My Boss Samuel

My Boss Samuel
6. Kena Omel Lagi


__ADS_3

Happy reading !!


 


##


 


Nafasku masih terasa sedikit terengah ketika lift yang aku naiki terbuka di lantai ruanganku berada. Pagi ini aku datang terlambat gara-gara alarm di ponselku mati. Di tambah lagi aku harus menunggu abang ojek online yang tak kunjung datang menjemputku ke rumah.


 


Benar-benar pagi yang menyebalkan.


 


“Ya ampun muka lo, Del. Kusut banget,” ujar Mbak Sari sambil menatap aneh ke arahku.


 


“Tumben telat ,Mbak Adel?” Tanya Tiwi yang baru datang dengan membawa minuman, setelah itu dia duduk di tempatnya.


 


“Ceritanya panjang,” jawabku dengan nafas ngos-ngosan. “Sumpah! Gue capek banget lari-lari,” imbuhku yang langsung menjatuhkan diri ke kursi.


 


“Lo capek ya? Nih minum dulu. Kurang baik apa gue sama lo?” Rizal langsung menaruh minumannya ke atas mejaku. “Udah ganteng baik lagi.”


 


Aku hanya tersenyum lalu mengambil minuman yang Rizal berikan. Tidak apa-apa deh, setidaknya kali ini Rizal berguna dan ada di saat aku membutuhkan.


 


“Hiliiih, preeet lo, Zal.” Cetus Mas Angga yang tengah duduk di kursinya.


 


Tiba-tiba pintu ruangan Pak Sam terbuka dan wajah dingin dari bosku itu langsung menusuk hingga paru-paruku.


 


“Masuk ke ruangan saya sekarang.” Perintahnya dengan nada dingin.


 


Belum juga nafasku kembali normal, tetapi Pak Bos kampret itu langsung menyuruhku untuk menghadapnya. Asal kalian tahu, menghadap Pak Sam itu kerja jantung langsung meningkat seperti orang yang baru saja keliling gedung kantor ini sebanyak lima kali.


 


Coba bayangkan, auto melayang nggak tuh nyawa.


 


“Gila nggak kuat gue, mau pingsan aja,” ujarku putus asa.


 


“Kayaknya Sam mau nyemprot lo deh, Del. Lo kan gak ikut meeting tadi.” Ucapan Mbak Sari berhasil membuatku semakin pasrah.


 


“Kalau nanti Pak Bos marah-marah, terus gue pura-pura pingsan aja gimana, ya?” Aku masih mencoba mengumpulkan keberanian. “Lagian gue juga masih kesel banget sama tuh Bos kampret.”


 


Aku mengingat kembali kejadian kemarin yang sangat membuatku benar-benar kesal.


 


“Halaaah! Tipuan klise lo.” Ketus Mas Angga. “Memangnya masalah kemarin belum kelar juga?”


 


“Bukanya belum kelar, Mas. Ini gue udah terlanjur gedek banget. Kalian nggak tahu seberapa buruknya kualitas tidur gue semenjak kedatangan Bos kampret itu.”


 


“Halah, udah sana keburu tambah marah Sam nanti,” sahut Mbak Sari.


 


Benar juga. Aku mendengus lalu berjalan masuk ke ruangan pak Sam.


 


Aku terdiam ketika melihat pak Sam yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Wajahnya terlihat begitu tenang dan serius. Tangannya bergerak cepat ketika mencoret-coret berkas dengan bolpoin yang ada di tangannya.


Kenapa setingan wajahnya harus seganteng itu sih kalau dia lagi diam? Kalau lagi marah mah jangan di tanya lagi, sudah paten kayak setan seramnya.


 


“Kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini?”


 


“Em ... Eh, i-iya, Pak,” ujarku tergagap. “Saya terlambat, saya minta maaf. Tadi itu saya kelamaan nunggu ojek datang dan—“


 


“Kamu pikir saya butuh alasan kamu!” Pak Sam membentak cepat. “Kamu tahu, kamu membawa laporan penting untuk meeting pagi ini? bisa-bisanya kamu terlambat tanpa memberi kabar apapun ke saya.”


