
“Opa gue dari tadi nyariin lo. Katanya dia mau jodohin lo.” Ujar Rafael sambil tersenyum ganjil. Apa benar yang di bicarakan bocah ini?
“Sama siapa?”
“Sama monyet kali.”
Aku menatap Rafael datar, dan bocah berusia dua puluh enam tahun itu hanya menyengir lebar.
“Ah, sekarang aku tahu alasan kenapa Opa nggak pernah mau menjodohkan cucunya sendiri. Dan lebih memilih aku.”
Rafael malah terbahak. “Ngambek.”
Aku segera masuk dan menyapa yang ada di ruang keluarga. “Opa.” Aku menyalami beliau karena sudah lama tidak bertemu dan membiarkan beliau mengusap puncak kepalaku. Opa Jacob tak jauh berbeda dengan kakek, masih memperlakukan semua cucunya layaknya bocah kecil yang dulu sering mereka gendong kemana-mana.
Tapi aku tidak keberatan asal bisa membuat mereka senang.
“Sendirian?”
Aku menatap Opa Jacob datar. “Bertiga sama malaikat.” Lalu aku menepuk tangan kanan dan kiriku secara bergantian.
Terdengar suara batuk secara bersamaan dari arah belakang. Dimana Aroon, Rafael dan Tristan sedang duduk di sana. Setelah itu di lanjut dengan suara tawa dari Opa dan kakek. Aku tahu sejak beberapa bulan yang lalu kakek mulai sering bertanya-tanya perihal perempuan. Dan aku yakin kakek pasti juga menceritakan hal itu kepada adiknya, yaitu Opa Jacob.
Di keluarga ini cucu tertua dari kakek maupun Opa adalah aku dan Tristan. Tak heran saat usia kami memasuki kepala tiga pertanyaan menyebalkan itu akan sering terlontar. Bagiku tidak masalah di umur tiga puluh masih sendiri. Toh tidak akan membuat duniaku kiamat seketika.
“Cucu kita memang jomblo semua. Nggak ada yang berani kenalin perempuan ke kita.” Ujar kakek dengan sengaja.
Aku mulai melirik Tristan yang terlihat sibuk dengan sketsanya, Aroon yang langsung berdiri sambil mengangkat telepon dan Rafael yang terus diam sambil bermain game. Mereka pura-pura sibuk. Dan aku langsung merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Ikut berpura-pura sibuk.
Tapi begitu aku membuka ponsel, teringat dengan foto Adelia yang siang tadi aku ambil diam-diam. Aku membuka galeri dan menemukan foto itu di sana. Seketika membuatku tersenyum. Dia itu lucu dan konyol. Tapi sialnya sangat cantik meski pembangkang.
Meski begitu, ada saatnya dia bisa menjadi sangat patuh.
Wanita idaman, calon istri yang pas. Energik, ceria, cerdas dan tahu apa yang ia inginkan. Dan yang terpenting dia itu apa adanya. Tidak apa-apa sedikit suka membantah, karena aku tidak butuh istri yang terlalu penurut.
Damn!
Apa yang baru saja aku pikirkan?
Aku menatap foto itu sekali lagi, lalu berniat menghapusnya. Tapi gerakan tanganku terhenti. Jempolku malah mengusap wajah cemberut itu dan aku kembali tersenyum. Urung untuk menghapus foto itu dan memindahkannya ke galeri khusus.
Biarkan foto itu menjadi penghuni ponselku. Aku tidak merasa keberatan.
Begitu aku mengangkat wajah, semua orang tengah menatap ke arahku. Aku berkedip, menetap mereka semua dengan bingung.
“Why?”
“Siapa dia?” tebak kakek dengan wajah yang berusaha keras menahan senyuman.
“Siapa apanya?”
“Yang membuat kamu tersenyum dan jemari kamu mengusap layar ponsel dengan lembut.” Kali ini Aroon ikut menjawab.
Aku kembali menatap semua yang ada di ruangan ini dengan wajah datar. “Siapa yang tersenyum?”
