My Boss Samuel

My Boss Samuel
53. Meminta Izin.


__ADS_3

Selamat siang semuanya...


Semoga bahagia selalu.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwangeett!!


Happy reading !!


##


“Ma.” Aku menghampiri Mama yang tengah asyik menonton serial drama di salah satu stasiun TV. Tau kan, drama yang setiap hari ceritanya sama terus.


Heran sekali deh aku. Sudah tau kalau ending nya bakalan sama, masih aja banyak yang nonton.


“Ya Allah, Mama. Adel matiin nih tivinya.” Imbuhku karena Mama sepertinya tak memperdulikan keberadaanku.


“Eiitss! Jangan, Del.” Mama melotot ke arahku. Dari tadi ngapain saja sih. Sekarang pakai melotot segala. “Kenapa sih? Gangguin waktu Mama aja. Biasanya pulang kerja juga langsung nyelonong ke kamar.”


Benar juga.


Aku hanya meringis. “Ma ... Adelia mau cerita nih. Mau minta pendapat Mama.” Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Kondisi masih aman.


“Apa?” tanya Mama tak sabaran.


“Ish, bentar dulu. Adel lagi mikirin pendahuluannya yang bagus dan menarik itu seperti apa.” Ujar ku sedikit lebay.


“Del ...” Mama menatapku malas.


Aku tersenyum meringis lagi ke arah Mama. “Iya, Ma. Jadi begini ...” Aku memastikan lagi kanan dan kiri. Jangan sampai tiba-tiba datang pengganggu. “Rencananya, Sam Jum’at besok mau ngajak Adelia ke Bali. Ketemu sama keluarganya.”


“Terus?” Kali ini Mama memfokuskan pandangannya ke arahku.


Kok rasanya malah jadi malu ya. Padahal yang mau minta pendapat aku sendiri. Giliran di tanggapin malah awkward begini.


“Ya, masalahnya ... Sam ngajak nginep, Ma.” Aku menggaruk tengkukku. “Berangkat Jum'at sepulang kerja. Terus pulangnya ke sini Minggu sore.”


Aku melihat Mama sedikit menghembuskan nafas panjang. “Sebenarnya Mama enggak melarang kamu, Del. Tapi kalo Sam memang benar-benar serius ngajak kamu dan berani bertanggung jawab atas keselamatanmu. Mama nggak punya pilihan lain, selain setuju.”


“Begitu ya, Ma.” Aku menatap Mama dengan tatapan bingung. Lalu apa yang harus ku lakukan selanjutnya?


“Coba kamu suruh Sam minta izin sama Mama dan Papa secara langsung. Besok kayaknya Papa kamu udah pulang, deh.” Ucap Mama.


“Kira-kira Papa setuju nggak ya, Ma?” Aku memandang Mama serius. Namun Mama malah memukul kepalaku.


“Ya mana Mama tau. Papa memang suami Mama. Tapi, Mama nggak punya kemampuan khusus untuk menerawang apa yang akan di katakan Papamu besok.” Ucap Mama sewot.


Aku hanya mendengus. Siapa juga yang minta penerawangan Mama. Kalaupun keluargaku mempunyai kemampuan khusus itu. Lebih baik jangan di kasih ke Mama deh. Kasih ke aku saja, sepertinya aku jauh lebih membutuhkan kekuatan itu.


••


Seperti biasa aku sudah sibuk dengan pekerjaanku. Berusaha menarik minat konsumen supaya produk yang aku tawarkan laku keras.


“Oey penonton!!” Seru Rizal.


“Oey ...”


Aku tidak tahu lagi dengan jalan pikiran Rizal. Siang ini kita tengah di sibukkan dengan tugas masing-masing. Entah orang gila mana yang merasuki pikirannya, tiba-tiba saja Rizal berseru sangat keras. Dan gebleknya ... Aku juga ikut menanggapi apa yang Rizal serukan.

__ADS_1


“Buah durian, buah kedondong.” Imbuh Rizal.


“Cakep!” Mas Angga berseru lantang sembari mengacungkan jempolnya.


“Buah-buah apa yang bisa bikin dapat pahala?” Tanya Rizal.


