
Sebelum baca jangan lupa pencet
Like, Vote nya terlebih dahulu ya !!
setelah itu komen dan share juga boleh..
Happy reading !!
##
Aku duduk sambil memperhatikan Sam yang tengah mengunyah roti, duduk bersila di atas sofa dengan memangku laptop. Dia terlihat fokus dengan pekerjaanya. Sam yang tengah mengenakan kaca mata itu terlihat tampan di mataku.
Baiklah, kapan sih dia terlihat jelek? Lagi menguap saja dia tetap terlihat tampan. Bahkan tidur sambil mangap aja dia juga tetap tampan, bikin gemes malah.
Salah satu kebiasaan yang baru-baru ini aku sadari dari cara Sam memakan roti yang ada selainya adalah dia akan memakan bagian tepinya terlebih dahulu, dan menyisakan bagian tengah untuk dia makan paling akhir. Kalau kata orang sih yang terakhir itu adalah 'Gong' nya.
Keep the best for the last.
Atau saat dia makan bakso, dia tidak menyukai mie bihunnya. Dia lebih suka makan bakso hanya dengan mie yang berwarna kuning nya saja, menghabiskan mienya lebih dulu baru kemudian memakan baksonya.
Cara makan yang menggemaskan bagiku.
“Minum dong, Del.” Dia mengulurkan tangan tanpa menoleh.
Aku meraih segelas susu coklat dingin di atas meja dan menyerahkannya pada Sam. Setelah menghabiskan segelas susu itu, dia meraih toples keripik kentang dan mulai mengunyah lagi.
Aku menatapnya jengah, apa mulut Sam itu tidak bisa ya berhenti mengunyah sedetik saja? Aku mulai khawatir dengan lemak-lemak yang akan menumpuk di perutnya.
“Kamu tuh harus lebih rajin olah raga kalau nggak mau buncit.” Ujarku sambil memperhatikan Sam sejak tadi.
“Aku olah raga kok setiap hari.” Jawabnya datar.
Aku memutar bola mata. “Olah raga apa? Olah raga ranjang yang iya!” Sam hanya menyengir ke arahku. “Kamu sekarang malas bangun pagi, kalau nggak aku bangunin, bakal telat berangkat kerja.”
Sam menoleh dengan wajah datar. “Ya habisnya kamu yang bangunin aku setiap jam satu malam, minta jatah.”
“Heh, sembarangan ya! Itu fitnah! Bukannya itu kamu!” aku melemparnya dengan bantal sofa.
Sam terkekeh, meletakkan laptopnya ke atas meja lalu mendekatiku dan mengecup bibirku. “Iya sayang. Bukan kamu, aku yang minta.”
Aku hanya menatapnya cemberut. “Kamu tuh nyebelin.” Aku segera bangkit dari sofa dan berdiri. “Sebel aku sama kamu!” ketusku lalu melangkah menuju kamar.
“Loh, gitu aja kok ngambek.” Ujarnya kembali meraih laptop.
Ya kalau ngambek di bujuk gitu! Elah kampreeeet! Rasanya aku ingin menjerit-jerit dalam hati.
Aku menghentakkan kaki dan melangkah menuju kamar. “Tidur aja kamu di sofa!” teriakku sebelum membanting pintu kamar dan menguncinya.
Tak lama kemudian terdengar ketukan dari depan pintu. “Del, kenapa di kunci?” Sam mengetuk-ngetuknya tidak sabar.
“Aku malas sama kamu, nggak peka!” teriakku sambil berbaring di ranjang.
“Kenapa ngambeknya malah begini sih?” Sam sekarang menggedor pintu dengan brutal. “Buka pintunya!” teriaknya.
“Nggak mau! Nggak usah tidur sama aku, nggak usah minta jatah juga sekalian!” teriakku sebal.
Lagian siapa suruh ngledekin aku begitu, tidak tahu apa kalau mood nya orang hamil itu gampang berubah dan sensitif. Bukannya di manja malah di bikin sebel.
Sekarang minta aja tuh jatah sama kucing tetangga!
“Del!”
Bodo amat, mending tidur!
