
Selamat Siang..
Selamat Hari Minggu semua.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Aku berjalan mengendap-endap menaiki tangga rumahku. Tiba-tiba lampu ruangan tengah menyala dan hampir saja membuat jantungku keluar dari tempatnya. Mama berdiri tepat di sebelah tombol lampu lalu mulai berjalan mendekatiku.
“Tumben baru pulang? Perasaan akhir-akhir ini kamu jarang pulang selarut ini, Del.” Mama menatapku dengan alis terangkat.
Akhirnya aku memang harus memutuskan pulang setelah terjadinya adegan panas antara aku dan Sam. Bayangkan saja mana mungkin aku bisa tenang jika masih berada di dalam ruangan yang sama dengan dia. Yang ada tekanan suhu panasnya tak akan kunjung menghilang.
Aku segera tersenyum dan mengangguk cepat. “Um ... Tadi nongkrong dulu sama teman-teman nyobain resto baru.”
Mama menyipitkan matanya. “Sam apa kabar?”
Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan dari Mama. Kenapa Mama bertanya seperti itu apa jangan-jangan tau lagi kalau anaknya ini sedang berbohong? Maafkan Adelia, Ma.
“B-baik kok, Ma.” Aku harus menjawab sesingkat mungkin agar tak menimbulkan banyak pertanyaan.
“Terus hubungan kalian gimana? Baik-baik juga kan.” Tanya Mama lagi.
“Hah?” aku harus berakting serius di depan Mama mengingat kalau kejelian Mama dalam memperhatikan gerak-gerik tubuh itu tak ada tandingannya. “Baik lah, Ma. Kenapa tumben tanya begitu? Sekarang giliran Adel punya pacar nanyain pacar Adel terus.”
Mama mendengus pelan. “Ya iyalah kalau nanyain kamu juga tiap hari ketemu.”
Aku segera merangkul pundak Mama. “Tenang, Ma ... Besok juga orangnya ke sini.” Mama hanya mencibir lalu aku segera melepas pelukanku. “Kalau begitu Adel ke kamar dulu ya, Ma.”
Aku berniat melangkahkan kakiku namun tiba-tiba Mama memanggilku pelan. Aku segera mengurungkan niatku lalu berbalik menatap Mama lagi.
“Mama Cuma mau pesan satu hal.” Alisku berkerut tak mengerti dengan apa yang akan di ucapkan Mama. “Mama tau, kamu dan Sam saling mencintai. Tapi ... Sebagai orang tua, Mama harus mengingatkan ini ke kamu, Del. Kamu jangan pernah memberikan apapun yang kamu punya ke Sam sebelum kalian menikah.”
Aku menatap Mama dalam, mencoba mencerna kalimat tersebut. Kini aku tahu apa yang di maksud Mama. Aku kembali memeluk pundak Mama dan tersenyum.
“Kamu itu perempuan, satu-satunya anak perempuan yang Mama dan Papa punya. Dan pasti kembali ke perempuan juga yang akan merasa di rugikan jika kamu asal memberi. Sam mah enak, laki-laki enggak perlu menanggung beban.” Mama melepaskan pelukanku lalu menodongkan jari telunjuknya ke depan wajahku. “Ingat, ya!”
Aku tersenyum. “Iya, Ma ... Adelia bakalan ingat. Percaya sama Adel dan percaya juga sama Sam. Dia laki-laki yang bisa di percaya.”
Mama mengerucutkan bibirnya sembari mencubit pinggangku. “Iya Mama percaya sama Sam, tapi ... Mama kurang yakin dengan anak Mama, bisa jadi dia yang suka ganjen.”
Mama salah besar.
“Mana mungkin! Adelia gak pernah ganjen.” Elakku, “nggak pernah dan nggak pernah. Mama juga harus ingat kata-kata Adel.” Ucapku penuh dengan penegasan.
Aku dan Mama saling tatap lalu tertawa bersama. Rasanya hangat sekali. Mama adalah ibu terbaik yang aku punya. Mama yang selalu bersedia mendengarkan curhatanku sejak dulu. Mama yang selalu bersedia menjadi bahu ketika aku lelah dan menangis. Tak ada satu rahasia apapun yang bisa ku sembunyikan dari Mama, semua Mama tahu. Dan semuanya juga di simpan baik oleh Mama.
##
Aku tengah sibuk memoles make up di depan sebuah cermin meja riasku. Karena hari ini adalah hari pertama kali aku akan pergi ke ‘kondangan’ bersama dengan pacarku. Aku dan keluargaku akan pergi ke pernikahan Dewi, anak Tante Nurma. Dan hal ini tentu sangat membahagiakan untukku. Pertama kalinya aku akan terhindar dari pertanyaan, kok sendirian? Mana calonmu? Masih belum punya pacar ya?
Senyumku semakin mengembang di depan cermin. Kemudian aku mendengar pintu kamarku di ketuk lalu Mama muncul dari balik pintu. Mama mendekatiku lalu berdiri di belakangku.
