My Boss Samuel

My Boss Samuel
44. Bendera perang


__ADS_3

Hallo guys??


Ada yang sudah kangen belum, nih? Oh ya, kalo ada yang mau tinggalin kritik dan saran silahkan..


Jangan lupa juga tinggalin Like, Vote dan Komen juga!!


Happy reading !!


##


“Mbak, yang namanya Adelia, ya?” Aku mendongakkan kepalaku ke atas. Menatap sosok yang sejak kemarin masuk ke daftar orang paling 'bisa bikin emosi' di hidupku.


Aku berbicara dengan nada angkuh. “Ya, kenapa?”


“Saya Mira ...” Sudah tau nggak perlu di perjelas. Bikin kesel aja. “Kata Pak Sam, saya di suruh nanyain file yang saya berikan kemarin. Sudah sampai mana, ya?”


Aku melipat kedua tanganku ke atas meja. Terserah dengan raut wajah Mira yang terlihat mulai tak suka itu. Aku tidak peduli! Dan terserah juga dengan tatapan mata dari Mbak Sari, Mas Angga, Tiwi dan Rizal yang kini mulai menyorotku tak paham.


“Memangnya, Pak Sam nggak bisa tanya sendiri ke sini?” Aku menaikkan alis ke Mira.


Mira tampak mulai kesal. Tetapi dia mencoba menahannya dengan memberi senyum ke arahku. “Saya kurang tahu, Mbak.”


“Bilang sama Pak Sam. Kalo masih punya kaki sama mulut suruh tanya sendiri, jangan pakai perantara orang lain.” Ucapku masih dengan nada angkuh.


Mira membuang nafasnya perlahan. Lalu tersenyum ke arahku lagi. “Baik, Mbak.” Ucapnya singkat. Lalu ia berjalan masuk ke ruangan Sam.


Dih ... Kenapa pakai masuk ke situ segala sih? Jadi dongkol nih. Aku segera menarik kursiku ke depan dengan sekali sentak. Tentu saja mengakibatkan suara decitan yang cukup keras.


“Lo kenapa sih, Del? Judes banget. Dia anak baru lho.” Aku menatap Rizal yang tengah melirik ke arah pintu ruangan Pak Sam.


“Terus, gue harus gimana? Harus baik gitu? Sorry ya ... Ogah banget.” Kataku langsung pada intinya. “Lagian ini file baru gue terima kemarin. Udah nanyain aja sampai mananya.”


“Betul, Del. Sikap lo tadi udah bener banget. Lo lihat nggak mukanya tadi? Pengen banget di lihat sok baik, gedek gue.” Aku segera mendaratkan tos ke tangan Mbak Sari.


Kalau masalah seperti ini memang wajib banget melibatkan Mbak Sari. Sudah pasti hatiku tenang, karena berasa ada yang dukung begitu. Entah kenapa ya? Cewek kalo tidak suka dengan seseorang pasti langsung mencari teman untuk di ajak tidak suka juga sama itu orang. Dan itu yang aku lakukan.


“Kalo Cuma lihat wajahnya sih gue nggak sebel, Mbak. Tapi, kalo cewek itu ganjenin Pak Sam ... Baru gue sebel.” Kata Tiwi.


“Lah, lo nggak tau? Kemarin dia ganjen banget sama Pak Sam. Ya, kan Mbak Sari?” Belum afdol rasanya kalau semua temanku belum membenci Mira.


“Ya Allah ... Kalian berdua dari kemarin Nethink banget sama si Mira.” Kata Mas Angga. Dari kemarin memang Mas Angga terlihat tidak suka sekali kalau aku dan Mbak Sari ngomongin Mira. Jangan-jangan Mas Angga naksir nih. Wah ... Nggak ingat anak, bini apa.

__ADS_1


Aku pun mencibir ke arah Mas Angga. “Lo mana tau sih, Mas. Apa yang di rasain wanita kalo sudah kesal? Lo banyak-banyak tanya deh sama istri lo!”


Mas Angga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Aku pun akhirnya juga melanjutkan pekerjaanku kembali. Sebelum moodku benar-benar hancur gara-gara Mira.


Sudah hampir satu jam berlalu. Tetapi, Mira belum juga keluar dari ruangan Pak Sam. Aku dan yang lainnya saja kalau ke ruangan Pak Sam paling mentok juga tiga puluh menit. Lah ... Si kuntilanak itu kenapa lama sekali? Apa dia sengaja ngajak perang nih.


“Mbak, lama banget si kuntilanak.” Kataku pada Mbak Sari.


“Iya, Del. Jangan-jangan lagi ngejilat tuh.” Celetuk Mbak Sari.


“APA?!” Tanyaku langsung memutus ucapan Mbak Sari. Rasanya kepalaku langsung berkedut saja mendengar kalimat itu. Aku benci pikiranku.


“Ish! Maksud gue, dia lagi baik-baikin Sam. Biar Sam suka gitu.” Lanjut Mbak Sari.


Wah, ini tidak bisa di biarkan.


“Eh, tapi siapa tau mereka memang lagi ngapa-ngapain tuh di dalam.” Kata Rizal setengah berbisik.


“Maksud lo?” tanyaku penasaran.


“Ya, maksud gue. Mbak Sari sama Mas Angga pasti tau, kan? Ininya si Mira kan gede ...” Rizal meletakkan kedua telapak tangannya ke dadanya sendiri. “Cowok mana sih yang nggak suka sama yang gede-gede.”


