
Hallo semuanya...
Maaf ya baru nongol, sebenarnya aku kemarin lagi sakit huhu.
Nggak sempet pegang Hp dll.
Sekali lagi maaf.
Cuss lah happy reading aja yay !!
##
Sam baru saja selesai mengemasi barang-barang kami di Rumah Sakit, karena hari ini aku sudah di perbolehkan untuk pulang. Di sini hanya tinggal kami berdua, Bunda Eliza dan yang lainnya sudah pulang ke Bali. Tapi katanya sore nanti dia akan kembali lagi ke rumahku. Sedangkan Mama dan Papa juga sudah pulang, katanya mereka mau membantu mempersiapkan keperluan untuk syukuran putra pertama ku.
Aku tengah memberi ASI kepada bayiku, walaupun di awal rasanya sakit sekali tapi Mama selalu memaksa agar aku harus tetap memberikan ASI ku pada Axcello. Kata Mama sakitnya hanya di awal saja dan nanti lama-kelamaan akan menghilang dengan sendirinya.
“Sudah kenyang ya sayang, tidur terus dari tadi.” Aku membelai wajah mungil Axcello dengan lembut.
“Habis minum susu sudah bobok lagi?” Aku menoleh ke arah Sam yang sepertinya sudah selesai mengemasi barang-barang kami ke dalam tas.
“Iya, untungnya ASI aku keluar walau masih sedikit.” Ujarku sambil menidurkan Axcello ke ranjang bayinya.
Sam yang sejak tadi memperhatikan wajahku, tiba-tiba berkata. “Kamu nggak apa-apa, Del? Pucat loh.” Dia menempelkan punggung tangannya ke dahiku. “Kamu masih sakit? Kalau iya, mending pulangnya besok aja.”
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. “Aku nggak apa-apa.” Sam tampaknya kurang percaya. “Kalau kamu tanya masih sakit, ya jelas masihlah. Gini-gini aku masih nahan sakit akibat jahitan di bawah, bukan jahit lagi tapi serasa di obras tau nggak. Belum lagi aku juga masih sakit banget kalau ngasih ASI ke anak kita.”
Sam hanya meringis, walaupun dia tidak tahu dengan apa yang aku rasakan tapi aku yakin Sam akan melakukan yang terbaik untuk ku dan juga anak kami.
“Iya, istriku memang kuat, kamu hebat, sayang.” Sam mengecup keningku.
“Tapi ... Saat akhirnya aku melihat anak kita lahir, sakit yang aku rasakan seakan hilang semuanya.” Ujarku sambil memandang bayi mungil yang kini tengah terlelap dalam tidurnya.
“Aku juga, ya walaupun tidak ikut merasakan sakit seperti kamu. Tapi saking senangnya dua hari belakangan ini aku sampai nggak bisa tidur nyenyak.” Sam ikut memandang ke arah anak kami.
Aku tersenyum dan mencibir. “Yakin nggak bisa tidur?”
“Iya sayang. Kok kamu nggak percaya sih.” Aku langsung tertawa melihat ekspresi tidak terima dari wajah Sam. “Lihat anak kita, Del. Dia ganteng banget ya?” imbuhnya kemudian.
“Iya, Sam. Hidungnya juga mancung banget.” Aku tersenyum bahagia.
“Jelas lah, anak siapa dulu.”
Aku langsung melirik ke arah Sam yang kini tengah tersenyum-senyum sendiri. “Kamu tuh curang ya, Sam! Aku yang hamil sembilan bulan lebih, aku yang nahan sakit saat mau melahirkan, aku juga yang berjuang buat melahirkan dia, tapi ... Setelah lahir malah mirip kamu! Ish, aku sebel sama kamu!”
Jelas saja, Axcello benar-benar seperti duplikat dari Sam. Wajahnya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya nurun dari bapaknya semua. Mungkin hanya bulu mata Axcello saja yang mirip denganku tapi itupun juga masih aku ragukan karena pada dasarnya aku dan Sam sama-sama memiliki bulu mata yang lentik.
__ADS_1
Sam terbahak kencang lalu secepat mungkin berhenti karena takut mengganggu tidur anaknya, selain itu aku juga sudah melotot padanya dan bersiap untuk menelannya hidup-hidup.
“Ya harus mirip aku lah, namanya juga anak aku. Makanya kamu jangan kebanyakkan sebel sama aku, jadi mirip kan?” Sam tersenyum senang ke arahku.
Sumpah Sam benar-benar menyebalkan!
Tunggu saja kalau keadaanku benar-benar sudah pulih ... Habis kamu, aku bantai.
•••
Dari penantian yang cukup lama, hingga akhirnya lahirlah jagoan kecil kami. Welcome world Axcello Gavin Dilaga.