••
Sore harinya saat aku membuka pintu kamar, Sam malah asyik bermain game sambil bersila di atas karpet. Sial, dia hanya membujukku sebentar, saat aku tak kunjung membuka pintu, setelah itu dia tidak lagi berusaha membujukku.
__ADS_1
Aku mengambil segelas air dan apel dari dapur, duduk di atas sofa dengan kesal. Dia sama sekali tidak menoleh padaku karena terlalu serius bermain game.
Aku sengaja menunggunya menyapaku atau melirik, tapi dia sama sekali tidak menoleh, benar-benar mengabaikan aku.
Rasanya ingin aku lempar apel ini ke kepalanya!
“Kamu tuh nggak merasa bersalah ya?” Karena tidak tahan, aku akhirnya melempar kepalanya dengan bantal.
Dia hanya menoleh dengan wajah datar. “Emang aku salah apa?” tanyanya polos.
Lempar gelas kaca ini dosa tidak sih? Biar bocor sekalian itu kepalanya!
“Aku lagi ngambek bukannya di bujuk.” Ujar ku sewot.
“Oh.” Hanya itu responnya dan kembali sibuk dengan permainan.
“Nyebelin, kampret, nggak peka, bos setan, aarrrggah!” aku berteriak kencang.
Dia hanya melirikku dengan kedua alis terangkat dengan wajah bosan, lalu kembali mengacuhkan aku yang sudah mencak-mencak di tempatku.
Aku pengen bunuh orang!
“Mau kemana?” Sam bertanya saat aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar.
“Ambil kunci mobil!” ujarku sebal.
“Hm.” Sam hanya bergumam. Dan itu membuatku semakin sebal.
Dia tidak mau bertanya kenapa aku ambil kunci mobil gitu? Baiklah, untuk hari ini saja. Besok aku benar-benar akan membuang PS4 nya itu ke tong sampah depan kompleks perumahan mewah ini. Biar dia tahu rasa!
Aku keluar dari kamar sambil menggenggam kunci mobil dan melangkah menuju pintu samping yang menghubungkan dapur dengan carport.
“Mau kemana?” akhirnya dia bertanya walau dengan nada datar.
“Ke rumah Mama.” Jawabku ketus.
“Oh, minta di antar sopir aja.” Perintah Sam tanpa menoleh.
“Kamu nggak niat nganterin aku gitu?”
Sam menoleh. “Kamu mau di anterin?”
Astaga kampret pakai tanya lagi. “Nggak!” aku melangkah keluar.
Bagaimana jika aku menggores mobil kesayangan Sam ini dengan batu saja ya? Sumpah aku kesal.
Saat aku membuka pintu mobil Sam, dia merebut kunci itu dari tanganku. “Ngambekkan.” Cibirnya sambil membukakan pintu penumpang untukku.
Aku masuk sambil menatapnya kesal.
Sepanjang perjalanan aku terus mengomel, tapi Sam hanya mendengarkan tanpa memberi respon. Aku tidak yakin jika dia benar-benar mendengarkan.
“Aku capek loh ngomel dari tadi.” Ujarku lelah.
“Kalau capek, udahan. Diam.” Jawabnya singkat.
“Kamu tuh yang bikin kesel setiap hari.” Aku kembali emosi.
“Aku biasa aja.” Dia menoleh dengan wajah datar. “Kamu yang berlebihan.”
Wah udah nggak tahan ini, pengen aku makan biar tahu rasa!
Sabar, Del, sabar. Kasihan bayinya nanti kalau darah tinggi terus. Aku menarik nafas perlahan sambil mengusap perutku yang mulai terlihat menonjol.
Kamu jangan kayak Daddy kamu ya, Nak. Kasihan Mommy nanti darah tinggi. Ngadepin satu yang kayak Daddy kamu aja udah capek dan menguras tenaga, apalagi dua. Mommy bisa mati berdiri.
Kalau dulu sewaktu aku menjadi bawahannya, mau melawan takut di pecat. Sekarang giliran aku jadi istrinya, mau melawan takut kualat.
__ADS_1
Sabarkan aku, ya Tuhan.
••
Begitu sampai di rumah Mama, aku langsung turun terlebih dahulu dan langsung membuka pintu sambil mengucapkan salam.
