My Boss Samuel

My Boss Samuel
116. Mendadak Doyan Makan


__ADS_3

Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya ya!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Sudah berkali-kali Sam menungguku di kampus, bahkan saking seringnya aku sampai lupa sudah berapa kali dirinya bolos dan ijin meninggalkan kantor hanya untuk menungguku mengajar.


Seperti hari ini. Sam membawa laptopnya dan duduk di perpustakaan kampus, duduk di salah satu sudut jendela dan tampak fokus bekerja. Tentunya walaupun dia tidak ada di kantor dia juga akan tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan kalau tidak, bisa kena damprat dari Aroon nantinya. Bukanya merasa senang karena di tunggui oleh suami. Tapi malah justru aku yang tidak bisa fokus mengajar karena memikirkan dia yang menjadi pusat perhatian para mahasiswi.


Dia tidak mengenakan setelan kerja seperti biasanya, hanya celana hitam dan sebuah kemeja. Tapi dengan penampilan begitu saja sudah mampu membuat semua mahasiswi tiba-tiba rajin membaca buku dan mengerjakan tugas mereka di perpustakaan.


Apalagi ketika aku memasuki perpustakaan, dan melihat semua penghuninya hampir sembilan puluh persen perempuan itu langsung membuatku kesal. Mereka memegang buku di tangan tapi matanya menatap lekat bahkan ada yang diam-diam mencuri foto secara candid suamiku, yang tampak tidak peduli dengan sekitarnya dan memilih fokus bekerja.


“Mau pulang.” Aku mencebik sambil duduk di sampingnya.


Sam menoleh lalu mengecup keningku, sebuah tindakan refleks dan kebiasaannya setiap kali aku duduk dan berada di sampingnya. Seakan baru tersadar dimana dia berada, Sam langsung menjauhkan wajahnya.


“Udah nggak ada kelas lagi?” dia bertanya dengan suara pelan.


“Nggak ada. Mau cepat pulang.” Aku mulai kesal dan merengek tak karuan.


“Oke.” Dia mulai mengemasi laptop dan beberapa map yang ada di atas meja, sedangkan aku menatapnya cemberut.


Kenapa sih dia makin tua makin terlihat tampan? Usianya bahkan sudah hampir 33 tahun. Tapi malah ketampanannya semakin terpancar di mataku. Perasaan temanku kantor Mas Angga dulu tidak seperti itu.


“Ayo.” Dia menggenggam tanganku dan melangkah keluar dari perpustakaan dan menatap lurus ke depan. Mengabaikan tatapan para mahasiswi yang aku yakin mereka menjerit-jerit dalam hati.


‘Suami halukuuh'


“Nggak boleh lagi nungguin aku di perpus.” Aku merengut sambil masuk ke dalam mobil.


“Kenapa? Jadi aku harus nunggu kamu di mana?” dia bertanya polos.


“Terserah tapi jangan di perpus!” aku berteriak marah dan tiba-tiba saja mulai menangis.


“Kenapa malah nangis?” Sam bertanya panik dan meraih tisu.


“Kamu tuh nyebelin!” aku melemparkan tisu kotor ke wajahnya, Sam hanya terkekeh sambil meraih tisu itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil yang ada di mobil ini.


“Kamu tahu nggak, Del. Akhir-akhir ini kamu itu cengeng banget sih. Sedikit-sedikit nangis, sebel nangis, marah nangis, ketawa juga sambil nangis.” Ledeknya sambil menepuk puncak kepalaku.


Dan hal itu malah membuat tangis ku semakin keras.


“Astaga, Del.” Sam menatapku horor. “Kamu kenapa sih? Jangan buat aku takut begini, aku jadi khawatir sama kamu.”


“Apa!?” Tanyaku marah sambil menangis.


“Aku khawatir.” Ujarnya polos.


“Kamu pasti nuduh aku gila, kan?! Kamu tega, kamu jahat!” Aku langsung meninju dadanya kencang hingga dia terbatuk dengan wajah memerah.


Sam melotot padaku sambil memegangi dadanya. “Sakit.” Ujarnya meringis.


“Bodo amat!!” Aku memalingkan wajah karena kesal.