“C'mon, brother. Gue tahu dan hafal kalau sudah ada benih-benih yang mulai tumbuh.” Tunggu dulu. Aku menatap Rafael datar. Perasaan terakhir aku lihat tadi bocah itu sibuk dengan game nya.
“Benih apa? Jagung?”
__ADS_1
Rafael berdecak dan aku hanya menatap mereka santai. “Gue bakalan cari tahu sendiri kalau gitu.”
“Silahkan.” Jawabku santai. “Tapi jangan kecewa kalau tidak menemukan apa-apa.”
Lagi pula apa yang akan mereka temukan?
Tidak ada. Tidak ada benih yang tumbuh, lagi pula aku sedang tidak bercocok tanam.
Selesai menghabiskan waktu mengobrol bersama atau lebih tepatnya memancingku agar aku mengakui kebenaran dari apa yang mereka lihat tadi. Aku, Aroon, Rafael dan Tristan berkumpul di teras belakang.
“Mau ke Klub?”
Aku dan yang lainnya langsung menoleh ke sumber suara, di mana ada Kai yang baru saja datang dari dalam.
“Suara lo di kondisikan pe'a!” ketus Rafael pada sang adik.
Kai hanya terkekeh. “Udah pada nggak ada kok. Tidur mungkin.”
“Yang bener?” Rafael segera berdiri dan mengintip ke pintu. Begitu melihat kalau kakek dan Opa memang sudah tidak ada diruang keluarga, dia langsung tersenyum girang. “Ok, let's go!”
Awalnya aku ingin menolak karena aku cukup capek setelah beberapa hari selalu kerja lembur. Tapi seperti biasanya, menolak artinya percuma.
Aku dan sepupu-sepupuku masuk ke salah satu kawasan Klub ternama di Jakarta. Tempat ini memang sudah beberapa kali kami datangi jadi tak heran jika sebagian pekerja di sini sudah mengenal kami.
Begitu sampai di dalam, Rafael dan Kai langsung bergerak lincah mengikuti irama musik yang di mainkah seorang DJ. Mereka memang yang paling tidak bisa diam jika sedang berada di klub. Aku, Aroon dan Tristan memilih duduk di meja bar dan memesan minuman. Saat kami bertiga tengah asyik membahas masalah pekerjaan tiba-tiba ada seorang perempuan yang dengan sengaja mendekatiku.
“Sendirian?” ujarnya menggoda di dekat telingaku. Lagi-lagi aku mendengar pertanyaan yang sama.
Aroon dan Tristan diam-diam melirikku sambil menahan tawa. Sialan mereka.
Aku mematikan putung rokok yang tinggal separuh ke dalam asbak lalu membalikkan tubuh, menatap perempuan yang kini tengah tersenyum di sampingku.
“Bukankah kamu sudah tahu kalau aku tidak pernah sendirian jika ke sini?”
Perempuan tersebut malah tersenyum sensual. “Panggil aku Jesika. And by the way, siapa nama kamu?” aku melirik jemari perempuan tersebut yang mulai berani meraba lenganku.
“Namaku terlalu mahal untuk di ketahui seseorang.” Dua orang yang sejak tadi diam-diam tersenyum di belakangku kini mulai berdehem dan terbatuk-batuk dengan sengaja.
Perempuan itu terkekeh sambil terus mengusap lenganku. “Kamu sangat menarik.”
Aku hanya menatapnya datar lalu beralih menatap lenganku. “Bisa berhenti menyentuh saya?”
“Ups!” dia kembali tersenyum lalu berbisik ke telingaku. “Temani aku malam ini maka aku akan berhenti.”
Sial.
Apa maksudnya? Ada saat-saat yang selalu berhasil membuatku benci. Salah satunya seperti sekarang.
__ADS_1
Rasanya aku sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini.
Aku menegak habis minumanku lalu berdiri. Aku bisa melihat jelas Aroon dan Tristan tengah melongo seolah tak percaya dengan apa yang aku lakukan.
Perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Jesika tadi langsung tersenyum menang dan menarikku, membawaku masuk ke dalam sekumpulan orang yang tengah asyik melenggak-lenggokkan tubuh mengikuti irama musik yang berdentum keras. Bahkan Kai dan Rafael yang sedang asyik bergerak lincah di atas mejapun langsung berhenti dan melompat turun, menatapku heran saat aku melewati mereka.
