
Jangan lupa ya Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Kamu sering naik Vespa?” aku bertanya saat menyadari Sam terlihat begitu handal mengemudikannya.
“Nggak terlalu sering, tapi ada Vespa kesayangan kakek di rumah selain motor sportnya dulu. Kita ke minimarket mana?” dia bertanya ketika kami sudah keluar gapura kompleks.
Aku tertawa. “Kamu nggak paham apa pura-pura nggak paham?” aku memeluk pinggangnya.
“Maksud kamu?” Sam menoleh.
“Mama nyuruh kita pergi dari rumah ke minimarket itu Cuma alasan doang.” Jelasku.
Sam mengangguk. “Terus kita kemana?”
Aku diam sejenak sambil terus meletakkan dagu di bahunya Sam. “Beli ice cream.”
“Oke, sayang.” Dia mengacungkan jempol lalu melajukan Vespanya lebih cepat, menyalip beberapa kendaraan lain dengan begitu lihainya.
Aku tertawa melihat Sam yang seperti mendapat mainan baru, dia terlihat nyaman mengendarai Vespa kesayangan Papa. Lalu aku memeluk pinggangnya lebih erat.
Kami berhenti di salah satu minimarket, aku melangkah lebih dulu sedangkan Sam mengikuti dari belakang. Saat aku hendak menuju freezer ice cream, Sam malah berbelok menuju rak snack dan mengambil tiga bungkus keripik kentang ukuran jumbo. Aku memutar bola mata.
Dia tidak bisa hidup tanpa keripik kentang ya?
“Beli yang mana?” dia bertanya sambil membawa keranjang belanja dimana di dalamnya berisi tiga bungkus besar keripik kentang. Dari mana pula dia mendapatkan keranjang merah itu? Astaga.
Aku mengambil dua buah ice cream cornetto rasa cokelat lalu membawanya ke kasir.
“Mau isi pulsa sekalian, kakak?” aku yang berdiri di depan kasir, tapi kasir minimarket itu malah bertanya dan menatap Sam.
Helloo mbaknya! Nggak lihat aku di depan matanya apa?!
“Tidak, terima kasih.” Sam menolak dengan sopan.
“Kita lagi ada promo, Kak. Isi pulsa gratis voucher belanja senilai sepuluh ribu.”
Aku memutar bola mata.
“Tidak.” Sam menjawab datar, mulai jengah dengan tatapan kasir di depannya.
“Tapi promo ini Cuma berlangsung hari ini saja, dan besok~”
“Nggak, Mbak. Suami saya bilang dia nggak mau beli pulsa!” ujarku ketus sekalian.
Seolah baru menyadari keberadaanku, kasir minimarket itu menatapku lalu segera menunduk sambil cepat-cepat memasukkan belanjaan itu ke kantong plastik. “Maaf, kak.” Ujarnya menyerahkan belanjaan itu padaku sambil menyebutkan nominal yang harus kami bayar.
Sam mengeluarkan selembar uang, lalu tanpa menunggu kembaliannya, aku menarik Sam keluar dari minimarket itu.
“Kak, kembalian ...”
“Buat kamu aja. Isi pulsa kamu!” ujarku sebal.
Sam terkekeh pelan ketika kami sudah berada di luar minimarket.
Aku menatapnya. “Nggak usah ketawa!” semburku kesal.
“Duh, istriku marah.” Ujarnya menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali sambil tersenyum geli.
__ADS_1
“Lagian ganjen banget!” aku masih mengomel. Aku lalu menyerahkan kantong plastik itu secara kasar ke Sam setelah mengambil dua buah ice cream yang tadi kami beli.
Sam menggantung plastik itu di kaitan besi yang ada di bagian depan Vespa, lalu duduk di Vespa dan aku duduk di belakangnya.
“Habis ini mau kemana?” dia mulai membuka bungkus ice cream yang ku serahkan.
“Hm.” Aku hanya bergumam sambil bersandar pada punggungnya. “Nanti dulu, habisin ice cream dulu.” Ujarku galak sambil menatap beberapa orang yang menatap ke arah kami.