__ADS_1


Dan setan kampret itu malah terkekeh geli sambil mengendarai mobilnya menjauhi pelataran parkiran kampus.


Aish! Dia tidak tahu kalau aku lagi kesal apa ya? Kesal dengan ledekan nya dan kesal pada diriku sendiri. Sam benar, aku cengeng sekali akhir-akhir ini dan itu menyebalkan. Bahkan ketika aku mengobrol dengan ART ku saja kadang mataku bisa berkaca-kaca.


Ah, apa memang aku yang baru menyadari kalau ini cengeng?


••


“Kamu ngapain?” aku menatap Sam yang tengah sibuk di dapur. Sehabis pulang dari kampus tadi aku tertidur di kamar, niatku hanya berbaring menemani Sam menonton TV, tapi ternyata aku malah tidur sampai sore begini. “Kamu masak?” aku mencium aroma lezat yang tiba-tiba membuatku lapar.


“Iya, aku tiba-tiba pengen makan opor ayam, tapi maunya masak sendiri. Jadi aku tanya kakek tadi bumbunya apa aja.”


Aku hampir tersedak tawa, namun segera ku urungkan. Dimana-mana menanyakan resep masakan itu sama perempuan kan? Kenapa Sam tidak menanyakannya ke Bunda Eliza dan malah ke kakek? Astaga dia benar-benar lucu.


Aku mencomot ayam dan segera melepaskannya karena ayam itu masih dalam kondisi panas.


“Masih panas.” Sam meraih tanganku dan meniupnya, dia tersenyum dan menjilat bumbu opor ayam yang menempel di jari telunjukku.


“Ih kesempatan banget!” aku mengomel dan menarik tanganku dari genggamannya.


Sam tertawa, membawa piring yang berisi makanannya ke atas meja sedangkan aku mengambil nasi dari rice cooker.


Dia memasak lima potong ayam dan ... Dia hanya memberiku satu lalu menghabiskan sisanya. Aku melongo.


“Kamu makan apa gimana sih? Rakusnya kebangetan!” Aku berdecak sambil menatapnya. “Ck, gilingan.”


Sam hanya tersenyum, mengabaikan kalimatku dan masih terus asyik dengan makanannya. Aku menatapnya ngeri, akhir-akhir ini dia makan lebih banyak dari biasanya. Untunglah, dia semakin rajin berolah raga setiap pagi. Jadi lemak-lemak itu tidak akan menumpuk dan membuncit di perutnya.


Setelah makan, aku dan Sam duduk bersila di ruang TV. Aku sudah menguap beberapa kali, sebenarnya ini belum begitu malam masih pukul delapan tapi entahlah aku merasa sangat capek. Aku hendak meringkuk di pangkuan Sam ketika dia tiba-tiba menahan kepalaku.


“Hm.” Aku hanya bergumam dengan alis berkerut.


“Aku pengen makan martabak.” Ujarnya sambil mencubit pipiku.


“Pesan online.” Ujar ku sambil menguap.


“Pengen yang di dekat Stasiun Depok lama itu, yang dekat jalan.” Ujar Sam setengah merengek.


Aku melotot ke arahnya. “Nggak sekalian pengen martabak dari Kalimantan atau Luar negeri sekalian?” Lagian dia ada-ada saja. Sam baru sekali makan martabak yang di belikan Papa yang katanya Papa beli dekat Stasiun Depok Lama. Dan itu sudah sebulan yang lalu, bisa-bisanya dia masih ingat dan sekarang malah menginginkannya.


Sam menatapku cemberut. “Aku serius.”


“Lah kamu pikir aku nggak serius? Aku dua rius, Sam. Kamu baru aja makan jam enam tadi, empat potong ayam kalau kamu lupa.” Aku menatapnya heran. “Ayam tadi larinya kemana sih?” aku menarik kausnya ke atas untuk memperhatikan perutnya yang sama sekali tidak berubah menurutku.


Dia menghela nafas, meraih ponselnya. “Ya udah, aku pesan online aja.” Ujarnya membuka aplikasi G-food.


Aku hanya menatapnya horor, dia serius masih mau makan? Baru dua jam yang lalu dia makan banyak padahal, dan sekarang mau makan lagi? Aku tahu dia doyan makan banyak tapi ini sudah di atas batas normal.


