
Hallo semua...
Kembali lagi, semangat ya!
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share juga boleh banget.
Happy reading !!
##
Berulang kali aku mendengar nada dering panggilan masuk dari ponselku. Bahkan sudah berkali-kali, berhenti, terus berbunyi lagi. Berhenti terus berbunyi lagi, begitu seterusnya. Akhirnya, aku terpaksa menggerakkan tanganku guna mencari keberadaan ponsel yang sudah sangat mengganggu waktu tidurku saat ini.
Hal pertama kali yang aku lihat adalah jam yang tertera di layar ponselku. Dan jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Astaga ... Orang gila mana yang pagi buta seperti ini sudah mengganggu waktu tidur orang lain?
Ponselku kembali bergetar lagi dan tentu itu membuatku kaget. Aku menatap layar yang bertuliskan nama 'Bos Kampret'. Hah! Ternyata orang gila itu adalah Sam. Dengan malas aku menggeser tombol hijau itu lalu ku tempelkan ponsel ke telingaku.
“Apa?” tanyaku malas dengan nada khas orang bangun tidur.
“Jangan lupa, nanti kamu harus sudah berangkat pukul lima pagi.”
“Apa?” kali ini dengan nada lebih yang jelas. Karena mataku langsung terbuka begitu saja setelah mendengar perintah dari Sam.
“Jangan lupa berangkat jam lima.”
Aku menggaruk kepalaku dengan kasar. “Sam, kamu gila? Mana ada orang yang berangkat ke kantor pukul lima pagi.” Aku segera bangkit dari tempat tidurku dengan sedikit kesal. “Memangnya ada urusan apa, sih?”
Sumpah ya, aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran seorang Samuel Devano Gavin itu seperti apa. Seenak jidatnya aja dia kalau menyuruh orang.
“Kamu lupa? Tugas kamu kan belum selesai, Del. Dan hari ini jam delapan nanti produk sudah harus di pasarkan. Paling tidak promosinya bisa kita keluarkan sebelum jam tersebut.”
“Apa?” aku mengernyit tak paham. “Aku kira tadi sudah selesai karena kamu nyuruh aku pulang.” Aku mulai kesal.
“Loh, kan kamu yang minta pulang.”
Faakk!! Rasanya ingin sekali aku membanting ponselku saat ini. Manusia ini benar-benar tidak bisa di jauhkan dari kata setan dan kampret.
“Sam, kamu nggak boleh begitu dong. Aku kan~
“Sudah! Yang penting nanti jangan sampai terlambat. Kalo sampai terlambat memangnya kamu siap menerima sanksi dari Perusahaan kalo produk tidak bisa berjalan.”
“Sam, tapi kan~”
“Hallo!” Aku berteriak sedikit kencang “Hallo! Sam!!!” dan sialnya Sam sudah mematikan sambungannya.
Arrggghh!!!
Yang menyewakan jasa untuk membegal orang silahkan hubungi saya.
##
Aku melipat kedua tanganku ke atas meja, lalu ku benamkan wajah di antara lipatan tanganku. Bangsaat!!! Mungkin hanya satu kata itu yang bisa ku ucapkan saat ini.
“Del ...” aku mengangkat wajahku dengan malas. “Elo kesambet apaan? Pagi banget datangnya.”
Aku melirik jam yang ada di tanganku, pukul tujuh pagi.
__ADS_1
“Lo sendiri kok pagi banget, Mas?” kataku kembali bertanya.
“Tadi nganterin anak sekolah kepagian. Ya udah, langsung ke kantor aja deh.” Mas Angga mendekat ke mejaku. “Lo nggak apa-apa kan, Del?”
Aku segera membenarkan posisi duduk. Lalu aku hembuskan nafas secara kasar. “Nggak apa-apa kata lo? Asal lo tau, Mas. Gue udah di sini sejak jam setengah enam tadi pagi. Lo bilang nggak apa-apa!” ucapku mulai emosi.
“Lah ... Ngapain, Del. Lo mau ngabsen jin penunggu kantor.” Mas Angga tampak kaget namun tetap saja tawanya tak bisa ia tahan.
