My Boss Samuel

My Boss Samuel
45. Pria Punya Selera


__ADS_3

Apa kabar? Sehat selalu ya..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share juga boleh banget.


Happy reading !!


##


Aku berjalan menuju dapur apartemen Sam. Lagi-lagi hanya kata bersih yang terlintas di kepalaku. Ya ampun, Sam benar-benar perfeksionis sekali. Jangan bilang kalau ini semua juga dirinya sendiri yang menata sekaligus membersihkan.


Setelah itu pandanganku jatuh ke lemari pendingin yang cukup besar di sana. Aku pun penasaran, seperti apa isi lemari pendingin seorang Samuel. Aku segera membukanya, dan menganga lah mulutku. Semua tertata rapi pada setiap tempatnya. Banyak sekali bahan makanan dan camilan di lemari pendingin milik Sam. Dan yang membuatku heran, rata-rata camilan yang di beli Sam adalah snack keripik kentang.


Dan aku jadi tahu kalau pacarku Sam ternyata sangat suka dengan keripik kentang. Aku pun iseng mengambil salah satu snack milik Sam beserta minuman dingin yang sudah tersedia di sana, sepertinya jus jeruk. Aku segera menuangnya ke dalam gelas lalu meneguknya. Tak lupa aku buka juga snack keripik kentangnya. Aku menikmatinya sembari bersandar ke meja set kitchen yang berada tepat di samping lemari pendingin.


Saking asyiknya dengan camilan keripik kentang milik Sam, aku sampai tak tahu kalau Sam sudah selesai mandi. Bahkan Sam sudah bersandar di lemari pendingin dengan kedua tangan terlipat ke depan. Aku baru menyadarinya setelah mencium aroma segar dari arah belakangku.


Aku mengerjap dan langsung memutar badanku ke belakang. “Sam ...” dan dia hanya menatapku dengan tersenyum.


Sam sudah terlihat sangat segar dengan penampilannya malam ini. Mengenakan celana training panjang berwarna abu-abu dan kaos putih polos. Bahkan rambut basahnya masih terlihat menetes di sekitar pelipisnya.


Ya Tuhan ... Aku merasakan jantungku seketika berdetak kencang. Kemudian di susul dengan perasaan aneh yang kini mulai memenuhi dadaku.


“Kamu udah lapar, ya?” Sam menundukkan wajahnya hingga lebih dekat dengan wajahku.


Aku tak langsung menjawabnya. Aku lebih memilih meneguk minumanku terlebih dahulu hingga habis supaya bisa meredam rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.


“E-enggak kok. Ini aku udah makan camilan kamu. Maaf ya aku langsung ngambil tanpa ijin.” Kataku.


Sam menegakkan berdirinya lalu perlahan mulai mendekat ke arahku. “Nggak apa-apa.” Tentu aku reflek bergerak mundur hingga pinggangku kini menatap meja set kitchen. “Mulai sekarang apa yang aku miliki, kamu juga boleh memilikinya.”


“Lho! Jangan dong, Sam. Aku nggak mau memiliki apapun dari cowok lain sebelum menjadi suamiku.” Sanggah ku cepat.


“Tapi, Keripik kentang ini punyaku, kan?” rasanya lidahku mendadak kelu sekali. Mulut Sam memang pandai sekali berbicara.


Sam semakin maju dan mendekat. Kini tangannya bahkan sudah berhasil mengunci tubuhku dari sisi kanan maupun kiri.


“Ya, tadi kan aku udah bilang maaf.” Ucapku mencoba menahan gugup. Aku hanya berharap saat ini Sam tak mendengar detak jantungku yang sudah tak karuan ini. Aku hanya pasrah, yang bisa kulakukan hanya meremas pinggiran meja set kitchen yang berada di balik pinggangku.


Wajah Sam semakin menunduk hingga hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku. Seketika perasaan merinding itu langsung menjalar di sekujur tubuhku.


“Kalau aku nggak mau maafin gimana?” Sam yang semakin menundukkan wajahnya.


Aku menggigit bibir bawahku pelan. “Please ...” entah kenapa aku malah mengatakan kata tersebut. Sedangkan yang aku tahu ada banyak kata lain yang harusnya bisa aku ucapkan.


Dadaku sudah bergemuruh sekali. Merasakan detak jantung dan debaran hatiku yang kian mengeras tak ada hentinya. Kini kening kami saling menempel, membuat mataku terpejam untuk beberapa saat. Lalu ku buka kembali mataku kemudian ku sorot mata Sam secara dalam.


“Kiss me.” Pinta Sam.


“What?” aku tidak salah dengar kan. Sam benar-benar sengaja ingin memancingku. Aku membelalakkan mataku untuk mendapat penjelasan dari ucapan Sam.


