
Enggak rela banget mau upload bab ini.
Ini bab terakhir ya guys... T,T
Terimakasih yang selalu like, Vote dan Komen.
love you pokoknya.
Happy reading !!
##
“Mommy!”
Axcello atau aku dan Sam lebih suka memanggilnya El, berteriak kencang dari teras samping. Aku yang sedang menggoreng ayam segera menyerahkan tugas itu kepada Bibi dan berlari menuju teras samping. Putraku yang kini sudah berusia satu setengah tahun itu tengah bermain bersama Simba dan Guvi. Masih ingat kan? Kucing pemberian Raffael dulu.
“Sayang kenapa?” Aku berjongkok menatap Axcello yang matanya mulai berkaca-kaca seperti ingin menangis.
“Imba akal tama Upi.” (Simba nakal sama Guvi) ucapnya dengan suara yang menggemaskan.
Aku tersenyum sambil mengusap air matanya. “Simba enggak nakal, Simba lagi main sama Guvi.”
Axcello kembali mengusap pipinya dengan sendiri dengan gerakan menggemaskan. “Tu Imba igit Upi.” (itu Simba gigit Guvi)
“Mereka lagi main, sayang. Lihat Guvi enggak apa-apa kan.” Aku duduk bersila di depan putraku yang tampaknya masih merasa kasihan dengan Guvi.
“Kenapa?” aku langsung menoleh dan menatap Sam yang sudah berdiri di belakangku. Ini hari Sabtu kebetulan Sam libur namun kami memilih untuk menghabiskan waktu di rumah.
“El kasihan sama Guvi, habisnya Simba gigitin telinganya terus.” Jawabku sambil terkekeh pelan.
Sam langsung berjongkok dan memangku Axcello. “Mana yang nakal? Simba nakal ya?” dan El pun langsung mengangguk.
Sungguh menggemaskan.
Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam dan membiarkan Sam menemani El bermain, karena tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Selain itu aku juga masih punya tugas memasak.
•••
Sejak Axcello berusia satu tahun, Sam memutuskan agar Axcello tidur sendiri di kamar yang sudah ia siapkan. Awalnya aku merasa kasihan dan marah dengan keputusan Sam. Tapi Sam mengatakan kalau sebenarnya anjuran dari dokter harusnya El sudah harus di biasakan tidur sendiri sejak usia lima bulan ke atas.
Jelas itu merupakan perbedaan pola pikir yang kentara sekali antara aku dan Sam. Dia selalu mempunyai pola pikir ke barat-baratan, sedangkan apalah dayaku yang hanya asli keturunan lokal ini.
“El biar malam ini tidur di sini aja ya, Sam.” Pintaku pada Sam yang sejak dari tadi sudah berbaring di tempat tidur.
“Kan jadwalnya sebulan Cuma dua kali dia tidur sama kita. Jangan kebanyakan nanti manja dan nggak mau tidur sendiri lho.” Tuturnya mengingatkan.
Aku hanya merengut masam lalu menjatuhkan diri di sampingnya. Kalau Sam sudah berkata aku bisa apa sih? Mau membantah juga percuma.
Aku segera menarik selimut dengan kasar dan berbaring membelakanginya.
“Kenapa? Biasanya juga gitu kan.” Ujar Sam sambil memelukku dari belakang.
Aku hanya mendengus dan tak berniat untuk menjawabnya. Dia mana tahu sih apa yang di rasain seorang Ibu? Walau sudah lima bulan lebih kebiasaan ini berjalan tapi aku kadang masih merasa tidak tega.
Aku hendak menarik selimut untuk menutup kepalaku, namun Sam menahannya.
“Del ...”
“Hm.” Aku hanya bergumam malas.
Aku dengar Sam menghela nafas secara perlahan, setelah itu aku merasakan sebuah kecupan mendarat di tengkuk leherku. Kecupan itu mendarat beberapa kali hingga akhirnya membuatku tak tahan dan mengerang.
“Kamu kenapa sih Sa~”
Belum sempat aku selesai bicara, Sam sudah membungkam mulutku dengan bibirnya. Lidah Sam mulai menjilat bibirku kemudian melumaatnya dengan sangat lembut.
“Besok kamu boleh ajak El tidur di sini.” Ujar Sam di sela-sela ciumannya.
Mendengar itu aku langsung tersenyum, Sam terus mencium bibirku melumaat dan menghisapnya secara pelan dan lembut. Perlahan namun pasti aku mulai membalas ciumannya, aku menghisap bibir bawahnya ketika Sam menghisap bibir atasku.
Aku sedikit mendesah ketika Sam mulai menggigit bibir bawahku lalu menyusupkan lidahnya masuk. Aku menyambutnya dan lidah kami saling bertaut. Tangan Sam tak tinggal diam dia segera melepas dress tidur yang aku gunakan lalu kembali mencium bibirku lagi.
