My Boss Samuel

My Boss Samuel
89. Tante Indah


__ADS_3

Selamat siang semua.


Balik lagi akunya...


Jangan Lupa Like, Vote dan Komen !


Share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Kantor sudah terasa sepi, sepertinya memang hari ini lembur hanya sampai jam satu siang. Sebuah mobil sport berwarna merah yang sudah sering aku tumpangi berhenti tepat di depanku. Tak perlu menunggu lama, aku segera masuk dan memasang seat belt lalu mobil kembali melaju.


Mobil Sam berhenti tepat di depan rumahku. Aku sedikit menyipitkan mata ketika melihat ke dalam rumah. Aku melihat Tante Indah dan anak-anaknya berada di dalam rumahku. Aku menatap mereka bingung, tumben sekali mereka mau menginjak rumahku yang biasa ini. Selama ini mereka kan lebih suka mengunjungi rumah Tante Nurma yang lebih besar dari pada rumah Papa yang tak seberapa besar ini.


“Baru pulang kerja, Del?” Tante Indah menyapaku ramah tapi matanya menatap Sam yang berdiri di belakangku.


“Iya, Tante ngapain di sini?”


Tante Indah tersenyum ramah. “Ih, kamu begitu amat sama Tante. Kan Tante mau main ke rumah masnya Tante. Sepupu kamu katanya juga mau main ke sini.”


Aku lalu melirik Selvi yang setahun lalu menjanda dan Lia yang dua tahun lebih muda dariku. Mereka tengah menatap Sam malu-malu.


Ck, bitchy!!


“Tumben.” Cibirku lalu membawa Sam masuk ke ruang keluarga.


“Nak Sam sering main ke sini?” Tante Indah mengikuti aku dan Sam yang hendak menuju dapur.


“Lumayan, Tan.” Ujar Sam datar yang tengah mengikuti langkahku menuju dapur.


“Mereka ngapain ke sini?” bisikku ke Mama yang tengah sibuk memasak.


“Mana Mama tahu.” Mama mengangkat bahu dan menjawab dengan sewot. “Dari tadi udah di usir nggak mau pulang.” Lalu Mama menatap Sam. “Sam makan di sini aja ya, Mama udah masak banyak nih.”


Sam mengangguk mendekati Mama. “Boleh saya bantu?”


Aku tersenyum pelan. Sok rajin banget sih calon mantu Mama ini, Ck!


“Nggak usah, sana naik ke atas. Temani Papa kamu main catur. Jangan di sini banyak virusnya.” Ujar Mama sengaja melirik Tante Indah yang duduk di kursi makan.


Aku segera menarik tangan Sam keluar dapur untuk menaiki tangga. Membiarkan dia menuju balkon sedangkan aku menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


“Itu mobilnya nggak di pakai, Del? Kasihan nganggur gitu di garasi.” Rupanya Tante Indah masih berada di dapur begitu aku turun dan hendak membantu Mama.


“Lagi malas nyetir, lagian ada calon suami yang bisa jemput.” Ujarku dengan senyum terpaksa.


“Tante lihat kemarin sepupu-sepupu Sam cakep-cakep ya kayak dia.” Aku mulai menerka-nerka kemana arah pembicaraan ini berada. “Lia katanya bosan kerja di tempat kerjanya sekarang. Di kantor kamu nggak ada lowongan gitu, Del?”


Aku melirik Lia yang sedang duduk di samping Ibunya, dia tengah sibuk mengecat kuku tangannya dengan kuteks.


“Nggak ada, lowongan udah penuh.” Ujarku datar.


“Ya, kamu kan calon istri yang punya perusahaan. Bisa dong masukin Lia ke sana.”

__ADS_1


“Nggak bisa. Nepotisme namanya.” Ujarku ketus. “Kalau mau kerja di sana, antar aja surat lamaran nanti ikut tes kayak biasa.”


“Ih kamu, nggak bisa gitu bantu Lia?” Cih, kenapa lebih ngebet emaknya sih. Ngeyel banget jadi Tante.


