My Boss Samuel

My Boss Samuel
56. Keluarga Sam (3)


__ADS_3

Selamat siang...


Seperti biasa,


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


“Mister Robert?” Aku segera membungkukkan badanku di hadapan kakek Sam. Jelas saja yang aku ketahui selama ini sosok pria paruh baya itu adalah pemimpin sekaligus pendiri PT. FASHION NOVA, Perusahaan tempatku bekerja selama ini.


Bukan main.


Sam bukan youtuber yang suka nge-prank itu kan?


Mister Robert mengernyit heran saat melihatku membungkuk di hadapannya. Ia segera berjalan mendekati Sam lalu ia secara terang-terangan menjewer telinga Sam.


“Ah! Sakit, kek.” pekik Sam sembari memegangi telinganya.


“Memangnya kamu belum bilang sama Adelia?” Mister Robert berkacak pinggang di depan Sam.


Sam menggeleng. “B-belum, Kek.”


“Hm ... Kebiasaan.” Mister Robert lalu menatapku. Aku harus bersikap seperti apa? Sumpah ini semua di luar dugaan ku. Bahkan aku belum pernah mendapati mimpi seperti ini. “Adelia.”


“Iya, Mister.” Jawabku gugup.


Mister Robert menghela nafas. “Kenapa kamu panggil saya seperti itu?” Dengan ragu aku mencoba menatap wajah Mister Robert. “Panggil kakek saja seperti Sam.”


“T-tapi Mister. Em, maksud saya Kek?” duh jadi gagap kan. Bisa tidak aku minta waktu sebentar buat membasuh wajah. Aku berasa seperti mimpi.


Mimpi di siang bolong.


“Kakek heran, kenapa orang-orang panggil kakek dengan sebutan Mister ya? Padahal kakek asli Indo. Memang wajah kakek ada bule-bulenya? Sam aja yang jelas bule malah enggak di panggil Mister.” Mister Robert berjalan ke meja kerjanya lagi.


Aku hanya diam sembari melirik Sam. Tapi sejujurnya, aku pernah mengira adanya ikatan keluarga antara Sam dan keluarga Mister Robert. Semua itu berawal dari sebuah foto yang pernah aku temukan saat Sam mengajakku ke ruang penyimpanan untuk mencari dokumen penting.


Saat itu aku memang melihat foto keluarga Mister Robert dan di foto itu ada satu wajah yang mirip dengan Sam. Aku sempat penasaran hingga kelupaan karena selama ini Sam memang tak pernah menceritakan hal tersebut. Yang ia ceritakan hanyalah Papanya yang ada di luar negeri dan Mamanya yang telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.


Dan inilah kenyataannya.


“Duduk sini, Del.” Suruh Mister Robert.


“Baik Mister, maksud saya kek.” Salah lagi kan.


Kakek Robert tersenyum. “Kamu kenapa? Takut. Kakek enggak gigit kok. Lagian gigi kakek juga sudah enggak kuat kalo buat gigit. Makan saja harus yang lunak.”


Aku tersenyum tipis.


“Kamu belum di beri tahu sama Sam ya, kalau dia cucu kakek?” aku hanya menggeleng. “Sam memang begitu. Sok-sokan mau menyembunyikan statusnya di Perusahaan. Dia kurang ajar lho, Del. Enggak mau panggil saya kakek kalau di kantor.”


Kali ini aku tersenyum. Senyum yang benar-benar lepas. “Dan ternyata berhasil menyembunyikan statusnya.”


“Benar. Dia ceritanya mau sok mandiri.” Kakek setengah berbisik padaku.


“Kek ...” Sam mulai membuka suaranya.


“Dia sebenarnya manja lho, Del. Paling manja di antara cucu kakek.” Aku mulai nyaman dengan pembicaraan Mister Robert atau yang mulai sekarang harus ku panggil kakek.


“Tapi setahu Adel, Sam memang selalu terlihat mandiri, kek.” Ujarku jujur.


Kakek mencibir. “Dia Cuma akting.” Aku hanya bisa terkekeh mendengar penuturan kakek. Ternyata seperti inilah sosok asli Mister Robert.


