My Boss Samuel

My Boss Samuel
111. Tak Bisa Di Mengerti


__ADS_3

Selamat hari Senin semua...


Hari ini sudah kembali beraktivitas kan setelah libur panjang, sehat-sehat ya.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Komen yang baik akan menambah semangat bagi penulis.


Happy reading all !!


##


Salah satu hal yang aku sukai dari Sam adalah dia sangat cerdas. Kami bisa sharing bersama soal apapun, bisnis, akutansi, bahkan politik. Aku bertanya mengenai hal-hal tentang bisnis padanya karena aku akan mulai memegang dua mata kuliah bulan depan. Karena Om Juna bilang kemampuanku mengajar cukup bagus dalam hampir satu tahun ini. Dan salah satu mata baru kuliah yang akan aku pegang adalah Manajemen Bisnis.


“Jadi Bu Dosen udah mulai pegang dua mata kuliah nih?” Godanya sambil menyendok nasi ke atas piringnya.


“Iya, tapi masih bulan depan. Kata Om Juna kemampuan mengajarku cukup bagus jadi aku pasti bisa.”


Sam tersenyum, meraih kepalaku dan mengecupnya. “Kamu pasti bisa. Aku tahu kemampuan kamu bahkan sejak dulu.” Ujarnya lalu mulai makan dengan semangat.


Aku tersenyum dan mengamatinya makan dengan lahap. Dua hal yang tidak berubah darinya selain kesibukannya yang semakin meningkat adalah nafsu makan dan nafsu ranjangnya yang masih sama besarnya. Aku tidak tahu darimana stamina Sam berasal. Seharian sibuk bekerja tapi dia masih mempunyai sisa tenaga untuk bercinta beberapa jam lamanya.


Berbicara soal pekerjaan, aku harus memberitahu Sam bahwa minggu depan aku harus pergi ke Bogor selama tiga hari.


“Sam, minggu depan aku ada pelatihan di Bogor selama tiga hari.” Ujar ku ketika Sam selesai makan.


“Sama siapa?” dia menegak air putihnya hingga habis.


“Sama dosen lah, namanya juga pelatihan dosen. Bu Desi namanya.” Jawabku sambil membereskan piring dan menaruhnya ke tempat cucian piring.


“Cuma tiga hari kan?” Sam membantuku membereskan meja.


Aku mengangguk. “Iya.”


“Ya udah, perginya di antar sopir aja ya. Jangan bawa mobil sendiri.” Sam memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya ke leherku.


Aku mengangguk lagi, lalu mengecup bibirnya ketika wajah Sam mendongak ke arahku. Awalnya hanya kecupan singkat namun berubah ketika Sam mulai menggigit bibirku seolah tidak ingin ciuman ini cepat berakhir.


“Jadi tiga hari aku harus tidur sendirian nih.” Godanya sambil melangkah beriringan denganku menuju carport.


Aku tertawa. Jelas saja Sam kan biasanya akan meminta jatahnya yang hanya berselang satu hari. Kalau aku tidak ada berarti dia harus menahannya selama tiga hari juga.


“Suruh Aroon atau nggak Raffael aja buat nemanin kamu.” Ejek ku.


Sam hanya menggeleng, lalu membukakan pintu mobilku. “Aku nggak se-frustrasi itu ya.”


Aku tertawa dan masuk ke dalam mobil setelah mengecup punggung tangannya. “Jangan di keluarin sendiri ya.” Godaku lagi ketika aku sudah duduk di dalam mobilku.


Sam menunduk dan bersandar di kaca mobilku yang terbuka. “Enggak janji.” Kelakarnya membuat kami tertawa bersama.


Aku segera melajukan mobil menuju kampus tempatku bekerja. Setidaknya hari ini aku dan Sam bisa sarapan bersama, terlebih lagi kami bisa bercanda juga walau hanya sesaat, itu sudah lebih dari cukup untukku.


•••


Hari ini, Aku memasuki hotel dimana tempat pelatihanku berada. Dan aku langsung terkejut ketika menemukan Mas Arlan yang menungguku di sana, bukan Bu Desi seperti yang aku perkirakan.


“Loh, Bu Desi kemana, Mas?”


Pria yang seumuran dengan Sam ini tersenyum manis padaku. “Loh, kamu lupa? Anaknya kan masuk rumah sakit dua hari yang lalu.”


