My Boss Samuel

My Boss Samuel
24. Nasehat Pak Bos


__ADS_3

Yeyy aku balik lagiihh..


Semoga kalean sehat selalu.. dan lancar puasanya..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen


Happy reading!!


##


Aku meremas-remas jari tanganku, dengan tempo detak jantung yang pelan namun sangatlah keras hingga sangat dapat ku rasa, bajuku ikut bergerak.


Pak Sam, Bosku itu justru terlihat sangat santai dan berbanding terbalik denganku. Tapi jangan salah, sesantai apapun wajahnya, kalo sedang meneliti laporan tetap saja aura mencekam dan menakutkan itu tak bisa lepas dari wajahnya.


“Jadi Adelia.” Duh detak jantungku semakin mengeras, jangan katakan apa yang tidak ingin ku dengar Pak. “Ini masih banyak sekali kesalahan.”


Yaah, lemes deh. Dari yang tadi detak jantungku sangat keras, mungkin sekarang malah sudah copot dan jatuh ke lambung. Ini adalah laporan penting, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, pada akhirnya aku tetap saja tak dapat bernafas lega.


“Saya mau kamu revisi lagi, secepatnya.”


“Maksud Bapak secepatnya apa ,ya?” tanyaku bingung.


Pak Sam melipat kedua tangannya ke atas meja dan sedikit memajukan tubuhnya, “saya mau laporannya selesai besok pagi.” Ucapnya pelan dan penuh penekanan.


Rasanya seperti buronan yang tengah di interogasi!


“Gila!”, aku langsung menutup mulutku, kenapa mulutku nggak terkontrol banget sih. Gimana kalo Pak Sam marah mendengar umpatanku tadi?


“Maaf Pak, nggak sengaja”


“Ya... nggak pa-pa. Selama yang kamu sebut gila bukan saya, saya bisa memaafkan kok.” Kata Pak Sam santai.


“Terus kalo seandainya, saya nggak sengaja ngomongin Pak Sam gila. Bapak nggak mau maafin saya?”


Pak Sam tersenyum tipis, “saya hanya berharap, semoga kamu punya sejuta cara untuk membujuk saya. Agar saya mau memaafkan kamu.” Kalimat itu di akhiri dengan seringainya.


Aku bergidik ngeri menatap Pak Bosku, jangan-jangan dia memang titisan iblis. Ngeri banget, apalagi kalo menyeringai seperti itu. Jangan hantui mimpi saya Pak, please!


Aku langsung keluar dari ruangan Pak Sam. Dan membanting laporanku ke atas meja.


“Kenapa di tolak, ya?” tanya Mbak Sari.


Aku menghela nafas lalu menatap Mbak Sari, “kayaknya gue memang **** deh, nggak bisa buat laporan ini. Gue udah males banget, Mbak, gue udah revisi tiga kali. Masih aja ada yang kurang!”


“Tenang Del, mungkin yang ke empat bakal jadi angka keberuntungan lo.” Mas Angga ikut berkomentar.


Aku menaikkan satu alisku, “tapi gue nggak suka angka genap, Mas, gue lebih suka angka ganjil.”


“Nah berarti, keberuntungan lo ada di angka lima, Mbak.” Aku melirik ke arah Tiwi, sialan juga kalo aku harus mengulang lima kali.


“Dengerin mulut lo ngomong, gue jadi ke inget gado-gado karet dua, Wi. Pedes dan bikin mules perut gue!”


Tiwi, Mbak Sari dan Mas Angga tertawa. Kemudian Rizal yang baru saja datang dari pantry langsung memasang wajah penasaran.


“Gue ketinggalan apaan nih?”


“Wah, nyesel lo Zal. Lo ketinggalan, baru aja Pak Sam bagi-bagi duit. Lo sih bikin kopi doang lamanya minta ampun.”

__ADS_1


Rizal melirik Mas Angga sembari menyeruput kopinya, “sayang banget Mas, muka baik lo kurang berhasil buat ngibulin gue” Rizal sudah duduk di mejanya.


“Gue yakin kalo lo ikut main sinetron, pasti sutradaranya ngasih peran ke elo, jadi protagonis terus. Ya, nggak jauh-jauhlah dari tukang ojek sama tukang sayur.”


“Hahaha... sopir angkot juga pantes lho, Zal, apalagi keneknya elo.” Imbuhku, yang berhasil membuat kami semua tertawa.


“Jahat lo Del, gue cocoknya kalo main sinetron jadi peran utama. Judulnya nasib suami ganteng dan kaya, terus bininya elo.”