“Kalau kakek hanya mau menjelek-jelekkan Sam di depan Adelia. Lebih baik Sam ajak Adelia keluar sekarang.” Kakek menatap Sam dengan alis berkerut.


“Dia juga gampang emosi. Padahal kakek sudah bilang, jangan suka marah-marah biar awet muda seperti kakek.” Lanjut Kakek Robert tanpa merespon ucapan Sam.


Sam benar-benar bahan ledekkan di keluarganya sendiri.


“Mungkin sifat Sam turunan dari salah satu orang tuanya, Kek.” Kataku sambil terkekeh.


“Enggak mungkin. Papanya enggak bisa marah. Kamu sudah melihat sendiri kan, Bule bisa marah seperti apa sih, Del? Yang ada orang yang dengar malah capek. Tidak tahu maksudnya apa.” Aku kembali tertawa. Wajah Sam kini sudah mulai jengkel. “Sedangkan Mamanya, anak gadis paling lembut yang kakek miliki.”


“Enggak mungkin tertukar juga kan, Kek?” tanyaku antusias.


“Sepertinya enggak, Del. Tapi kalau semacam kerasukan bisa jadi.” Sahut Kakek Robert.


Astaga ... Ternyata kakek sepemikiran denganku. Bilang saja kerasukan Jin, Kek. Aku setuju.

__ADS_1


“Kakek.” Sam mulai kesal. Ia hanya mendengus dan berkali-kali mengusap kasar rambutnya.


Rasain! Jarang-jarang aku bisa melihat Sam tertindas. Yang ada kan dia yang selalu menindas. Karma memang berlaku.


“Kenapa sih, Sam? Kakek kan Cuma berusaha menceritakan kamu ke Adelia. Biar Adelia tahu seperti apa kamu sebenarnya.” Kakek Robert ternyata jago sekali dalam urusan menyindir. Ah ... Benar-benar di luar dugaanku.


“Tapi kakek terlalu berlebihan.” Kakek Robert menatap Sam santai. “Sam bukan penjahat yang harus di bongkar kedoknya.”


“Ah masa? Biasa saja kok. Kedok yang mana?” aku kembali tertawa. “Jangan-jangan kamu takut kalau Adelia tau kamu aslinya seperti apa?”


“Kakek.” Sam mulai putus asa. Dan aku semakin tertawa.


“Tuh kan. Anaknya mulai takut. Satu pesan kakek, kamu jangan mudah di bohongi Sam, ya.” Kakek Robert menatapku dengan tatapan jenaka. Aku hanya mengangguk sembari tertawa.


Tiba-tiba pintu ruangan kerja kakek terbuka dan di sana ada Papa Carlisle. Kakek Robert segera berdiri sembari menatap menantunya tersebut.


“Sekarang?” Dan Papa hanya mengangguk. “Kakek tinggal dulu, ya. Ingat sama pesan kakek.” Kakek Robert menepuk bahuku sembari mengedipkan matanya.


Kakek Robert sudah keluar dari ruangan ini bersama Papa Carlisle. Dan di sini tinggal aku dan Sam saja. Aku berniat berdiri karena aku rasa, aku dan Sam juga harus keluar dari ruangan ini.


Namun tiba-tiba Sam menahan lenganku. Setelah itu mendorong hingga punggungku menatap rak buku yang berada di samping meja Kakek Robert.


“Sam kamu ken~”


Sam menghentikan ucapanku dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. “Sepertinya kamu senang ya, membicarakan kejelekanku dengan keluargaku?”


Aku mendengus. “Jelas lah, jarang-jarang aku lihat kamu tertindas.”


Sam tersenyum. “Sepertinya mulutmu perlu aku hukum.” Sam kembali menarik sudut bibirnya hingga menyerupai seringai.


Perasaanku mulai tidak enak. Aku mencoba membasahi tenggorokan dengan ludahku. Lalu menguasai diri supaya tetap tenang.


“Sam kamu~”


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku benda kenyal dan lembut itu sudah menempel di bibirku. Sam menjilat bibirku dengan lidahnya secara perlahan lalu mengecupnya. Aku merasakan panas langsung menjalar ke seluruh tubuhku.


