My Boss Samuel

My Boss Samuel
16. Gara-gara Vino


__ADS_3

Hai kembali lagi..!!


Pantengin terus ya kelakuan Pak Bos!!


Happy reading !!


##


Olah raga itu bukan gayaku, apalagi pagi ini aku sudah terdampar di GBK ( Gelora Bung Karno ), Senayan. Demi apa coba, di hari minggu begini aku harus bangun pagi buat jogging, itu bukan gue banget!!


Hari minggu guys, hari dimana aku harusnya berhibernasi di kamar seharian.


Semua ini tak lain ya karena ulah adik semprulku, siapa lagi kalo bukan Vino. Sejak sehabis subuh pagi tadi ini bocah selalu mendesakku, supaya aku mau lari pagi dengannya. Kalau Vino sih aku tidak heran, karena memang hobbynya olah raga sejak SMP. Setelah ia pernah ikutan berpartisipasi dalam ajang lomba lari di sekolahnya. Bahkan tubuh tinggi dan tegapnya itu dia dapat dari mana lagi kalo bukan dari olah raga.


Aku mendengus dan mengomel karena ulah Vino yang terus saja menggeretku memasuki area sport GBK.


“Demi apa sih, Vin, lo ngajak Mbak mu ini ke sini?” Aku berteriak marah kepada Vino.


“Ya ... demi buat lo mau olah raga lah, Mbak. Sekalian gue kasih tau ya, di sini itu banyak orang yang olah raga dari berbagai kalangan. Sekalian lah ya cuci mata, siapa tau juga ada abang ganteng yang kecantol sama Mbak Adel yang pagi begini sudah rajin jogging.” Kalimat itu di akhiri dengan cengirannya yang selalu berhasil membuat ku eneg.


“Lo nyindir status jomblo gue?” tanyaku sedikit kesal.


“Bukan sih, Mbak. Prihatin saja.” Tentu saja ucapan Vino barusan berhasil mendapat satu jitakan dari tanganku, “apa salahnya sih, Mbak?” Imbuhnya sembari mengelus-elus kepalanya.


Vino yang pagi ini hanya memakai celana kolor pendek dan kaos berwarna abu-abu polos itu masih saja terus menggeretku, agar aku ikut berlari bersamanya. Kalau di lihat oleh orang lain, mungkin aku dan adikku ini di kira seperti pasangan kekasih.


Walaupun umur kita terpaut 7 tahun, tapi aku tak bisa memungkiri kalau ternyata pertumbuhan Vino jauh lebih sempurna di banding diriku.


Dia memiliki tinggi sekitar 170an di usianya yang mungkin masih bisa terus bertumbuh itu, sedangkan aku hanya 165an kalo tidak salah.


Tiba-tiba saja mataku yang memang sejak tadi jelalatan ini berhasil menangkap sosok cowok ganteng. Namun setelah aku lihat-lihat, ini bukan cowok ganteng yang aku cari. Ini sebuah kesialan!


Dunia itu tidak sempit kan? Kenapa pepatah yang menyatakan dunia tak selebar daun kelor itu tak ada di pihakku? Kenapa aku harus selalu bertemu dengan orang yang sudah sering aku jumpai setiap saat itu, kenapa??


Kenapa?


“Pak Sam.” Gumamku.


Vino menghentikan larinya, “apa, mbak?”


Seketika aku gelagapan mendengar pertanyaan Vino, dan yang paling penting aku tidak mau dia melihat Pak Sam. “Eh jangan di sekitar sini deh Vin. Di sini nggak ada cowok ganteng. Katanya lo pengen gue cari cowok ganteng.”


Vino menaikkan satu alisnya saat melihatku yang terus menyengir, “Ok, coba ke sana aja yuk! Biasanya di sana tempat stay atlet-atlet gitu.”


Aku langsung menggeret Vino ke tempat yang di maksud. Untuk sementara ini aku berharap, aku bisa menghindari pertemuan dengan Bos Kampretku itu. Ya semoga saja.


