
Hallo semua.
Tetap dukung selalu ya.
Tinggalin like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Hari ini ternyata aku mendapat banyak sekali pekerjaan. Bahkan jarum jam baru berada di angka sembilan, aku sudah merasa begitu lapar. Aku ingin makan!
Semua energi sarapanku terkuras habis karena sejak tadi bolak-balik masuk ke ruangan Sam. Belum lagi bolak-balik ke mesin fotocopy, belum ke divisi lain, belum ke lantai atas.
Hah, aku ingin pingsan Ya Allah.
Akhirnya aku menyerah.
“Nanti kalau Bos nyariin, bilang gue mau pingsan. Gue udah nggak kuat, gue laper!” Aku membanting berkas yang aku bawa ke atas meja. Lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari teman-temanku.
Aku memutuskan pergi ke pantry. Hanya di sanalah aku bisa mendapatkan makanan dalam keadaan darurat ya walaupun hanya berupa camilan ringan.
Dan benar kataku, Mang Diman yang kebetulan ada di sana langsung memberiku sebungkus biskuit sebelum dia pamit keluar.
Bukankah kalau makan biskuit enaknya sambil minum teh, kan. Aku langsung berdiri lalu membuat secangkir teh, aku mencicipi rasa dari teh manis yang sedang aku buat terlebih dahulu sebelum kembali ke meja.
“Hm ... Sempurna. Manis, semanis yang buat.” Aku bergumam sendiri sambil terkekeh.
Begitu aku hendak kembali ke meja aku langsung kaget karena tiba-tiba Sam sudah ada di sana. Dia menyandarkan dirinya ke meja dengan kedua tangan terlipat ke depan.
Astagfirullah, orang ini benar-benar.
Aku melirik ke arah pintu sesaat. “Kamu bikin aku kaget aja sih.” Dengan wajah cemberut aku berjalan mendekati Sam lalu duduk di kursi tepat sebelah tempat Sam menyender saat ini.
“Boleh aku cobain semanis apa teh buatan kamu.” Sumpah ya, aku hanya ingin menikmati biskuit ini. Aku tidak mau kenyang terlebih dahulu karena rayuan Sam.
“Sam.” Ujarku. Dia hanya menaikkan satu alisnya ke arahku.
Setelah itu Sam mengambil sebungkus biskuit yang Mang Diman berikan padaku tadi lalu membukanya. Aku pikir Sam akan merampas dan memakannya. Tetapi ternyata setelah bungkusnya terbuka dia langsung mengambil satu biskuit dan menyodorkannya ke arahku. Bukan ... Sepertinya bukan menyodorkan tetapi menyuapkan.
Tentu saja aku malu, bagaimana kalau saat aku membuka mulut terus tiba-tiba ada yang masuk? Tetapi Sam benar-benar pemaksa, dia tak menghentikan aksinya sebelum aku membuka mulutku.
Terpaksa.
Aku membuka mulut lalu menggigit biskuit tersebut sekali gigit. Aku tak peduli kalau Sam menganggap apa yang aku lakukan ini sangat tidak feminim. Cih, kita lihat saja apa dia bisa ilfeel denganku.
Sam malah tersenyum lalu mengelus pundak kepalaku. “Sam.” Gerutuku sambil menarik tangan Sam.
“Kenapa?” dia masih tersenyum ke arahku. Kalau aku sumpel mulutnya pakai biskuit ini kira-kira dia bakal marah apa tidak ya.
“Kamu ngapain sih di sini?” ujarku kesal.
Rasa laparku mendadak langsung hilang begitu saja. Padahal aku baru makan satu biskuit dan mencicipi satu sendok kecil teh manis buatanku. Sam benar-benar sialaan!
“Nanti mampir ke apartemen dulu ya.” Mendengar kata apartemen kok pikiranku jadi berkeliaran kemana-mana ya, tapi rasanya memang sudah lama aku tidak mampir ke apartemen Sam.
__ADS_1
Ah, tidak! Tidak!
“Um ... Gak bisa. Aku nanti mau ke rumah Tiwi. Aku udah janji mau tidur di rumahnya.” Jelasku.
