
Selamat siang semua...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share kan apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku tak tahu kenapa hari ini rasanya begitu mendebarkan sekali. Aku sangat menanti-nanti hari ini tetapi aku juga sangat gugup sekali. Aku keluar dari kamarku, menuruni tangga dan seketika langsung terlihat kesibukan di rumahku pagi ini.
Beberapa anggota keluargaku sudah ada yang tiba pagi ini, membantu Papa membereskan dan merapikan rumah. Sedangkan yang lainnya membantu Mama di dapur. Ya, tepat hari ini hari Minggu ... sore nanti Sam akan melamarku. Aku dan Sam memang sudah sepakat untuk mengadakan acara lamaran yang sederhana saja di rumahku. Awalnya, Sam mengusulkan untuk membuat acara di salah satu hotel milik keluarganya dan aku menolaknya.
Jelas semua ini demi keselamatan hidupku.
Aku tak begitu suka dengan acara yang penuh dengan keramaian. Dan kami berdua juga sudah sepakat kalau acara lamaran nanti hanya akan mengundang anggota keluarga terdekat saja. Tidak perlu banyak-banyak biar kerabat yang lainnya menyusul datang jika sudah tiba saatnya hari pernikahan nanti. Berhubung rumahku kecil, jadi terpaksa Papa juga harus memanfaatkan teras rumahku untuk berjaga-jaga jika nanti tidak muat di dalam rumah.
“Ma, boleh aku bantu.” Kataku begitu sampai di dapur. Di sini hanya ada Mama dan Budhe Yanti, kakak tertua Papa.
“Loh, kamu ngapain di sini. Kamu di kamar aja buat persiapan diri.” Ucap Budhe Yanti.
“Iya, Del, di kamar aja sana suruh Vino buat nemanin kamu. Di sini sudah ada Budhe Yanti sama Budhe Tari.” Imbuh Mama.
Kalau Budhe Yanti adalah kakak perempuan Papa. Sedangkan Budhe Tari adalah kakak perempuan Mama. Sebenarnya Mama masih mempunyai adik perempuan tetapi dia tak bisa datang hari ini secara adiknya berada di Kalimantan. Budhe Yanti rela jauh-jauh datang dari Jogja hanya untuk menyaksikan acara lamaranku yang katanya paling dia tunggu-tunggu. Padahal pas lamaran Dewi dulu Budhe Yanti tidak datang lho.
“Um ... Beneran nih.” Ucapku memastikan.
Mama melirik ke arahku. “Iya dan nggak usah sok rajin. Mama nggak bakalan bilang ke Sam kok.”
“Mama!” pekik ku yang malah membuat Budhe Yanti tertawa.
Berhubung tidak ada pilihan lain terpaksa aku harus menuruti kemauan mereka. Aku kembali ke kamar dan menyuruh Vino untuk menemaniku. Hingga akhirnya waktu akan segera tiba.
Aku sudah duduk manis di depan cermin untuk mengaplikasikan make up lamaran yang sejak pagi tadi sudah aku pelajari dari YouTube. Karena ini moments spesial jadi aku juga harus dandan spesial dong. Tadinya Mama ingin menyewakan tukang rias tetapi aku menolak. Di kira anaknya ini tidak bisa berdandan kali ya.
Buktinya aku saja bisa membuat Sam klepek-klepek, Ck!
“Dih, mata kok pakai di warnai segala, Mbak?” tanya Vino yang memang sejak tadi sudah setia menemaniku.
Walaupun dia cowok tapi dia tidak keberatan sama sekali ketika aku menyuruhnya untuk menemaniku seharian tadi di kamar. Vino dengan sabar mendengarkan ceritaku dan kegugupanku hari ini, ya walau terkadang dia membalas ucapan ku dengan sangat menjengkelkan. Tapi percayalah Vino itu sayang banget sama Mbak nya ini.
