My Boss Samuel

My Boss Samuel
81. Astaga Papa!


__ADS_3

Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Biar akuh semakin semangat.


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Ada beberapa definisi tentang kebahagiaan yang di alami oleh seseorang. Entah apapun, semua kebahagiaan tersebut pastinya akan membawa semangat berbeda bagi setiap yang merasakannya.


Ya, aku memasuki gedung perusahaan ku dengan senyum yang begitu mengembang. Mulai dari pamit berangkat kerja ke Mama dan Papa, di sepanjang jalan menuju kantor, sampai aku berhenti dan turun dari abang ojek online. Bahkan orang gila yang hampir tiap pagi nongkrong di depan kantor pun aku ajak tersenyum lho karena saking bahagianya aku.


Tapi aku langsung lari begitu orang gila tersebut membalas senyumanku. Ck!


Pagi tadi sehabis subuh, aku meminta Sam untuk mengantarku pulang. Tidak mungkin kan aku berangkat dari apartemennya, lagi pula aku juga tidak punya seragam kantor di apartemen Sam. Kan kalau sesuai rencana kemarin aku bisa pinjam bajunya Tiwi dulu saat berangkat ke kantor. Makanya, aku meminta pulang dan mengatakan ke Mama kalau Tiwi hari ini tidak berangkat karena neneknya meninggal. Jadi ... Aku harus pulang deh.


Ya Allah maafkan lah hamba karena masih ada cerita yang hamba tutupi dari Mama.


“Del, nasib lo semalam gimana kalau ternyata Tiwi nggak ada di rumah?” Rizal langsung menyerangku dengan pertanyaan pertama.


Aku menyimpan jawabanku terlebih dahulu untuk duduk dan mencari kenyamanan di tempat dudukku. “Perasaan gue ...” aku malah tersenyum sendiri. “Baik-baik aja tuh.”


Mas Angga, Mbak Sari dan Rizal menatapku heran.


“Kan neneknya Tiwi meninggal kok lo senang banget sih, Del.” Tukas Mbak Sari.


“Ee, buseeet!” aku langsung menampik ucapan Mbak Sari. “Gue senang bukan gara-gara itu kali, lo pikir gue udah gila.”


Mbak Sari terkekeh. “Sorry, habisnya aura lo hari ini kelihatan senang banget, sumpah! Baru ketiban duit atau gimana?” imbuhnya.


“Wah, bisa jadi nih. Tadi lo nemu duit sekarung ya di jalan.” Sahut Mas Angga.


“Ya ampun, ngeri banget duit sekarung. Kalau gitu pagi ini gue nggak mungkin duduk di sini.” Tukas ku enteng. Sebenarnya aku ingin sekali membagi rasa bahagiaku hari ini, tapi setelah aku pikir-pikir jangan ah. Nanti aja buat kejutan biar bahagianya nambah dulu.


Rizal langsung berdiri dan mencuri perhatian dariku, Mbak Sari dan Mas Angga. Siaalnya, aku tak bisa menebak ada apa dengan ekspresi wajahnya sekarang.


“Gue tahu kenapa Adelia bisa bahagia pagi ini?” Rizal menatapku dengan sorotan penuh selidik. “Mungkin lo bisa menyembunyikan ini dari Mbak Sari atau Mas Angga tapi ... Lo nggak mungkin bisa sembunyiin ini dari gue.” Kini Mbak Sari dan Mas Angga mulai menatapku curiga.


Tunggu dulu, Apa yang akan di katakan kunyuk satu ini? Lagi pula dia tahu apa? Tidak mungkin dia bisa tahu apa yang sedang aku sembunyikan saat ini. Tapi melihat ekspresi wajahnya kok jadi membuatku merinding dan was-was begini ya. Di tambah tatapan curiga dari yang lainnya.


Duh!


Rizal masih menatapku dengan senyum misteriusnya. “Lo ngaku aja deh, Del.”


“Hah?” aku langsung terkejut. “Ng ... Ngaku apa maksud lo?”