“Parah lo, Zal. Tapi ... Bisa jadi.” Yang tadinya Mas Angga selalu melarangku membicarakan hal negatif tentang Mira. Kali ini dia tertular juga oleh otak kotor Rizal.


“Iya tuh! Apalagi Mira itu nggak cantik. Mana mau Sam sama dia.” Sahut Mbak Sari.


Rasanya senang sekali mendengar orang yang aku benci di jelek-jelekin orang lain di depanku secara langsung.


“Loh, siapa tau kan? Lagian nafsu itu nggak perlu pandang rupa.” Ucapan Rizal berhasil mendapat sebuah tawa dari Mas Angga. “Buktinya, udah hampir satu jam Miranya belum keluar dari ruangan Pak Sam. Apa perlu kita cek nih. Pintunya sekarang terkunci apa enggak?”


Sialan!! Ucapan Rizal benar-benar membuatku panas. Auto nyanyi dong gue. Hareudang ... Hareudang ... Hareudang ... Fanas, fanas, fanas...


Aku mencoba menahan sabarku dengan menarik nafas lalu mengeluarkannya lagi, begitu seterusnya. Hingga akhirnya, aku mendengar suara knop pintu terbuka.


“Nanti saya kabarin kalo sudah selesai.” Kata Sam ketika keluar dari ruangannya.


“Terima kasih ya, Pak. Saya tunggu infonya.” Mira mengangguk kecil sembari menyelipkan rambut ke belakang telingannya, kemudian tersenyum.


Ingin sekali aku berteriak ... SOK CANTIK LO!!


Setelah itu ia pamit dan berjalan menuju lift. Melihat langkahnya saja sudah muak sekali diriku. Sok anggun banget. Dan yang lebih menjengkelkan dia berjalan sok angkuh sekali saat aku menatap wajahnya. Ini tanda-tanda dia mau mengibarkan bendera perang denganku.

__ADS_1


Sayang sekali, dia memilih lawan yang salah.


##


Lagi-lagi Sam mengantarku pulang. Apalagi hari ini kami pulang jam enam. Rencananya dia ingin mengajakku ke apartemen miliknya. Kata Sam, hari ini dia ingin memasak untuk menu makan malam kita berdua. Ya, aku setuju saja. Lagian aku juga penasaran seperti apa rasa masakan Sam.


Aku sedikit terperangah begitu sampai di kawasan apartemen milik Sam yang ternyata terletak di kawasan Keraton Residence. Setahuku, apartemen tersebut merupakan salah satu apartemen termahal di Jakarta. Yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah, berapa sih gaji Sam sebenarnya?


Sam menekan tombol lantai 50 saat kami berdua masuk ke dalam lift. Begitu sampai aku dan Sam keluar secara bersamaan. Sam mengajakku berjalan ke pintu apartemennya yang bertuliskan angka 50.


Setelah itu Sam terlihat hendak menekan passcode apartemen miliknya. Menyadari hal tersebut tentu saja aku langsung melarikan pandanganku ke arah lain guna memberi Sam privasi.


“Kamu ngapain?” Tanyanya.


“Hah?” aku mengerutkan alis ke arah Sam. “Kan, kamu mau buka passcode. Makanya aku~” Sam dengan cepat menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. “Sam ... Ini kan privasi kamu.”


Sam langsung menatapku dengan kedua alis terangkat. “Kamu bukan orang lain lain, Adelia.” Aku membalas Sam dengan anggukan. Lalu Sam menekan kunci apartemennya dan aku hanya memperhatikan sembari mengingat-ingatnya.


Pintu terbuka dan hal pertama yang aku lakukan hanya sedikit melongo. Sedikit ya, ingat!


Apartemen Sam begitu luas, mewah dan bersih tentunya. Semua barangnya tertata rapi dan cantik pada tempatnya. Pantas saja dia selalu mengomel kalau melihat hal kotor.


Pintu lift tertutup setelah terdengar suara beep tiga kali yang menandakan kalo pintunya sudah terkunci kembali.


“Kamu mau mandi?” Suara Sam mengagetkanku.


“Hah?” kataku terperangah. “E-enggak usah lah. Aku bisa mandi di rumah.” Imbuhku. Yang benar saja manusia ini menyuruhku mandi. Memangnya kita mau ngapain, sih. Ah ... Tidak-tidak, aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Tenang dan rileks itu saja.


“Ya sudah, kalo begitu aku mandi dulu. Dapurnya ada di sebelah sana.” Aku mengikuti arah jari telunjuk Sam lalu mengangguk. “Dan kamarku ... Ada di atas.” Sam mengakhiri ucapannya dengan mengecup pipi kananku.


Glek!


Rasanya sulit sekali menelan ludahku sendiri. Hanya dengan mendengar kata kamar saja mampu membuatku bergetar seperti ini. Tambah di cium lagi, pasti wajahku saat ini sudah merona sekali. Duh ... Sebaiknya besok aku harus mencuci otak terlebih dahulu.


“A-aku tunggu di dapur.” Ucapku sedikit gugup. Sam hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya.


To be continued...


##


Kira-kira Sam masak mau apa ya?

__ADS_1


Wah... Jadi pengen nyobain juga nih.. hehe


__ADS_2