“Ini namanya eyeshadow, gue bakalan buat gaya smokey eyes gitu biar terlihat lebih fresh dan cetar. Ya nggak, Vin.” Aku mencoba meminta pendapat dari Vino.
Tapi sepertinya aku salah meminta pendapat ke anak ini. Mana dia tahu soal make up sih, yang dia tahu kan hanya game Mobile Legend.
“Terserah lo deh, Mbak. Yang penting tampil cantik aja jangan kaya ondel-ondel.” Ujarnya sambil tertawa.
“Dih, kampret lo! Lo lihat aja mbak mu ini akan jadi yang tercantik hari ini.” Vino hanya mencibir ketika mendengar ucapan ku. “Vin ...” imbuh ku lagi.
“Kenapa?” tanya Vino.
Aku menatap Vino dari atas sampai bawah, dia sejak setengah jam yang lalu sudah siap dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna pink serta celana panjang berwarna cream.
__ADS_1
“Kok gue baru sadar ya ternyata adik gue imut banget. Lo hari ini pakai pinky-pinky, um ... Kayak permen tahu nggak. Pengen gue makan.” Ucapku dengan nada gemas.
Vino mendengus lalu merapikan rambutnya yang sudah klimis berkat pomade yang ia pakai. “Gue bukan Cuma imut, Mbak. Tapi ... Ganteng juga kan.” Mode semprul nya mulai muncul tuh, aku mendengus kecil setelah itu kami berdua tertawa bersama.
Akhirnya selesai juga hasil karyaku tepat di saat Mama masuk. Lalu Mama segera membantu menata rambutku dan menyuruh Vino mengambilkan setelan kebayaku yang berwarna pink juga. Sengaja hari ini aku memilih tema berwarna pink, biar kelihatan manis gitu semanis suasana hatiku. eeaakk!
Mama juga memakai atasan kebaya berwarna pink apalagi Vino dia malah sudah dari tadi memakai kemeja berwarna pink. Tidak dengan Papa tentunya, dia memakai batik tapi tetap yang ada corak berwarna pink nya dong, hehe. Ini semua berkat bantuan Mama juga, karena tepat dua hari yang lalu Mama bersikeras dan mengancam si penjahit agar bisa menyelesaikan seragam baju lamaran ku dalam waktu dua hari. Entah Mama mengancam dengan cara seperti apa, yang pasti pagi tadi kebaya, kemeja dan batiknya sudah di antar dengan selamat oleh sang penjahit.
Sebelum aku keluar kamar tak lupa aku memakai cincin yang pernah di berikan Sam. Aku memakainya di jari tengah kananku, karena memang hanya terasa pas di situ. Ini permintaan Sam katanya sebagai bukti kalo dia memang sudah serius sebelum acara lamaran ini di gelar.
Aku duduk di ruang TV bersama Mama, Budhe Yanti dan Budhe Tari. Lalu tak lama kemudian di susul dengan kedatangan sanak saudara yang lainnya termasuk Tante Nurma dan Tante Indah yang terlihat sedikit tak percaya atas lamaran ku ini. Hm ... Bau-bau tukang nyinyir akan segera di mulai sepertinya.
“Akhirnya kamu lamaran juga ya, Del?” ucap Tante Indah.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Tante.”
“Ngomong-ngomong, calon suami kamu itu orang kaya apa bukan sih? Kok penampilannya waktu datang ke nikahan Dewi kemarin mencolok banget.” Imbuh Tante Nurma.
Tuh kan si biang rumpi sudah mulai beraksi. Kelihatan sekali kalau dia suka banget ngurusin hidup keluarganya.
Aku hendak menjawab tetapi Mama dengan cepat menahan lenganku lalu tersenyum. “Kaya atau enggak itu kan nggak penting. Dan nggak ada urusannya sama kamu, Nur. Toh, yang nikah nanti kan Adelia.”