“Oh.” Sejujurnya aku benar-benar lupa.


Sungguh. Entah apa yang selalu ada dalam pikiranku hingga aku jadi pelupa seperti ini.

__ADS_1


“Jadi aku yang terpaksa gantiin Bu Desi di sini. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Mas Arlan.


Aku hanya mengangguk, toh tidak ada bedanya bagiku. Mau itu Bu Desi ataupun Mas Arlan sama saja. Kami di sini sama-sama belajar.


Aku dan Mas Arlan memasuki ruang pertemuan di lantai enam, dan kami juga akan menginap di hotel ini. Salah satu hotel milik keluarga Sam. Jadi semua staff hotel sudah sangat mengenalku dan menyapa hormat padaku setiap kali berpapasan.


“Jadi Nyonya itu enak ya? Di mana-mana di hormati.” Ujar Mas Arlan mengomentari.


Aku hanya tersenyum tipis. “Biasa aja, Mas.” Jawabku berusaha rendah hati.


“Biasa gimana? Tuh lihat di belakang kamu aja ada penjaga, semua staff hotel hormat sama kamu. Belum lagi managernya tadi yang sengaja menyambut kamu di Lobi.” Celoteh Mas Arlan.


Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum singkat. Memilih untuk tidak menganggapinya. Bagiku menjadi anggota keluarga Sam adalah keberuntungan, tidak lantas membuat aku menjadi manusia yang sombong. Terlebih kekayaan ini bukanlah milikku. Tapi milik mereka.


Aku merasakan ponselku bergetar dan langsung mengangkatnya ketika melihat nama yang tertera pada layarnya.


“Kamu sudah makan?” Sam bertanya padaku.


“Ini lagi makan.” Kebetulan aku sedang break makan siang, jadi aku menelpon sambil menyuap makanan. “Kalau kamu udah makan?”


“Belum, tapi aku udah pesan makanan kok.”


Aku baru hendak membuka mulut untuk menjawab ucapan Sam ketika Mas Arlan berdiri di sampingku sambil membawa piringnya. “Aku duduk di sini ya, Del.”


Aku mendongak. “Iya, silahkan.” Ujarku lalu kembali fokus pada pembicaraanku dengan Sam.


“Siapa?” Sam segera bertanya.


“Rekan Dosen yang ikut pelatihan juga.” Jawabku pelan sambil melirik Mas Arlan yang tengah asyik mengunyah makanan.


“Loh, bukanya perempuan?” nada suara Sam mulai terdengar tidak senang.


“Anaknya masuk rumah sakit dua hari yang lalu, jadi Mas Arlan yang gantiin.” Jawabku cepat dan masih pelan tentunya.


Aku menatap sebal pada ponsel sambil menghela nafas. Dia kenapa sih?


Mas Arlan berdehem dan aku menoleh. Memberinya senyum singkat dan kembali fokus pada makananku namun pikiranku berkelana entah kemana. Dan entah kenapa tiba-tiba selera makanku jadi hilang dan makanannya menjadi terasa hambar.


Tidak ada lagi telepon atau bahkan chat dari Sam sepanjang hari itu. Malamnya aku mencoba menghubunginya lagi namun tidak di angkat sama sekali.


“Raff.” Akhirnya aku memutuskan menelepon Raffael yang aku tahu juga lembur saat ini dari status whatsapps nya.


“Iya, Del, kenapa?”


“Sam masih di kantor ya?” tanyaku hati-hati agar Raffael tidak curiga.


“Iya, dia masih di kantor. Ini aku baru keluar meeting sama dia.”


“Oh.” Aku mengangguk, pantas saja dia tidak mengangkat panggilanku. “Ya udah, gue Cuma mau tanya itu aja.”


“Oke.” Raffael lalu memutuskan sambungan dan aku duduk di tepi ranjang, merasa bosan dan tidak tahu harus melakukan apa.


Sam sama sekali tidak menghubungiku selama dua hari aku di Bogor. Tidak ada chat atau apapun. Apa dia sesibuk itu? Sampai tidak sempat memberi kabar dan menelepon istrinya? Atau mengirim pesan padaku lah? Bahkan panggilanku saja tidak di jawab olehnya. Dan itu benar-benar membuatku uring-uringan selama dua hari disini.


“Ra.” Aku menelepon Clara, sekretaris Sam.