Tidak pernah lihat orang pacaran apa ya? Apa tidak pernah lihat orang ganteng duduk di atas Vespa. Ck!
Sedangkan Sam tampak tak menyadari beberapa orang menatap ke arahnya, dia masih asik dengan ice cream coklat sambil memainkan jari tanganku yang berada di pahanya. Meremas-remas jemariku lalu memainkan cincin yang ada di sana.
“Kok hari ini kamu pakai setelan rapi gini sih, Sam.” Gumamku tapi aku yakin Sam bisa mendengarnya.
“Oh ini, tadi ada pertemuan mendadak antar pemegang saham. Dan ... Kakek sudah memutuskan untuk mengenalkan aku sebagai penerusnya. Atau calon pemimpin perusahaan yang baru.” Jelas Sam.
“Hah? Jadi sekarang kamu benar-benar sudah mau nih menempati posisi sebagai CEO.” Aku mengeluarkan nada menyindir di akhir kalimat.
“Hm, iya. Lagian kita sebentar lagi juga mau nikah jadi ... Aku nggak mungkin ingkar janji dengan ucapanku waktu itu.” Sam menoleh ke belakang melihatku yang masih asik dengan ice creamku yang sudah hampir habis.
“Kenapa?” tanyaku menatap Sam dengan alis terangkat.
“Kamu beneran mau resign?” tanyanya sambil mengusap bibirku yang belepotan karena ice cream yang aku makan.
“Ya, aku udah mulai capek lihat kerjaan yang nggak ada habisnya.” Walaupun sebenarnya bukan karena itu juga sih.
“Yakin? Nanti kamu bosan kalau Cuma di rumah.” Sam menggodaku sambil menaikkan satu alisnya.
“Aku sudah pikirkan ini selama berhari-hari bahkan jauh-jauh hari. Aku yakin dengan keputusanku.” Ujarku meyakinkan.
“Better offer, ya?” Sam bertanya. “Perusahaan apa?”
Aku menggeleng sambil tersenyum. Marah tidak ya kalau aku cerita yang menawarkan aku pekerjaan adalah Papanya sendiri? Aku sempat berbincang dengannya waktu di Bali, Papa Carlisle menawarkan aku menjadi salah satu dosen di kampus milik Kakek Robert yang ada di kawasan Jakarta. Aku kira kakek Robert hanya punya yayasan Universitas di Bali ternyata di Jakarta juga ada. Memang aku tidak memiliki jiwa mengajar sedikitpun, tapi apa salahnya mencoba? Aku hanya akan memegang satu mata kuliah. Dan aku juga akan belajar dulu dengan Papa Carlisle atau kakek Robert sebelum benar-benar yakin menjadi dosen di sana.
“Jadi harus aku tanda tangani kalo kamu nanti nyerahin surat resign?” dia bertanya sekali lagi.
“Harus!” aku menepuk pinggang Sam. “Awas aja kalau nggak.”
Sam tertawa, lalu merebut bungkus ice creamku yang sudah habis.
“Mau kemana lagi?” dia bertanya setelah membuang bungkus ice cream ke tempat sampah terdekat. Sedangkan aku masih menunggu di atas Vespa.
“Kayaknya Tante Indah belum pulang deh.” Sam duduk dan memakai helmnya. “Kita makan mie ayam aja yuk, aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini. Kan tadi kita juga belum sempat makan siang.”
“Oke.” Sam mulai menghidupkan Vespanya dan aku memeluk pinggangnya. Meninggalkan pelataran minimarket menuju warung mie ayam yang tidak jauh dari sana.
••
“Makanya satu porsi aja, soalnya nanti balik ke rumah Mama pasti nyuruh makan lagi.” Aku berkata cepat saat Sam ingin memesan tiga mangkuk mie ayam.
Kalian belum tahu kan, kalau ternyata Sam itu gentong banget. Sumpah!
“Dua aja, bang.” Sam meralat pesanannya dan mengikuti masuk ke warung yang cukup ramai, kami duduk di meja paling belakang.
