
Selamat siang semua.
Aku balik lagi.
Part yang ini kalau aku gabungin bakalan jadi panjang banget, jadi aku potong aja deh jadi dua hehe. Tapi tenang nanti langsung aku lanjutin kok.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
“Boleh aku masuk.” Tanpa harus aku persilahkan tentu saja dia juga akan masuk.
Ck!
Aku duduk bersila di atas tempat tidur lalu menyenderkan punggungku di sandaran kasur. Aku masih menunduk. Lalu Sam duduk di depanku, dia belum melanjutkan perbincangannya bahkan kami berdua sempat saling terdiam selama kurang lebih lima menit. Barulah Sam mengangkat satu kakinya ke atas tempat tidur lalu menghadapkan tubuhnya ke arahku.
“Del ...” panggilnya pelan.
“Hm.” Hanya itu yang bisa ku keluarkan.
Ck, memangnya aku bisa menjawab apalagi, tidak mungkin kan aku menjawabnya dengan 'iya sayang'. Bisa jatuh harga diriku.
“Kamu sudah nggak nangis kan?” Ada nada khawatir dari kalimat yang Sam keluarkan.
“Enggak kok.” Masih singkat.
Kalau aku jawab jujur nanti kamu khawatir lagi, ciyee....
Sam menghela nafasnya sesaat. “Maaf untuk kejadian tadi, maaf udah buat kamu menangis. Maafkan aku, Adelia.”
“Sam aku ...” sepertinya memang bukan tujuan Sam untuk mendengar apapun pendapat dariku. Dia memang berkeinginan mengungkapkan apa yang seharusnya aku ketahui dan sepertinya aku harus jadi pendengar setia untuk saat ini.
“Tolong percaya denganku.” Pintanya sebelum Sam melanjutkan ceritanya.
Aku mungkin masih ragu tapi apa salahnya aku mencoba percaya dengan Sam. Sebuah hubungan memang harus di dasari rasa percaya kan, aku putuskan mengangguk sebagai jawaban dari permintaan Sam. Lalu pandangan Sam menatap lurus ke depan, seolah dia ingin membawaku ke dalam cerita yang akan dia sampaikan.
“Aku punya sedikit cerita, aku harap kamu mau mendengarnya.” Pintanya lalu segera melanjutkan ceritanya.
“Dulu ... tepat setelah aku di lahirkan, dokter memberikan kabar yang sama sekali tak di inginkan atau mungkin hal yang tak ingin di alami oleh Mama. Dokter mengatakan kalau rahim Mama ada kelenjar kanker dan menyarankan rahim Mama harus segera di angkat sebelum kondisinya semakin parah dan berbahaya. Akhirnya Mama terpaksa harus melakukan semua itu, walaupun aku tidak tahu tapi aku yakin kondisi Mama kala itu pasti sangatlah terpukul dan itu bukan kehendak yang di inginkan Mama.” Benarkah yang Sam ucapkan, kenapa terdengar menyedihkan sekali.
__ADS_1
“Seiring berjalannya waktu Mama mencoba melupakan kenyataan pahit itu dengan cara membesarkan ku sebaik mungkin, sangat baik. Mama memberikan seluruh kasih sayangnya padaku. Dan tepat di usiaku ke dua tahun Aroon lahir dan Mama sangat senang dengan kelahiran Aroon. Katanya, Aroon sangat mirip denganku jadi Mama merasa seperti memiliki dua anak kembar.” Ada senyum yang keluar dari sudut bibir Sam.
“Tapi ternyata aku memang sudah tak bisa akur dengan Aroon sejak dulu, dia selalu menangis jika bermain dengan ku dan aku juga tidak tahu kenapa kami bisa seperti itu. Aku punya alasan khusus pada saat itu, aku mengatakan kalau aku tak ingin punya adik laki-laki. Aku ingin adik perempuan yang penyayang seperti Mama. Tanpa ku sadari aku sudah melakukan kesalahan sejak saat itu bahkan semua tidak menyadari kalau ada yang salah dengan diriku.” Sam mendengus pelan sambil menggeleng.