Merinding.


Sam menekan tengkukku dan meraih pinggangku untuk mengikis sisa jarak yang ada. Aku segera mengalungkan lenganku ke leher Sam, membalas ciumannya dan mempersilahkan lidahnya masuk ketika Sam memberikan gigitan kecil pada bibirku.


Nafasku mulai tersenggal saat tangan kanan Sam mulai bergerak mengusap tengkuk dan punggungku secara sensual. Sam benar-benar tau bagaimana cara membuatku melayang.


Aku meremas rambut Sam ketika ciuman kami semakin dalam. Saling mencecap dan bertukar saliva. Sam melepas ciumannya lalu bergerak menuju rahangku kemudian leherku. Mengecupnya perlahan di sertai dengan gigitan-gigitan kecil.


Ciuman itu kembali ke bibirku. Lidah Sam kembali masuk menjelajah rongga mulutku, mencecap dan saling membelitkan lidah. Aku merasakan tangan kiri Sam mulai bergerak lagi semakin turun. Bersiap untuk meremas.


“Sam, Papa ...” Itu suara Papa Carlisle.


Detik itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Aku membulatkan mataku penuh ketika mendengar suara Papa Carlisle dari ujung pintu. Walau aku sudah kehilangan hampir seluruh akal sehatku. Untung saja telingaku masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya.


Secara reflek aku langsung mendorong tubuh Sam ke belakang dengan sekuat tenagaku. Aku tahu tubuh Sam belum menyiapkan pertahanan atas dorongan ku. Alhasil, Sam terdorong dan jatuh ke belakang hingga punggungnya menatap meja kerja kakek Robert dengan keras.


Aku hanya bisa meringis menyaksikan apa yang terjadi.


“Sam ...”


•••


Sam duduk dengan wajah kesal membelakangi Bunda Eliza yang tengah mengoles krim pereda nyeri. Kakek Robert duduk di depannya sedangkan aku dan Papa Carlisle berdiri.


Sam tampak meringis ketika tangan Bunda menyentuh punggungnya. Oh ... Luka lebam itu terlihat sangat kontras dengan kulit tubuh Sam.


“Makanya, kamu jaga sikap dong. Jadi sial kan kamu.” Omel Bunda.


“Maafkan Sam ya, Adelia. Lain kali Papa akan bicara dengannya.” Aku hanya bisa menggeleng sembari menggigit bibir bawahku ketika menatap Papa Carlisle.


“Pa ... Aku yang jadi korbannya, Pa. Sakit punggung, Sam.” Sahut Sam, menatap ke arahku dan Papa Carlisle yang tengah berdiri.


“Loh, sakit yang buat kamu sendiri kok.” Sam tampak terkejut mendengar ucapan Kakek Robert, begitu juga aku. “Makanya mulutnya di jaga.” Kakek Robert mengusap bibir Sam dengan kasar. Atau lebih tepatnya dengan gemas.


“Kakek apa-apaan, sih?” tanya Sam kesal.


“Kamu yang apa-apaan. Memangnya kamu sudah tidak bisa menahannya? Sudah kepengen banget, iya?” Kakek Robert kembali mengusap bibir Sam kasar.


Papa Carlisle dan Bunda malah tertawa melihat Kakek Robert memarahi Sam. Padahal ini juga salahku, andai saja aku tak mendorong tubuh Sam.


Maafkan aku, Sam.


“Nakal banget sih kamu, Sam.” Bunda mencubit punggung Sam. Tentu saja hal tersebut membuat Sam semakin mengaduh.


“Ah ... Sakit, Bun. Sampai ke tulang ini sakitnya.” Rengek Sam.

__ADS_1


“Sekarang manja. Tadi berani cium-cium anak orang.” Kakek Robert berdiri dan ikut mencubit punggung Sam. Wajah Sam saat ini benar-benar sudah terlihat kesal bahkan telinganya sampai berwarna merah. “Harusnya kamu tadi jangan hanya dorong tubuh Sam, Del. Pukul juga kepalanya. Kakek dukung kok.”