Beberapa menit kemudian saat aku tengah berlari, tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namaku. Aku berusaha mencari sumber suara dan akhirnya aku menemukannya.


“Hai ...” Sapanya.


Reflek pertama yang bisa aku lakukan adalah tersenyum. Sembari mengingat-ingat siapa orang sok kenal yang berani berdiri di depanku ini.


“Adelia kan? lama nggak ketemu ya? Sejak lulus kuliah lho.” Tanya seorang cewek berbadan seksi namun bertampang sedikit pas-pasan itu.


“Intan!” Seruku. Aku berpura-pura memasang wajah senang sembari memeluknya, “iya nih, soalnya aku sibuk kerja.”


Hampir saja aku lupa dengan cewek bernama Intan ini. Atau memang seharusnya aku tidak boleh lupa? Dulu saat kuliah semester kedua, Intan ini sempat menyukai cowok yang aku taksir. Padahal dia juga tau lho, soal cowok yang aku taksir itu. Tapi nggak tau deh, dia nya tetap doyan. Dan yang bikin aku tambah sakit saat aku berhasil jadian dengan cowok itu. Dengan teganya di belakangku dia menikung cowokku. Dan lebih kampretnya lagi cowok ku juga mau dengan Intan ini.


Masa itu adalah masa yang paling bedebah dalam hidupku, dan sejak itu juga aku mulai takut untuk menjalin hubungan serius dengan seorang cowok. Aku tidak mau lagi di tinggal pas lagi sayang-sayangnya. Apalagi iman cowok itu mudah sekali tergoda dengan cewek-cewek macam Intan ini.


Tapi dulu hubungan mereka juga tak berlangsung lama kok. Padahal aku juga tidak terlalu nyumpahin lho supaya mereka cepat putus! Mungkin hukum karma memang berlaku begitu cepatnya.

__ADS_1


“Wah jangan kerja terus lah, Del. Kapan nikahnya kalo kerja terus.” Hah dia bilang apa? maksudnya dia menyindirku begitu.


“Hahaha ...” Aku tertawa garing, “kalo urusan nikah sudah ada yang ngatur kok. Gue mah tinggal jalanin aja.”


“Hmm ... Jangan bilang lo belum punya calon juga buat di ajak nikah.” Intan sedikit tertawa, maksudnya apa sih bikin kesal saja. “Cowok gue sebenarnya udah ngebet banget ngajak nikah, tapi gue belum siap. Padahal cowok gue yang sekarang ini udah mapan lho, dan gantengnya juga lebih ganteng dari Raka.”


Maksudnya apalagi coba? Mau pamer begitu, dan ngapain juga pakai nyebut nama Raka. Raka itu cowok ku yang ku ceritain tadi, yang dengan mudahnya di tikung sama Intan.


“Wah hebat dong, ntar kalo nikah jangan lupa undang gue?” Padahal dalam hati mah aku tidak peduli.


“Pasti dong, tapi lo belum jawab pertanyaan gue. Lo masih jomblo kan?” Terkesan menyindir sekali pertanyaan itu.


“Hah?” Aku bingung mau menjawab apa, kalau aku jawab tidak ini orang pasti semakin besar kepala. Tapi kalau aku jawab iya, berarti aku harus berbohong. Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini.


Tepat saat aku memutar-mutar mataku untuk mencari alasan yang tepat, pandanganku tak sengaja bertubrukan dengan pandangan Pak Sam yang tengah berdiri tak jauh dari depan mataku. Aku menangis dalam hati, jujur aku memang butuh pertolongan darimu Tuhan dan aku juga tidak masalah jika pertolongan ini datang begitu cepat. Tapi kenapa? Kenapa harus Bos kampret ku itu yang harus aku lihat?


“Del ...”


“Ya?” Aku menaikkan alisku menatap ke arah Intan, dan tentu juga ke arah Pak Sam. Dari jauh manusia kampret itu terlihat tersenyum ke arah ku.