“Seharusnya mereka semua menyadari kalau ada yang salah dengan diriku.” Imbuhnya pelan. Aku melihat ada sebuah penyesalan dari wajah Sam.
Mungkin saat ini Sam sedang mengingat kembali tentang masa kecilnya.
“Setelah itu Bunda membawa kabar gembira, kalau dirinya tengah hamil lagi. Aku belum mengerti apa itu hamil dan Mama mengatakan kalau Bunda akan memberikanku adik bayi. Saat itu aku sangat senang, apalagi setelah aku mengetahui kalau adik bayi itu adalah perempuan sesuai keinginanku. Aku menyayangi bayi yang bahkan masih berada di dalam perut Bunda itu mengalahkan siapa pun, bahkan mengalahkan Aroon yang selaku kakak kandungnya. Setiap hari aku selalu ingin berada di dekat Bunda, sebenarnya bukan di dekat Bunda tetapi di dekat adik perempuan yang aku inginkan.” Sam menatapku lalu menyelipkan anak rambutku yang berantakan ke belakang telinga.
Sam lalu meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan hangat.
“Hingga akhirnya bayi itu lahir seperti yang aku inginkan, adik perempuan. Dia begitu cantik, dia begitu mungil dan lucu, pertama kali aku melihatnya aku langsung menaruh sayang padanya. Bahkan aku mengatakan ke semua orang kalau Natalie adalah milikku, jika di ibaratkan mainan dia adalah mainan yang tak boleh di sentuh oleh siapa pun kecuali aku. Aku selalu memperlakukan Natalie dengan penuh kasih dan sayang dan itu terbawa sampai kami beranjak dewasa.” Nafas Sam terdengar mulai berat, apa yang terjadi dengannya? Yang bisa aku lakukan hanyalah membalas genggaman tangan Sam.
“Lalu hal terburuk yang bahkan tak pernah aku inginkan menimpaku. Aku kehilangan Mama, wanita yang paling aku cintai di dunia ini, Mama meninggalkan aku begitu saja bersama kasih sayangnya yang selalu dia berikan untukku.” Sam berhenti sejenak, aku lihat ada sebuah sesak yang coba ia tahan. Sam berusaha mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali bercerita.
“Aku begitu terpukul dengan kepergian Mama sampai aku menyalahkan diriku sendiri yang tak bisa menyayangi Mama, makanya Mama pergi. Aku sudah kehilangan salah satu wanita yang sangat berarti dalam hidupku. Lalu di situlah keegoisanku mulai muncul, dan sayangnya lagi-lagi tak ada seorang pun yang menyadarinya termasuk aku.” Dari situ Sam mulai menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya.
“Aku mulai melihat Natalie sebagai sosok yang ingin aku jaga karena aku tak mau melihat perempuan yang aku sayangi pergi lagi meninggalkan aku. Keegoisan pertama yang aku lakukan adalah ketika aku mendengar Natalie mempunyai kekasih dan ingin menikah dengannya.” Sampai di sini hatiku mulai merespon cerita Sam dengan perasaan ngilu, aku bisa merasakan sebesar apa rasa yang Sam berikan ke Natalie.
Sam memejamkan matanya sesaat lalu memandangiku lagi seperti dia hanya ingin memastikan kalau aku masih bisa mendengar ceritanya dengan baik.
