My Boss Samuel

My Boss Samuel
129. Syukuran


__ADS_3

Cuma mau bilang kalau novel ini tinggal 2 episode lagi ya, sepertinya besok last episode deh T,T huhu...


So,


Happy reading ya !!


##


“Sayang.”


Aku merasakan sebuah usapan lembut mendarat ke wajahku. Perlahan aku mulai membuka mata dan aku langsung kaget ketika melihat Sam sudah pulang bekerja.


Ya ampun, aku kok bisa ketiduran sampai malam begini ya.


“Sam ...” Aku terdiam ketika jari telunjuk Sam menempel di bibirku.


“Nggak apa-apa kalau capek tidur lagi aja.” Ujar Sam sambil tersenyum setelah itu ia beralih menatap Axcello yang ternyata malah bangun. “Anak Daddy kok malah bangun. Enggak nangis lagi, pinter ya.” Sam mengecup pipi Axcello.


“Kalau gitu aku siapin makan malam dulu ya, Bibi tadi udah masak buat makan malam.” Aku hendak berdiri namun dengan cepat Sam menahan tanganku.


“Aku bisa sendiri.” Tuturnya.


“Tapi ...” entah kenapa tiba-tiba mataku terasa panas.


Aku merasa semenjak mengurus bayi jadi jarang memperhatikan Sam. Aku benar-benar tak habis pikir dengan kelakuanku sendiri. Dan yang bikin aku terharu Sam juga sama sekali tidak pernah terganggu dengan hal itu. Dia benar-benar memaklumi kesibukanku menjadi Ibu baru. Walaupun begitu terkadang aku malah berpikir kalau aku mulai tak berguna menjadi istri.


Aku langsung memeluk Sam yang masih lengkap menggunakan setelan kerjanya, dan entahlah aku langsung menangis di pelukannya.


“Maaf, Sam.” Ujarku sambil terisak.


Sam hanya membelai rambutku lembut lalu mengecupnya. “Kenapa minta maaf?” tanyanya.


“Aku nggak becus jadi istri, maaf.” Aku semakin terisak.


Sam melepas pelukanku lalu menatap wajahku. “Del ... Kenapa kamu bilang begitu? Aku nggak apa-apa kok aku ngerti. Kamu tetap jadi istri terbaikku.”


“Tapi aku merasa nggak bisa menjadi Ibu dan Istri yang baik secara bersamaan.” Kataku sambil sesenggukan.


“Belum, Del. Makanya kita sambil belajar bersama ya kamu kan hebat. Jangan cengeng gini ah, masa udah jadi Mommy masih cengeng aja.” Sam tersenyum lalu kembali membawaku ke dalam pelukannya.


“Makasih, Sam.” Ujarku kemudian.


Untuk beberapa saat hening mengambil alih.


“Acara syukurannya gimana?” Tanya Sam kemudian.


“Semua udah di urus Papa sama Mama, kita tinggal terima beres aja ...” Aku menghela nafas sesaat. “Untung Mama dan Papa selalu bantuin ya, nggak tahu deh kalau aku harus urus semuanya sendiri.” Sam hanya tersenyum lalu mengecup keningku.


Aku dan Sam sengaja membuat acara aqiqah dan syukuran putra kami secara terpisah. Karena acara aqiqah kemarin khusus acara keluarga dan untuk syukuran ini kebanyakan akan di hadiri teman-teman dekat kami saja yang belum kami undang.


•••


Acara berjalan dengan lancar. Satu persatu prosesi acara telah berjalan. Semoga ke depannya anak kami menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi semuanya.


“Aww, lucu banget sih. Bawa pulang boleh nggak?”


“Mirip Pak Sam banget, ya.”

__ADS_1


“Iya ih, gemes banget. Jadi pengen punya anak lagi.”


Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar ocehan mereka.


“Makanya, Ngga. Sering-sering buat dong biar bisa nambah satu lagi anak lo.” Ujar Mbak Sari.


Mas Angga hanya mendengus. “Masalah buat mah udah hampir nggak kehitung, Sar. Istri gue aja yang belum mau nambah lagi.”


Saat ini Mbak Sari, Mas Angga, Tiwi, Rizal dan Rio turut hadir di acara syukuran Axcello. Mereka begitu heboh sekali setelah melihat wajah Axcello yang kata Tiwi bakalan jadi the next Sam.


“Langsung di croot aja, Mas. Kalo istri lo nggak mau.” Aku dan yang lainnya langsung tertawa mendengar ucapan Rizal.


“Elaaah, bambang! Kayak tahu aja lo.” Tukas Mbak Sari.


“Wah ini jangan-jangan Mas Rizal udah sering nih tanam bibit di mana-mana.” Imbuh Rio lalu dia tertawa terbahak-bahak ketika Rizal mulai merengut.


“Anjiir mulut lo! Jangan keras-keras. Image gue nih.” Ujar Rizal sambil membenarkan kerah kemejanya.


“Mending lo cepet nikah deh, Zal. Nunggu apa sih lo?” kali ini aku ikut berkomentar.


Rizal berdehem. “Ya rencananya dulu kan nungguin lo.” Setelah itu Rizal langsung meringis begitu sadar Sam melotot ke arahnya. “Bercanda, Pak. Jangan lihatin saya begitu ah, ngeri!”


“Makanya, Mas. Sekarang lo tobat deh, ngaca elo itu udah om-om sekarang.” Celetuk Tiwi yang langsung membuat Rizal cemberut.


“Ini lagi bocah kalo ngomong juga enggak di saring dulu.” Omel Rizal.


“Mungkin Rizal itu tipe pria yang tidak akan menikah sebelum mapan. Barangkali begitu, Zal?” Sam menatap ke arah Rizal. Sedangkan yang di tatap malah menyengir.