“Iya, Bu.” Clara menjawab sopan.


“Bapak lagi di mana? Meeting?” tanyaku to the point.


“Oh nggak, Bu. Bapak ada kok di kantor. Tadi habis makan siang sampai sekarang nggak ada meeting.”


“Bapak sibuk?” tanyaku lagi.


“Hari ini tidak begitu sibuk, dan ...”

__ADS_1


“Makasih ya.” Aku menyela dan langsung memutuskan sambungan. Memilih untuk menghubungi Sam. Tapi dia tak kunjung menjawab.


Sebenarnya dia kenapa sih?


Daripada aku mati kebosanan di kamar sendiri, lebih baik aku keluar untuk mencari makan malam karena aku mulai merasa makanan di hotel ini tidak ada rasanya. Mungkin ini juga karena mood-ku yang sedang tidak baik. Lagipula besok siang aku akan kembali ke Jakarta.


“Mau kemana, Del?” aku berpapasan dengan Mas Arlan di Lobi saat hendak keluar dari hotel.


“Cari makan, Mas.” Ujarku singkat.


“Memangnya makanan hotel nggak enak? Atau nggak mau pesan online saja?”


Aku menggeleng. “Bosan, Mas. Pengen makan di luar.”


“Sendiri?” dia menatapku yang memegang kunci mobil yang aku minta dari sopir pribadiku. Aku mengangguk. “Aku temani aja ya. Biar aku yang nyetir.” Aku hanya menatapnya. “Itu juga kalau kamu mau.” Ujarnya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


Aku mengangguk dan memberikan kunci mobilku padanya. Lagipula aku juga butuh teman untuk sekedar bicara dan melupakan kekesalanku pada Sam yang mengabaikanku selama dua hari ini.


Kami memilih makan di Spesial Sambal yang tidak terlalu jauh dari hotel. Aku dan Mas Arlan sedang menunggu pesanan kami di antar ketika ponselku tiba-tiba bergetar dan nama 'My Husband' tertera di sana. Ya, semenjak menikah aku mengganti nama Sam menjadi 'My Husband'. Segera aku menjawabnya sambil tersenyum.


“Kamu pergi keluar sama laki-laku lain dan tidak meminta izin dulu sama aku?” suaranya terdengar dingin dan datar.


Aku melongo. Darimana dia tahu?


“Mas, aku ke toilet sebentar ya.” Ujarku kepada Mas Arlan yang tengah bermain ponsel. Dan dia hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Dari mana kamu tahu?” tanyaku pelan.


Sungguh rasa senang yang tadi sempat aku rasakan karena Sam menghubungiku mendadak sirna begitu saja, berubah menjadi rasa kesal dan jengkel.


“Kamu nggak minta izin aku untuk pergi dengan pria lain.” Ujarnya lagi.


Aku memutar bola mata. “Really, Sam? Aku telepon kamu, chat kamu dan nggak kamu respon sama sekali. Dan sekarang kamu marah-marah karena aku pergi makan keluar sama Mas Arlan?”


“Aku suami kamu.” Ujarnya dingin.


Aku terbahak sinis. “Kamu mengabaikan aku selama dua hari ini padahal aku nggak ada salah sama kamu.”


“Pulang ke hotel sekarang.” Perintahnya marah.


Aku mendengus kasar, naluri pembangkang yang selama ini selalu melekat dalam darahku seketika muncul mendengar kalimat perintah tersebut.


“Aku bakal balik setelah makan.” Aku memutus sambungan telepon dan mematikan ponsel.


Dia pikir aku siapa? Aku memang istrinya tapi aku tidak sudi di perintah seperti itu setelah dia mengabaikan aku selama dua hari tanpa aku tahu apa alasannya. Kalau dia pikir bisa memerintahku begitu saja seolah aku bawahannya, maka dia salah besar. Aku bukan lagi kacungnya yang bisa di perintah seenak jidatnya.


“Ada masalah?” Tanya Mas Arlan saat aku mendekat.


Aku menggeleng dan berusaha tersenyum agar dia tidak curiga. “Nggak ada.” Lalu menatap makanan yang telah di sajikan, tanpa mengatakan apapun. Aku langsung menyantap makananku dalam diam.


Dan memutuskan langsung kembali ke hotel setelah selesai makan dan mengobrol singkat dengan Mas Arlan.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2