Hoeekk!! Ngimpi!


“Nggak pa-pa, Del, gue yang bakal jadi Emaknya Rizal” Mbak Sari tersenyum jenaka, “ Terus kerjaan gue, tiap pagi bakalan ngomel-ngomel sama nyiram Rizal pakai air seember. Biar dia bangun dari mimpinya.”


Tentu saja kita makin terkekeh. Kadang aku suka heran sama sifat ku dan teman-temanku. Ibaratnya kalo kita di kasih satu topik pembicaraan, pasti langsung deh pikiran kita mengembang sampai ke akar-akarnya. Bisa menyambung gitu.


Tiba-tiba Pak Sam membuka pintu ruangannya, dan yang pertama kali menjadi target sorot matanya adalah aku. Aku yang tadinya tertawa sampai terbahak-bahak mendadak hanya tertawa garing sambil menggaruk-garuk belakang telinga.


“Sudah di revisi ulang laporannya?” tanya Pak Sam.


“Eh... ini Pak, baru mau mulai.” Ucapku takut-takut.


“Dan buat yang lainnya juga sudah selesai pekerjannya?”


Semua kompak menggeleng tanpa berani mengeluarkan suara.


“Kerja dulu! Kalo sudah selesai, silahkan di lanjut sinetronnya!”


Dan tentu saja ucapan Pak Sam barusan mampu membuat kita saling menatap horor ke arah pintunya yang kini sudah tertutup kembali.


##


“Duh sakit, kampret!” Aku mengaduh seraya mengusap-usap pipi kananku.


Rizal kalo gemas memang keterlaluan suka sekali mencubit sesuka hati. Dia kira perlakuannya itu tidak menyakitkan. Hah... tunggu aja suatu saat pasti akan ku balas, Rizal kampret!


“Pukul aja, Mbak, lagian Mas Rizal suka banget sih pegang pipi milik orang, pegang punya pacar lo sendiri dong.”


“Loh... tapi kan Adel bukan milik orang, jadi boleh dong gue pegang.”


“Kampret lo emang! Udah sana buruan pergi. Biar gue bisa konsentrasi.” Ucapku sedikit kesal.


Mereka semua memang racun! Mana mungkin aku bisa menyelesaikan tugasku dengan cepat kalo bala kampret ini masih di sini dan merecoki pekerjaanku.


“Duh, iya-iya. Hmm... yang mau lembur sendirian nih udah semangat banget”, aku melirik Mbak Sari yang tengah terkekeh, “kita pulang dulu ya, Del. Bye...”


Akhirnya, mereka semua pulang juga dan di sinilah aku. Lembur sendirian di ruangan ini, semoga saja salah satu teman setan Pak Sam tak muncul dan menakut-nakuti aku.


Saking sibuknya aku merevisi laporanku, aku sampai tak menyadari kehadiran Pak Sam di depan mejaku. Dan hasilnya, aku kaget dong. Secara sejak tadi aku hanya sendirian, tiba-tiba muncul sosok tinggi berbadan besar dan berkacak pinggang pula. Tentu saja pikiranku terbuyar, ketua Jin dari mana nih?


“Bapak ngagetin saya deh.” Aku mengelus-elus dadaku.


“Perasaan, saya dari tadi hanya diam nggak buat suara yang bikin kamu kaget.”


“Ya... masalahnya kemunculan Pak Sam yang tiba-tiba ini yang bikin saya kaget” persis setan, lanjutku dalam hati.


“Ya tapi kan saya bukan setan, jadi nggak usah kaget lah.” Aku langsung menatap takut-takut ke arah Pak Sam. Mana aku sendirian lagi.


Pak Sam menggeret kursi Mbak Sari dan duduk tepat di depan mejaku. Penampilannya yang sudah acak-acakkan itu justru sangat berhasil membuat konsentrasiku pecah. Aku ingin segera menyelesaikan revisiku, tapi mataku inginnya melirik ke arah Pak Sam terus. Pak Sam masih diam dan sibuk dengan ponselnya. Dan entah kenapa tiba-tiba aku merasakan keanehan pada detak jantungku.

__ADS_1


“Kamu sudah makan?”


“Ya?”, aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan Pak Sam. “Eh... belum Pak, tadi nggak ada teman buat cari makan.”


“Sudah sampai mana revisi kamu?” nih orang kenapa sih cerewet banget, kalo aku jawab pertanyaannya terus bisa nggak kelar-kelar nih tugasku.