Tante Nurma sedikit mencibir. “Jangan begitu, Mbak. Jaman sekarang kita harus memastikan seluk beluk keluarga calon mantu kita. Kalau Cuma modal cinta saja jangan mau, Mbak. Anak kita juga harus di hidupi dengan uang kan.” Di antara semua yang ada di sini hanya Tante Indah yang mengangguk dan mendukung ucapan Tante Nurma. “Memangnya kamu nggak mau, Mbak, kalau di kasih uang sama menantu kamu pas nikahan nanti.”
Mama melirik Tante Nurma. “Kalau buat Mbak mu ini harta tidak begitu penting. Yang penting kebahagiaan Adelia, dan Mbak yakin Adelia sudah tepat dalam pilihannya.”
“Gimana sih kamu ini, Mbak. Orang aku dulu pas nikahannya Dewi aja minta uang di kasih lho sama suami Dewi.” Tante Nurma mulai menyombongkan diri. “Ya ... secara keluarga suaminya Dewi itu kan memang kaya, anggota DPR lagi.” Imbuhnya.
Iya deh percaya, harus berapa kali sih Tante Nurma bilang kalau mantunya anak anggota DPR. Kalau dia bukan Tanteku rasanya sudah ingin sekali aku jahit mulutnya. Ngeselin banget kan!
Tante Indah menyikut lengan Tante Nurma lalu berbisik, “lihat cincinya tuh.”
Aku hanya tersenyum mendengar bisikkan Tante Indah. Sekalian saja aku memamerkan jariku agar mereka bisa melihat cincin yang aku gunakan. Toh, percuma juga kalau aku sembunyikan, karena cincin ini terlihat sangat mencolok sekali dan membuatku risih juga apalagi dengan mata berliannya yang hampir sebesar batu ini.
“Wah, sepertinya beneran orang kaya ya calon suami kamu, Del. Itu cincin dari dia ya?” tanya Tante Nurma. Dia segera mendekat dan menyentuh cincin berlian yang melingkar di jariku.
Kelakuan Tante Nurma malah membuatku risih sebab karena kehebohannya ini membuat sanak saudara yang tadinya diam sekarang ikut melirik ke arahku.
“Wah, gede banget cincinya.” Kata Tante Indah dan aku hanya tersenyum. “Berapa krat tuh?”
Lagi-lagi aku hanya tersenyum, malas sekali menanggapi nanti kalau aku jawab di kira sombong pamer-pamer barang pemberian Sam.
Tante Nurma melepaskan tanganku lagi lalu kembali ke kursinya. “Iya besar banget. Tapi ... Asli apa enggak tuh berliannya. Kan jaman sekarang banyak tuh yang KW.” Siaal, dia tersenyum bersama Tante Indah.
“Iya ya, Mbak, artis aja banyak yang ketahuan pakai berlian KW.” Imbuh Tante Indah.
Siaal! Siaal! Mereka tersenyum lagi bahkan sedikit mencibir.
Sabar Adelia.
“Mau asli apa KW kan bukan urusan kamu, Nur. Lagian orang kalau enggak bisa membedakan yang asli dan yang KW lebih baik diam aja deh dari pada salah ... terus malu.” Mama sengaja menekan kata terakhirnya itu dengan jelas ke arah Tante Nurma dan Tante Indah. Dan tampaknya sindiran itu tepat Sasaran sekali. Terlihat raut wajah Tante Nurma langsung berubah masam begitu saja.
Aku sih hanya bisa tertawa dalam hati, Ck!. Mereka belum tahu kali kalau mulut Mama bisa lebih pedas dari mereka, i love you Mama. Setidaknya sampai acara ini selesai aku tidak boleh terlihat kesal dan emosi, tidak rela sekali kalau gara-gara perkataan Tante-Tante ku ini akan membuat moodku hancur. Kan hari ini aku harus terlihat yang paling bahagia di sini.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian terdengar suara ramai dari depan rumah. Tante Indah yang penasaran pun segera berdiri lalu mengintip di pintu yang terhubung langsung dengan ruang tamu, karena di ruang tamuku kacanya cukup besar jadi bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di luar rumah. Dia terlihat terkejut sekali hingga membuat Tante Nurma ikut menyusulnya.