Sam terlihat mengangguk-anggukan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
Tunggu dulu, kenapa dengan ekspresi wajahnya? Kok aku merasa raut wajahnya langsung berubah ya, apa hanya perasaanku saja.
“Ya sudah, cepat kamu habiskan biskuitnya.” Sam melirik jam di tangannya. “Aku ada meeting.” Dia lalu berdiri tegak dan tak lupa sebelum ia keluar dari pantry Sam mencubit kedua pipiku terlebih dahulu.
Aku menatap kepergian Sam dengan alis berkerut. Manusia itu kenapa sih? Aku langsung tersenyum sendiri sambil memegang pipiku. Jadi panas kan wajahku.
##
Gara-gara pekerjaanku yang begitu menumpuk jadi aku harus lembur malam ini. Tapi aku tidak lembur sendirian kok ada Mas Angga dan Mbak Sari juga. Sedangkan Rizal dan Tiwi mereka berdua bisa pulang lebih awal.
“Mbak gue tunggu lo di rumah ya.” Kata Tiwi sebelum dia pulang. Aku pun hanya mengangguk dan mengacungkan jempolku.
“Kalian mau kemana?” tanya Rizal.
“Mbak Adel mau nginep di rumah gue.” Jawab Tiwi apa adanya. Toh memang kenyataannya seperti itu.
“Hah? Nginep. Gue ikut dong, please!” rengek Rizal.
“Sarap lo, Mas. Udah deh kita pulang dulu ya, selamat over time!” Tiwi langsung menggeret lengan Rizal hingga masuk ke dalam lift.
“Memang ada acara apaan sampai lo nginep di rumah Tiwi segala?” Tanya Mbak Sari begitu Tiwi dan Rizal sudah masuk ke dalam lift.
“Katanya dia di rumah sendiri.” Jawabku singkat.
Mas Angga lalu berdiri dan menawarkan diri untuk membelikan aku dan Mbak Sari makanan. Mas Angga memang bapak yang baik deh, top pokoknya.
Aku mencoba menekan bel di rumah Tiwi tetapi sang pemilik rumah tak kunjung keluar. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Tiwi, belum sempat aku menekan nomornya nama Tiwi sudah tertera di layar ponselku.
Apa ini yang di namakan panjang umur?
“Hallo, lo di mana gue udah di depan rumah lo.” Aku melihat-lihat ke rumah Tiwi barangkali dia tiba-tiba membukakan pintunya.
Aku mendengar sedikit kepanikan dari seberang Telepon.
“Aduh, Mbak. Sorry banget, gue gak ada di rumah karena baru aja gue dapat kabar dari nyokap kalau nenek gue meninggal.”
“Innalillahi, gue turut berduka ya, Wi.” Dalam hati aku langsung bingung. Sudah jauh-jauh ke sini ternyata yang punya rumah tidak ada.
“Sekali lagi, sorry banget ya, Mbak. Gue tadi panik jadi gak sempat ngabarin ke lo dulu.”
“Iya, Wi, tenang aja kayak sama siapa aja sih. Ya udah sekali lagi turut berduka ya sorry gue gak bisa datang.” Tiwi mengucapkan terima kasih dan meminta maaf sekali lagi sebelum akhirnya menutup sambungan teleponnya.
Huft.
Sekarang bagaimana nasibku? Jalan sudah sepi begini. Terpaksa aku harus memanggil abang ojol lagi. Tetapi sebelum aku menekan tombol aplikasi ojek online tiba-tiba sebuah mobil yang sudah sangat aku kenal berhenti tepat di depanku.
Perlahan kaca mobil itu menurun.
“Ayo masuk.” Pintanya. Tanpa menunggu lama aku pun langsung masuk ke mobilnya.
“Kamu kok bisa ada di sini sih, Sam.” Kataku setelah aku berhasil memasang seat belt ku.
__ADS_1
Jangan bilang, kalau Sam menguntitku sejak tadi. Ah ... Kenapa aku tidak menyadarinya ya? Manusia ini benar-benar lebih menyeramkan dari pada setan. Untung dia pacarku dan bukan orang jahat.