“Dih, Mama cantik banget hari ini.” Ucapku sembari tersenyum lebar.
“Jelas lah siapa dulu.” Aku hanya memajukan bibir bawahku ketika mendengar jawaban Mama. “Kamu juga harus dandan yang cantik biar nggak kalah sama Mama.”
“Preeet ... Dari Adel lahir kecantikan Mama itu sudah hilang dan jadi milik Adel. Jadi, anakmu ini kecantikannya benar-benar dua kali lipat dari Mama.” Kataku tak mau kalah.
__ADS_1
“Halah preeet! Berarti kamu harus berterima kasih sama Mama.” Aku tersenyum ke arah Mama.
Mama mulai menata rambutku di buat bergaya sanggul modern. Dan aku tentu masih sibuk melanjutkan riasan wajahku.
“Mama senang sekaligus bangga deh, akhirnya anak Mama bisa punya pacar juga. Pasti nanti sudah enggak akan jadi bahan omongan Tante-Tante kamu. Uh, Mama udah nggak sabar mau lihat ekspresi mereka.” Aku tertawa mendengar ucapan Mama.
Aku hanya melengos. “Adel kan udah pernah bilang semua itu butuh proses. Semua akan indah pada waktunya. Mama sih suka nggak sabaran.” Kali ini Mama yang tertawa keras.
“Dan yang bikin Mama senang lagi. Kamu bisa mendapatkan pacar seperti Sam, dia itu punya segalanya lho, Del, ganteng lagi. Tapi dia bisa jadi pacar kamu, anak Mama memang top markotop.” Aku dan Mama kembali tertawa bersama.
Yang perlu aku garis bawahi adalah fakta jika Sam yang mengejarku. Jadi kalau Mama bilang aku top markotop itu memang benar.
Boleh dong membanggakan diri sendiri. Ck!
“Jelaslah, pesona Adel memang tak ada duanya.” Mama hanya mencibir, “dulu aja maksa-maksa buat jodohin aku sama anak temannya. Harusnya saat itu Mama lebih bersabar sedikit. Adel kan masih dalam tahap seleksi.” Aku mengambil lipstik berwarna merah lalu mengolesnya ke bibirku.
“Kamu kalo nggak di paksa juga nggak bakalan ngerti dengan kesabaran Mama. Mama kan juga ingin kamu cepat dapat pacar terus nikah, Del.” Ucap Mama.
Perkataan Mama berhasil mencuri perhatianku. Aku memandang ke arah kaca tempat di mana Mama tengah sibuk menata sanggul ku lalu tersenyum.
“Ma ...” panggilku pelan dan Mama menatapku dari pantulan cermin. “Sekarang Adel udah mengabulkan permintaan Mama, kan?”
Mama mengangguk lalu tersenyum. “Sekarang kamu tinggal jaga hubungan kalian biar langgeng sampai menikah. Mama sama Papa dulu pacaran dari SMP lho, Del, dan akhirnya bisa menikah. Kamu harus contoh Mama, dan ingat ... jangan ganti calon mantu Mama yang ganteng itu dengan yang lainnya.” Mama terbahak kencang, kalimat terakhir itu benar-benar sedikit menjengkelkan di telingaku.
“Preeet.” Tukas Ku sebal dan Mama kembali terbahak.
“Kalian udah siap apa belum sih? Papa udah bolak-balik kamar mandi, udah makan, udah nonton TV, udah hampir ketiduran juga. Kalian masih aja ngurusin rambut dari tadi.” Papa berdiri di ambang pintu kamarku. Papa memakai batik cokelat dan senada dengan batik yang di kenakan Sam. “Sam aja sampai tidur lho di ruang TV apalagi Vino, ilernya udah sampai bisa buat peta dunia gara-gara nungguin kalian.”
Aku dan Mama kompak menatap Papa cemberut.
“Harus cantik dong, Pa. Enggak boleh kalah sama Nurma.” Ujar Mama sembari memperbaiki sanggulnya.
Papa menguap bosan. “Terserah kalian.” Ucapnya lelah lalu kembali menutup pintu kamarku.
Begitu aku dan Mama turun ke lantai bawah, aku melihat Sam dan Papa tengah bermain catur sambil menguap. Sedangkan Vino, dia memainkan game di ponselnya dengan raut kesal.
“Udah siap?” Sam berdiri di ikuti oleh Papa.
Papa menyenggol tangan Vino. “Akhirnya, rencananya Papa mau ninggalin kalian aja tadi. Biar aja yang pergi Cuma Papa, Vino sama Sam.”
Aku tertawa dan mendekati Sam. Pria tersebut benar-benar terlihat lebih tampan jika mengenakan setelan batik berwarna coklat yang sama persis dengan batik yang di kenakan Papa dan Vino, dan coraknya senada dengan rokku dan Mama. Jangan tanya itu ide siapa, jelas saja ide Mama. Mama sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari sekalian memperkenalkan atau lebih tepatnya 'membanggakan' calon menantunya ke keluarga besar kami.