Aku menarik lengan Mas Angga supaya lebih mendekat ke arahku. “Ini semua gara-gara ketua Jin kampret ini kantor ini.” Desisku.
“Hah? Ketua Jin?” Teriak Mas Angga.
“Wah, apa nih pagi-pagi sudah bawa-bawa jin aja.” Aku segera menatap ke arah pintu lift. Di sana ada Mbak Sari dan Tiwi yang keluar secara bersamaan.
“Jangan ngomongin setan, Mbak. Kata Guru ngaji gue dulu, kalo kita ngomongin setan. Nanti, setannya bisa ikut mendengarkan.” Kata Tiwi saat sudah sampai di depan mejaku.
“Ini bukan sembarang setan, Wi. Ini sudah setan level jahanam!” kataku kesal.
Rasanya kepalaku ingin meledak. Aku tak sabar menunggu kehadiran sosok yang sejak pagi tadi sudah membuatku kesal.
“Kenapa sih, Ngga?” tanya Mbak Sari penasaran.
“Katanya, ini anak udah berangkat sejak jam setengah enam pagi tadi.”
“Hah??” teriak Mbak Sari dan Tiwi kompak.
“Serius, Mbak? Demi apa lo?” Tiwi mulai heboh.
Aku hanya mendengus kesal. “Mbuh lah! Sebel gue! Lihat aja gue bentar lagi mau meledak. Kalian jangan dekat-dekat sama gue.” Ucapku memperingatkan.
Mbak Sari, Mas Angga dan Tiwi kompak menjauh satu langkah dari mejaku. Kemudian aku mendengar suara pintu lift terbuka lagi. Namun, begitu Rizal yang keluar aku terpaksa harus menahan sabar sedikit lebih lama lagi.
“Kata Adel, dia sebentar lagi mau meledak. Kita nggak boleh terlalu dekat.” Aku hanya mendengus ketika mendengar perkataan Mas Angga.
Dan akhirnya aku mendengar suara pintu lift terbuka lagi. Dan harusnya ini adalah sosok yang sudah aku tunggu-tunggu sejak tadi.
Aku menunggu agar manusia itu berjalan mendekat terlebih dahulu, supaya seranganku langsung bisa mengenainya.
“Selamat pagi semua.” Dia tersenyum seolah tak punya dosa sama sekali.
“Pagi ...”
“PAK SAM!” Aku langsung berdiri dengan raut wajah penuh amarah. Kemudian aku berjalan ke depan mejaku dengan posisi kedua tangan terlipat ke depan.
Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan juga Tiwi otomatis langsung bergerak mundur selangkah.
“Kenapa?” tanya Sam santai. Oh ... manusia itu benar-benar ingin aku makan hidup-hidup.
Aku meraup nafas sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum melancarkan seranganku.
“KENAPA?! Hellooo?” aku melotot ke arahnya. “Harusnya saya yang tanya. Kenapa Bapak nyuruh saya berangkat pagi-pagi? Terus Bapak sendiri baru berangkat sekarang?!” Sam hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Namun dengan cepat aku melanjutkan perkataanku yang memang belum selesai ini.
“Terus, kenapa Bapak baru memberi kabar ke saya pagi ini, kalo promosi yang saya buat sudah di setujui? Bapak tau, saya sudah tiba di sini sejak pukul setengah enam tadi! Saya harus menunggu di luar sana hampir satu jam sebelum kantor ini di buka! Kenapa Bapak nggak memberi kabar ke saya sebelum saya berangkat, Pak? KENAPA?!” Aku benar-benar meluapkan kekesalanku pada Sam pagi ini.
Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi masih berusaha menjadi penonton dan pendengar setia dari drama yang aku buat pagi ini.
“Maaf, saya lupa.” Kata Sam santai.
__ADS_1
“Enak aja bilang lupa!” aku menggebrak mejaku keras hingga membuat teman-temanku berjengkit kaget. “Bapak nggak ngertiin perasaan saya. Saya masih ngantuk, Pak! Tapi sudah harus berangkat pagi-pagi. Dari pada saya harus menunggu hampir satu jam di sini mending saya gunain untuk tidur di rumah terlebih dahulu, Pak!”
