My Boss Samuel

My Boss Samuel
54. Keluarga Sam


__ADS_3

Selamat siang semua...


Selamat beraktivitas dan sehat selalu..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Pagi ini Sam sudah datang ke rumahku lebih awal dari biasanya. Dia membawakan koper kecilku untuk di masukkan ke bagasi mobilnya. Jadwal keberangkatan pesawatnya pukul 7 malam. Sedangkan aku dan Sam keluar kantor pukul 6.


Bisa di bayangkan seperti apa tergesa-gesanya aku dan Sam nanti. Makanya, Sam memintaku untuk membawa barang-barang yang aku perlukan pagi ini juga. Jadi nanti sepulang bekerja aku dan Sam langsung bisa segera ke Bandara.


Hari ini aku bekerja seperti biasa. Tetapi anehnya aku merasakan waktu berputar begitu cepatnya. Mungkin benar kata orang, kalau kita menunggu waktu pasti waktuya akan terasa lama. Berbeda jika kita membiarkan waktu tersebut berjalan apa adanya.


Kalau tahu ternyata itu benar, sudah dari tadi aku nungguin waktu deh. Supaya tidak secepat ini. Seperti ada rasa yang belum siap dalam lubuk hatiku.


“Wah, akhirnya libur dua hari lagi.” Ucap Tiwi sembari membereskan meja kerjanya. Tinggal sepuluh menit lagi sebelum menuju jam pulang.


“Untung pas libur dua hari, suami gue juga di rumah. Kan nanti bisa weekend bersama. Udah lama banget gue nggak liburan sama anak-suami.” Sahut Mbak Sari yang telah lebih dulu selesai membereskan tempat kerjanya.


Mas Angga menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya. “Ide Bagus, Sar. Gue juga jadi punya rencana nih buat ngajak anak sama istri gue liburan. Ke Bogor boleh kali ya.”


Rizal berdecih. “Obrolan para orang yang sudah berumah tangga memang bisa bikin ngiri, ye.”


“Santai lah, Zal. Kan masih bisa nganan.” Celetukku.


“Bisa aja ih, Adel. Gue makin sayang, deh. Kalau begitu besok jalan sama gue yuk! Lo mau kemana gue turutin deh.” Ujarnya sambil menatapku.


Kalaupun seandainya Sam tidak mempunyai rencana untuk mengajakku ke Bali. Aku juga tak akan pernah mau di ajak jalan sama Rizal. Dia modusnya kebangetan.


“Dih! Mbak Adel aja yang di ajak. Lo gak ngajak gue, Mas.” Protes Tiwi. “Ayolah, di sini Cuma kita bertiga yang belum membina rumah tangga. Mari kita jadikan kebersamaan kita sebagai tiga serangkai yang bahagia.” Ucapan Tiwi berhasil membuatku dan yang lainnya tertawa.


Ada-ada saja pikiran bocah satu itu. Curiga nih, jangan-jangan sakit kemarin membawa kabur separuh akal sehatnya.


“Boleh, tuh. Ya gue selaku yang tertua mendukung aja deh apa keputusan yang muda.” Kata Mas Angga. “Dan gue juga berharap semoga salah satu di antara kalian ada yang cepat nikah. Biar bisa berkurang satu lajang gilanya!”


Wah parah tidak benar. “Enak aja lo, Mas! Gue nggak gila, ya. Gue bahagia.”


“Kalau begitu lo mau kan kalo besok kita jalan. Bertiga deh sama Tiwi. Biar nggak nangis bombay.” Rizal mencibir ke arah Tiwi.


“Gue nggak nangis! Tapi kalo lo gak ngajak gue. Gue do'ain ban mobil lo kempes.” Tukas Tiwi.


“Dih, jahatnya.” Rizal mengelus dadanya ketika membalas ucapan Tiwi.


Aku berpikir sejenak. Aku harus mencari alasan yang tepat supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Kalau mendadak aku batalin rencana dengan Sam. Bisa gawat! Bisa-bisa seumur hidup Sam tak akan pernah tersenyum lagi denganku.


“Gue nggak bisa.” Ujarku datar. Namun berhasil mencuri perhatian seisi ruangan ini. “Kalian belum pernah dengar orang ngomong nggak bisa, ya? Segitu anehnya kah di telinga kalian?”


“Alasannya apa, sayang?” Rizal menatapku.