Aku meringis kaku. “I-iya, Kek.”


“Eliza, berikan obatnya ke Adelia. Biar dia yang mengobati.” Kata Papa Carlisle.


Bunda Eliza memberikan obat pereda nyeri itu padaku. Lalu berdiri dan menyuruhku duduk.


“Terima kasih, Bun.” Ujarku sambil menerima krim tersebut.


Papa Carlisle memberi isyarat agar Bunda Eliza dan Kakek Robert keluar supaya bisa memberikan aku dan Sam privacy. Papa Carlisle memang sosok ayah yang pengertian. Bahkan sejak tadi dia tak ikut memarahi Sam. Berbeda dengan kakek Robert yang cerewet dan terlihat gemas dengan Sam.


Papa Carlisle mengusap rambut Sam. “Get well soon.”


Setelah itu berjalan keluar di ikuti Kakek Robert dan Bunda Eliza.


Aku masih diam di belakang Sam sembari menggenggam sebuah obat krim yang Bunda Eliza berikan. Lalu dengan hati-hati aku mulai mengolesnya ke punggung Sam.


“Sakit gak?” Tanyaku hati-hati.


“Enggak usah di tanya. Kamu lihat sendiri saja hasil perbuatan kamu.” Sengak Sam. Sepertinya Sam marah padaku.


“Ya, maaf. Aku reflek gak sengaja.” Tuturku merasa bersalah.


Sam berdecih. “Kamu puas kan lihat aku seperti ini.”


“Enggak kok! Aku nggak sengaja. Aku kaget waktu Papa masuk.” Kataku tak terima.


Sam segera membalikkan badannya hingga kini kami saling berhadapan. Ah ... Mataku malah langsung fokus menatap pahatan tubuh bagian atas Sam yang sedang terekspose.


Otot lengannya, dada bidangnya, perut sixpack nya. Ah ... benar-benar khilaf-able.


Sadar, Del! Woy!!


“Harusnya kamu enggak perlu dorong aku.” Ujar Sam.


“Hah?” aku terkejut. “Y-ya mana aku tau. Aku reflek Sam. Dan kejadian tadi tidak bisa ku rencanakan.”


“Jadi kamu suka lihat aku sakit?” Nadanya terdengar menyindir.


“Enggak, Sam. Aku udah bilang gak sengaja. Aku udah minta maaf juga.” Jawabku.


“Bohong.” Alisku langsung berkerut mendengar ucapan Sam. Jadi dia benar-benar marah.


“Kamu beneran marah dan gak mau maafin aku?” Tanyaku kemudian.


Sam benar-benar keterlaluan. Harusnya dia bisa membedakan antara yang sengaja dan yang bukan. Mana mungkin aku secara sengaja ingin melukai pacarku. Dan harusnya dia juga sadar dengan keadaan kita tadi seperti apa.


“Sam ...” panggilku pelan.


Sam masih diam. Dia hanya menatapku datar lalu perlahan mendekatkan tubuhnya ke arahku. Seketika muncul desiran aneh dalam dadaku saat wajah Sam kini sudah berjarak sejengkal dari wajahku.


Apa dia ingin mencium ku lagi?


Benar saja. Sam semakin maju hingga hidung kami saling bersentuhan. Saat Sam hendak membuka mulutnya. Suara pintu berhasil mengagetkanku lagi.


Kakek Robert muncul dari balik pintu.


“Kakek hanya mau ambil ponsel yang ketinggalan.” Ujar Kakek dengan nada jenaka. Aku hanya meringis sembari mengangguk. “Bagus! Jangan biarin Sam macam-macam ya, Del.” Kakek tersenyum lalu menutup kembali pintunya.


Aku kembali menatap Sam. Dan ... ya ampun aku reflek mendorongnya lagi. Punggungnya kini sudah menatap sandaran sofa yang kami duduki.


Sam hanya memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya.


“Sorry.” kataku sembari meringis.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....



##

__ADS_1


Habis sudah punggung Sam.. hahaha.


Puas deh lihat Sam menderita selama 2 hari.


__ADS_2