“Aku tak merelakan Natalie mempunyai kekasih dan dia akan menikah. Aku sampai marah dengan semua anggota keluargaku, aku nggak mau Natalie di miliki oleh siapapun dia hanya boleh di miliki olehku, Natalie adalah milikku. Hingga suatu hari Natalie membenciku dia nggak mau bertemu denganku. Aku mulai takut ... Bayangan kehilangan perempuan yang aku anggap berarti dalam hidupku kini akan terjadi lagi. Sampai akhirnya kakek dan Papa memutuskan, mereka ingin mendengar pendapatku apa yang sebenarnya aku rasakan ke Natalie. Berkali-kali aku bilang aku menyayangi Natalie, aku nggak rela dia di miliki oleh siapapun. Lalu Papa memutuskan hal yang sangat di luar nalar dan aku tahu itu. Jika benar aku menyayangi dan ingin memiliki Natalie Papa bersedia menikahkan aku dengan Natalie.”
“Berkali-kali Papa mengatakan hal itu dan membuat kesimpulan kalau rasa yang ku miliki itu adalah cinta. Tapi aku tak percaya itu, aku tak yakin apa yang aku rasakan dengan Natalie itu adalah cinta. Bukankah rasa sayang dan ingin memiliki tak selalu bisa di artikan dengan cinta. Sampai akhirnya Papa memberiku pilihan terakhir, jika benar aku tak mencintai dan tak ingin menikah dengan Natalie, Papa memohon agar aku bisa merelakannya menikah dengan orang lain.” Sam memberi jeda sesaat.
“Tentu butuh waktu untuk itu semua, sampai aku benar-benar rela dan melihat Natalie menikah dengan Destian. Setelah itu hubunganku dengan Natalie kembali baik lagi, tak lama setelah itu Natalie pun benar-benar menikah dengan Destian. Aku merasa semua sudah terasa berbeda walaupun masih ada rasa sayang yang aku miliki untuknya. Dia sudah menjadi milik orang lain dan bukan milikku lagi.” Jari tangan Sam mengusap punggung tanganku dan dari sudut bibirnya aku bisa melihat sebuah senyum kecil muncul di sana.
“Setelah itu aku memutuskan untuk pergi dengan Papa ke negara asalnya, ke London. Berharap aku bisa menemukan hal baru. Cukup lama, hampir satu tahun sampai akhirnya aku memutuskan kembali dan bertemu denganmu ... Adelia.”
Hatiku mulai berdebar ketika Sam akhirnya menyebut namaku. Tangannya bergerak ke arah pipiku lalu membawa wajahku untuk bertemu dengan wajahnya. Haruskah aku bahagia sekarang?
“Aku bertemu denganmu dan tanpa aku sadari kamu berhasil mencuri seluruh pusat perhatianku. Aku seperti menemukan dunia baru yang bisa membuatku melupakan segala kenangan buruk yang pernah aku alami, dunia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan dengan yakin aku menyebut itu cinta.” Sam membelai pipiku dengan sangat lembut, matanya yang teduh itu menatapku dalam. “Aku merasakan cinta itu pertama kali saat melihatmu. Wajahmu, senyum mu, sifat mu bahkan suaramu, semua yang ada dalam dirimu membuatku benar-benar jatuh cinta, Adelia. Jelas ini rasa yang sangat berbeda yang belum pernah aku rasakan ke siapapun sebelumnya.”
Benarkah semua yang aku dengarkan saat ini, benarkah Sam berkata jujur. Kenapa aku baru tahu kalau ternyata Sam begitu mencintaiku? Tolong yakinkan aku lagi Sam, buat hatiku benar-benar percaya setelah semua cerita yang kamu ceritakan tadi.
Sam mulai menarik tengkukku secara perlahan semakin maju dan mendekat ke arahnya. Kini keningku dan kening Sam saling menempel, bahkan saat ini aku sudah bisa merasakan nafas berat yang di keluarkan Sam itu menerpa wajahku. Jantungku semakin berdetak tak menentu di ikuti debaran hati yang seolah tak ada hentinya.
“Aku tak ingin kehilangan kamu, kamu hidupku, Adelia. Aku bahkan tak tahu harus menjalani hidup seperti apalagi jika kamu pergi dariku, mungkin akan lebih buruk dari sebelumnya. Aku bahkan hampir gila tadi jika kamu benar-benar marah denganku. Tolong ... Percayalah denganku, tetap di sisiku dan jangan tinggalin aku, sayang.” Lirihnya.
