
Hallooooww semua ...
Pada nungguin ya?? maap ye telat, kerjaan banyak banget. Pokoknya pantengin aja terus.
Dan Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
oh iya, sebelum baca gue ingetin ya,
⚠️⛔WARNING !!! ⛔⚠️
Ada adegan DEWASA !!
Pokoknya segala dosa di tanggung sendiri, okee.
Happy reading !!
##
Aku merasa hampir meledak.
“Please.” Aku mendesah pelan saat tangannya terus menggodaku di bawah sana. Kepalaku sudah pening oleh gairah. Bibirnya juga tak henti-hentinya menggoda. Rasanya aku ingin tenggelam di dalam kolam ini untuk meredakan api yang mulai berpusat di inti tubuhku.
Sam melepas puncak payudaraa ku dari mulutnya, dia tersenyum dengan kabut gelap yang terlihat jelas di matanya. Sam sudah sangat terbakar gairah begitu juga aku.
“Padahal aku masih ingin berendam di sini sama kamu.” Ujarnya menarik kedua kakiku agar melingkari pinggangnya.
Berendam gundul mu, Sam!
Sam memelukku yang sudah nyaris lemas di dadanya dan membawaku keluar dari kolam. Bergerak cepat menuju tempat tidur.
Aku terbaring di atas ranjang dan merasakan kelopak mawar di punggungku. Sam merangkak di atas ku.
“Tunggu.” Aku menahan dadanya. “Nanti ranjangnya basah.”
Sam tersenyum, meraih tanganku yang berada di dadanya dan mengecupinya. “Kamu yang lebih basah.” Ujarnya tersenyum menggoda.
Aku berpaling dan merasakan sekujur tubuhku terasa panas dan juga memerah. Sam terkekeh serak, meraih daguku agar menatapnya.
“Aku pikir kita sudah melewati tahap malu-malu seperti ini, Adelia.” Sam mengecup bibirku.
“First time for me.”
Sam mengecup bibirku sekali lagi. “Me too.” Ujarnya sambil membelai dadaku dengan gerakan sensual.
“Tapi kayaknya kamu udah expert.” Aku terpejam dan mengerang.
“Hm.” Sam menciumi leherku. Tertawa serak. “Pria punya banyak cara untuk belajar.” Ujarnya menggigit daun telingaku dengan giginya.
Mendengar ucapannya mengingatkanku pada apa yang membuat Destian terlihat tegang di pesta tadi.
“Di pesta tadi, Destian di suruh nonton apa di hapenya Raffael?” aku menarik nafas dalam-dalam saat lidah Sam menggoda puncak payudaraa ku. “Hm.” Aku meremas seprei sutra di bawahku dengan kedua tangan. “Aku penasaran.” Ujarku serak.
Sam berdecak sambil menghisap puncak payudaraa ku yang sudah menegang. “Video sex.” Ujarnya datar setelah melepas puncak dadaku dari mulutnya.
“Video sex?” mataku terbuka dan menatapnya. “Jadi tadi Destian di paksa menonton blue film? Raffael punya video seperti itu?”
“Hm.” Sam bergumam, memainkan puncak payudaraa ku yang satu lagi. “Semua pria pernah punya video seperti itu, Del.” Ujarnya terdengar gemas.
“Tapi kamu nggak punya, di hape kamu nggak ada.”
Sam menggigit puncak dadaku gemas hingga aku mengerang antara sakit dan nikmat. Dia menatapku lalu tersenyum geli. “Baiklah, aku kasih satu rahasia. Untuk menonton video seperti itu nggak perlu harus di simpan di dalam hape.” Sam menunduk kembali bermain dengan dadaku. “Raffael punya akun drive yang bisa di akses oleh kami semua.”
Ah, aku paham. Tidak perlu menyimpan video seperti itu di dalam ponsel karena mereka punya akses ke drive Raffael yang bisa mereka tonton kapanpun mereka mau. Pintar sekali pria di keluarga ini. Mungkin itulah sebabnya mereka lebih memilih Dare dalam permainan, karena rahasia yang mereka miliki adalah rahasia bersama. Jadi mereka juga kompak untuk menutupinya bersama.