“Loh! Kan, jadinya kamu bisa berangkat lebih pagi hari ini. Kenapa harus marah-marah?” Wajah Sam begitu datar seperti papan penggilasan.
“PAK SAM!” aku meninggikan suaraku. “Saya nggak akan marah kalo Bapak nggak buat saya kesal dan marah. Bapak tau kesalahan Bapak apa enggak, sih?!”
Sam menatap ke arahku datar dengan kedua tangan terlipat ke depan. “Terus maunya kamu gimana?” tanya Sam. Tetapi kali ini Sam terlihat menantangku.
Aku hanya berdecih. “Memangnya, Bapak nggak bisa segera memberi kabar ke saya kalo ternyata promosinya sudah di setujui?”
“Kan saya sudah mengirim kabar ke kamu.” Tuturnya.
“Bapak ngirimnya jam setengah tujuh. Harusnya kalo Bapak mendapat pesan jam setengah enam. Ya saat itu juga Bapak langsung meneruskannya ke saya!” ucapku penuh dengan penekanan.
Otak Sam masih ada di kepala, kan? Bayangkan saja dia mendapat info kalo promosi yang aku buat sudah di setujui pukul setengah enam. Sedangkan aku jam setengah enam baru tiba di kantor ini. Coba saja kalo Sam sialan itu langsung meneruskan pesannya padaku. Jadinya kan aku bisa pulang dulu mumpung masih setengah enam.
Bukannya malah memberi kabar setengah tujuh. Percuma aku sudah terlanjur menunggu hampir satu jam di sini. Dan kalau aku mau pulang juga sudah tidak ada waktu lagi.
Ah ... Sialaan!!!
“Kamu gimana sih, Del? Saya kabarin salah, nggak saya kabarin salah. Kamu pikir tadi pagi saya nggak ada kerjaan?” Ujarnya dengan nada lelah.
“Saya nggak peduli dengan pekerjaan Bapak! Yang saya mau, Pak Sam harus bertanggung jawab karena sudah mengerjai saya.” Kataku dengan penuh penekanan.
“Saya nggak ngerjain kamu, Adelia!” Sam mulai terpancing emosi.
Aku pun menatapnya dengan penuh emosi. Berani-beraninya manusia itu ikutan marah. Bukannya mengakui kesalahannya tapi malah menantangku.
“Enak saja! Terus Bapak pikir ini semua kerjaan siapa?” kataku tak mau kalah. Aku harus lebih emosi dari pada Sam. Supaya dia sadar kalau kali ini aku benar-benar kesal padanya.
Terserah dengan kondisi ruangan ini yang sudah penuh dengan hawa emosi. Aku tidak mau diam sebelum Sam mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi.
“Kan saya tadi sudah bilang. Anggap saja kamu bisa berangkat lebih pagi.” Sam melirik jam yang ada di tangannya. “Sekarang sudah saatnya bekerja!”
Dengan cepat Mas Angga, Mbak Sari, Rizal dan Tiwi berlari menuju meja masing-masing. Sedangkan aku masih tetap berdiri dengan emosi yang sama sekali belum tuntas. Aku menyipitkan mataku bengis ke arah Bos bernama Sam itu.
“Segera bekerja! Dan jangan buat gaduh!” Sam menatapku dengan sorotan tajam. Dan sialnya itu berhasil menyulut emosiku semakin berkobar.
Dengan santainya Sam berjalan menuju ruangannya tanpa memperdulikan diriku yang masih kesal dengannya. Aku sangat tidak terima!
Aku segera melepas sepatu high heels hitamku lalu dengan cepat ku arahkan ke Sam. “BOS SETAAAN!”
Tepat saat itu Sam membalikkan badannya. Dan ... High heels ku langsung mendarat tepat di wajahnya.
.
.
.
.
.
To Be Continued...
##
__ADS_1
Maaf ya... Kali ini adegannya marah-marah terus. Harap maklum ya, soalnya diriku juga bawaanya lagi pengen marah-marah terus. Ya udah deh, jadinya ke bawa sama suasana.
Tetap semangat eeiimm... Biar marah-marahnya segera berlalu.. hihihi..