Rizal semakin mendekat ke arahku. “Ngaku deh lo! Lo bahagia hari ini karena lo mau ...” aku menggigit bibir bawahku sambil menggeleng pelan. “Lo mau traktir kita makan pas gajian besok, kan?” Rizal tertawa dengan puas.


Sialaan.


“Oh iya, gue lupa. Bonus Adel kan gede bulan ini.” Imbuh Mbak Sari.


Huft ... Setidaknya pemikiran tak masuk akal itu bisa membuatku bernafas lebih lega. Memang kampret!


Aku mencoba ikut tertawa. “Lo kok tahu aja sih kalau soal bonusan.”


“Hm, jangan di tanya lah, Del. Indera penciuman tuh kunyuk kalau mendekati hari gajian begini bisa bekerja di luar nalar.” Kata Mas Angga yang langsung berhasil membuatku dan yang lainnya tertawa.


“Cih, dasar begitu tuh kelakuan teman lucknut!” tukas ku kesal.


Aku dan teman-temanku masih asyik menikmati acara tertawa kami pagi ini. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki muda berjalan malu-malu di depan ruangan kami.


Siapa tuh?

__ADS_1


Laki-laki tersebut terlihat cukup keren bagiku. Menggunakan setelan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam yang sangat pas dan cocok di tubuhnya. Lalu potongan rambutnya juga menambah kesan keren pada penampilannya.


“Cari apa, tong?” Tanya Mas Angga.


Ya, akhirnya ada juga yang bicara.


“Sebelumnya, maaf ... Apakah benar ini divisi promosi?” tanyanya ragu-ragu.


“Wah, bukan tong. Ini pasar Loak.” Ucapan Mas Angga langsung membuat aku dan yang lainnya tertawa sampai terbahak-bahak. Parah banget, orang tanya serius juga malah di bercandain. “Bercanda, bercanda ... Memangnya kenapa?” Kini Mas Angga mulai serius.


Laki-laki tersebut tersenyum dan manis sekali lho senyumnya. “Saya Rio, anak magang baru di divisi ini.” Ucapnya memperkenalkan diri.


“Oh ... Jadi lo yang kemarin di omongin sama Farhan.” Sahut Mbak Sari.


Dia hanya tersenyum lalu mengangguk dan tanpa aku sadari tatapanku dan tatapannya pun bertemu. Aku pun langsung tersenyum dan mengangguk ke arahnya dan dia langsung membalasnya dengan malu-malu.


Imut sekali sih, lumayan nih buat cuci mata selain Sam. Ucapku dalam hati.


“Selamat bergabung di sini ya.” Ucap Mbak Sari ramah. Aku tahu apa yang membuat sikapnya jadi ramah begitu pasti karena wajah Rio.


Rio tersenyum dan mengangguk. “Em ... Maaf, apa di sini memang AC dingin seperti ini ya? Kok saya merinding.”


“Ah, masa! AC nya baru nyala lho.” Sahut Rizal.


Tapi tiba-tiba aku juga merasakan hawa dingin juga sama seperti Rio. Wah, kenapa ini? Lalu aku mencoba menghilangkan perasaan tersebut dengan menggerak-gerakan leher. Ke samping, ke depan, ke belakang, Astagfirullah!


Aku langsung terkejut begitu melihat Sam sudah berdiri di depan pintu lift dengan memasang wajah sangar andalannya. Kemungkinan hawa dingin tadi berasal dari tatapan tajam dan aura dingin yang di bawa Sam saat ini. Aku, Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal langsung berdiri lalu mengangguk pelan ketika Sam mulai berjalan mendekat ke arah kami.


Rio yang selalu anak baru sepertinya sudah langsung paham dan mengerti kalau pria dengan tampang dingin itu adalah Bos di divisi ini. Dia langsung ikut menunduk ke arah Sam.


