My Boss Samuel

My Boss Samuel
27. Kemampuan Lain Pak Bos


__ADS_3

Yuhuu balik lagiihh..


Semoga kita semua sehat-sehat selalu ya..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Happy reading yey!!


##


Aku hampir saja terpeleset di depan pintu ruangan Pak Bos. Bagaimana tidak, Bos bernama Samuel itu muncul dari balik pintu tanpa terduga. Persis setan kan? Pantas kalo sampai membawa efek mengejutkan bagi jantungku. Aku masih memasang tampang kaget dengan kedua tangan memegang pinggiran meja di depan ruangan Pak Sam.


Bisa nggak sih Pak Sam mengkonfirmasi kemunculannya terlebih dahulu? Setidaknya aku bisa menyiapkan pertahanan diri dan mental. Apalagi kalo sampai mulut pedasnya itu keluar, lagi pula aku juga nggak tau kan, Bagaimana perasaan hati Pak Bos saat ini?


Pak Sam menyembunyikan telapak tangan kirinya di saku celana bahannya. Tatapan tajamnya menyorot ke wajahku, kemudian beralih ke yang lainnya. Pak Sam mengamati satu persatu meja kami yang terlihat sangat berantakan.


Andai aku bisa membaca pikiran, pasti saat ini Mas Angga, Mbak Sari, Rizal dan Tiwi tengah ketakutan dengan ritme detak jantung berdetak hebat.


Nggak ada yang ngalahin seremnya sorotan mata Pak Bos deh.


“Hari ini tidak ada lembur, jadi kalian boleh pulang tepat waktu, lagi.” Ucap Pak Sam tanpa basa-basi


Aku menahan pekikkanku untuk ku luapkan bersama teman-temanku. Kemudian tanpa berlama-lama aku segera berlari ke mejaku dan barulah, pekikkan suara kami semua pecah seketika.


“Asyiiikk... sering-sering dong, Pak. Kan saya jadi makin suka sama Pak Sam.” Ujar Tiwi.


Rizal yang baru saja mematikan komputernya langsung berdiri, “kalo begini kan, saya bisa cari gebetan lagi.”


“Huuuu...” Sorakkan itu tertuju ke arah Rizal


“Di stok terus aja, Zal, lumayan bisa buat lebaran.” Ledek Mas Angga


Kami semua tertawa. “Ya kali Mas, lo kira kue nastar bisa di stok. Hati-hati lho, jangan-jangan nanti juga bisa tengik lagi.” Sahutku tak kalah seru.


Kami semua kembali tertawa.


“Segitu bahagianya ya kalian nggak lembur?”


Pak Sam tetaplah Pak Sam. Aura kehadirannya sering sekali tak kasat mata, sehingga membuat kami sering kali lupa kalo dirinya belum beranjak dari posisi terakhirnya. Tentu saja hal tersebut langsung membuat kami semua bungkam.


“Kamu sih Sam, nggak tau aja. Buat para pekerja macam kita selain bonus di tanggal tua, pulang cepat itu masuk ke dalam kategori mimpi indah. Apalagi non lembur.” Jelas Mbak Sari yang kita dukung dengan sebuah anggukan.


“Betul Sam, apalagi bagi yang udah punya keluarga begini. Nggak ada yang lebih menyenangkan selain pulang awal terus bisa bermain sama anak terlebih dahulu, sebelum melihat mereka tidur. Ya kan, Sar?”


“Setuju gue Ngga...” imbuh Mbak Sari.


“Percaya deh, yang udah nikah. Kalo gue juga seneng kok, secara bisa ketemu gebetan sama pacar dulu.”


Pemikiran Rizal memang tak jauh-jauh dari hal semacam itu. Gebetan, pacar dan nongkrong. Jadi, maklum di usianya yang sekarang dia masih belum bisa menjalani hubungan yang serius.

__ADS_1


“Dasar lo, Zal, harusnya dari ucapan gue tadi lo itu bisa termotivasi. Supaya lo jadi pengen cepet-cepet nikah, biar bisa ngerasain apa yang gue sama Sari rasain.” Mas Angga memberi nasehat.


Ini dia sosok kebapakan Mas Angga kalo sudah muncul nggak bisa kita ganggu gugat. Memang panutanlah.


“Nggak usah heran lah, Mas, namanya juga kunyuk ya begitu. Gue aja yang belum punya pacar udah pengen nikah kok.” Kataku menyetujui ucapan Mas Angga.


“Ciyee... Adel curhat ni yee...” seru Rizal meledekku, yang justru membuat semua tertawa. “Duh, ngebet banget ya, Del. Nikah sama abang yuk!”


Aku melemparkan satu kepalan tanganku ke arah Rizal. “Buatin dulu seribu mall, baru gue mau nikah sama lo.”


“Kalo gue cicil gambarnya dulu boleh nggak?” tentu saja kami semua kembali tertawa.


"Nggak ada sejarahnya Bandung Bandawasa nyicil waktu buatin Rara Jonggrang seribu candi!"


"Ya kan beda sama gue. Gue nggak punya bantuan Om Jin."


Entah kenapa jawaban Rizal tersebut bisa membuat kami semua tertawa. Emang dasar kita receh banget.


Kecuali, Pak Sam.


