
Aku memasuki gedung perusahaan yang sudah satu tahun ini aku tempati. Ternyata waktu sangat cepat sekali berlalu.
“Selamat pagi, Pak Samuel.”
Aku tersenyum tipis ke arah meja respsionist yang ada di lobi kantor ini. Kebiasaan wanita itu memang tidak pernah berubah bahkan sudah berlangsung selama satu tahun. Dia memang senang sekali menyapaku dengan gaya centilnya itu, padahal kalau bukan aku yang lewat dia tidak pernah bersikap ramah seperti itu.
Aku juga tidak tahu dari mana dia tahu namaku. Tunggu, bukan hanya dia tapi hampir semua wanita yang ada di kantor ini langsung kenal dengan namaku sejak pertama kali aku bekerja. Padahal aku sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu nama mereka, terlebih si resepsionist itu.
Pintu lift terbuka dan hal yang selalu aku lihat dan dengar ketika menginjakkan kaki di lantai ini adalah kelakuan rusuh dari anak buahku. Apa mereka tidak bisa diam barang sehari saja?
Aku memilih mengabaikan mereka yang masih asyik mengobrol, walaupun niat ingin memarahi mereka sudah muncul dalam benakku. Sejak awal aku sudah menekankan kedisiplinan tempat kerja. Dan aku paling tidak suka jika melihat mereka sudah berada di tempat masing-masing tapi meja masih berantakkan. Jelas itu terlihat tidak mencerminkan kedisiplinan pada diri sendiri.
Aku menggeleng pelan. “Adelia dan Angga masuk ke ruangan saya.”
Aku berjalan santai menuju ruanganku. Tapi sebelum aku membuka pintu aku bisa mendengar Adelia dan Angga sedang berbicara. Setelahnya di susul dengan suara-suara dari yang lainnya. Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng setelah masuk ke dalam ruanganku.
Aku duduk dan membuka agenda yang ada di mejaku. Begitu aku mendengar suara ketukan pintu dari luar aku langsung memasang wajah sedatar dan sedingin mungkin. Tak lama Adelia dan Angga masuk, duduk dan menyerahkan sebuah proposal padaku.
Aku mengecek sekilas isi dari proposal yang tampaknya akan menjadi sarana empuk untuk pelampiasan kemarahanku.
Aku membanting proposal itu di depan mereka. “Kalian ini sudah kerja berapa lama?!”
Angga dan Adelia terlihat kebingungan. Tapi setelah itu Adelia membuka suaranya dengan nada takut. “Maksud Bapak?”
Aku menatap tajam ke arahnya. Sejak dulu perempuan itu memang mempunyai cukup nyali setiap berkata denganku.
“Ini proposal macam apa? Saya nggak mau terima! Kalian tau kan launching produk sebentar lagi? Kalau kerja kalian seperti ini gimana mau selesai?!" Ketusku penuh kemarahan. "Angga, kamu sudah lama kerja di sini. Kenapa bikin proposal masih kayak gini? Banyak kata-kata yang salah, saya nggak mau tau! Pokoknya ini harus di ulang!” Aku kembali membanting proposal itu di depan Angga yang sejak tadi terlihat menunduk.
“Dan kamu Adelia, sekalian cepat selesaikan penentuan harganya.” Imbuhku sebelum mereka berdua keluar dari ruanganku.
Begitu pintu ruanganku tertutup aku langsung mendengar teriakan kekesalan dari Adelia, sama seperti biasanya.
“Tuh kan, mas. Apa gue bilang dia emang ngeselin galaknya kayak setan! Gak hargain apa kerja kita sampai lembur kemarin? Over perfectsionist banget Bos kampret itu. Terpaksa kan nanti kita lembur lagi!”
Dia selalu mengataiku seperti itu di setiap aku selesai memarahinya. Bukankah dia sangat aneh? Aku berdiri dari kursiku dan mengintipnya dari tirai jendela. Bibirnya tengah mengomel tanpa suara, aku tahu dia mengumpatiku.
Dia perempuan pertama yang pernah terang-terangan membantah dan menjawab semua perintahku. Hal yang membuat aku mengamatinya sejak sebulan yang lalu adalah dari mana keberanian itu berasal, sedangkan tubuhnya terlalu mungil untuk menampung semua keberanian yang dia tunjukkan.
Di saat semua perempuan di kantor ini dengan terang-terangan sengaja menggodaku, dia malah dengan terang-terangan mengumpatiku.
Dan hal itu berhasil membuatku tertawa setiap kali aku memikirkannya.
Aku merogoh ponsel, memotretnya dari jarak jauh lalu tersenyum melihat hasilnya. Dia sedang menggigit pena di kubikelnya. Tak lama setelah itu lalu berdiri dan aku segera menutup tirai jendelanya dengan cepat. Aku bersandar di pintu dan terkekeh geli saat mendengar dia berteriak ke Rizal.
“Mang Diman tau gak? Bosku yang bernama Samuel itu? Dia ngeselin banget mana galaknya kayak setan, kesel aku mang.” Samar-samar aku mendengar sebuah suara dari dalam pantry.
Aku berniat membuat kopi setelah Adelia pergi tadi. Dan sejujurnya aku tidak tahu kalau dia ternyata malah ada di dalam pantry dengan seorang office boy bernama Mang Diman, sedang membicarakan aku rupanya.