“Del, itu beneran keluarga calon suami kamu?” tanya Tante Nurma. Aku yang merasa ikut penasaran pun langsung berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi di depan.
Aku melihat Sam dan keluarganya datang menggunakan lima mobil mewah. Berhubung aku tak mempunyai carport seperti yang ada di rumah Sam jadi mobil-mobil tersebut terparkir di sepanjang jalanan kompleks rumahku. Gila! Pasti akan mencuri perhatian seluruh warga jalan kompleks ini. Sam sudah bilang tidak akan membawa seluruh keluarganya tetapi kehadiran lima mobil mewah itu berhasil membuat semua tamu yang ada di rumahku terkejut bukan main.
Ini belum seluruh anggota keluarganya tapi sudah berhasil membuat heboh seluruh warga kompleks ku, terus apa jadinya jika seluruh anggota keluarga Sam yang datang. Ah ... Sungguh tak terbayang.
Pandanganku jatuh di mobil yang paling depan di mana Sam turun bersama dengan Kakek Robert, Papa Carlisle, Bunda Eliza dan Ayah Reino.
“Loh, loh ... Bukanya itu pemilik perusahaan terbesar dan terkenal yang ada di negeri ini kan yang pernah masuk TV dan muncul di mana-mana.” Tante Nurma menunjuk ke arah kakek Robert. “Aku juga pernah lihat di majalah suamiku.”
“Ah, yang benar, Mbak?” Tante Indah tampak begitu kaget dan tak percaya.
Lalu mobil kedua ada, Tante Sarah dan Om Aksa beserta Kai dan Raffael. Mobil ke tiga, Natalie dan Destian sedangkan mobil ke empat adalah Aroon dan Tasya.
Lalu, mobil ke lima itu siapa?
Sebuah mobil sport ferarri berwarna putih keluaran terbaru tahun ini. Dan mobil tersebut di hias dengan pita berwarna merah di bagian depannya.
Tunggu dulu.
Aku langsung tersadar dengan mata membulat, apa jangan-jangan Sam benar-benar menanggapi dengan serius ucapanku hari itu? Astaga, bagaimana ini?
Mataku semakin membulat ketika melihat masing-masing anggota keluarga Sam membawa sebuah seserahan yang berisi tas, sepatu dan baju berbagai merk dari brand ternama. Dan yang paling mencuri perhatianku adalah sebuah kotak yang di bawa Natalie. Dia membawa sebuah kotak perhiasan yang jelas terlihat berisikan satu set berlian. Ya Allah ... Aku ingin pingsan.
Aku kembali duduk dengan jantung berdebar, lalu Mama yang menyadari perubahan ekspresiku pun langsung menepuk-nepuk pundakku dan memberi isyarat agar aku bersikap tenang.
Tante Indah dan Tante Nurma masih berdiri dengan mulut menganga. Tiba-tiba Tante Nurma berjalan ke arah TV dan mengambil sebuah majalah yang pernah di baca oleh Papa. Dan kebetulan sekali sampul majalah tersebut adalah foto Kakek Robert dan Sam.
“Nah, ini ... Ini yang aku maksud.” Tante Nurma menunjuk-nunjuk sampul majalah tersebut dengan menggebu-gebu. “Ya Allah ... Calon suami kamu ternyata konglomerat, Del.”
Aku harus jawab apa? Aku hanya bisa tersenyum kaku ke arah Tante Nurma dan Tante Indah yang masih terlihat begitu terkejutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
__ADS_1
Awas tukang nyinyir minggir dulu ... sebelum ketiban malu. hahaha.
Ada juga yang punya saudara macam tante-tantenya Adel?? sabar aja, karma berlaku kok. wkwkwkwkk