“Enggak bisa, Tan. Aku nggak punya hak buat masukin sembarangan orang ke perusahaan. Apalagi orang yang malas kerja kayak Lia.” Aku melirik Lia yang dari tadi masih saja sibuk dengan kuteksnya.


“Kamu ih!” Tante Indah menatapku berang. “Ini sepupu kamu loh!”


Oh baru ngakuin sepupu sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja?


“Kan anak kamu Cuma di suruh masukin surat lamaran terus ikut tes. Dulu Adel juga gitu kok nggak ada yang bantu. Nyatanya dia bisa masuk kerja di sana karena memang dia punya kemampuan.” Mama menengahi sebelum aku lepas kendali dan mengomel panjang lebar pada Tante Indah. Tidak tahu apa ya aku sudah kesal dari tadi.


“Ya kan itu dulu, Mbak. Sekarang kan Adel calon istri yang punya. Masa bantu sepupunya aja nggak bisa?”


Ini mulutnya benar-benar minta di jahit apa ya? Apa minta di cabai sekalian? Mumpung Mama lagi ngulek cabai nih! Tanganku gatal mau remas itu mulut Tante nyinyir.


“Lagian Lia juga punya kemampuan kok.” Imbuhnya.


“Kenapa sih?” Papa datang di ikuti Sam dan Vino. Papa dan Vino duduk di kursi makan sedangkan Sam berdiri di sampingku yang tengah menggoreng ayam.


“Ini loh, Mas. Tadi aku bilang ke Adel buat masukin Lia kerja di kantornya. Adel bilang nggak bisa. Masa bantu sepupunya aja nggak bisa?”


Papa hanya diam tak menanggapi sedangkan Vino, dia sudah mulai memasang raut jengkel.


“Nak Sam, di kantor kamu masih ada lowongan kan?” Tante Indah tiba-tiba bertanya pada Sam.


Sam menoleh lalu melirikku. Dia bingung harus menjawab seperti apa.


“Sam, bisa bantu Mama?” Mama segera menyela. Aku mendesah lega mendengar suara Mama.


“Anterin Adelia ke minimarket depan, ya.” Mama lalu menatapku. “kayaknya Mama kehabisan garam deh, Del. Sana beliin.” Usir Mama mendorong aku dan Sam keluar dari dapur.


Dengan senang hati aku memilih pergi ketimbang meladeni Tante Indah yang mulutnya bikin orang mau istigfar terus. Tapi baru beberapa langkah Tante Indah memanggil kami.


“Lia katanya mau beli sesuatu di depan, dia ikut kalian aja ya.” Tante Indah mendorong Lia dari kursinya dan dengan semangat sepupu lucknut ku itu berdiri dan mendekati kami.


Aku menggerang kesal. Ini cobaan apa lagi sih?


“Terus Lia mau duduk dimana? Lah mereka pakai motor kok.” Mama menyela sambil menunjuk wadah tempat kunci motor Papa berada. Mama menatapku sambil mengedipkan mata.


Aku tersenyum lebar penuh kemenangan.


“Kan bisa pakai mobil, Mbak.” Tante Indah menatap sebal pada Mama.


“Ngapain ke depan kompleks doang pakai mobil? Nyari parkiran sama muternya susah.” Mama kembali menatapku. “Ayo sana pergi, nunggu di usir dulu.”


Aku tertawa sambil mengambil kunci motor vespa Papa dari dalam wadah karena kunci motor Vino pasti ada di kamarnya, lalu segera menarik Sam keluar sambil terus tertawa. Astaga! Mama benar-benar paling bisa di andalkan kalau berurusan dengan si Tante nyinyir itu.


“Pakai mobil aja kenapa sih?” Ternyata Lia masih mengikuti kami menuju garasi.


“Kalo lo ngeyel mau ikut, pakai sepeda ontel gue aja tuh.” Aku menunjuk sepeda ontelku yang kebetulan berada di depan garasi.