“Lo kok nggak jawab pertanyaan gue sih, jangan-jangan bener ya? Lo masih jomblo?” Persetan dengan tawa yang keluar dari mulut Intan.


“Nggak kok.” Pak Sam terlihat berjalan ke arah ku.


“Yang bener, kenalin ke gue dong.” Terus setelah gue kenalin mau lo coba tikung lagi begitu. “Gue penasaran.”


“Ah iya.” Aku menggaruk belakang telingaku, dan Pak Sam semakin mendekat.


“Orang nya gimana lebih ganteng dari Raka?”


Aku meringis ke arah Intan, “ya?”


“Wah ... kalo lebih ganteng hebat dong lo.”


Jangan mendekat ku mohon, sumpah ya ini jantungku berasa di bawa lari keliling GBK sepuluh kali.


“Gue makin penasaran deh.”


“Hahaha ...” Aku mencoba tertawa, walau hatiku ini sudah menangis sejadi-jadinya.


“Jangan-jangan lo ke sini sama dia, ya?” Aku menaikkan alisku kaget.


Dan tepat saat itu, cowok yang memakai celana kolor pendek dan atasan singlet hitam itu sampai di hadapanku.


“Adeli~”


“Ah iya ...” Aku langsung menggeret lengan Pak Sam sebelum ia selesai bicara. “Kenalin nih cowok gue. Sayang ... dia Intan temen kuliahku dulu.” Aku tersenyum ke arah Pak Sam sambil mengedip-ngedip kan mataku.


Dan aku yakin betul Pak Sam kaget dengan sikapku yang kurang ajar ini. Terlihat dari ekspresi alisnya yang naik itu. Aku tahu, saat ini aku kurang ajar, tapi aku sangat berharap kalau Pak Sam bisa membantuku, setidaknya agar mulut Intan ini bisa diam.


“Oh My God.” Itulah kata yang pertama kali keluar dari mulut Intan saat melihat sosok Pak Sam. “Ini beneran cowok lo ,Del. Seriusan?”


“I-iya serius dong ...” Aku makin mengeratkan pelukan ku di lengan berotot milik Pak Sam. “Ya kan, sayang?” Ku lihat Pak Sam masih menatapku dengan tatapan heran, aku hanya meringis dengan sorot mata memohon.


“Ya ampun nggak nyangka banget.” Intan masih heboh sendiri, sedangkan aku masih benar-benar berharap Pak Sam ada di pihakku bukan malah mempermalukan aku di depan Intan.


“Ah iya kenalkan saya, Samuel.” Pak Sam mengulurkan tangannya ke arah Intan, aku mohon jangan sampai ucapan berikutnya bikin aku malu. Kalau sampai malu-maluin aku bersumpah tidak mau berangkat kerja lagi.


“Kekasih Adelia.” Sorot mata teduh itu menatap ke arahku, bibirnya membuat senyuman yang mampu merontokkan hatiku.


“Intan.” Intan membalas jabat tangan Pak Sam, “wah nggak nyangka Adelia hebat juga ya? Bisa dapat cowok blasteran. Mau dong, Del, kenalin satu.” Intan tersenyum genit ke arah Pak Sam.

__ADS_1


Maunya apa sih tuh cewek? Barusan tadi bilang kalau cowoknya mau ngajak nikah lho, ini malah ganjen banget setelah lihat cowok yang kadar kegantengan nya memang memikat dan tidak manusiawi ini.


“Hahaha ...” Tawaku garing, “terus cowok kamu mau di taruh mana?” Sindirku, biarin aja dia kesal.


“Hehe, ya siapa tau masih ada jodoh yang menunggu.” Ya ampun ganjen banget.


Ini tidak boleh di biarin terlalu lama, “duh kayaknya gue harus duluan deh, Ntan. Gue harus nyari adik gue nih.”


“Buru-buru amat sih Del, gue kan pengen ngobrol sama cowok lo dulu.”