Mbak Sari memasang wajah serius. “Buah Kurma. Kan ada sunahnya sehari makan tiga kurma biar dapat tambahan pahala.”


“No,No,No... Salah!” Rizal menggerak-gerakkan jari telunjuknya sambil menggeleng.


“Mending langsung ke inti aja deh, Mas. Gue masih pusing nih, jangan lo suruh mikir banyak.” Ucap Tiwi.


Rizal tersenyum jenaka sembari menatap kami satu persatu. “Oke! Buah yang bisa bikin dapat pahala adalah ... Buahagiain kalian semua.” Rizal tertawa keras. “Apalagi kalau bahagiain Adelia.”


“Ya elah, Bambang! Garing lo, begini nih punya teman yang otaknya beli di warung nasi padang!” Seruku.


Sebenarnya aku tahu Rizal tengah gabut. Sama seperti diriku tapi biarlah kegabutannya itu menyerang dirinya sendiri.


Mas Angga tertawa. “Wah ada yang baru nih! Sekarang warung nasi padang ada jasa tambahannya. Jasa menyediakan otak yang ketinggalan.” Ucapan Mas berhasil membuatku dan yang lainnya tertawa.


“Otak yang nggak berguna bisa juga kali, ya, di tukar tambah.” Kata Mbak Sari.


“Beda, Mbak. Kalo tukar tambah jangan di warung padang. Di tempat onderdil sepeda tuh. Kalau di tanya keluhannya otak blong.” Semua kembali tertawa lagi karena ucapanku.


Gara-gara sibuk tertawa aku dan yang lainnya sampai lupa dengan pekerjaan masing-masing. Sampai akhirnya Sam keluar dari dalam ruangannya dengan raut wajah dingin.


“Kalian ngapain?” pertanyaan dari mulut Sam berhasil membuatku dan yang lainnya langsung berhenti tertawa. “Kerjaan kalian setiap hari nggak ada yang lain ya selain bercanda! Memangnya tugas kalian sudah selesai?”


Aku hanya diam tak berani menjawab perkataan dari Sam. Di lihat dari auranya yang begitu takutnya kalau salah bicara bisa berakibat fatal.


“B-belum, Sam.” Ucap Mas Angga. Dia berusaha memberanikan diri menatap Sam.


“Loh, ini kita bercanda sambil bekerja kok, Pak.” Aku pun akhirnya berani bersuara. Ya, walaupun saat ini berhasil mendapat tatapan tajam dari mata Sam. Setidaknya aku harus membela diriku dahulu karena di tuduh tidak bertanggung jawab. Jelas tidak terima lah.


Sam tersenyum mengejek. “Jangan suka mengambil resiko. Kalian ini kerja serius saja belum tentu hasilnya sempurna. Sok-sokan pakai bercanda, mau hasilnya hancur? Gunain otak kalian!”


“Yah, terpaksa harus beli otak lagi di warung nasi padang.” Gumam Rizal. Walaupun ia hanya bergumam tetapi suaranya mampu di dengar oleh seisi ruangan ini.


“Apa?!” Sam menatap ke arah Rizal. “Kamu bicara apa, Zal?”


“E-enggak, Pak. Maksud saya, iya saya bakalan gunain otak saya.” Entahlah yang jelas ucapan Rizal itu berhasil membuatku terkikik dalam hati.


Tanpa basa-basi lagi Sam langsung berjalan ke arah lift meninggalkan ruangan ini.


“Anjiir! Deg-degan banget gue. Takut Bos tadi dengar.” Ucap Rizal setelah Sam masuk ke dalam lift.


“Tapi, gue rasa Pak Sam dengar deh, Mas. Besok lo harus belajar dulu cara bergumam yang baik dan benar itu seperti apa.” Kata Tiwi yang berhasil membuat semua tertawa.


“Gue serius nih, Zal. Kalo lo beneran mau beli otak di warung padang. Gue titip satu, ya.” Rizal malah tersenyum ke arahku.


“Buat apa, Del? Mending lo nggak usah pakai otak, deh. Takutnya kalo ada otaknya lo jadi nggak suka lagi sama gue.” Lagi-lagi Rizal berhasil membuat seisi ruangan tertawa.