“Kiss me. Then, i'll forgive you.” Jawabnya datar namun berhasil membuat dadaku semakin bergemuruh.

__ADS_1


Rasanya tenggorokanku tiba-tiba mengering. Aku berpikir Ingin sekali segera pergi dari posisi ini. Tetapi entah mengapa hatiku berkata lain, seolah menginginkan sesuatu yang sejak tadi membuat jantungku terpacu kencang.


Belum sempat aku menjawab Sam sudah mendekatkan bibirnya ke arah bibirku. Mataku terpejam saat benda kenyal itu bersentuhan dengan bibirku. Dan kembali terbuka lagi saat Sam mulai mendaratkan sebuah kecupan lembutnya. Kecupan itu di mulai dari ujung bibirku kemudian terus ke tengah di sertai dengan gigitan-gigitan kecil. Jantungku semakin terpacu oleh permainan Sam.


Aku segera mengalungkan lenganku ke leher Sam dan membalas ciumannya. Aku menggigit bibir atasnya saat Sam menggigit bibir bawahku. Jariku mulai merambat naik dan aku selipkan di antara rambut Sam yang basah. Aku meremas rambutnya ketika Sam menggigit bibir bawahku keras hingga membuat mulutku terbuka. Dengan cepat Sam menyelipkan lidahnya masuk untuk menyusuri rongga mulutku.


Kini lidah kami bertemu dan saling membelit di dalam sana. Saling mencecap satu sama lain dengan penuh gairah. Sam mulai merengkuh pinggangku erat hingga tak menyisakan jarak di antara kami. Kemudian satu tangannya mulai bergerak membelai bongkahan pantatku lalu meremasnya pelan. Tentu aku tak kuasa menahan desahan dari mulutku. Saat itu juga ciuman Sam terlepas dan bergerak menuju leherku.


Aku mendongakkan kepalaku menikmati rasa geli bercampur nikmat saat Sam mengecupi leherku. Dia juga sesekali menggigitnya kecil. Aku merasakan pening berkumpul di kepalaku saat menikmati sensasi yang Sam berikan. Aku semakin melingkarkan tanganku ke lehernya dan meremas rambutnya saat ciuman Sam kembali ke bibirku.


“Sam ...” kataku di sela-sela ciumannya.


Aku harus segera mengembalikan kesadaran diriku. Sebelum aku hanyut terlalu dalam. Sentuhan Sam sangat berbahaya dan tak bisa di tolak oleh tubuhku sama sekali.


“Sam!” aku segera mendorong dada Sam hingga ciuman kami terlepas. Hanya deru nafas memburu yang dapat aku dengar dari Sam maupun diriku sendiri.


Dadaku bergerak naik turun mengisi pasokan oksigen dalam paru-paruku yang hampir habis rasanya. Aku menjatuhkan kepalaku tepat di bahu Sam dengan mata terpejam.


“Katanya mau masak.” Ujarku pelan.


Sam mengecup keningku lalu kembali membenarkan posisi berdirinya. “Yuk! Kamu mau aku masakkin apa?”


“Hm ...” aku berpikir sejenak. Tapi sialnya, akal sehatku sepertinya belum kembali sepenuhnya. “Terserah.” Akhirnya hanya kalimat andalan sejuta umat wanita itu yang bisa keluar dari mulutku.


Sam tersenyum lalu menyuruhku untuk menunggu di meja makan. Sebenarnya aku ingin membantu, tetapi dia bilang tidak perlu. Ya sudah, aku hanya bisa memperhatikan Sam yang tengah memasak dari tempat dudukku saat ini.


Tak lama kemudian sepiring pasta bolognese terhidang di depanku dan satu piring lainnya di depan Sam. Lengkap dengan topingnya yang tampak menggiurkan. Asal kalian tahu, pastanya tadi Sam buat sendiri dengan tangannya. Padahal ada kan pasta siap saji tetapi Sam lebih suka membuatnya sendiri.


Benar-benar pacar serba bisa. Aku jadi sedikit iri nih dengan kemampuan Sam.


Sebenarnya aku tak begitu menyukai pasta. Tetapi begitu makanan itu masuk ke dalam mulutku aku langsung tersenyum ke arah Sam. Sumpah ini enak sekali, bahkan lebih enak dari pasta yang pernah aku makan di Restoran.


“Enak banget, Sam. Wah ... Bakat jadi pendiri Restoran nih.” Sam terkekeh mendengar ucapanku. Aku pun menyuap sendok kedua ke dalam mulutku lagi.


“Di habisin kalo enak. Kalo kurang aku buatin lagi.” Ujarnya sambil tersenyum.


