
Happy reading !!
***
“Ciyeee ... Yang habis jalan-jalan berdua sama Pak Bos kemarin, mukanya memang beda, ya?” Kata Mas Angga sambil menyenggol lenganku.
Aku hanya bisa mendengus. “Jelas lah. Lo nggak tahu sih Mas seberapa gregetnya perjalanan gue kemarin.” Bahkan kalau aku ingat sampai sekarang aku masih berasa seperti mimpi. Pak Sam kemarin seperti bukan Bos kampretku yang biasanya. Takutnya orangnya malah kerasukan malaikat mana gitu.
“Wah pelet nya berhasil, ya?” Tanya Mbak Sari sembari menyodorkan sekotak kue buatannya.
“Dih fitnah, gue nggak usah pake pelet juga sudah memikat. Tanya tuh sama Rizal.” Aku melirik Rizal sambil menyomot kue yang Mbak Sari sodorkan.
“Sombong.” Rizal menjitak kepalaku, “padahal gue kemarin pagi udah nungguin lo loh, Del. Berharap lo pamit dulu sama gue.”
“Bohong tuh ,Mbak.” Sela Tiwi cepat, “kemarin aja gue lihat Mas Rizal pagi-pagi udah ganjen sama Fara divisi sebelah.”
Aku melirik muka Rizal yang ekspresi wajahnya langsung berubah begitu mendengar nama Fara.
“Wah, lo jangan asal ngomong dong, Wi. Fitnah lho kalau nggak sesuai kenyataan. Lagian nanti kan bisa buat Adelia cemburu.” Rizal langsung tersenyum ke arahku.
Aku berdecak ke arah Rizal, “Dih Ge-eR amat sih lo!”
Mana mungkin aku cemburu sama Rizal. Tidak mungkin dan tidak akan sempat.
“Morning, all.”
Aku dan yang lainnya seketika terkejut. Mbak Sari dengan cepat langsung menyembunyikan kotak kuenya, Rizal langsung berpura-pura mengambil kertas yang jatuh ke lantai, Tiwi pura-pura sibuk dengan layar komputer dan Mas Angga langsung tersenyum ramah seperti biasanya. Sementara aku ... aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya duduk dengan wajah tanpa ekspresi.
“Kamu tidak apa-apa kan, Del?” Tanya Pak Sam yang langsung membuatku kaget. Tidak! bukan hanya aku tapi semuanya.
“Ah, i-iya, Pak. Saya nggak apa-apa.” Jawabku sambil meringis.
Pak Sam menatapku dengan sebelah alis terangkat, sebelum kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya.
“Wah, itu tadi apa ya?” Seru Rizal.
“Secuil perhatian Bos buat bawahan lah.” Aku menyenderkan diriku ke kursi.
“Hm ... dari yang secuil lama-lama keterusan nantinya.” Celetuk Mbak Sari yang tengah menghidupkan komputernya.
Aku segera memutar kursi ke arah Mbak Sari dan tersenyum ke arahnya.
“Loh, harusnya kita seneng dong, Mbak. Artinya setan yang menguasai Pak Bos itu sudah keluar.” Ujarku serius.
“Maksud Sari bukan begitu, Del. Takutnya keterusan nya nanti Cuma sama lo doang.” Mas Angga tertawa nyaring di ikuti dengan yang lainnya.
Terserah deh ya, aku lagi males buat nanggepin mereka.
***
__ADS_1
Jam menunjuk di angka sepuluh. Dan kami semua terlihat sibuk. Rizal dan Tiwi sudah terjun ke lapangan sejak tadi. Hanya tersisa aku, Mas Angga dan Mbak Sari yang masih setia bergelut dengan layar komputer. Aku melepas kaca mata untuk mengucek mata yang lelah ini.
“Duh, masih jam segini, ngantuk gue udah melanda aja nih.” Ucapku.
“Buat kopi dulu sana, Del. Dari pada nggak kuat melek. Nanti kalau ketahuan Sam kena omel lagi.” Sahut Mbak Sari yang tengah membuka-buka dokumennya.
“Gue titip satu ya, Del. Samain kayak lo.” Imbuh Mas Angga.
Aku hanya bisa mendengus, lalu beranjak dari kursi. Tepat saat aku berjalan melewati ruangan Pak Sam, tiba-tiba pintunya terbuka. Iya, terbuka begitu saja hingga membuatku hampir terjungkal karena kaget.
“Adelia mau kemana?” Pertanyaan itulah yang pertama kali Pak Sam lontarkan.
“Mau buat kopi, Pak.” Jujur dong akunya, karena memang mau membuat kopi beneran. Bukan main comberan.
“Oh kebetulan. Saya titip satu ya.”
Wah, tidak benar ini.
“Tapi, Pak. saya sudah buat dua sama Mas Angga.” Protesku, berharap Pak Sam menarik perkataannya kembali.
“Kopi hitam, gulanya sedikit.” sambungnya tanpa menanggapi perkataanku.
Manusia itu langsung menutup pintunya kembali tanpa merasa berdosa sedikitpun, membiarkan aku dalam keadaan melongo seperti orang bodoh di depan pintunya.