Ya ampun ... lama-lama kalau kesabaranku habis, aku pukul juga kepalanya.


“Lain kali aja gue harus balik nih. Ya kan, sayang. Katanya tadi kamu mau nyari sarapan juga, kan?” Aku berusaha mengedipkan mataku ke arah Pak Sam. Dan dia hanya membalas dengan sebuah seringai.


“Iya nih aku juga udah laper banget.” Mendadak perasaanku menjadi tidak enak, “Yuk! kita cari adik kamu dulu, habis itu kita cari sarapan ya, sayang.” Perasaan tidak enakku semakin menjadi-jadi saat lengan Pak Sam beralih merangkul pundakku.


Ini orang mau bikin aku pingsan kayaknya. Duh, ini lengan Pak Bos beneran kan yang melingkar di pundakku. Kakiku lemas sekali rasanya.


“Gue duluan ya, bye!” Ucapku yang langsung mengajak Pak Sam pergi dari hadapan Intan.


Cukup lama hingga kita sudah tampak jauh berjalan. Tiba-tiba aku berteriak dan melepas kan rangkulan Pak Sam.


“Bapak ngapain sih pake peluk pundak saya segala?” Kan aku jadi deg-degan, lanjutku dalam hati.


“Loh, bukanya tadi kamu yang mengajak saya berakting buat jadi kekasih kamu. Saya pikir memang harus totalitas biar teman kamu itu percaya.” Ujar Pak Sam santai.


Bapak nggak tau sih apa yang aku rasain, “ya nggak usah adegan merangkul juga dong.”


“Tapi tadi kamu juga merangkul lengan saya.” Mendadak leherku menjadi kering, aku berharap segera menemukan Vino untuk lari dari masalah yang aku buat ini.


“Ya, ya kan tadi saya reflek.” Jawabku asal, “ jangan nyalahin saya dong, kalo nggak begitu temen saya juga nggak bakalan percaya.”


“Nah ... itu kamu tau, kenapa kamu nyalahin saya saat saya berusaha membuat teman kamu percaya?” Duh kalah omong lagi, Vino cepetan nongol dong.


“Lagian kenapa harus bohong seperti tadi sih, Del?” Imbuh Pak Sam.


“Ya terpaksa biar dia bisa diam.” Ucapku sembari mencari-cari keberadaan Vino.


“Kenapa saya yang harus pura-pura jadi pacar kamu?” Tanya Pak Sam lagi dengan nada lembut.


“Ya karena saya lihatnya Bapak, nggak ada yang lain. Jadi, ya maaf kalo Bapak saya jadiin pacar pura-pura saya.” Pak Sam kok tanya begitu ya atau jangan-jangan dia marah. Wah gawat nih.


“Kenapa harus pura-pura~”


“Ya kan barusan saya sudah jelasin”. Sahutku cepat memotong ucapannya sedikit gemas, “jadi saya~”


“Saya nggak suka berbohong.” Sela Pak Sam, sepertinya dia beneran marah. Pak Sam menatap serius ke arahku.


“Kalo kenyataanya kesempatan untuk kita menjalin hubungan yang lebih serius itu memang ada.”


What? Tolong Korekin kupingku yang kadang suka bermasalah ini dong! Kalimatnya barusan itu seketika membuat jantungku berhenti. Aku masih terdiam dengan mata yang terus berkedip, untuk menandakan kalau aku masih sadar dan hidup. kira-kira ada yang bisa menyelamatkan hidupku saat ini tidak ya? Sebelum jantungku yang berhenti ini jatuh ke lambung.


“Mbak Adel!” Suara teriakkan itu, suara yang bisa menyelamatkan ku.


“Cepetan kesini kampreett!!” Aku menodongkan kepalan tanganku ke arah Vino.


##


Akhirnya Vino berguna juga buat Adelia..


salam dari penulis amatir ❤️

__ADS_1


__ADS_2