__ADS_1
Aku bersandar di samping pintu sambil bersidekap, menunggu Adelia selesai mengata-ngataiku. Begitu Mang Diman keluar aku berniat masuk ke dalam pantry. Tapi yang aku lakukan malah bersandar sambil memperhatikan Adelia yang tengah membuat kopi dengan wajah cemberut.
Tiba-tiba saja dia berteriak kesal dan itu hampir membuatku terkejut.
“Kenapa?” aku bertanya santai setelah mendengar dia berteriak.
Tubuhnya terlihat kaku setelah mendengar suaraku. Perlahan dia menoleh dan wajahnya langsung terlihat begitu pucat. Apakah aku memang benar-benar seperti setan di matanya? Kenapa dia begitu takut sekali melihatku saat ini?
“Telinga saya gatal, ternyata ada yang omongin saya.” Ujarku seraya berjalan mendekatinya.
Adelia terlihat semakin pucat, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Bapak ngapain? mau bikin kopi ya?” akhirnya dia memberanikan diri membuka suaranya.
Aku hanya menatapnya datar dan dia terlihat semakin takut. “Nggak jadi.” Ujarku kemudian melangkah pergi dari sana.
Aku tidak mungkin tega membuat anak orang pingsan gara-gara aku. Sebelum aku benar-benar pergi, aku menyempatkan meliriknya lagi saat berjalan keluar pintu. Adelia terlihat sedang menepuk-nepuk dadanya sendiri lalu kepalanya secara bergantian.
Sungguh menggemaskan.
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku hendak keluar dari ruangan dan melihat Adelia masih berada di ruangannya seorang diri. Dia kelihatannya baru mau pulang. Tiba-tiba ponselku berdering.
“Hm.” Gumamku saat panggilan tersambung.
“Kamu masih di kantor?”
“Buruan pulang ke rumah kakek. Semua udah ngumpul di sini. Kamu nggak lupa kan kalau Opa Jacob ke sini?”
Opa Jacob adalah adik dari kakek yang selama ini berada di Singapura.
“Nggak tenang aja.”
“Ya udah buruan. Aku juga lagi otewe nih.”
Aku menghela nafas mengantongi ponselku ke dalam saku lalu keluar dari ruangan.
“Kamu baru mau pulang?” tanyaku ketika melihat Adelia sedang membersihkan mejanya. Tapi setelah mendengar pertanyaanku itu wajahnya berubah kesal seketika.
Apa yang salah dengan pertanyaanku?
“Habisnya Pak Sam ngasih kerjaan double-double.” Ketusnya dengan raut wajah kesal.
Setiap dia berkata ketus seperti itu pasti setelahnya akan terjadi perdebatan panjang antara aku dan Adelia. Dia itu menarik. Sebulan ini aku mulai memperhatikannya, dalam keadaan kesal, dia akan mengatakan apapun yang ada di pikirannya tanpa di filter terlebih dahulu.
Memang terkesan tidak sopan, tapi dia terlihat apa adanya. Dan dia cerdas.
Suara lift menyadarkan lamunanku, aku segera melangkah masuk lebih dulu. Adelia terlihat hanya diam saja selama berada di dalam lift, terlihat malas dengan keberadaanku. Tapi aku tidak peduli. Aku diam-diam tersenyum sambil meliriknya. Ternyata perempuan ini bisa diam juga.
__ADS_1
Aku memasuki rumah kakek. Tampaknya di dalam sudah sangat ramai sekali. Di keluargaku memang sering sekali mengadakan acara berkumpul bersama seperti ini. Tidak hanya di saat-saat tertentu, bahkan menurutku hampir sebulan sekali kami akan mengadakan acara berkumpul dengan keluarga seperti ini. Apalagi sejak dua hari lalu Opa Jacob pulang ke sini. Kakek hanya dua bersaudara dengan Opa Jacob.
“Datang juga akhirnya.” Aku menatap Rafael, dia merupakan cucu dari Opa Jacob. Kakak dari Kai. Duh ribet ya.
“Kapan kamu balik?”
“Tadi siang. Kanjeng ratu ngomel mulu.” Bisiknya sambil menyerahkan sekaleng cola padaku.
“Kanjeng ratu?” alisku berkerut ke arahnya.
Pria yang hampir menyelesaikan gelar magisternya itu tertawa. “Mama.” Ujarnya mengoreksi.
Aku tersenyum kecil, membuka penutup kaleng lalu meneguknya.
“Nggak ada bir?”
“Lo mau di hajar dua orang tua itu, heh?”
Aku hanya mengangkat bahu dan kembali menegak kaleng colaku.
Kakek Robert dan Opa Jacob memang sangat ketat dengan hal-hal berbau apa ya, sebut saja hal berbau dosa. Ck! Mereka kerap sekali marah jika mendapati cucu mereka mabuk, bahkan dulu Rafael sempat di pukul gara-gara ketahuan mabuk parah.
Walaupun begitu tetap tidak membuat bocah itu kapok. Bukan hanya dia melainkan semuanya, termasuk aku. Kami semua kerap keluar masuk Klub malam secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari para orang tua.
“Opa gue dari tadi nyariin lo. Katanya dia mau jodohin lo.” Aku menoleh saat suara Rafael kembali terdengar.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Entah kenapa malasku kambuh lagi genks, aku malas ngetik nih 🤭
Harap maklum ye, mood penulis amatir dan recehan ini memang gampang banget berubah. Udah nggak semenggebu-nggebu dulu lagi. Apalagi setelah menjadi korban PHP wkwkwkwk.
salam cinta dariku genkss,
follow juga IG ku ya @nan_dria
__ADS_1