Pak Sam bersedekap, kali ini tatapannya berubah tak terbaca. Bos kampret bin ngeselin yang mempunyai kadar emosi dan mood labil itu, tentu saja membuat kami mendadak harus bersikap waspada.


Terutama aku, karena kini sorotan matanya jatuh tepat ke arahku.


“Well, yang lainnya silahkan pulang dan hati-hati di jalan. Tapi...” aku menggeleng kuat dalam hati, jangan katakan. “Kecuali Adelia.”


Rizal, Tiwi, Mas Angga dan Mbak Sari tersenyum lebar. Kemudian mereka mulai berkemas.


“Haha... ambil jadi istri kita juga boleh kok, Sam.” Mbak Sari tertawa ke arahku, “Del kita pulang dulu ya, da-dah.”


Aku mengeram dalam hati, manusia kampret ini kenapa sih bikin aku kesel terus??


Kini ruangan sudah sepi dan hanya tinggal menyisakan aku dan Pak Sam yang saling berdiri.


“Kenapa saya nggak boleh pulang sih, Pak?” omelku


“Loh, kamu nggak dengar ucapan teman-teman kamu tadi.” Aku mengerutkan alisku heran. “Justru saya mau bantuin kamu, supaya pulang awalmu jadi lebih bermanfaat.”


“Apa yang saya lakukan di rumah juga nggak kalah bermanfaat kali, Pak. Saya juga punya keluarga di rumah.”


“Kalo begitu ini akan menjadi dobel bermanfaat.”


What?? Maksudnya apa coba? Duh, jangan main tebak-tebakan terus dong, Pak. Sudah capek otak saya menanggapi perkataan absurd dari mulut Bapak.


“Terus saya di suruh ngapain, kalo nggak boleh pulang?.”


“Saya mau mengajak kamu untuk menemani saya berbelanja.” Ucap Pak Sam enteng. Ku lihat dia mengamati wajahku yang tengah melongo ke arahnya.


Aku mendesah frustrasi. Bos ada-ada saja sih, masak minta ku temani berbelanja? Apa kata orang?

__ADS_1


“Saya nggak punya pilihan lain ya, Pak?” tanyaku pasrah.


Aku harus membayangkan, ketika aku mengekor di belakangnya untuk menemani Pak Bos berbelanja. Belum lagi nanti kalo ketemu sama orang yang aku kenal, atau ketemu orang kantor, gimana dong?


Pak Sam tak menjawab pertanyaanku, ia justru malah langsung berjalan ke arah lift. Meninggalkanku yang masih mematung dengan sejuta pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku.


Ugghh!! Inginku tonjok mukanya.


“Ayo cepat Adelia.” Suruhnya tepat di depan pintu lift.


##


Pak Sam menghentikan mobilnya ke salah satu mall terbesar. Aku mengikutinya turun dan berjalan di belakangnya.


“Bapak mau beli apa sih?”


Pak Sam tidak menoleh, dia terlihat asyik memainkan kunci mobil di tangannya sembari terus melangkah. Kemudian Pak Sam mengangguk singkat.


“Bunga.” Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya.


Buat apa coba beli bunga segala?


Aku seketika membelalakkan mata, tiba-tiba saja pikiran aneh melintas di kepalaku. Aku segera memekik dan menarik jas hitam Pak Sam.


“YA ALLAH, BAPAK MAU BELI BUNGA SORE-SORE BEGINI!! JANGAN ASAL MAIN SANTET PAK, DOSA! BAPAK NGGAK SAYANG SAMA UANGANYA!”


Pak Sam membuka mulutnya dan tertawa sangat keras. Dia menatap ke arahku yang tengah memasang ekspresi panik. Dan tentu saja aku makin panik dan bingung melihat tingkah Pak Sam.


“Kenapa sih respons kamu selalu tak terduga?”


“Nggak terduga gimana? Saya Cuma mau ngingetin Pak Sam aja.”


“Saya hanya bercanda, Adelia. Kenapa kamu terlihat serius sekali menanggapi ucapan saya?” Tangan Pak Sam bergerak melepaskan tanganku yang masih menggenggam jas hitam miliknya.


Pak Sam tersenyum lebar, “saya mau berbelanja bumbu dan bahan makanan untuk masak. Kebetulan stok di apartemen saya sudah habis. Jadi saya ajak kamu, supaya kamu bisa membantu saya.”


Hah? Pak Sam bisa memasak? Aku terdiam dalam pikiranku, Bos kampret ini tinggal di apartemen dan memasak sendiri. Sangat sulit bagiku untuk mencerna kalimat itu. Rasanya tiba-tiba muncul berbagai pertanyaan di kepalaku. Tapi, semua pertanyaan itu aku tinggalkan demi sebuah pernyataan..


Bos bisa memasak... Bos bisa memasak... Bos bisa memasak...


Arrgghh!! Sangat mengganggu.


Berkedip sekali, aku langsung menatap ke arah Pak Sam yang tengah tersenyum ke arahku.


“ kamu mau kan membantu saya belanja?”


##


Pak Sam modus ih, masak belanja harus ngajak Adelia.. biar apa coba??

__ADS_1


biar dikira pasangan pengantin baru ya?? wkwkwkwk


salam dari penulis amatir, ❤️


__ADS_2