Aku mengerang ketika tangan Sam mulai meremas salah satu dadaku, yang memang kebetulan sejak tadi aku sudah tidak memakai bra. Ciumannya semakin turun menuju leherku.
Aku mendongak ketika lidah Sam mulai bermain dan menjilati leherku, sedangkan tangannya masih asyik bermain dengan puncak dadaku. Sam kembali mencium bibirku sekilas lalu menatapku sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ngambekkan.” Ujarnya dengan suara beratnya.
Aku hanya bisa tersenyum malu sambil memukul dadanya. Sam mengamati tubuhku sejenak hingga pipiku di buat bersemu olehnya.
Tanpa aba-aba Sam langsung mengecup puncak dadaku dan meremasnya pelan. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sambil meremas rambut belakangnya.
Tangan kanannya mulai bergerak membelai perutku lalu perlahan semakin turun hingga pahaku. Aku kembali mendesah ketika jarinya mulai menekan inti tubuhku yang masih terbalut celana dalam.
Dengan sekali tarik, Sam sudah berhasil melepas celana dalamku hingga terlepas.
Aku kembali mendesah saat merasakan lidah Sam membelaiku di bawah sana. Aku semakin meremas rambutnya secara kuat, ketika jarinya mulai menyusup masuk dan bergerak secara teratur.
Sam tidak pernah berubah, dia selalu bisa membuatku melayang.
Dan satu kebiasaannya yang selalu membuatku nyaris berteriak frustrasi. Sam selalu menghentikan aktivitasnya ketika aku hampir mencapai klimaks. Namun, setelah itu dia langsung menggantinya dengan gerakan yang selalu membuatku berteriak nikmat tanpa henti.
Aku selalu menyukai cara Sam memuja tubuhku.
••
Aku tersenyum ketika melihat Sam bermain dengan El di teras samping. Sam belum akan berhenti menggoda El sebelum anaknya itu menangis dan kesal karena kelakuan Daddy nya.
Aku tak pernah menyangka akan menjalani hidup yang seperti ini. Hidup yang aku anggap cukup di jalani saja tanpa harus mengharapkan apa-apa, ternyata kini aku malah berharap kebahagiaan ini akan bertahan selamanya. Memang permintaan yang terlalu besar, tapi di izinkan melihat El akan tumbuh besar dan menjadi anak yang tampan dan menikmati waktu kami bersama, itu sudah jauh lebih dari cukup.
Sudah beberapa minggu ini aku selalu merasa aneh, dan aku putuskan hari ini untuk memastikan kebenarannya. Aku keluar dari dalam kamar mandi dan langsung berteriak memanggil Sam.
“Daddy!”
Sam mendongak dan menatapku yang tengah berdiri di dekat pintu.
“Kenapa Mommy?” tanyanya dengan alis berkerut setelah melihat kegelisahanku dengan kedua tangan bertaut bingung.
Aku melihat El yang masih asyik bermain dengan kedua kucingnya. Aku segera memanggil Bibi untuk menemani El bermain, setelah itu menarik tangan Sam. “Ayo masuk dulu.”
“Kenapa sih, Del?”
Aku duduk di tepi ranjang dan mulai menatap Sam dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa sih?” Sam segera duduk di sampingku karena bingung melihatku yang seperti hendak menangis.
Sam membelalakkan matanya ketika menerima benda tersebut.
“Kamu hamil lagi?”
Aku mengangguk dengan mata berair. “Kamu sih!” aku meraih bantal dan mulai memukul-mukul kepala Sam.
Sam dari awal selalu melarangku untuk menggunakan alat kontrasepsi, dan membiarkan diriku hamil kalau memang Tuhan memberikan kesempatan lagi untuk hamil.
Dan ternyata, di usia Axcello yang masih satu setengah tahun, aku kembali hamil.
Sam terbahak-bahak, membungkuk saking senangnya. Sedangkan aku mulai terisak.
“Kok kamu malah nangis?”
Aku mengusap pipiku yang basah. “Aku hanya bingung, Sam. El baru satu setengah tahun masak udah mau punya adik?”
Sam menyengir lebar. “Bagus dong, dia akhirnya punya teman kan.”
“Ya tapi ...” aku mengusap pipiku lagi. “Apa kata orang nanti?”
Sam kembali terbahak. Kata Sam bentuk tubuhku tak banyak berubah selain lebih empuk di beberapa tempat. Dan yang paling dia sukai adalah dadaku yang katanya semakin padat.
“Ya udah kan kita memang nggak KB.” Sam berujar santai.
“Gara-gara kamu!” aku kembali memukul kepalanya dengan bantal.
“Loh, memangnya salah kalau aku tembaknya di dalam?” Sam tertawa sambil menghindari pukulanku.