Inilah hari-hari ku dan Sam di awal kehadiran anak kami. Rasa bahagia selalu menyelimuti keluarga kecil kami. Setiap hari hanya bisa fokus dengan anak kami, karena kebetulan Sam juga belum kembali masuk bekerja. Katanya dia masih ingin membantuku mengurus Axcello.
Dari awal memang aku menolak tawaran Sam untuk memperkerjakan tenaga baby sitter atau pengasuh bayi. Bukan karena apa-apa, hanya saja aku ingin menikmati setiap proses dalam mengurus anakku sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, walaupun kadang kalau kuwalahan juga akan di bantu oleh ART ku atau kadang Mama juga membantu jika sedang menjenguk cucu pertamanya ini. Ya ... Sejak kehadiran cucu pertamanya Mama jadi lebih sering berkunjung ke rumahku.
“Bayi memang lembut banget ya, Del.”
“Iya, Sam. Uuhhh ... Gemasnya.”
Kami benar-benar bahagia.
“Anak kita lucu banget sih.” Itulah yang di katakan Sam setiap melihat Axcello tidur.
“Manis banget, gemas, betah lihatnya.” Begitulah juga kataku.
Dan, setelah beberapa minggu.
“Oeeek ... Oeeek ...”
Kenyataannya luar biasa.
“Iya sayang Mommy datang.” Wajah kusut, muka lelah, mata panda, seperti itulah keadaanku. Aku berjalan menghampiri box bayi Axcello.
“Bangun lagi? Nangis lagi?” Sam yang baru mau terpejam pun mau tak mau juga harus ikut bangun.
Sebenarnya dari awal juga seperti ini sampai akhirnya kami kelelahan.
“Cup ... Cup ... Sayang. Mau minum cucu?” Axcello tetap menangis dalam gendonganku.
“Sini, mungkin dia mau di gendong sama Daddy nya.” Kini gantian Sam yang menggendong Axcello, tapi tetap saja tangisan Axcello tidak mau berhenti.
Ternyata mengurus bayi benar-benar harus bersabar.
“Akhirnya tenang juga ya, Del.” Sam kembali meletakkan Axcello ke dalam box bayinya setelah dia kekenyangan meminum ASI-nya.
__ADS_1
“Yah, nggak separah kemarin nangis sampai berjam-jam.” Aku dan Sam memandang wajah anak kami yang kini sudah kembali tertidur pulas di dalam box bayinya.
“Kadang nggak paham juga apa penyebabnya, tiba-tiba bangun dan nangis tiap malam.” Ujar Sam sambil merangkul bahuku, kembali berjalan ke tempat tidur.
“Namanya juga bayi, Sam. Masih nggak ngerti siang dan malam.” Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. “Sudah mending kamu cepet tidur lagi. Besok kan kamu sudah harus berangkat kerja lagi.”
“Iya, ini mau tidur lagi. Tapi karena kebiasaan bangun malam begini jadi susah tidurnya.” Sam tersenyum ke arahku.
“Halaaah, nggak ingat apa sebelum ada bayi juga udah sering bangun malam begini. Dan akhirnya juga bisa langsung kembali ngorok lagi.” Cibirku kepada Sam.
Sam hanya terkekeh pelan lalu menguap. “Ya udah, kalau gitu aku tidur ya. Kamu juga cepet tidur lho. El udah nggak mungkin bangun lagi kalo udah minum susu.”
“Iya, Iya ...”
Dan dalam hitungan detik Sam sudah kembali tertidur dengan dengkuran kecil.
Kalau aku pikir-pikir kurang tidur sudah menjadi makanan sehari-hari. Awalnya lebih parah, bahkan aku sampai takut jika aku mengalami baby blues. Untungnya Sam selalu membantuku, walaupun begitu aku juga tidak boleh mengandalkan bantuan Sam terus.
Aku sekarang adalah seorang Ibu. Jadi aku harus semangat dan tidak boleh lemah. Banyak hal yang harus aku kerjakan.
Dan untuk saat ini, aku akan berusaha sebisa mungkin melakukan hal yang aku bisa.
Semangat Adelia!
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Guys...aku mau kasih pengumuman kalau My Boss Samuel sudah hampir TAMAT ya.
Jadi, maafkan kalau aku udah nggak bisa upload sesering dulu.
Di awal kan aku udah bilang kalau novel ini dulunya mau aku tamatin setelah Adel dan Sam nikah. Berhubung nanggung kalo urusan rumah tangga mereka nggak aku ceritakan jadinya aku tambahin partnya.
__ADS_1
Dan ya ... Aku rasa sudah cukup deh nggak perlu sampai beratus-ratus episode. Walaupun pengenya juga gitu sampai beratus-ratus episode. hehe...
Sekian info dariku ya... ❤️