Lia menatapku kesal lalu kembali masuk ke dalam rumah sambil mengomel tidak jelas. Aku hanya tertawa lalu menarik Sam untuk masuk ke garasi dan membuka bungkus vespa butut Papa. Vespa tahun 90 kesayangan Papa, kendaraan yang selalu mengantarku ke sekolah sejak kecil hingga aku SMP.


“Ini Juki.” Ujarku bangga sambil memamerkan si Juki, panggilan Papa untuk Vespa silvernya. “Kalau yang di sana Jesy.” Aku menunjuk honda jazz keluaran tahun 2000 yang terparkir di halaman. “Gara-gara mobil ini Papa bahkan merelakan mobil bersejarahnya itu harus terkena paparan sinar matahari.” Aku menatap ke mobil Papa yang ia beli bertahun-tahun silam dengan jerih payahnya sendiri. Lalu aku menendang ban mobil pemberian Sam saat lamaran kemarin.

__ADS_1


Mobil ini sangatlah tidak cocok di sandingkan dan berada di halaman rumahku yang sederhana ini. Berbeda sekali dengan rumah Sam yang di mana mobil-mobil mewah berjejer seperti di showroom mobil.


Sam tersenyum singkat. “Kamu tidak suka?”


“Aku mau balikkin ke kamu.” Ucapku sambil mengerucutkan bibir.


“Tapi ini sudah menjadi milik kamu.” Ujar Sam.


“Aku Cuma bercanda, Sam. Aku kan udah bilang nggak benar-benar serius meminta mobil sama kamu.” Ujarku gemas.


“Terlambat.” Aku menatap Sam dengan cepat. “Padahal aku juga sudah menyiapkan rumah mewah permintaan kamu waktu itu.” Ujarnya datar.


“Sam!” aku terpekik histeris.


“Ya.”


Napasku terasa sesak seketika. “Aku hanya bercanda, aku nggak serius minta rumah!” Tegasku.


Kok aku berasa matre sekali ya. Huhu.


Sam tersenyum tipis. “Tapi kamu bilang sendiri sewaktu aku tanya. Kapan-kapan kita lihat rumahnya ya?” ujarnya mengingatkan dengan cara yang menyebalkan.


Aku ingin menjambak-jambak rambut Sam rasanya! Atau membelah kepalanya dan mengintip otaknya. Benar-benar menyebalkan!


Sam masih tertawa lalu segera merebut kunci Vespa di tanganku lalu menghidupkan mesin motor itu. Meski vespa itu sudah cukup tua, tapi soal perawatan jangan pernah meremehkan Papa. Papa bisa membelai motor dan mobilnya seharian ketimbang membelai Mama.


“Masih mulus.” Ujar Sam duduk di atas Vespa. “Cocok nggak?” tanyanya padaku.


Aku tertawa geli sambil menggeleng. Aku tidak pernah melihat Sam menggunakan kendaraan selain mobil sportnya yang mewah itu. Dan sekarang melihatnya duduk di atas Vespa butut Papa benar-benar terlihat lucu dan juga menggemaskan. Beruntung dia tadi sudah melepas jas dan dasinya, lengan kemejanya juga sudah di gulung hingga ke siku.


Bisa di bayangkan bagaimana penampakan Sam mengendarai Vespa butut lengkap dengan setelan kantor mahalnya? Aku hanya bisa tertawa membayangkannya.


“Nih.” Aku menyerahkan helm retro berwarna hitam lengkap dengan kacamata di atasnya. Sedangkan aku sendiri juga memakai helm yang sama hanya saja berwarna biru, milik Mama. Sengaja aku memberi Sam helm tersebut, sebenarnya ada helmnya Vino tapi sepertinya tidak cocok deh kalo di pakai naik vespa. Secara helm Vino kan model full face.


Sam mengenakan helmnya lalu menepuk tempat duduk di belakangnya. “Ayo!” ujarnya tidak sabar.


Aku kembali tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata, duduk di belakangnya lalu memeluk pinggangnya. “Ayo berangkaat!” ujarku seperti anak kecil sedangkan Sam hanya tertawa lalu mulai mengemudikan Vespanya meninggalkan rumah.


.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2