lembur, akhirnya hari ini kita lembur lagi. Dan yang lembur hanya aku, Mas Angga dan Mbak Sari. Secara memang hanya kita bertiga yang mendapat tugas penting.


Jam sudah menunjuk di angka delapan namun sepertinya masih jauh dari kata pulang.

__ADS_1


“Pulang jam berapa kita?” bisikku sembari menoleh ke arah Mas Angga dan Mbak Sari.


“Nggak tau.” Sahut Mbak Sari sembari melirik pintu ruangan Pak Sam dan Mas Angga hanya geleng-geleng.


Tiba-tiba pintu Pak Sam terbuka. Dia berjalan ke luar menghampiri kami. Sumpah ya, kalau keadaannya seperti ini rasanya aku ingin sekali mempunyai kekuatan membaca pikiran. Supaya aku bisa menebak isi kepala Pak Sam. Tahu sendiri kan, kalau wajah Pak Sam itu sulit terbaca.


“Nanti lembur sampai jam 10 saja, ya.” Kalimat itu keluar sebagai pemecah keheningan.


“Kirain pulang sekarang, Sam.” Sahut Mbak Sari.


Aku sih setuju-setuju saja dengan ucapan Mbak Sari.


“Kalau tugas kalian bisa selesai cepat, ya silahkan.” Ucap Pak Sam santai, “Adelia.”


Aku langsung terperangah mendengar namaku di sebut.


“Ya, Pak?”


“Tolong temani saya cari dokumen di lantai 15.”


“Hah? Kenapa saya,Pak. Kenapa nggak Mas Angga aja. Saya penakut, Pak.” Tolakku.


“Kan ada saya kenapa harus takut?”


Aku hanya diam bingung mau menjawab apa. Kemudian aku mendengar Mbak Sari dan Mas Angga terkekeh.


“Kamu kayak nggak tau aja sih, Sam. Maksudnya Adelia takut itu, bukan takut sama hantu. Tapi..." Mbak Sari tersenyum jenaka. " takut sama kamu mungkin.”


Aku melongo ke arah Mbak Sari, gila mulut Mbak Sari. Berani banget bicara seperti itu di depan Pak Sam.


“Haha... takut di apa-apain kayaknya Sam.” Mas Angga malah ikut berkomentar.


Pak Sam menaikkan satu alisnya lalu menatap ke arahku. “Memangnya muka saya kelihatan mesum, Del?”


“Nggak kok, Pak. Saya kan nggak ngomong begitu.” Jawabku sedikit sensi


“Bohong Sam, jujur aja deh, Del.” Mulut kompor Mbak Sari memang tak pernah ada habisnya.


“Saya nggak mungkin melecehkan anak buah saya di kantor. Saya Bos baik-baik lho, Del.”


Mbak Sari dan Mas Angga malah tertawa dan anehnya Pak Sam seperti tak menghiraukan tingkah mereka berdua. Sialan!


“Ayo! Keburu tambah malam nanti.” Ajak Pak Sam


Aku pun langsung berdiri dan mengekor Pak Sam.


“Kalau berisik sumpel mulutnya aja, Sam.” Ucapan Mbak Sari tentunya membuat dirinya dan Mas Angga tertawa terbahak-bahak. Aku pun langsung menoleh ke arah mereka dan mengacungkan jari tengahku.


Dan di sinilah aku, Pak Sam mengajakku ke ruang penyimpanan dokumen yang berada di lantai 15.


“Permisi, jangan ganggu saya ya. Saya bawa Bos setan lho ini.” Gumamku ketika aku menyusul Pak Sam masuk ke ruangan tersebut.


“Apa Del?”


Heh, Bos Setan denger ya!


“Ah... nggak kok, Pak, ini sepi banget. Di lantai ini udah nggak ada yang lembur, ya?”


“Ada, ruangan paling ujung” jawab Pak Sam.


Aku pun akhirnya masuk. “Nggak usah di tutup kan, Pak?”


Pak Sam terkekeh. “kamu takut banget ya saya apa-apain?”

__ADS_1


“Hah? Nggak kok, Pak. Saya takut saja nanti kalo ada hantu gimana?”


Pak Sam hanya tersenyum sambil geleng-geleng.