“Serius?” tanyaku seru. “Eh ... Tapi nggak usah deh. Besok-besok aja, kamu masakkin yang lainnya tapi.” Kataku sembari tertawa.


“Harusnya, besok-besok gantian kamu yang masakkin buat aku. Kan aku juga mau kamu masakkin.” Aku hanya meringis seraya menatap Sam.


Aku yang sudah menghabiskan makanan terlebih dahulu langsung menuang minuman ke dalam gelas, lalu meneguknya. Setelah itu aku kembali menatap Sam.


“Kalo masakanku nggak enak gimana?” tanyaku.


“Kan aku belum cobain, Adelia. Gimana aku bisa jawab kalo kamu tanya begitu?” Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dan entah kenapa tiba-tiba terlintas di kepalaku mengenai kejadian siang tadi.


Ah ... Kenapa harus muncul sekarang sih? Mengganggu saja. Tapi, kalau terlanjur sudah mengganggu berarti harus aku tuntaskan dong! Supaya tidak berkelanjutan.


“Kalo begitu ... Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” Aku melipat kedua tanganku ke atas meja. Menatap Sam yang masih menyantap pastanya.


“Tanya apa?”


“Kamu tadi ngapain aja di ruangan sama Mira? Kok lama banget.” Sam langsung meletakkan garpunya lalu menatapku.

__ADS_1


“Um ... Tadi dia cerita-cerita masalah produk begitu. Terus sama tanya-tanya juga. Maklum lah, Del. Dia kan anak baru.” Jelas Sam.


“Tapi kenapa harus tanya kamu? Kenapa nggak tanya atasannya aja? Atau temannya lah! Siapa lah, kenapa harus tanya kamu?!” Aku mulai sedikit kesal. Padahal yang membahas aku duluan tetapi yang kesal juga aku duluan.


“Ya, aku nggak tahu lah, Del. Dia bercerita ya aku mendengarkan. Terus dia tanya, ya, aku jawab.” Makanan Sam kini sudah habis. Ia segera menuang minuman ke dalam gelasnya.


“Ish! Kenapa nggak kamu usir aja, sih.” Kataku kesal. “Atau jangan-jangan kamu suka ya dekat sama Mira. Karena kan punya dia gede.” Sepertinya mulutku mulai kehilangan kendali.


“Hah? Apanya?” tanya Sam tak mengerti.


“Ya ... Ini. Dadanya.” Ucapku frontal. Bahkan Sam hampir saja tersedak minuman saat mendengar ucapanku. “Ya, kan. Kamu suka kan?”


“Apa?” Sam masih tampak terkejut.


“Hah! Kenapa sih setiap cowok suka sekali kalau melihat dada yang besar.” Gerutuku.


“Del ...” panggil Sam pelan.


“Apa?!” jawabku sengak.


“Nggak semua laki-laki suka dengan yang besar.” Kata Sam mencoba menjelaskan. Dia kemudian berdiri mengambil piringku dan piringnya lalu membawanya ke tempat cuci piring. “Karena, pria punya selera.”


“Terus seleranya sama. Begitu kan? yang besar-besar.” Sahutku kesal.


Sam berjalan mendekat dan berdiri tepat di depanku. Kemudian Sam menyandarkan tubuhnya ke meja makan dengan kedua tangan terlipat.


“Siapa bilang? Kamu nggak mau tanya seleraku seperti apa?” kata Sam sembari menatapku.


“Memangnya seperti apa?” aku balik menatapnya.


Sam terlihat tersenyum saat tatapan kami bertemu. Kemudian Sam duduk di atas meja makan dan sedikit mencondongkan posisi duduknya agar berhadapan denganku.


“Ya, seperti ...” Sam menggigit bibir bawahnya.


“Seperti apa?” Desakku.


“Seperti ...” Sam menggerakkan dagunya seraya melirik ke bawah. Awalnya aku tak mengerti maksud Sam. Tetapi aku langsung menyadarinya ketika aku mengikuti arah pandangan dari mata Sam.


Pandanganku jatuh ke dadaku sendiri. Aku mengernyit lalu menatap Sam lagi, dia hanya tersenyum. Lalu dengan cepat aku menggerakkan kedua tangan membentuk huruf X di depan dadaku.


“Seperti itu.” Imbuhnya.


Aku langsung melotot dan menghadiahi Sam dengan pukulan keras tepat di lengannya.


“SAM!!!”


To Be Continued...



##


Aku greget banget ih sama Sam... Pinjam bentar boleh nggak? Aku mau jitak tuh kepalanya biar nggak bikin aku gregetan...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote dan Komennya..


__ADS_2