
Hai aku balik lagi guyss...
Bagi yang suka mohon ya buat kasih Like, Vote dan Komen nya ..
karena itu akan sangat membantu author buat lebih semangat!!
Happy reading!!
##
Pagi ini ku lihat Rizal datang dengan wajah yang tak seperti biasanya. Hari ini dia terlihat lebih sumpringah. Entah karena kadar kegilaannya yang sudah naik satu tingkat dari biasanya, atau memang ada gerangan lain yang membuatnya begitu.
“Ada yang sumpringah banget tuh, kayak orang habis lunas dari cicilan utang!” Ucapku nyaring saat Rizal sudah sampai di depanku.
Rizal tersenyum ke arahku, “ciye ... perhatian banget sih sama gue. Sampai sedetail itu melihat perubahan diri gue."
Hah? Aku menaikkan alisku heran. Sepertinya memang ini berkat kadar kegilaanya yang terlanjur parah.
“Loh, lo nggak tau, Del?” Aku menoleh ke arah Mas Angga. “Tuh kunyuk kan punya gebetan baru.”
“Wah, nggak bener, kok gue bisa kalah tau dari elo sih, Ngga?” Mbak Sari tidak terima.
“Jangan-jangan sama si Fara ya?” Kami semua menatap ke arah Tiwi.
Mas Angga menjentikkan telunjuk dan ibu jarinya tepat ke arah Tiwi. “Nah, seratus ribu buat lo! Ntar duit nya minta Rizal ya, Wi.”
“Fara divisi keuangan? yang te-te nya gede itu?” Tanya Mbak Sari meminta penjelasan.
“Iya Mbak Sari, yang pernah gue ceritain waktu itu.” Jawab Tiwi.
Dari sekian banyak hal yang bisa di ingat dari seseorang, Mbak Sari lebih memilih mengingat dua buah te-te seseorang. Dan, tentu saja itu sangat membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya.
“Hahaha ...” Mas Angga terbahak keras, “lo terlampau frontal Sar.”
“Bener tuh, kalo buka kedok jangan sampe jelas gitu lah, Mbak." Rizal mencebik, “gue kan jadi kepikiran ke arah sana.” Memang dasarnya mesum.
“Tunggu dulu!” Aku menyela dengan lantang, “siapa yang nyuruh lo deket sama Fara?”
“Ciye, Adel cemburu sama gue.” Rizal tersenyum jenaka. Tetapi sama sekali tak mampu merubah ekspresi wajahku yang tengah serius ini.
Mbak Sari pun tak kalah tertawa, “katanya lo kemarin mau macarin Sam. Lah, kenapa sekarang cemburu denger Rizal punya gebetan?”
__ADS_1
“Bukanya gue cemburu, gue nggak terima aja!” Bantahku cepat.
“Kenapa memangnya?” Rizal menatap ku.
“Ya elah, masa lo pada nggak ngerti sih maksud Adel, gimana?” Kini semua tatapan tertuju ke arah Mas Angga, “jelas Adel itu nggak terima, karena ... Kalau nih kunyuk punya cewek. Adel bakalan jadi jomblo terjomblo-jomblonya di antara kita semua.”
Duh pedes banget sih, tidak usah di ulang tiga kali juga kata jomblonya. Toh, aku juga sudah kesindir.
“Hahaha ... Ngga, kalo ngomong jangan gitu dong, kasihan Adelia.” Aku menatap ke Mbak Sari sambil tersenyum berharap dia menyelamatkan ku dari kenyataan ini, tapi. “ Gue kan jadi pengen ikutan ngatain.”
Faakk!!
“Duh kasihan sekali sih Mbak Adel, kalo gitu gue beneran ikhlas deh mbak kalo elo pacaran sama Pak Sam.” Tiwi mulai ikut berkomentar.
“Eiittss ... nggak bisa!” Rizal menyela, “gue yang nggak ikhlas kalo Adel jadian sama Pak Sam.”
“Yee, sirik aja lo bambang! Kenapa? lo nggak ikhlas kalo ternyata selera gue itu tinggi selevel Pak Sam.” Aku bersidekap ke arah Rizal. “Kalo kenyataannya memang gue bakalan pacaran sama Pak Sam, gimana?”
Tepat sekali saat aku mengucap kalimat terakhirku, Pak Sam keluar dari dalam lift. Dari tampangnya sih biasa saja, tapi tidak ada yang tau kan apa isi kepalanya saat ini? Aku hanya berharap tadi gendang telinga Pak Sam bermasalah sedikit. Supaya dia tak bisa mendengar ucapanku barusan.
“Kalian ngapain?” Wah sumpah ini jantungku benar-benar terpompa keras. Jangan-jangan dia beneran dengar. “Ini sudah jam kerja! Ngapain masih ngobrol? Kerja!!” Dan seketika jantungku berhenti saat bentakkan itu keluar dari mulut Pak Sam.
Pak Sam terlihat memasuki ruangannya, dan seperti biasanya dia membanting pintu dengan keras.