Aku sudah memesan dua gelas es teh kepada pelayan yang ada di sana. Sambil menunggu pesanan mie ayam datang, aku mengambil bungkus kerupuk yang ada di keranjang dan membukanya.
Aku tengah asik mengunyah ketika tangan Sam membawa tanganku yang memegang kerupuk mendekati mulutnya. Dia menggigit ujung kerupuk itu lalu mengunyahnya santai.
Satu hal yang harus kalian tahu. Ini pertama kalinya Sam makan mie ayam di pinggir jalan, tapi sepertinya Sam tidak keberatan dengan itu. Dia duduk dengan nyaman di kursi plastiknya. Dan itu sungguh menggemaskan!
Untungnya dia tadi sudah melepas jas dan dasinya. Jadi penampilannya sekarang tidak begitu mencolok di antara pembeli yang ada di warung ini. Kecuali wajahnya.
Kalau kalian menyangka Sam benar-benar hanya makan satu porsi, kalian salah. Nyatanya kini dia tengah menunggu porsi keduanya di antarkan oleh pembuat mie ayam.
__ADS_1
“Nanti kalau Mama nyuruh makan lagi, mau di taruh dimana itu nasi?” aku melotot padanya yang hanya menyengir tak berdosa.
Uh, lihatlah wajah menyebalkan itu.
“Makan mie aja nggak bakal bikin kenyang. Sebelum makan nasi, aku nggak bakal berhenti makan.” Ujarnya senang menatap pada mie ayam yang di antar oleh penjaga warung.
Aku memutar bola mata. Kembali meraih bungkus kerupuk sambil menunggunya makan. Dia rakus atau gimana sih? Apa jangan-jangan ketukar lagi dengan Jin gentong di minimarket tadi?
“Kalau makan mie instan, biasanya berapa bungkus?” aku bertanya sambil menusuk ayam yang ada di mangkuknya dengan garpu, lalu menyuapnya ke mulutku.
“Jarang makan mie sih, tapi kalau makan mie biasanya dua bungkus sekali makan.”
Aku melotot. “Itu perut dari apa sih? Karet?”
Sam tertawa pelan. “Kata Bunda artinya sehat.” Kelakarnya lalu kembali tertawa.
“Makanya kalau makan mie itu campur nasi, jadi lebih hemat.” Ujarku lalu tertawa membayangkan Sam makan mie instan dengan nasi.
Duh, jahat banget aku ya!
“Boleh di coba.” Ujarnya sambil menghabiskan mie yang ada di mangkuknya.
“Besok aku bikinin mie goreng pakai cabai rawit, kol, telur ceplok, sama nasi hangat.”
Sam mengangguk-angguk. “Jangan sampai lupa.” Ujarnya menjauhkan mangkuk keduanya lalu meraih botol air mineral dan menenggaknya sampai habis. Jangan tanya es teh nya yang pasti sudah habis di mangkuk pertama tadi.
“Lain kali makan di sini lagi ya.” Imbuhnya.
Aku hanya tertawa. Dia baru merasakan enaknya makan di warung pinggir jalan ya? Ck, anak sultan!
Begitu aku dan Sam kembali ke rumah ternyata Tante Indah sudah pulang. Syukurlah!
Aku langsung menggandeng tangan Sam masuk ke dapur di mana Mama, Papa dan Vino berada lalu meletakkan kembali kunci motor Vespa Papa ke tempatnya.
“Sam makan dulu ya, nih.” Mama langsung memberikan piring beserta dengan nasinya kepada Sam.
“Tapi ...”
“Iya, Ma.” Ucap Sam lalu mengambil piring dari Mama dan duduk di sebelah Vino.
“Masakan Mama enak-enak lho, Mas.” Ujar Vino sambil nyengir.
“Nanti bakalan Mas cobain semua.” Ucapan Sam berhasil mengundang tawa dari Mama dan Papa.
Tapi tidak denganku, aku masih berdiri sambil mengamati Sam dari wajah sampai ke perutnya. Dia sudah mulai menyantap makanannya. Itu perut benar-benar masih muat ya?
Ck, dasar Sam!
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TO BE CONTINUED....