 


“Saya sudah memberitahu HRD, Pak,” sahutku cepat.


 


“Saya atasan kamu, yang butuh kabar kamu itu saya bukan HRD!” Ketus Pak Sam. “Sekarang juga kamu cepat selesaikan laporan kamu yang untuk minggu depan. Saya mau laporan itu selesai hari ini juga,” imbuhnya tajam.


 


“Bapak serius? Ini bukan karena Bapak marah sama saya, kan?” Sungguh aku tidak terima. Masa iya aku harus menyelesaikan semua laporan di hari ini.


 


“Kenapa? Apa saya kelihatan seperti orang yang sedang bercanda saat ini?” Tanya Pak Sam dengan alis terangkat.


 


Wah, ngajak gelut nih kampret.


 


“Ya bukanya gitu, Pak. Masalahnya kan itu laporan untuk minggu depan. Kenapa saya harus menyelesaikannya sekarang? Bukankah lebih baik kalau saya mengerjakan laporan yang lainnya dulu.”


 


Tunggu-tunggu, kok sepertinya ada yang salah dengan ucapanku ya?


 


Tiba-tiba Pak Sam tersenyum ke arahku, senyum yang begitu manis. Duh, kalau senyum begitu sudah persis kayak malaikat.


 


“Good idea. Kalau begitu kamu kerjakan saja dua-duanya.” Nah kalau ini baru namanya demit kampret.


 


Aku langsung memasang wajah cemberut.


 


“Pak ...” erangku putus asa.


 


“Kamu sudah boleh keluar. Saya ada banyak pekerjaan.” Kata Pak Sam tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.


 


Sakit woy!

__ADS_1


 


***


 


Aku melangkah ke arah kubikel dengan wajah yang begitu lesu. Aku melihat Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi saling menatap ke arahku.


 


“Pasal 340 KUHP masih berlaku enggak sih?” Tanyaku sambil berjalan ke arah mejaku.


 


Mas Angga mengernyit ke arahku. “Mana gue tahu, Del. Gue bukan anak hukum.”


 


Benar juga, ngapain juga anak hukum nyasar ke sini?


 


“Kalau kita bunuh rame-rame Bos kampret itu, kira-kira gimana?” Aku menatap temanku satu persatu.


 


“Eh ... jangan dong, Mbak. Orang ganteng jangan di bunuh. Lo tahu kan kalau orang ganteng kayak Pak Sam begitu jaman sekarang udah mulai punah. Kalau mau bunuh orang. Gue saranin bunuh mas Rizal aja, Mbak.” Tiwi langsung menunjuk ke arah Rizal.


 


Aku, Mbak Sari dan Mas Angga langsung tertabahak di tempat. Terlebih saat melihat ekspresi kaget dari wajah Rizal.


 


Rizal mendengus ke arah Tiwi. “Bocah mulutnya asal mangap aja. Gue kepret baru tahu rasa.”


 


Lagi-lagi aku dan yang lainnya kembali tertawa saat mendengar perkataan Rizal.


 


***


 


Aku dan yang lainnya langsung berpura-pura sibuk menatap laporan saat melihat Pak Sam keluar dari ruangan dengan wajah sangarnya. Tatapan matanya yang tajam itu berhasil membuat kami semua takut, bahkan aku hanya berani meliriknya sekilas. Ya, walaupun kebiasaan itu sudah hampir setiap hari aku lihat, tapi tetap saja aura menyeramkan dari Pak Sam itu masih saja membuatku takut. Pak Sam hanya berjalan melewati kami dengan wajah dingin lalu masuk ke dalam lift.


 


“Leganya.” Aku dan yang lainnya kompak mendesah lega ketika pintu lift yang di naiki Pak Sam sudah tertutup.


 


Lima belas menit kemudian, Rizal yang tadi berpamit untuk membeli camilan telah kembali. Dia berjalan riang sembari membagikan camila. Itu padaku dan juga yang lainnya.