Aku pun mulai membantu Pak Sam untuk mencari dokumen yang ia butuhkan. Kami mencari di rak berbeda namun letaknya berhadapan. Tanpa ku duga aku malah mendapatkan sebuah buku sejarah pendirian perusahaan ini. Ternyata ada bukunya juga toh...


Karena penasaran aku pun mengambilnya, niatnya sih mau ku baca-baca sembari menunggu Pak Sam mencari keperluannya. Yah, gimana ya masalahnya selama 4 tahun aku bekerja di Perusahaan ini, aku sama sekali belum pernah membaca sejarah Perusahaan ini. Yang ku tahu hanya nama pemilik dan tahun berdirinya.


Aku mulai asyik dengan buku di tanganku, hingga aku menemukan sebuah foto keluarga Pemilik Perusahaan ini yang kebetulan ada di halaman terakhir. Aku seketika melihat tahun terbit bukunya, tahun 2003. Memang jadul sih bukunya dan sudah terlihat sedikit usang. Tapi masalahnya bukan di situ, aku kembali menatap foto yang jelas-jelas itu foto anggota keluarga Mister Robert.


Bahkan aku sampai mendekatkan bukunya ke mataku untuk memastikan sosok salah satu potret yang ada di sana.


“Pak...” Aku spontan memanggil dan menoleh ke arah Pak Sam.


Tetapi, justru aku malah tertegun ketika pandanganku melihat ke arah Pak Sam. Dengan dasi yang sudah mengendur serta dua kancing teratas kemejanya yang sudah terbuka. Bosku yang bernama Samuel itu tengah duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya ke rak buku.


Ya Tuhan, begitu sempurnanya ciptaanmu.


Rambut yang sudah terlihat berantakan serta lengan kemeja yang memang sejak tadi sudah tergulung hingga ke siku itu, Pak Sam terlihat sangat serius menatap sebuah buku yang ada di tangannya.


Mendadak saja ritme detak jantungku menjadi sedikit lebih mengeras, dan tentu saja pikiranku seketika berubah buyar sampai aku melupakan pertanyaan apa yang akan ku tanyakan ke Bosku tadi.


Duh, benar-benar racun si Bos!


“Kenapa Adelia?”


Aku mengerjap, ku lihat Pak Sam menatapku dengan alis terangkat.


“Umm... anu, Pak” aku menggaruk belakang telingaku, “Sebenarnya Bapak nyari apa sih?” hanya itu kalimat yang seketika terlintas di kepalaku.


Karena ini sudah hampir satu jam aku dan Pak Sam berada di sini. Dan Pak Sam belum menunjukkan tanda kalau ia sudah menemukan dokumen yang ia cari.


“Sarang tikus.”


Apa kata Pak Bos barusan? Ha-ha, haruskah aku tertawa saat ini?


“Bapak mau buat saya ketawa ya?”


Di tanya apa, jawabnya bagaimana. Dasar otak Pak Sam ini benar-benar luar biasa gregetnya. Paling bisa buat orang gemes.


“Enggak ini sudah malam. Saya takut kamu saingan sama penunggu kantor.”


Mati wae lo, Pak! Kenapa sih jawabannya selalu bisa bikin orang naik darah. Ku cium baru tau rasa Pak.


“Terserah Bapak lah!”


Aku seketika malas menanggapi ocehan Pak Sam. Sebelum darahku naik lebih baik aku diam saja. Karena saat ini diam lebih baik.


“Mood kamu sedang nggak baik ya, Del?”


Tebak siapa penyebabnya? Ya jelas Bapaklah, Bos Kampret bin ngeselin yang mirip setan. Sudah tau kenapa harus nanya segala sih?


“Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa, Pak?” ucapku bengis. Masa bodoh dengan sopan santun terhadap atasan. Pak Sam menatapku lurus-lurus, iris mata birunya seolah sedang memindai keseluruhan ekspresiku saat ini. Kemudian Pak Sam tersenyum tipis.


“Kamu benar-benar aneh ya, Del.” Pak Bos melepaskan kekehan ringan. Dan aku hanya menatapnya tajam, dengan niat menampol wajahnya dengan buku yang masih ada di tanganku. “Saya suka.”



nemu karakter ini.. nggak tau kenapa kayak cocok gitu sama Pak Sam hahaha...


##


Speechless nggak lo??

__ADS_1


Gue speechless banget sampai pengen nampol Pak Sam beneran. Pake kiss tapi wkwkwk


__ADS_2