Untuk pertama kalinya aku mendengar ada seorang laki-laki yang begitu tulus memohon dan meminta sesuatu padaku, dia bukan salah satu anggota keluargaku bukan Papa maupun Vino. Dia adalah orang baru yang ternyata berhasil masuk ke dalam hidupku. Bibirku langsung bergetar aku tak bisa menyembunyikan rasa ini lagi, tubuhku mulai ikut bergetar tampaknya pertahanan ku sudah di batas maksimal.
Aku langsung menangis lalu memeluk tubuh Sam. Aku benamkan wajahku ke dadanya, aku menangis sejadi-jadinya di sana. Ada rasa sakit yang muncul di dalam rongga dadaku aku tak tahu itu rasa sakit yang seperti apa, yang jelas hatiku terasa ngilu mendengar permohonan dari mulut Sam. Kenapa dia meminta kepercayaan padaku? Kenapa dia ingin di sisiku? Kenapa aku nggak boleh meninggalkan Sam? Kenapa?
__ADS_1
Bahkan saat ini aku mulai tak yakin, apakah aku benar sanggup pergi dari sisi Sam.
AARRGGH!
Tampaknya Sam sengaja membiarkan aku menangis di dalam pelukannya, dia mendekap ku dengan hangat tangannya bahkan tak henti-hentinya mengusap punggungku. Sekarang aku malu, aku malu terlihat cengeng seperti ini. Butuh hampir setengah jam agar aku bisa menenangkan diriku sendiri dan perlahan mulai berhenti menangis. Walau sesekali masih sesenggukan tapi aku tetap berusaha menghentikannya.
“Sam ...” akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku lagi setelah sekian lama ku tahan, walaupun terdengar parau dan pelan tapi aku yakin Sam mendengarnya.
“Apa?” tanyanya pelan, masih dengan mengusap rambutku.
“Jika aku tak bisa selalu ada di sisimu, bolehkah aku meminta pergi sekarang?” Entah apa yang aku pikirkan tapi aku ingin mengatakannya.
Sam mendekap ku erat. “Jangan!” katanya.
Dan aku merasa bahagia setelah mendengar kata tersebut.
“Jangan pernah bilang kamu ingin pergi dariku, Adelia. Karena aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu tetap berada di sisiku.” Sam memberiku kecupan panjang tepat di keningku.
Ujung bibirku mulai tertarik membuat seutas senyum simpul ketika merasakan kasih sayang yang Sam berikan untukku. Sepertinya sudah cukup drama kesedihan ini, aku masih ingin menggunakan mataku secara normal besok pagi.
Untuk saat ini apa yang Sam katakan sudah cukup membuatku percaya, walaupun aku tak bisa berjanji tapi aku akan berusaha percaya dengannya. Dan aku juga akan berusaha untuk mengabulkan permohonannya, aku akan berusaha selalu berada di sisi Sam.
Lalu aku terkekeh pelan sembari memukul dada Sam. “Kan aku udah pernah bilang, kamu jangan terlalu manis. Kamu enggak cocok!”
Sam mendengus pelan lalu melepas pelukannya. Dia menatap wajahku yang mungkin saat ini sudah terlihat lebih menyedihkan dari pada tadi. Lalu Sam tersenyum dengan satu tangan mengusap pipiku.
“Iya aku lupa, aku janji nggak akan mengulanginya lagi.” Detik berikutnya kami berdua sudah kembali tertawa bersama. Kejadian yang telah terjadi beberapa saat yang lalu terasa sirna begitu saja dalam benakku.
Saat ini aku merasa senang, dan senang itu aku rasakan bersama Sam. Sebuah hal yang selalu aku inginkan.
Hingga tiba-tiba aku terkejut oleh kedatangan seseorang dari ujung pintu. Dia memasang senyum andalannya yang tampak tak merasa berdosa itu.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1