“Loh, Mbak Adel sendirian?” tanya Vino yang tengah bermain game di ruang keluarga.
“Sama Sam, lagi parkirin mobil.” Jawabku. Aku langsung berjalan ke dapur karena mencium aroma masakan, sepertinya Mama memang tengah memasak.
“Mama masak apa?” aku bertanya sambil mencomot tempe goreng tepung yang sudah tersedia di meja makan.
“Lagi masak kare ayam. Nggak tahu tuh Papa kamu katanya pengen makan kare dari kemarin.”
“Lah, Papa ngidam juga? Mama hamil lagi?” aku menatap Mama horor. Kebayang tidak kalau cucu dan anak seumuran?
Mama menepuk tanganku. “Sembarangan kamu! Kalau Papa berani bikin Mama hamil lagi, udah Mama bantai.” Mama tertawa begitu juga aku.
Aku tersentak ketika kedua lengan Sam memelukku dari belakang. “Sorry.” Bisiknnya lalu mengecup pipiku. Setelah itu dia mendekati Mama sambil tersenyum.
“Mama masak apa?” tanya Sam dengan wajah sumpringah.
“Kebetulan Mama buat kare ayam, mau kan? Kamu makan dulu ya.” Ujar Mama sambil menuang kuah karenya ke dalam mangkuk. Dan dengan senang hati Sam menerimanya lalu membawa mangkuk tersebut ke meja makan.
Sepertinya Mama itu salah bertanya. Sam kok di tawarin makanan ya jelas ... Iya-iya aja dianya.
Begitu meletakkan mangkuk tersebut, Sam langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Aku hanya menatapnya tanpa berkedip.
“Nggak izin dulu sama Papa? Mama masak buat Papa lho ini.” Mama hanya tersenyum ketika mendengar ucapan ku.
“Hm, Mama tadi udah nyuruh aku buat makan kok. Iya kan, Ma.” Sam berkata sambil menuang kuah kare tersebut ke dalam piringnya. “Aku udah lapar.” Rengek nya.
Aku menghela nafas, kemudian mengambil sebotol air dingin dari kulkas dan menuangkannya untuk Sam.
“Makanya kalau makan itu ucap bismillah dulu, biar setannya nggak ikut makan.” Omel ku sebal.
Tapi aku juga ragu sih, tidak mungkin kalau setannya tidak ikut makan. Orang yang makan saja bos nya setan, Ck!
“Iya, udah kok, nggak mungkin juga ngucap bismillah nya sambil teriak. Nanti kamu kaget terus ngambek lagi.” Sam mulai menyuap makanannya.
Astaga. Sam ini kenapa suka sekali membuatku kesal sih? Ucapan Sam berhasil membuat Mama tersedak tawa sampai geleng-geleng. Pasti Mama juga heran kalau ternyata menantu kesayangannya ini sangatlah aneh. Aku melihat Papa dan Vino masuk ke dapur lalu mulai mengambil nasi.
“Kamu nggak makan, Del?” Papa melirikku sambil menuang kuah karenya. “Kok Sam mulu yang makan? Kamu nya kapan?”
Aku hanya tersenyum. “Nggak kepengen makan, Pa.”
“Nggak usah gitu lah, Mbak. Nanti sakit siapa yang repot?” sahut Vino.
“Loh, emang nggak kepengen makan kok. Makan ku udah di wakilin sama Sam nih.” Aku menatap ke arah Sam dan dia hanya membalas melirik datar.
“Tapi kamu harus tetap makan loh, Del. Biar kamu sama bayinya sehat.” Mama tiba-tiba menyodorkan piring yang sudah berisi nasi ke hadapanku. Ya, terpaksa aku harus menurut meski sebenarnya aku tidak terlalu lapar.
Sebenarnya aku juga heran. Kenapa aku terlihat seperti biasa saja ya padahal lagi hamil begini? Bahkan aku juga tidak pernah menginginkan sesuatu, setidaknya sampai saat ini kalau nantinya aku juga tidak tahu. Berbeda sekali dengan suami kampret itu. Aku melirik Sam yang saat ini sudah menambah nasi keduanya.
Astaga, rasanya aku sudah kenyang hanya dengan melihat Sam makan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TO BE CONTINUED....