“Ih kamu ngeselin ya, Sam!” aku mulai berteriak kesal.
Tawa Sam semakin kencang. “Setiap mau di cabut kamunya nggak boleh.”
“Sam!” aku terus memukul pundaknya dengan bantal. “Kamu sih kebanyakan minta jatah!”
“Loh, minta jatah itu wajib. Bukan Cuma kamu yang bisa minta jatah belanja.” Tuturnya membuat nafasku mulai tersengal-sengal saking kesalnya.
__ADS_1
Aku lalu membuang bantalnya dan mulai mengusap perutku. “Ya ampun, Dek. Daddy kamu suka banget buat Mommy gendut.”
Sam kembali tertawa lalu memelukku. “Biarin gendut, aku tetap cinta kok.”
“Apaan sih?!” aku mencubit pinggangnya lalu membalas pelukan Sam tak kalah eratnya. “Kebayang nggak keluarga kita nanti bakal bilang apa?”
“Paling bilang kalau kamu doyan bikin anak.”
“Ye, kamu yang doyan!” aku kembali mencubit perut Sam karena kesal dan Sam kembali tertawa.
Tangan Sam lalu bergerak membelai perutku. “Nggak sabar mau lihat dia kayak aku apa kamu.”
“Harus kayak aku dong. Masak kayak kamu semua, curang!” ujarku sambil mencubit hidung Sam.
“Tapi kalau mirip kamu nanti gampang ngambek sama cengeng, kayak pas hamil El kemarin.” Ujar Sam yang kembali membuatku kesal.
“Tapi yang ngidam waktu aku hamil El siapa? Kamu!” tukasku kesal.
Sam lagi-lagi tertawa.
Jika boleh aku katakan, Axcello atau El memang mewarisi semua sifat Sam, dia sangat suka makan, gampang emosi, dan suka sekali merajuk. Tapi dia juga mewarisi satu sifat dariku yaitu cengeng.
Aku tidak bilang kalau diriku benar-benar cengeng ya, dan aku juga tidak mau kalau El jadi cengeng. Dia harus kuat dan jadi anak hebat kalau bisa melebihi Daddy-nya itu.
El memang lebih dekat dengan Sam. Dan bagiku tidak apa-apa, aku tahu betul Sam pasti akan mengajari anaknya dengan sangat baik. Bagiku sekarang mereka berdua adalah harta yang sangat berharga. Harta yang tak bisa di tukar oleh apapun. Terlebih Sam, ya ... Dia bukan hanya hartaku tapi dia adalah lelaki terhebatku, lelaki terhebat yang pernah aku miliki.
••
Kalau kami pikir yang akan lahir hanyalah satu bayi, tapi ternyata dua. Ada si kembar yang belum tahu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan sedang tumbuh di rahimku. Aku dan Sam sempat syok, tapi juga bahagia.
Aku dan Sam luar biasa bahagia, karena kami tak menyangka jika kami akan memiliki anak kembar.
Papa dan Papa mertuaku menepuk-nepuk bahu Sam bangga.
“Kamu hebat.”
Itulah yang mereka katakan saat kami mengumumkan kehamilanku yang kedua. Terlebih aku hamil bayi kembar. Keluarga Sam sempat menggodaku, siapa lagi kalau bukan Aroon, Raffael, Destian, Kai dan Mas Tristan. Mereka benar-benar berhasil membuatku naik darah tapi mau bagaimanapun aku tetap bahagia.
Kini.
Aku tengah memperhatikan dua harta berhargaku yang tengah tidur di sebelahku. Sebenarnya aku juga sudah memiliki si kembar yang berhasil melengkapi hidupku. Sam dan Axcello benar-benar seperti dua bocah kembar yang berbeda ukuran. Mereka mengenakan piyama berwarna sama, biru.
Saat ini jadwal Axcello tidur bersama kami. Sam dan Axcello sudah lebih dulu terlelap dengan posisi berpelukan. Wajah anak dan bapak ini sangatlah mirip bahkan dari sampingpun terlihat mirip.
Tangan Sam memeluk El ke dalam dadanya, sedangkan tangan mungil El menempel di dada Sam.
Aku suka memerhatikan mereka berlama-lama, menatap wajah damai itu tengah terlelap dalam pandanganku.
Mereka adalah segalanya. Mereka adalah hal yang tak pernah berani aku bayangkan dulu, tapi kini aku miliki dan akan selalu aku jaga dan miliki hingga nanti.
Mereka adalah the perfect life-ku.
First love is amazing, but the last love is a perfect.
.
.
.
.
.
.
.
THE END.
Aku kasih bonus fotonya Baby Axcello nih, hehe.
Udah gede ya? pantes udah mau punya adik lagi. 😂
__ADS_1