“Kamu pesan apa aja?” aku ikut menatap layar ponselnya dan melotot. Yang dia pesan adalah martabak telor spesial 4 telur, di tambah martabak manis. “Sam!” aku menatapnya ngeri. “Kamu suamiku kan? Bukan jin gentong apa genderuwo?” ujar ku menjauh ke sudut sofa.


Dia hanya melirik datar sambil fokus pada layar ponselnya.


“Apa sih?” ujarnya sedikit sebal karena mendengar ocehan ku.


••


Aku memperhatikan Sam yang duduk bersila di karpet depan TV, bungkus martabak telur ada sebelah kanan dan martabak manis ada di sebelah kiri. Dia mengabaikan aku dan fokus makan sambil menonton.

__ADS_1


Dan kebetulan malam ini Aroon dan Raffael datang ke sini untuk menginap karena ini hari Jumat dan Sabtu besok perusahaan libur. Mereka datang menghampiriku secara bersamaan setelah tadi bergantian mandi di kamar mereka.


Aku duduk di sofa yang letaknya sedikit jauh dari tempat Sam duduk saat ini.


“Sam kayaknya kerasukan deh?” kataku sambil berbisik ketika Aroon dan Raffael sudah duduk di sampingku.


Mereka hanya menatap Sam dengan tatapan bingung.


“Kerasukan apa, Del?” tanya Aroon sambil berbisik juga mengikuti cara bicaraku. Ya kali kalau kita tidak bisik-bisik entar orangnya dengar terus ngamuk lagi.


“Kerasukan jin gentong.” Aroon dan Raffael terkikik sambil menutup mulutnya agar Sam yang tengah fokus makan sambil menonton TV tersebut tidak mendengarnya.


“Dia mah nggak perlu kerasukan lagi, Del. Dia emang doyan makan kan. Jin nya udah nempel dari lahir.” Bisik Raffael hingga membuat kami bertiga terkikik geli.


Aku berusaha menahan tawa dan menatap Sam. Dia marah tidak ya kalau aku dan kedua saudaranya ini sering sekali menistakan nya?


“Tapi gue serius. Udah dua minggu ini kerjaan dia makan mulu. Terus makin malas ke kantor.” Ujar ku pelan.


“Dia emang pemalas, Del. Di depan kamu aja sok rajin, setelah bagi tugas sama aku aja dia malah makin malas kok sampai kadang aku yang pusing.” Sahut Aroon.


“Eh, tapi gue takut, Ar. Tadi masak opor ayam empat potong di makan sendiri, terus ini martabak dua porsi juga di makan sendiri enggak bagi-bagi. Jangan-jangan waktu dia lahir langsung di kasih cangkokan lambung ya biar lebih lebar bisa nampung banyak.” Aku masih belum puas mengatai suamiku sendiri.


Raffael semakin terkikik, bahkan wajahnya sampai merah gara-gara menahan tawa. “Jangan-jangan di tambahin lambung gajah lagi, Del.”


Kami bertiga lagi-lagi menahan tawa.


“Kalian ngapain?” Sam tiba-tiba menoleh.


Tentu membuat aku, Aroon dan Raffael langsung waspada. Dan aku memilih pura-pura tak melihatnya.


“G-gue nonton TV.” Ujar Raffael dan Sam hanya menaikkan satu alisnya dan beralih menatap Aroon.


“Kalau aku lagi duduk nih, habis mandi. Kerja keringetan capek.” Celetuk Aroon yang sengaja menekan kalimat terakhirnya.


Sam akhirnya hanya mengangkat bahu, beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia keluar dari dapur sambil membawa sebotol air dingin lalu meneguknya hingga tersisa setengah.


Aku kira dia akan langsung mengajakku tidur, tapi nyatanya dia kembali duduk dan mencomot martabak manisnya lagi.


Aku menatapnya ngeri. Dia pasti bukan suamiku, dia pasti jelmaan genderuwo atau setan apapun itu. Aku yakin seribu persen!


Aku, Aroon dan Raffael hanya bisa saling pandang menyaksikan Sam yang mulai asyik dengan martabaknya lagi.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2