Aku yang ikut tertawa langsung berhenti dan menatap serius ke arah Rizal. “Gue serius! Gue titip satu. Tapi bukan buat gue.”


“Terus buat siapa?” Semua mata kini memandang ke arahku.


“Buat Pak Sam. Kayaknya ... dia perlu otak baru.”


Sedetik kemudian gelagak tawa kembali pecah mengisi ruangan ini. Begini nih, punya teman yang selera humor sama recehnya.

__ADS_1


##


Sam meletakkan kembali cangkir berisi kopi panas itu ke atas meja. Di depannya ada Papa dan Mamaku yang tengah memandang sembari mempertimbangkan apa yang baru saja Sam utarakan.


“Kamu tahu nggak, Sam. Adelia itu belum pernah pergi jauh sama seorang pria. Maklum dia kan jomblo lama.” Rasanya ingin menangis saja setelah mendengar apa yang Papa katakan. Sejahat itu sama anak sendiri. “Takutnya, dia malah merepotkan kamu.”


Sam tersenyum simpul. “Nggak kok, Pa. Adelia nggak pernah merepotkan saya.”


“Yakin? Kamu belum tahu, sih. Adelia itu belum pernah naik pesawat.” Ya ampun, ngamuk sama orang tua dosa ya. Papa tega sekali menjelek-jelekkan diriku di hadapan Sam.


“Pa ...” Ujarku merengek.


“Kalau nanti dia mabuk gimana? Jetleg? Kan kamu nggak tahu.” Astagfirullah, Papa tak menghiraukan ucapanku.


“Iya, Sam. Nanti malah buat kamu malu lagi.” Imbuh Mama.


Sumpah demi apapun! Aku tak terima. Ini harus segera di luruskan.


“Ma, Pa ... Adel memang belum pernah naik pesawat. Tapi, ya nggak sampai segitunya juga kali. Mabuk? Norak amat.” Kataku berusaha membela diri. “Lagian Adelia nggak pernah begitu selama ini. Jangan fitnah anak sendiri lah.”


“Namanya juga antisipasi.” Ucap Mama datar.


“Nanti saya yang akan menjamin kesehatan dan keselamatan Adelia. Baik di pesawat maupun setelah tiba di tempat tujuan.” Sam masih berusaha meyakinkan kedua orang tuaku yang bercandaannya sudah kelewat batas itu.


“Berapa hari?” Papa kembali bertanya.


“Rencananya berangkat Jum'at malam. Dan kembali ke sini Minggu sore, Pa.” Jawab Sam.


Papa menatap Sam dengan wajah yang lebih serius. “Kamu nggak berniat menculik Adelia, kan?”


Ya Allah ... Pertanyaan apalagi itu. Aku ingin tertawa tapi ini bukan saat yang tepat. Semoga Sam di beri kesabaran menghadapi kelakuan Papa dan Mama.


Sam sedikit tertawa. “Saya nggak pernah ada pikiran seperti itu, Pa.”


“Bagus! Memang seharusnya jangan. Kamu tahukan, Papa dan Mama nggak akan mungkin punya uang untuk menebus Adelia.” Lalu Papa tersenyum jenaka.


Aku hanya bisa menggigit jariku. Rasanya gemas sekali mendengar ucapan Papa dan ekspresi Sam yang sangat berbanding terbalik. Sabar ya, Sam.


“Jadi ... Bolehkah saya mengajak Adelia untuk menemui keluarga saya. Pa, Ma?” Tanya Sam lagi.


Papa tersenyum kini wajahnya jauh terlihat lebih santai dari sebelumnya. “Boleh. Asal ... Jangan lupakan apa yang kamu janjikan tadi.” Sam mengangguk sembari tersenyum. “Keluarga Papa adalah harta yang paling berharga di hidup Papa. Dan kamu, Papa percayakan bisa menjaga salah satu harta berharga milik Papa.” Papa menatap teduh ke arahku, “Adelia.”


Sam meraih tanganku lalu menggenggamnya erat. “Saya berjanji, Pa.”


Sebenarnya Papa bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Tetapi entahlah malam ini mungkin Papa hanya ingin mengetes kesabaran Sam saja. Dan untungnya, Sam benar-benar sabar.


Sabar selalu ya Sam.


.


.


.


.


.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2