Sam menaikkan satu alisnya tanpa bicara ke arah Rio. Dan untung anak tersebut langsung peka. “Perkenalkan nama saya Rio, Pak. Saya anak magang baru di divisi ini.”


“Saya sudah tahu.” Ucap Sam.


Rio berdehem pelan lalu tersenyum bangga. “Walaupun saya masih magang, saya akan berusaha bekerja dengan keras, Pak. Saya tidak membutuhkan hal lainnya, saya hanya ingin menjadi garam pada sup ceker ayam. Saya mungkin tidak menonjol seperti bahan utama. Tapi saya akan berusaha bekerja dengan baik.” Ucapnya panjang lebar.


“Sup ceker ayam? Sup tersebut bahannya hanya ceker ayam dan garam, dan kamu ingin menjadi garamnya? Saya pikir kamu terlalu serakah.” Aku ingin tertawa ketika mendengar tanggapan dari Sam. Bukan hanya aku tetapi Rizal, Mbak Sari dan Mas Angga pun juga begitu. Sepertinya anak baru ini belum kenal siapa Bosnya.


“Begitu ya?” gumam Rio dengan wajah bingung.


“Baiklah, saya akan menantikan hasilmu sebagai garam.” Ucap Sam kemudian yang langsung membuat Rio tersenyum lagi. “Adelia, masuk ke ruangan saya.” Imbuhnya.


Aku mengangguk lalu berjalan mengikuti Sam yang masuk ke ruangannya. Dia segera melepas jas dan menyampirkannya di gantungan jas.


“Ada perlu apa, Pak?” aku langsung tersenyum begitu Sam berbalik ke arahku. Ya, mungkin ini juga karena efek bahagia yang sejak pagi tadi aku rasakan.


“Jangan tersenyum!” ucap Sam dan aku langsung menarik senyumku lagi. “Jangan tunjukkan senyum manismu itu ke laki-laki lain.”


Apa katanya? Duh, kok aku jadi malu ya. Kalau melihat ekspresi dan sikapnya seperti ini bagaimana bisa aku menahan senyumku.


“Kamu pikir aku nggak lihat apa yang kamu lakukan tadi. Kamu memberikan senyum ke anak magang garam tadi kan. Aku sangat kesal melihatnya, Adelia.” Aku semakin tersenyum mendengar ocehan Sam pagi ini.


Uh, dia bisa imut juga ternyata.


Sam masih menatapku datar, lalu secara tiba-tiba dia mencium bibirku begitu saja. Mencecap dan menggigitnya sedikit keras hingga membuatku mengaduh lalu melepas ciumannya secara paksa.


“Sam, nanti kalau ada yang masuk gimana?” aku menatap ke arah pintu lalu kembali menatap Sam lagi.


“Kalau kamu takut ketahuan, kita lakukan di luar kantor saja. Ayo ke apartemenku.” Kata Sam tanpa merasa berdosa sama sekali.


Apa dia sudah benar-benar gila?


“Sam bukan begitu maksudku.” Aku mencoba memberinya penjelasan lalu tiba-tiba Sam menarikku ke dalam pelukannya.


“Aku sayang kamu.” Sam memelukku begitu lama hingga aku terhanyut dalam pelukan nyaman yang Sam berikan.

__ADS_1


Ah, rasanya aku tak ingin pelukan ini berakhir.


•••


Mobil Sam berhenti tepat di depan rumahku. Aku menatap Sam yang masih terdiam, lalu aku mengulurkan tanganku untuk mengusap punggung tangannya.


“Kamu yakin?” Sam menatapku lalu mengangguk. “Kalau begitu, ayo turun.” Aku dan Sam turun dari mobil lalu masuk ke rumahku.


Suasana rumahku malam ini terasa begitu berbeda, apa ini gara-gara aku bilang ke Mama kalau Sam ingin bilang sesuatu malam ini. Semoga saja apa yang aku takutkan malam ini tidak terjadi.