Mas Angga dan Mbak Sari sudah terbahak di tempatnya, “kayaknya Sam mau menguji kesabaran lo deh, Del. Ya itung-itung belajar buat jadi istri yang baik ya, Del.” Ucap Mas Angga di ikuti tawa Mbak Sari.
“Jangan pakai lama, ya.” Pak Sam menaikkan sebalah alisnya sembari menatapku yang tengah syok berat. Setelah itu dia kembali menutup pintunya lagi.
Kampret sialan!
***
Karena aku harus membuat tiga cangkir kopi, mau tidak mau aku harus membawa nampan yang biasa di pakai oleh Mang Diman, supaya aku tidak perlu bolak-balik untuk mengambil kopi. Pertama, aku meletakkan kopiku terlebih dahulu ke atas meja, setelah itu ke meja Mas Angga. Dan sialnya, malah di sambut oleh gelak tawa dari Mas Angga dan Mbak Sari.
“Office girl baru ya, Mbak?” Kata Mbak Sari.
Sial. Aku hanya bisa misuh sebelum kemudian masuk ke ruangan Pak Sam, untuk memberikan pesanan kopinya.
“Ini Pak, kopinya taruh dimana?” Ucapku sedikit sensi.
“Taruh di meja sini dong, Del. Memangnya kamu mau kalau saya suruh buat antar ke rumah saya?"
Aku mengernyit, ini orang sebenarnya gila atau gimana sih?!
“Yang bener aja dong, Pak.” Aku meletakkan cangkir kopinya sedikit keras hingga menghasilkan suara yang nyaring akibat tabrakan cangkir dan meja kaca Pak Sam.
“Ada gula nya ,kan?” Tanya Pak Sam sebelum aku beranjak keluar.
“Iya, kopi hitam dengan gula sedikit.” Aku mengekspresikan tanganku untuk meyakinkan kalau gulanya benar-benar hanya sedikit.
__ADS_1
“Oh, Ok. Lain kali kalau buat kopi mukanya jangan seperti itu ya. Takutnya nanti bikin gulanya jadi tidak terasa.” Pak Sam mulai menyeruput kopinya.
“Pak Sam ... bisa nggak sih, cukup bilang terima kasih aja ke saya? Nggak usah bikin saya naik darah.” Ucapku gemas.
“Oh iya, terima kasih.” Ucap Pak Sam kemudian.
Mendengar kata tersebut malah membuatku bingung sendiri. Aku tidak berpikir kalau Pak Sam akan langsung berkata seperti itu. Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
“Terima kasih, Adelia. Sekarang kamu boleh keluar.” Aku mengerjap saat Pak Sam mengulang kalimat terima kasihnya.
“I-iya, nggak usah Bapak suruh saya juga mau keluar.”
“Buktinya tadi malah bengong.” Aku mendengar nada menyindir itu sangat jelas keluar dari mulutnya.
“Pak ...” ujarku lirih.
“Kenapa? Kamu tidak mau keluar dari ruangan saya, kamu mau menemani saya di sini?”
Perkataan macam apalagi itu, sabar-sabar. Orang sabar jodohnya ganteng.
Aku hanya mengerucutkan bibir, sebelum akhirnya aku berbalik badan dan keluar dari ruangan Pak Sam.
Sampai di luar aku benar-benar sudah tidak bisa menahan emosiku. Padahal kopiku belum aku minum sama sekali tapi entah kenapa rasa kantuk yang melanda tadi seketika hilang begitu saja.
“Sabar ,Del. Jarang-jarang kan di buat kesel sama Bos ganteng kayak, Sam.” Mbak Sari terkekeh.
“Huaaa! Gue mau angkat tangan aja, kameranya dimana? Gue udah lambaikan tangan nih, kru kameramen keluar dong. Gue nyerah!” Celotehku, yang berhasil membuat Mas Angga dan Mbak Sari makin keras tertawa.
“Del, jangan gitu dong. Nanti Sam tiba-tiba keluar mampus lo!” Ujar Mas Angga.
Aku melirik ke arah Mas Angga, “Sumpah ya, selama ini gue merasa nggak pernah bikin sakit hati cowok. Tapi kok gue bisa berhadapan dengan orang macam dia.” Aku menunjuk ke arah pintu ruangan Pak Sam.
“Jangan-jangan, gara-gara lo sering buat Rizal sakit hati Del.” Kali ini Mbak Sari berujar serius.
“Bener tuh, bisa jadi diem-diem tuh cunguk serius. Tapi lo nya yang nggak peka.” Imbuh Mas Angga dengan tawa yang belum berhasil mereda.
Duh Gusti, kalau aku punya salah maafkan lah kesalahan hamba-Mu ini. Dan kalau tidak ya mohon kuatkanlah hati hamba-Mu ini. Kuatkan hamba untuk menghadapi kelakuan Bos Kampret itu, dan juga temen-temen tak berguna ini.
##
Sabar ya Adelia. wkwkwkwk
kalo suka cerita ini, tolong kasih like dan vote nya ya genkss..
follow juga IG ku
@nan_dria
salam dari penulis amatir ❤️
__ADS_1