“Gue akan kasih alasan kalo lo berhenti panggil gue sayang.” Enak saja Sam yang pacarku saja panggil sayang baru sekali. Lah ... Rizal kunyuk udah sampai tak terhitung. “Gue ada urusan sama nyokap. Buat persiapan kondangan ke sepupu gue Minggu depan.”


Untungnya aku masih punya alasan jitu. Aku pernah menceritakan tentang pernikahan Dewi sepupuku yang dapat calon suami anak DPR.


“Ah ... Bunuh gue, oy, bunuh!” Rizal menatapku sendu. “Sakit hati gue.”


“Lebay lo!”


##


Aku dan Sam sudah sampai di Bandara. Untung saja, kami berdua bisa datang tepat waktu. Itu juga karena Sam yang mengemudi seperti setan ugal-ugalan. Aku segera naik pesawat dan duduk tepat di samping Sam.


Sedikit nervous, karena ini memang penerbangan pertamaku. Bahkan tanganku tak pernah lepas dari genggaman tangan Sam. Ya, memang selebay itu.


Pesawat tiba di Bandara I gusti Ngurah Rai Bali setelah sekitar hampir 2 jam perjalanan. Sam membawakan koperku ketika aku dan dirinya keluar dari Bandara. Sampai di luar terlihat seorang laki-laki melambai ke arah Sam.

__ADS_1


“You so late, man! Ten minutes.” Laki-laki yang juga memiliki wajah tampan itu menunjuk jam tangannya ke arah Sam.


“Nggak usah seperti orang yang tak pernah naik pesawat. Cepat bawakan ini.” Ucap Sam datar. Sangat berbanding terbalik dengan laki-laki tadi yang jelas mengatakan dengan ekspresi dan wajah yang konyol.


Laki-laki itu mendengus ketika Sam memberikan koperku padanya. Lalu tiba-tiba ia menatap ke arahku.


“Adelia, ya.” Ucapnya sembari menunjuk diriku.


Aku tersenyum malu. “Iya.”


“Ternyata, cantik banget ya. Aww!” Sam mendaratkan pukulan ke kepalanya begitu saja. “Sakit, man!”


“Makanya cepat bawa koper itu.”


Laki-laki tersebut tersenyum. “Sebentar. Aku mau kenalan dulu.” Dia berjalan mendekatiku lalu mengulurkan tangannya. “Kenalin, Aroon. Panggil saja ... sayang.” Aroon segera meringis ke arah Sam begitu satu pukulan berhasil mendarat lagi di kepalanya.


“Kenapa sih, Sam?” Pria bernama Aroon itu terlihat tampak kesal.


Aku hanya tertawa melihat kelakuan dua orang pria dewasa itu. Seperti tak punya malu saling bertengkar di muka umum. Sam cenderung lebih cuek dan dingin sedangkan Aroon selalu berekspresi konyol saat Sam marah padanya.


“Cepat! Hari mulai malam.” Perintah Sam.


Aroon mendengus. “Ok lah. Adelia sini, duduk di depan ya.”


Sam segera menahan lenganku saat aku hendak melangkah masuk ke mobil. “Kita di belakang aja.”


“What? Kamu pikir aku sopir taksi online.” Keluh Aroon rak terima.


“Memang.” Aroon hanya pasrah ketika mendengar ucapan Sam.


“Damn you!” Umpat Aroon.


Mobil yang di kemudikan Aroon sudah melaju menuju rumah keluarga Sam. Aku memilih untuk duduk di belakang seorang diri dan membiarkan Sam duduk di depan sebelah Aroon. Kalau aku tak mengalah pasti saat ini kedua orang itu masih akan terus bertengkar.


Tanpa sengaja mataku bertubrukan dengan mata Aroon yang tengah menatapku lewat spion yang ada di dalam mobilnya. Dan dengan cepat Sam kembali memukul kepala Aroon lalu memutar kaca spion tersebut.


“Kamu punya masalah apa sih, Sam? Kita jarang ketemu lho. Sekali ketemu main pukul aja.” Keluh Aroon.


Aneh.


Sifat Sam memang sedingin dan sedatar itu bahkan dengan Aroon, keluarganya. Padahal sejak tadi Aroon selalu bersikap konyol dan cerewet terhadapku. Aroon juga tak kalah tampan dari Sam. Hanya saja wajahnya lebih ke seperti orang asia pada umumnya. Berbeda dengan Sam yang memang dominan blasteran bulenya. Tinggi dan postur tubuhnya pun hampir sama dengan Sam dan satu hal yang membuat mereka mirip sebagai keluarga, tatapan matanya.