Kedatangan Sam langsung di sambut oleh Mama dan Papa, satu anggota keluarga lagi yang tak boleh terlupa yaitu Vino. Dia ikut duduk dan ingin mendengar kabar baik yang akan di bawakan Sam malam ini. Tak menunggu waktu lama Sam segera mengutarakan maksud dan tujuannya malam ini datang ke sini.


“Saya ingin meminta restu kepada Papa dan Mama, kalau Saya berniat serius dan ingin melamar Adelia untuk menjadi istri saya.” Ucap Sam dengan tenang.


Mama dan Vino kompak memasang wajah sumpringahnya. Mama tampak begitu tak sabaran, seperti ingin bilang ‘iya Sam silahkan’. Aku melihat Mama menyikut lengan Papa yang tak kunjung memberi jawaban. Padahal jawaban Papalah yang sejak tadi kami tunggu-tunggu. Wajah Papa begitu serius menatap Sam.


Menyadari Papa yang tak kunjung membuka suaranya membuat Mama ingin menjawab dan mewakili jawaban Papa segera. Tapi tiba-tiba ... aku, Mama dan Vino kompak membelalakkan mata ketika Papa membuka suaranya.


“Kamu yakin mau melamar, Adelia? Terus menurut kamu seperti ini cara melamar yang baik?” Papa menampilkan wajah serius yang sangat susah sekali untuk aku tebak.


Apa maksudnya? Kenapa Papa berkata seperti itu. Aku sangat kaget, dan aku yakin Mama juga sangat kaget setelah mendengar jawaban Papa. Ini sungguh di luar dugaan.


Aku menggigit bibir bawahku lalu aku melirik Sam yang dengan tenang tersenyum ke arahku.


“Maafkan saya, Pa. Sam hanya ingin meminta restu terlebih dahulu agar Papa dan Mama bisa mempercayai keseriusan Sam. Setelah itu rencananya minggu besok saya akan mengajak anggota keluarga saya ke sini untuk melamar putri Papa secara resmi.” Jelas Sam.


Lalu aku kembali melihat Papa.


Papa menyipitkan matanya ke arah Sam. “Kamu benar-benar serius?” Sam mengangguk lagi dan tatapan Papa belum berubah. Lalu dua detik kemudian Papa tertawa. “Kamu jangan tegang seperti itulah Sam, Papa kan nggak menodong kamu dengan senjata.”


Di saat aku dan yang lainnya merasakan kebingungan dan ketegangan karena jawaban Papa, tetapi entah kenapa Papa malah bisa bercanda dan tertawa.


“Haha, Papa ih suka bercanda ya.” Mama menepuk lengan Papa lalu ikut tertawa bersama Vino.


Aku yakin mereka berdua hanya tertawa untuk menghilangkan rasa tegang yang beberapa menit lalu mereka rasakan. Sama sepertiku.


“Sam enggak tegang kok, Pa.” Ujar Sam dan Papa masih tertawa.


Aneh.


Papa kemudian kembali ke mode serius lagi. “Papa percaya kok sama kamu, bahkan semenjak Papa bertemu dengan kamu untuk yang pertama kalinya. Papa sudah bisa merasakan kalau kamu adalah pria yang baik. Jadi ...” jantungku berdebar menunggu jawaban dari Papa, aku mohon jangan yang aneh-aneh lagi. “Papa ijinkan kamu melamar dan menikahi Adelia.”


Akhirnya, aku bisa bernafas lega. Aku dan Sam saling pandang lalu tersenyum. Ya, walaupun aku yakin kalau jawaban Papa bakalan setuju tetapi aku tetap saja tegang. Apalagi Papa malah pakai acara bercanda segala. Duh ... Benar-benar di luar dugaan.


Untung saja Sam sabar, ya kan.


Sabar ya, Sam, karena seterusnya kamu akan masuk ke dalam keluargaku yang super duper nyeleneh ini. Ck!


.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1



aku udah kangen nih lihat Sam marah-marah tapi kayaknya beberapa episode ke depan bakalan jarang marah deh, hihihi.


__ADS_2