Sam tak menjawab dan langsung melajukan mobilnya begitu saja. Aku mendengus pelan lalu seketika aku menyadari ke mana Sam akan membawaku malam ini. Ya, ke apartemennya.
•••
Setelah mendengar bunyi beep jantungku terasa begitu berdebar dua kali lipat dari yang tadi. Aku juga tidak tahu apa yang menyelimuti perasaanku saat ini, ada perasaan malu dan canggung. Aku mencoba menampik perasaan itu jauh-jauh, tak mau saja kalau nanti jatuhnya Ge-eR lagi. Hussh!
Sam menarik lenganku masuk ke apartemennya. Masih terlihat sama, hanya saja hari ini terlihat sedikit lebih berantakkan. Dan Sam mengatakan kalau itu semua adalah ulah Raffael.
“Kamu lebih baik mandi dulu.” Ucap Sam yang langsung mengagetkanku.
Aku masih berdiri di tempatku dengan sejuta kebingungan. Ekspresi apa yang harus aku tunjukkan ke Sam saat ini. Aku tidak mau kalau Sam sampai tahu perasaanku sedang tidak begitu baik saat ini.
“Hah? Mandi.” Bodoh, jelas itu kentara sekali kalau aku sedang gugup.
Sam tersenyum tipis lalu meletakkan kedua tangannya di bahuku. “Iya, mandilah dulu. Setelah itu kita makan bersama.”
Sam langsung berjalan dan menjatuhkan dirinya ke sofa yang ada di ruang tamunya. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Sepertinya Sam kelihatan capek sekali malam ini.
Aku langsung berjalan naik ke kamar Sam lalu bersiap untuk mandi. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi lalu menggulungnya agar tidak basah terkena air karena tadi pagi aku sudah keramas, tidak mungkin kan kalau malam ini aku harus mandi keramas lagi.
Selesai mandi aku langsung keluar menuju kamar Sam dan membuka lemari bajunya. Aku langsung menepuk jidat dan merutuki diriku sendiri.
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
“Kan baju yang gue beli waktu itu gue bawa pulang ke rumah. Terus sekarang gue gak punya baju dong, mampuus wae lo, Del!” berkali-kali aku menepuk jidatku sendiri dan menyalahkan kebodohan yang aku alami.
Aku harus tetap memakai baju, mana mungkin aku berduaan dengan Sam hanya menggunakan handuk seperti ini. Ehem, tau sendiri kan. Sama-sama lengkap menggunakan baju saja bisa khilaf apalagi begini.
Aku menuruni tangga dan melihat Sam masih berada di tempatnya belum bergeming sama sekali. Mungkin kah dia tertidur? Aku berjalan mendekati Sam sambil merapikan gulungan rambutku yang memang belum aku sisir. Aku berdiri tepat di hadapan Sam. Matanya masih terpejam dan terdengar dengusan nafas yang teratur keluar dari hidungnya. Aku jadi tersenyum sendiri, lalu pandanganku beralih ke wajah Sam. Mataku seolah terpaku dengan apa yang tengah aku lihat, pahatan wajah yang nyaris sempurna itu terlihat begitu tenang saat ini.
Kapan lagi coba aku bisa melihat wajah Sam yang anteng dan adem ayem begini?
Begitu tampan ... Alis tebalnya, hidung mancungnya, dan walaupun wajah Sam begitu maskulin tetapi Sam memiliki bulu mata yang lentik. Lalu pandanganku jatuh ke bibirnya, bibir yang selalu berhasil membuatku kehilangan kendali itu. Tanpa aku sadari wajahku semakin menunduk ke bawah dan mendekati wajah Sam.
“Sudah selesai mandinya?” aku langsung terkejut begitu Sam membuka kedua matanya.
Ah, Doble sialaan!
Aku langsung membuang mukaku ke sembarang arah sembari menggaruk-garuk belakang telingaku.
“S-sudah, gantian kamu sana.”
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
__ADS_1
Wah sepertinya ada yang malu lagi nih... wkwkwkwk