Apakah memang satu keluarga memiliki tatapan seperti itu semua ya? Kalau yang cowok saja tampan semua. Kalau cewek seperti apa cantiknya.


“Kok kamu mau sih, Del. Jadi pacarnya Sam.” Pertanyaan Aroon berhasil mengundang sorotan tajam dari Sam. Tetapi aku justru terkekeh dan berantusias untuk menjawabnya.


“Ya mau bagaimana lagi. Dia maksa terus sih.” Aku dan Aroon tertawa tetapi tidak dengan Sam.


“Parah! Harusnya kamu tolak saja, Del. Banyak yang lebih baik dari Sam. Pria cuek dan dingin, galak lagi. Dari tadi main asal pukul aja.” Aroon sengaja mencibir tampaknya.


“Ar ...” Aroon segera meringis ke arah Sam.


“Memangnya dia kalau sama keluarganya juga seperti itu?” Tanyaku penasaran. Terserah dengan Sam yang kini sepertinya mulai merasa kesal dengan topik pembicaraanku dan Aroon.


“Jangan di tanya. Aku yang sepupunya aja kadang masih suka takut kalau lihat Sam marah.” Aku hanya tertawa mendengarnya.


Ternyata Sam yang kalau di kantor sosok yang sangat perfeksionis dan di takuti. Kalau di keluarganya malah suka di jadikan bahan ledekkan. Kasihan.


“Nanti kalau Sam macam-macam. Tenang aja, Del. Bilang sama aku. Aku siap membantumu.” Imbuh Aroon.


Sam berdecih. “Shut up!”


Akhirnya aku sampai di rumah keluarga Sam. Mobil Aroon memasuki halaman rumahnya. Perlu ku deskripsikan. Ya, rumah yang begitu mewah dan besar. Bahkan di halamannya terdapat carport sendiri yang tak kalah besar. Ada beberapa mobil sport mewah yang sudah terparkir cantik di sana. Sangat berbeda sekali dengan rumahku yang hanya ada satu garasi kecil.


Sam membukakan pintu mobil untukku. Lalu menggandengku masuk ke dalam rumahnya. Aku sedikit ragu memasuki rumah Sam. Apa aku siap? Ternyata Sam sekaya ini. Dan aku bagaikan butiran debu yang hilang begitu saja sekali tiup.


Mengenaskan.


Aroon membuka pintu besar rumahnya lalu masuk ke dalam di ikuti aku dan Sam. Tepat di ruang utama kedatanganku ternyata sudah di tunggu oleh beberapa anggota keluarga Sam. Mereka langsung berdiri ketika melihat kedatanganku.

__ADS_1


“Adelia, ya.” Seorang wanita paruh baya menyapaku. Dia terlihat begitu anggun ketika tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk ragu sembari mencoba menampilkan senyuman terbaikku.


Parah! Kalau tahu akan di sambut seperti ini harusnya aku tadi meminta waktu pada Sam terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri. Bayangkan saja kondisiku saat ini. Baru pulang kerja, masih menggunakan setelan pakaian kerjaku rok span hitam dan kemeja berwarna putih yang sudah tampak kusut efek perjalanan ke sini. Dan rambut yang ku cepol asal tadi pasti saat ini juga sudah tampak berantakkan.


Oh astaga ... Dan wajahku. Aku belum sempat mengelapnya dengan tissue. Pasti saat ini sudah tampak berminyak dan glowing sekali karena bekerja seharian tadi.


Bisa saja kan sebelum turun dari mobil tadi aku sedikit berdandan terlebih dahulu. Untuk menata rambutku, menyeka wajahku dan memolesnya dengan sedikit bedak. Dan mengoles sedikit lipstik di bibirku agar terlihat sedikit lebih segar. Ah ... Pasti saat ini lipstikku sudah berantakkan dan pudar. Semoga aku tidak terlihat pucat seperti orang sakit.


“Cantik sekali. Pantas Sam sangat tergila-gila.” Sam hanya mendengus saat mendengar ucapan dari wanita paruh baya tersebut.


“Selamat datang kak Adelia.” Aku menoleh ke arah gadis cantik berambut panjang yang memiliki lesung pipit saat tersenyum ke arahku. Dia terlihat sangat ramah. “Aku Tasya. Adiknya Kak Aroon.” Aku membalas uluran tangan Tasya. Dia memiliki bola mata yang indah dengan iris berwarna hitam pekat.