“Halaaah, nurutin mapan juga sampai kakek-kakek belum kelar!” Sahut Mbak Sari.


“Astagfirullah ... doa lo, Mbak. Bener kata Pak Sam lho, target gue ya sekitar tiga tahun lagi deh. Denger ya kalian jangan pada keluar dulu, tiga tahun lagi gue bakal nyebar undangan.” Ucap Rizal sungguh-sungguh.


Tentu saja hal tersebut langsung membuat semuanya tertawa. Dan aku jadi lupa kalau anakku masih tertidur, sekarang Axcello malah terbangun sambil menggeliat.


Gemas.


“Tuh kan mulut kalian ih, bar-bar banget kayak kenalpot kampanye tau nggak! Anak gue jadi bangun kan.” Omelku sambil melirik ke arah teman-temanku satu persatu. Sam langsung menggendong Axcello lalu menimang-nimangnya dengan lembut.


“Uhhh, gemes banget sih si baby Axcello ini. Kan kalau gemes begitu jadi pengen ... Peluk Daddy nya.” Dasar mulut Tiwi minta di sumpel ya.


Mbak Sari mendorong bahu Tiwi. “Mulut lo! Ajak gue dong.”


Mas Angga terbahak. “Peluk Raffael aja noh.” Ujarnya sambil menunjuk Raffael yang sedang berjalan mendekat ke arah kami.


“Loh, Raffael mau ngikutin jejak Sam.” Aku menatap penasaran ke arah Mas Angga dan yang lainnya.


Apa mungkin sekarang Tiwi dan Raffael jadi bahan ghibahan baru mereka ya?


“Eh, enggak ya. Fitnah mereka, Mbak!” bantah Tiwi namun membuat Mas Angga, Mbak Sari, Rizal dan Rio semakin terbahak.


“Loh, nggak apa-apa. Raffael aslinya baik kok Cuma kadar emosinya aja yang melebihi saya.” Ucap Sam.


Seketika kami semua kompak menatap ke sumber suara yang tengah berdehem keras.


“Kenapa bawa-bawa gue?” tanya Raffael sinis sambil melirik Sam.


Sam hanya mendengus. “Siapa yang bawa kamu? Mending bawa anak aku dari pada kamu. Ya kan, sayang.” Sam mencium Axcello yang tampaknya enggan untuk tertidur kembali.

__ADS_1


Semua kompak terbahak kembali setelah melihat ekspresi kesal dari Raffael.


“Oh ... Ternyata kelemahan Raffael itu kamu toh, Sam. Baru tahu gue.” Ujar Mbak Sari.


“Wah, kalo gitu Bapak sering-sering nolong kami dong biar itu orang nggak kejem-kejem banget sama kita.” Sahut Tiwi cepat.


“Loh, kita? Lo aja kali.” Dan Rizal kembali membuat semuanya tertawa.


Ya, setelah sekian lama akhirnya aku bisa berkumpul lagi dengan teman-teman lucknut. Dan tetap satu hal yang tak berubah sama sekali, gilanya mereka.


Mungkin efek gila itu karena terlalu lama bekerja di kantor. Di bawah tekanan para Bos Setan.


•••


“Good night my little handsome. Jangan nangis ya.” Aku mencium pipi Axcello yang sudah tertidur di dalam box bayinya.


“Sudah bobok?” Sam langsung beranjak duduk dan menatapku sambil tersenyum.


Aku berjalan ke ranjang tempat tidur ku, di mana Sam sudah menepuk-nepuk kasurnya sambil tersenyum lebar. “Kenapa?” aku mengernyit heran saat menatap Sam.


Aneh kenapa dia senyum-senyum begitu?


“Sini.” Sam menarikku hingga aku terduduk di depannya. “Memangnya nggak boleh senyum sama istrinya sendiri?”


“Masalahnya senyum kamu itu mencurigakan.” Tukas ku sambil mencubit lengan Sam yang mulai meraba-raba pahaku.


“Del ...”


“Hm.” Aku hanya bergumam sambil meliriknya.


“Udah boleh apa belum?” Sam berucap manja sambil menciumi leherku.


Aku mendongak ketika Sam menggigit kecil leherku. “Belum, Daddy.”


“Terus kapan?” Sam langsung menatapku sambil cemberut.


“Ya ... Sekitar satu minggu lagi kayaknya.” Ujarku sambil mengetuk-ngetuk daguku dengan jari.


Seketika Sam langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan keadaan tengkurap. Kemudian menutup kepalanya dengan bantal. Sam itu kenapa sih? Bikin aku tertawa dalam hati saja.


Aku sengaja menunggunya barangkali dia mau berbicara lagi, tetapi sepertinya tidak. Ya, mungkin Sam sudah terlanjur kecewa, ck!


Berhubung dia tak mau bicara lagi akupun langsung menarik selimut, hendak berbaring di sebelahnya.


Tapi ...


“Jangan tidur dulu.” Sam langsung menahan tubuhku agar tetap duduk.


“Kenapa?” tanyaku dengan alis berkerut.


Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang Sam inginkan. Tapi mendadak aku jadi paham ketika Sam mengusap juniornya yang tampak sudah menegang itu.


Aku hanya bisa melotot sambil geleng-geleng.


“Bantuin buat keluarin ya.” Pintanya dengan nada manja. Lalu dengan perlahan Sam mulai menurunkan celananya dan menarik tanganku untuk menggenggam miliknya yang sudah mengeras itu.


Astaga! Bikin tepuk jidat saja sih manusia ini.

__ADS_1


Dasar hot Daddy!


__ADS_2