“Sudah hampir selesai, Pak. Asal Bapak nggak ngajakin saya ngobrol terus.” Sindirku yang harusnya tepat sasaran.


Pak Sam malah terkekeh kecil. Dan aku berusaha untuk tak memedulikannya.


“Apa salahnya saya ajak ngobrol sih, dari pada hanya diam saja.” Kini Pak Sam memutar sebuah musik untuk melengkapi suasana. Lalu menaruh ponselnya ke atas mejaku.


Dan tau apa musik yang di mainkan Pak Sam. Bos kampret itu memainkan lagu Loren Allred, yang berjudul Never Enough, the greatest showman soundtrack. Bagi yang tidak tahu silahkan di search.


“Tapi kan kerjaan saya bisa terhambat, Pak, kalo harus menanggapi pertanyaan Bapak. Lagian ini susah lho, Pak. Saya sudah capek mengulang terus! Kalo ini masih salah, kasih ke yang lain aja deh, saya nyerah!” tegasku.


Pak Sam memandangku sesaat, lalu mulai menggeser sedikit kursinya agar lebih dekat ke mejaku. Dan fix, kelakuannya berhasil membuat jantungku rasanya mau rontok, ini orang sebenarnya kenapa sih? Pintar banget mainin jantung orang. Untung ada musiknya, kalo nggak pasti detak jantungku bakalan terdengar keras di ruangan sepi ini.


“Saya nggak suka dengan orang yang mudah menyerah”, matanya terus menatapku, dan aku hanya bisa berpura-pura sibuk menatap layar komputer.


“Setiap masalah yang datang bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguji, seberapa mampu kamu bisa bertahan.”


Aku semakin deg-degan, adem banget suaranya bikin nyaman. Lalu aku memberanikan diri untuk menatap wajah Pak Sam. Dan kenapa lagunya malah bikin baper sama suasana sih?


“Jadi, mulai sekarang kamu jangan pernah berkata menyerah lagi.” Pak Sam menghela nafasnya, “karena saya tidak suka mendengarnya.”


“I...iya, Pak.” Ucapku sembari mengangguk.


Akhirnya selesai juga revisiku, tetapi kebersamaanku dengan Pak Sam tak selesai sampai di jam pulangku. Sebab, Pak Sam tadi menawarkan diri untuk mengantarku pulang, dan seperti yang sudah-sudah sepandai apapun aku membuat alasan, tetap saja keputusannya nggak akan bisa di ganggu gugat!


“Kita mampir makan dulu ya? Saya juga belum makan soalnya.” Aku pun tak berniat mencari alasan untuk menghindar darinya lagi, percuma.


Pak Sam menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir, sebuah Restoran Steak yang kebetulan belum tutup di jam 9 ini.


Aku turun dari mobilnya dan berjalan mengikuti Pak Sam. Tiba-tiba pandanganku tertuju ke sebuah tenda warung makan nasi goreng kambing, entah kenapa aku merasa ngiler melihatnya. Rasanya, ingin sekali makan nasi goreng kambing, tapi aku nggak enak menolak ajakan Pak Sam ke restoran ini.


Saking asyiknya melihat warung nasi goreng tersebut, aku sampai tak memperhatikan jalan dan highheels ku menginjak batu. Tentu saja aku tak mempersiapkan pertahanan untuk menahan diriku agar tak jatuh, dan aku hampir jatuh kalau saja Pak Sam tak menangkapku.


“Kamu nggak apa-apa?”


“Sa...saya nggak apa-apa, Pak”, ini kedua kalinya aku jatuh ke pelukan Pak Sam, karena hampir terjatuh lagi, duh malunya. “Ma... maaf, Pak.”


“Kamu suka sekali ya nggak memperhatikan jalanan, bahaya lo Del. Kalo jatuh sakit juga kan?” Pak Sam masih memegangi lenganku, padahal aku sudah kembali berdiri.


Aku hanya meringis, “hehe... efek laper mungkin, Pak.”


“Ya udah kalo gitu, ayo buruan kita pesan makan.”


Dan hal tak terduga terjadi lagi, Pak Sam menggandeng tanganku berjalan melewati parkiran. Agar kami segera sampai ke dalam Restoran.


##


Yeeyy.. mulai bikin deg-degan lagi nih Pak Bos.. aku juga mau dong Pak..


Bikin aku deg-degan Pak sampai melayang menembus awan.. jiahahaha..


Salam dari penulis amatir, ❤️

__ADS_1


__ADS_2