Sam merangkul pinggangku hingga mendekat ke arahnya. “Wanita cantik ini namanya Eliza, atau biasa ku panggil Bunda. Beliau adik dari almarhum Mamaku. Dan itu suaminya Reino, biasa ku panggil Ayah. Mereka adalah orang tua Aroon dan Tasya.” Aku mengangguk memahami penjelasan yang Sam berikan.


“Dan itu.” Aku menatap ke seorang pria yang tengah melambai ke arahku. “Destian, menantu Ayah dan Bunda.” Sam memberi jeda sesaat. “ Istrimu kemana?” tanya Sam.


“Kamar, katanya mau mandi.” Jawab pria bernama Destian itu.


“Kamu juga harus memanggil saya Bunda dan Ayah ya. Sama seperti Sam.” Wanita paruh baya bernama Eliza itu mendekatiku. “Tasya, kamu antar Adelia ke kamar ya.”


“Sudah kamu bereskan kan kamarnya?” Sam menatap Tasya.


“Sudah, Kak. Tenang aja.” Jawab Tasya. “Yuk, Kak.” Aku hanya tersenyum lalu mengikuti Tasya berjalan.


Aku sampai di sebuah kamar besar dan mewah. Gila! Tiga kali lipat dari kamarku. Aku hanya membelalakkan mataku saat Tasya membuka pintu kamarnya.


“Masuk, Kak.” Ujarnya.


“Sya, ini serius kamar Kakak.” Tanyaku ragu. Yang benar saja aku hanya tamu tapi di beri kamar sebagus ini.


Tasya tersenyum lalu menggandeng tanganku. “Ya iyalah, Kak. Ini khusus permintaan kak Sam.”


“Maksud kamu?” Tasya hanya tersenyum tanpa memberi jawaban yang justru berhasil membuatku penasaran.


••


Aku selesai mandi dan berganti pakaian. Kalau seperti ini kan aku jadi sedikit lebih percaya diri dari pada tadi. Aku segera keluar kamar karena Sam sudah menungguku untuk makan malam. Sampai di ruang makan aku terkejut lagi karena jumlah manusianya bertambah lebih banyak dari yang tadi.


Sam menyuruhku duduk di sampingnya.


“Itu Om Aksa dan istrinya Tante Sarah.” Mereka tersenyum ramah padaku. “Mereka kebetulan mampir ke sini karena tahu kamu akan datang.”


“Jelas lah, Tante sama Om kan penasaran sama wanita yang sudah membuat kamu tergila-gila.” Tante Sarah terkikik di ikuti yang lainnya. “Ternyata kamu cantik sekali, Adelia.” Imbuhnya dan Sam hanya berdecih.


“Makasih, Tante.” Ujarku sambil tersenyum.


“Dan itu anaknya, namanya Kaisar. Panggil aja Kai. Dia paling kecil di sini sama dengan Tasya.” Sam kembali melanjutkan mengenalkan anggota keluarganya.


“Enak aja. Umurku sudah 23 tahun, Kak. Tasya masih 20.” Kata Kai tak terima.


Aku melanjutkan acara makan malam bersama ini dengan perasaan senang. Ternyata keluarga Sam sangat baik, berbeda dengan yang ku pikirkan sejak kemarin. Mereka selalu melibatkan aku dalam perbincangan mereka. Mereka begitu hangat dan saling menghargai.


Hingga tiba-tiba mataku tertuju ke seorang wanita cantik berambut coklat bergelombang yang tengah berjalan ke arah meja makan. Wajahnya terkesan jutek namun sangat cantik.


Dia lalu tersenyum, manis sekali senyumnya. Bahkan aku yang sama-sama wanita saja bisa terpana ketika melihat senyumnya. Lalu aku menatap Sam yang entah kenapa tiba-tiba terdiam, berbeda dengan sebelumnya ketika ia dengan semangat mengenalkan anggota keluarganya yang lain. Sam membalas senyum wanita tersebut.


Entah hanya perasaanku atau memang seperti itu. Aku merasakan adanya sedikit keanehan dari cara Sam membalas senyuman ke wanita tersebut.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED...


##

__ADS_1


Bab ini mungkin bab terpanjang dari semua episode yang ku buat di sini. Ya mau bagaimana lagi, bingung mau ku potong bagian mananya. Dan selebihnya aku memang sedang bersemangat saja menulis tentang keluarga Sam.


__ADS_2