Aku melongo ke arah Mbak Sari. Dan memang benar katanya, aku sekarang benar-benar malu!
##
“Adelia ikut saya ke ruang meeting lantai 12.” Ucap Pak Sam ketika melewati ruangan kami.
“Sekarang, Pak?” Tanyaku.
“Kalau besok, saya masih sanggup buat menyuruh kamu. Nggak perlu saya cicil hari ini!” Jawab Pak Sam dengan suara naik satu oktaf.
Seketika nyaliku menciut mendapat ucapan seperti itu. Pak Sam ini cowok tetapi kadar emosinya persis cewek yang sedang PMS.
“Sstt ... hati-hati, Del. Kayaknya darahnya lagi naik tuh.” Aku melirik Mas Angga dengan tatapan penuh emosi.
"Duh gue jadi takut, kalo sampai nyawa gue nggak selamat gimana?" Pikiranku mulai tidak waras.
Mbak Sari tertawa kecil. "Paling Sam juga nggak bakal ngincer nyawa lo, Del. Tapi ..." Aku menyipitkan mataku mengikuti arah mata Mbak Sari yang naik turun menatap tubuhku.
__ADS_1
"Gila lo, Mbak!" Pekikku pelan.
"Kamu mau temenin saya meeting, apa mau ngrumpi dulu?!" Suara tinggi itu terdengar lagi.
Aku tersenyum ke arah Pak Sam, "I-iya Pak."
Akhirnya dengan cepat aku menyusul Pak Sam yang sudah berdiri di depan lift, lalu mengikutinya masuk saat pintu lift terbuka.
"Kalian kalo nggak ngrumpi sehari nggak bisa, ya?" Tanya Pak Sam mendadak.
Boro-boro sehari, setengah hari aja ini mulut udah gatel banget Pak. Bergosip sudah seperti obat yang bikin kita kecanduan. Rasanya kurang lengkap aja kalau hidup tanpa gosip. Tapi, anehnya ... manusia itu suka sekali bergosip, giliran di gosipin balik malah tidak terima. Contohnya ya seperti, aku.
"Bapak kok malah bahas gosip sih?" Aku menaikkan satu alisku ke arah Pak Sam.
Ku lihat Pak Sam sedikit melirikku. Lalu membuang nafasnya perlahan.
“Desain yang saya mau kemarin sudah kamu kirim ke ruang editor grafis, kan?” Tanya Pak Sam saat dia mulai menekan tombol naik.
“Sudah, Pak.” Ujarku singkat.
“Good, ternyata kamu cekatan juga, ya?”
“Hah? Maksudnya?” Aku melirik ke arah Pak Sam.
“Itu kan masih akan kita gunakan sebulan lagi, nggak nyangka saja kamu sudah mempersiapkannya.” Jelas lah siapa dulu dong, Pak. Pengen sombong dikitlah mumpung di puji sama Bos kampret.
“Ya iyalah, Pak. Buat antisipasi saja kalo ada kerjaan mendadak. Biar nggak menumpuk.” Sebenarnya aku berniat menyisipkan sebuah sindiran pada Pak Bos dengan kalimatku itu.
“Bagus, kalo begitu nanti kamu bisa kerjakan yang baru.” Aku melotot, ini orang kok kalo di sindir malah semacam sedang di ingatkan sesuatu saja sih.
Tidak peka!
Pintu lift terbuka, lalu kami keluar dan memasuki ruang meeting yang sudah di hadiri para petinggi Perusahaan. Aku kira meetingnya hanya antar Manager saja, ternyata di sini yang menjabat General Manager hanya Pak Sam seorang. Sedangkan yang lainnya merupakan jajaran penting petinggi Perusahaan. Bahkan seseorang yang ku kenal sebagai pemilik sekaligus pendiri Perusahaan ini pun ikut hadir, Mister Robert.
Pria yang sudah berumur dan tampak terlihat seperti kakek-kakek itu tersenyum saat melihat aku dan Pak Sam masuk. Selama aku bekerja di sini, baru pertama kali ini aku bertatap muka langsung dengan beliau. Karena memang beliau jarang ada di sini. Di umurnya yang sudah tua beliau masih tampak begitu berwibawa sekali. Pantas saja beliau di sebut sebagai pemilik Perusahaan ini. Selain itu Mister Robert juga masih bisa di bilang tampan lho di umurnya yang sudah kakek-kakek itu. Duh, tidak kebayang deh dulu waktu muda cakepnya kayak apa?
Tapi satu yang menjadi pertanyaanku, dimana anak ataupun cucu nya? Kenapa mereka tega sekali membiarkan Mister Robert yang seharusnya sudah menikmati masa pensiun itu masih harus memimpin Perusahaan sebesar ini??
##
Kira-kira ada yang tau nggak??
__ADS_1
Kalo menurut gue mungkin kakek nya itu aja yang bandel, belum mau di suruh pensiun. Wkwkwkwk..
Salam dari penulis amatir, ❤️