 


“Kesambet setan apa lo, Zal? Kok jadi baik begini,” Ucap Mbak Sari sambil membuka camilannya.


 


“Gebetan baru kayaknya, Mbak. Kemarin gue ketemu dia lagi jalan di GI. Mana songong banget! Mas Rizal nggak mau nyapa gue.” Tiwi melirik Rizal sambil memajukan bibirnya.


 


“Zal, Zal ... Inget umur lo. Sekarang itu sudah bukan saatnya main-main terus.” Kata Mas Angga menasihati.


 


Aku kadang juga berpikir seperti itu, Rizal ini gebetannya banyak. Tapi, entah kenapa tak ada satupun yang dia ajak serius.


 


“Gue baru 26, Mas. Santailah. Lagian Adelia juga masih santai, kan?” Rizal menatapku.


 


“Ngapain lo bawa-bawa gue?” Aku melotot ke arah Rizal yang tengah duduk di mejaku.


 


 


Wah, mulai deh bawa-bawa kata jomblo. Nggak tahu apa? Aku akhir-akhir ini sangat sensitif sekali dengan kata tersebut.


 


“Heh, gue mah jomblo terhormat, nggak kayak lo. Ngakunya nggak punya pacar tapi gebetannya rentengan. Persis jajanan di warung.”


 


Mbak Sari, Mas Angga dan Tiwi tertawa kecuali Rizal yang langsung memanyunkan bibirnya.


 


“Kan gue nungguin kepastian lo, Del,” Ujar Rizal yang mendadak membuat perutku terasa melilit.


 


“Enggak ada pasti-pastian. Gue maunya yang gentle, bukan yang modal harapan palsu,” sahutku cepat.


 


“Hahaha ... gentle, Zal. Bukan modal omong doang.” Mbak Sari tertawa renyah, membuat Rizal semakin menekuk bibirnya.


 


“Gue juga gentle. Ya nggak, Del.” Rizal mencolek daguku, lalu aku balas dengan pelototan.


 


Dan entah kenapa hal itu bertepatan sekali dengan Pak Sam yang tengah keluar dari dalam lift. Dia berjalan, menatap tajam ke arahku dan yang lainnya yang tengah asyik mengobrol.


 


Seketika Rizal langsung berdiri dan memasang senyum sok ramah. Tetapi Pak Sam tak menghiraukannya sama sekali. Pak Sam memilih untuk langsung masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan sangat keras.


 


BLAM!


 


“Astaga ... ketempelan demit apaan tadi tuh?” Celetuk Mas Angga sembari mengusap dada.


 


“Bau-baunya sih kita bakal kena sial,” Ucapku sambil menoleh ke arah mas Angga.


 


“Wah, kalau gitu gue nanti mau mandi kembang aja deh, biar sialnya hilang dan pindah ke kalian.” Rizal langsung berjalan ke arah Tiwi, dan menjitak jidat Tiwi tanpa perasaan.


 


“Aaaa! MAS RIZAL!”


 


Seketika teriakan cempreng dari mulut Tiwi langsung menggema di ruangan ini. Aku langsung menatap ke arah pintu ruangan Pak Sam dengan was-was. Takut saja kalau tiba-tiba dia keluar.


 


“Mulut lo, Nyil. Gue sumpahin sialnya berbalik baru tahu rasa lo,” Ujar Rizal gemas.


 


“Sakit, Mas!” Lagi-lagi Tiwi kembali berteriak kencang.


 


Astaga.


 

__ADS_1


***


 


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan aku baru saja selesai dengan laporanku, sedangkan yang lainya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Sama seperti biasanya.


 


“Kamu baru mau pulang?”


 


Sumpah ya pengen aku acak-acak deh itu muka gantengnya.


 


Ada tidak sih, pertanyaan lain selain pertanyaan itu? Malas jawab nih kalau pertanyaannya begitu terus.


 


“Menurut bapak?!” ketusku sambil berdiri.