Yaaa, karena anaknya yang sudah lama menjomblo dan selalu menjadi bahan pergunjingan keluarga akhirnya laku juga. Semacam deklarasi atas lakunya aku.
Ck. Kok sebel ya dengernya?
##
Aku berjalan dengan senyum yang terus mengembang di wajahku. Rangkulan tanganku pada lengan Sam bahkan tak berkurang sedikit pun. Ada rasa nervous, senang dan bangga, semua bercampur menjadi satu menggelitik bagai kupu-kupu yang beterbangan di dalam dadaku.
Ternyata seperti ini rasanya 'pergi ke kondangan' bersama pacar?
Tante Nurma dan suaminya langsung menyambut kedatangan Papa.
“Terima kasih sudah datang, Mas.” Kata suami Tante Nurma sembari menjabat tangan Papa, lalu beralih ke Mama. “Mbak.”
“Loh, ini siapa, Mbak?” Tante Nurma menunjuk ke arah Sam.
Mama langsung menepuk lengan Sam dan berucap dengan bangganya. “Kenalin ini Sam ... Pacar Adelia.” Aku harus sedikit menahan tawaku ketika mendengar Mama bicara.
Sedangkan Tante Nurma terlihat sedikit terkejut ketika Sam tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Selamat atas pernikahan putrinya, Tante.”
“Ng ...ah, iya, iya terima kasih sudah ikut datang.” Tante Nurma tersenyum. “Kerja apa, Del, pacarnya?” tanyanya lagi sembari melirikku.
__ADS_1
Aku hendak membuka mulut tetapi dengan cepat Mama menyahut. “Teman sekantornya Adelia.”
Aku melihat Mama menatapku sembari berkedip sekali. Hm ... Mama yang pintar.
“Eh, Mbak Ratna sama Mas Pramono sudah datang.” Tante Indah langsung nimbrung bersama kami. Lagi-lagi tatapannya berhenti ke arah Sam. “Ini siapa?”
Mama menepuk lengan Tante Indah, “pacarnya Adelia.” Lalu tersenyum bangga.
“Wah ... Bule ya?” aku hampir tertawa mendengar pertanyaan dari Tante Indah. Jadi aku harus menutup mulutku supaya aku tidak kelepasan.
“Sudah kita lanjut nanti lagi, sekarang akad mau di mulai. Mari, Mas, Mbak.” Ujar suami Tante Nurma.
Aku hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Sam masuk.
Akad nikah Dewi dan suaminya berjalan secara khidmat dan lancar lalu di lanjut acara resepsinya. Aku sudah berdiri di samping meja makanan, niatnya mau mengambil makanan untukku dan Sam. Tapi ... Lagi-lagi Mama menculik Sam dan membawanya untuk menemui keluarga besarku yang lainnya.
Menyebalkan.
Aku berjalan malas lalu duduk di dekat Vino dan Papa.
“Mama mana, Del?” tanya Papa. Tak berniat menjawabnya, aku hanya menunjuk dengan wajah cemberut ke arah Mama yang terlihat bangga memamerkan pria yang di kata calon menantunya.
“Wah, kasihan Mas Sam, ya. Semoga dia nggak kapok.” Aku langsung melotot ke arah Vino. “Kenapa? Ada yang salah?”
“Vin, lo nggak ada niatan buat nolongin Sam?” tanyaku dengan raut memohon.
“Ogah!” jawab Vino cuek sambil melanjutkan makan kuenya dan aku kembali cemberut.
Aku hanya menatap Sam dari kejauhan, dia selalu memasang senyum ketika Mama membawanya ke saudara satu ke saudara yang lainnya. Kalau di lihat-lihat kasihan juga dia. Apalagi dia kan jarang tersenyum, apa bakalan baik-baik aja kalau dia banyak tersenyum hari ini?
Papa berdiri. “Kalo nggak segera di hentikan bisa-bisa Sam pingsan di sini, Del.” Lalu Papa berjalan mendekati Mama, aku lihat Papa menepuk bahu Sam lalu mengajaknya pergi dari hadapan Mama.
Syukurlah.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku ketika kami berada di dalam mobil.
Sam tampak bingung. “Memangnya kenapa?”
“Habisnya tadi Mama ngenalin kamu kesana-kesini, aku kan jadi ...” Sam langsung menempelkan jari telunjuknya tepat di atas bibirku.
“Aku senang kok.” Sam tersenyum lalu mengusap pipiku.
“Tapi ... Kamu enggak kapok?” Sam menaikkan satu alisnya ke arahku. “Kamu nggak kapok di pamerin begitu.”
Pria yang tampak masih rapi dengan balutan batik itu terkekeh pelan. “Enggak lah, buat apa kapok.” Aku menatapnya seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan Sam.
“Kan mereka nanti juga akan menjadi keluargaku.” Imbuhnya sambil tersenyum.
Iya, Sam. Semoga. Lirihku dalam hati.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1