Jesika lalu mulai melenggak-lenggokkan tubuhnya di depanku. Bergerak dengan gerakan lincah dan sensual. Menyentuh bahu, lengan, leher dan pinggangku secara bergantian sesuai irama musik. Dia terlihat senang ketika tanganku mulai bereaksi. Jesika semakin merapatkan tubuhnya padaku. Dan saat itulah aku langsung mendorong tubuhnya hingga ke sudut ruangan ini. Menekan tubuhnya hingga menghimpit tembok yang ada di sana.
Dia tertawa. “Ternyata kamu agresif juga ya.”
Aku hanya tersenyum tipis sambil menatap wajahnya yang terus saja tersenyum itu. “Hm, kamu akan segera tahu seberapa agresifnya aku.”
Aku semakin menekan bahu perempuan itu ke dinding dan dia mulai mendongak ketika wajahku semakin mendekati wajahnya. “Mari bersenang-senang.”
Aku berdecih. Bersenang-senang katanya?
“Dengarkan baik-baik, mulai besok jangan pernah berani lagi mendekatiku.” Desisku penuh penekanan tepat di telinga kirinya. “Hanya ada satu hal yang perlu kamu tahu dan kamu ingat-ingat. Bahwa aku tidak akan pernah sudi menyentuh wanita seperti kamu!”
Kedua tanganku masih menekan bahunya ke dinding, hingga saat dia mulai merintih barulah melepaskannya. “Jangan berpikir kalau aku tidak berani berbuat kasar pada wanita.”
Mata Jesika membulat, wajahnya terlihat kaget, seolah apa yang dia dengarkan tadi bukanlah kenyataan. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi tentu saja sebelum dia mulai bersuara aku sudah melenggang pergi dari hadapannya.
“Buang-buang waktuku saja.” Gumamku sambil berjalan mendekati meja bar.
Di sana baik Aroon, Tristan, Kai dan Rafael langsung menyambutku dengan tawa yang begitu keras.
“Lo dalam masalah besar, brother.” Rafael merangkul dan menepuk-nepuk bahuku dengan gaya kebapakkan. “Gue makin curiga kalau lo itu memang nggak normal.” Ujarnya lalu terbahak bersama yang lainnya.
.
.
.
.
##
Aku update lagi niihh.
Oh ya kayaknya kalau aku ada mood nanti, rencananya aku bakal buat judul khusus buat POV Samuel ini. Jadi nggak aku gabung di sini genks. Soalnya ini novel kan udah tamat, aku kasihan aja kalau ada pembaca baru yang nyari novel tamat tapi ternyata masih ada lanjutannya. Ini juga berkat saran dari seseorang sih hehe.
Dan kalau misalnya jadi, nanti di judul baru itu bakalan sedikit berbeda genks. Aku mau taruh scene-scene yang mungkin nggak ada di part My Boss Samuel ini.
Sama satu lagi, aku mau buat sedikit perubahan untuk karakter Sam. Di sini kan aku gambarinnya Sam punya mata biru. Nah ... ternyata aku cari-cari sampai saat ini belum ketemu visual yang cocok sama Sam. Salah aku sendiri sih buat karakter aneh-aneh jadi sudah sendiri wkwkwkwkk.
Dari awal nulis ini memang aku nggak pernah bayangin siapa-siapa. Jadi bingung. wkwkwkwk
Aku cuma bayangin tokoh kartun yang selama ini aku up di beberapa bab. 🤭🤣
Terlalu halu banget yak visualku.
Kalau kalian ada saran boleh kok tulis sarannya di komen ya. Siapa aktor yang cocok jadi pemeran Sam. Aku juga penasaran selama ini kalian bayangin sosok Sam itu kayak siapa sih? hahahaha.
Duh panjang kan jadinya.🤭
Nggak apa-apa ya. Jangan lupa komen!
Gara-gara aku bucin sama ini gambar aku jadi kesusahan *,*
__ADS_1