 


“Lain kali kamu harus lebih teliti. Supaya pekerjaan kamu bisa cepat selesai seperti yang lainnya,” sahut Pak Sam.


 


Sumpah deh, sumpah ... Ingin aku debat tapi aku sudah capek sekali.


 


“Ya siapa suruh ngasih kerjaan banyak ke saya.” Tukasku sengaja sembari berjalan ke arah lift, dan Pak Sam mengikuti di belakangku.


 


“So, kamu menyalahkan saya karena saya kasih pekerjaan banyak ke kamu? Meskipun itu adalah tugas kamu?” Kata Pak Sam tak mau kalah.


 


Ya, seperti itulah Bos memang selalu benar.


 


“Terserah deh, Pak. Saya capek.” Aku benar-benar capek menghadapi Bos satu ini.


 


“Kamu pulang naik apa?” Tanya Pak Sam kemudian.


 


Jujur aku kaget mendengar pertanyaan dari Pak Sam. Bukan urusan dia kan kalau aku mau pulang naik delman kek, jalan kaki kek, ngesot sekalian biar tepos.


 


“Pesan ojek online, Pak. Pengennya naik delman tapi nggak ada,” jawabku sekenanya.


 


Pak Sam tersenyum. Loh kok senyum sih? Jangan dong, mana senyumnya manis banget. Takut diabetes aku, Pak.


 


“Memangnya masih ada ojek? Ini hampir tengah malam loh, Del.” Aku hanya menaikkan bahuku malas. “Saya antar saja, gimana?” Imbuhnya kemudian.


 


“Bapak nggak usah sok merasa bersalah, karena sudah kasih pekerjaan banyak ke saya.” Aku mencoba menyindirnya, "Terus sekarang lagaknya mau ngantar saya pulang, ck!” Aku berdecak, biar saja kalo Bos ku itu tersinggung.


 


“Saya tidak merasa bersalah. Lagi pula itu memang kewajiban kamu, kan.”


 


Kampret! ini orang sebenarnya masih punya hati apa tidak sih?


 


“Terserah. Saya mau naik ojek saja!” Ketusku kemudian.


 


“Kalian sering bergosip ya kalau sedang bekerja?”


 


Pintu lift terbuka, aku dan Pak Sam berjalan ke arah Lobi.


 


Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa kering sekali, pertanyaan itu kenapa tepat sasaran banget sih?


 


“Jangan sok tahu deh, Pak,” elakku.


 


“Saya memang tahu. Kamu pikir kalau saya sedang lewat, saya tidak bisa mendengar obrolan kalian yang rame itu?” Pak Sam menatap ke arahku.


 


Waduh gawat ... kirain Pak Bos orangnya cuek-cuek saja. Ternyata diam-diam menghanyutkan.


 


Aku berusaha berpikir untuk mencari jawaban yang tepat dan tentunya agar Pak Sam tidak semakin penasaran.


 


“Kan kita gosipin pekerjaan, Pak,” Jawabku masih berusaha mengelak.


 


“Gosipin saya juga?” Pak Sam menaikkan sebelah alisnya ke arahku.


 


“Mana ada?” Elakku secepat kilat. Aduh siapapun tolongin dong aku belum mau mati nih. Takutnya habis ini nyawaku melayang di tangan Pak Sam.


 


Pak Sam masih menatapku lalu membuang nafasnya pelan. “Saya antar saja ayo. Hari sudah malam.”


 


“T-tapi Pak—“


 


“Tidak ada tapi, Adelia. Ayo!” Pak Sam menarik tanganku, yang entah kenapa tiba-tiba saja membuat sesuatu di dalam dadaku terasa memberontak dan ingin keluar.


 


Semoga aku tidak pingsan di perjalanan nanti.


 


##


 


hai guys...


pantengin terus ya kelakuan Pak Bos Sam ini..


 


jangan lupa like, vote dan coment


Dan follow juga IG Ku ya


@nan_dria

__ADS_1


 


salam dari penulis amatir ❤️


__ADS_2