“Jangan bilang siapa-siapa.” Sam kembali mengecup ceruk leherku.
Aku tersenyum dan memeluknya sambil terkikik geli. Tak pernah membayangkan orang-orang seperti Sam yang tampak berwibawa atau Mas Tristan yang terlihat alim bahkan Aroon yang terlihat konyol, ternyata menyimpan keliaran yang mereka tutupi rapat-rapat.
Aku terkesiap saat merasakan lidah Sam membelaiku di bawah sana. Aku menatap ke bawah dan berusaha merapatkan paha tapi kedua tangan Sam menahannya.
“Sam, apa yang kamu lakukan?” aku mengerang saat lidah panasnya membelai lebih kuat.
“Bisa buang pikiran yang lain dulu? Fokus pada kita?” tanyanya sambil mengecup bibirku.
__ADS_1
“Ya.” Bisikku menerima ciumannya dan mengalungkan kedua tanganku di lehernya.
Aku mengerang saat ciumannya semakin dalam, giginya menggigit bibir bawahku dengan lembut hingga aku membuka bibirku untuknya. Lidahnya menyusup masuk, bibirnya menggoda. Salah satu tangannya membelai sisi tubuhku dengan gerakan abstrak yang membawa sensasi panas pada tubuhku.
Sam melepas bibirku karena aku nyaris kehabisan nafas, bibirnya menjelajahi dagu, turun menyusuri leher. Satu tangannya menopang tubuh dan tangan yang lainnya mulai bergerak ke perutku, membelai lembut dan perlahan turun, menyentuh titik dimana mampu membuatku mengerang lebih kencang.
Aku mendongak sedangkan Sam kini membuat tanda di leherku, menghisap lalu menjilat. Nafasku sudah terasa berat dan terputus-putus saat salah satu jarinya menyusup masuk. Aku mengeram, memeluk lehernya lebih erat dan menggigit lehernya untuk menutupi teriakan ku.
Tapi ternyata hal itu malah membuat Sam tersentak, punggungnya melengkung seolah ia baru saja tersengat aliran listrik. Aku pikir telah melakukan kesalahan dan hendak menjauhkan bibirku dari lehernya. Tapi Sam menggeram. “Jangan jauhkan bibir kamu.” Geramnya dengan nafas tertahan.
Mendadak aku mengerti. Ternyata Natalie salah. Dulu Natalie pernah berbisik padaku, katanya amarah Sam akan langsung mereda ketika seseorang mengusap lembut bahunya. Mau semarah apapun Sam, jika orang itu mengusap bahunya dan meminta maaf, maka emosinya akan langsung mereda.
Ternyata kelemahan Sam bukan terletak pada bahunya, tapi pada lehernya.
Aku menjilat lehernya dan dia mengerang tertahan, tubuhnya kaku dan ototnya mengejang. Sam mengangkat wajahnya dengan nafas terengah dan matanya berkabut gairah.
“Aku ...” dia menarik nafas yang terasa semakin berat. Tanganku terus membelai titik bawah telinganya hingga mata Sam terpejam. Dia menangkap tanganku dan mengecupnya. “Aku mungkin tidak akan bisa bersikap lembut kalau kamu ...” dia mengerang lagi saat tanganku membelai lehernya dengan sentuhan sensual. “Del ...” bisiknya lemah.
Aku tersenyum. Meraih lehernya mendekat dan mengecupnya di sana. “Aku pikir tahap malu-malu itu sudah berakhir.” Bisikku menggoda dengan menjilat lehernya.
Sam mendesah tertahan, mencengkeram tanganku yang mulai bergerak turun membelai perutnya. “Jangan.” Bisiknya mengatupkan rahang erat.
“Kenapa?” aku berbicara di lehernya, menjilatnya lagi. Sam nyaris mengerang kencang ketika menangkap tanganku yang sudah nyaris menyentuh pusat dirinya.
“Aku sudah berjanji akan pelan-pelan ...”
“Aku tidak mau pelan-pelan.” Bisikku menyela dan menyentuh dirinya yang sudah berkedut di bawah sana.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa seliar ini.” Bisiknya dengan mata terpejam, membiarkan tanganku menggenggam.
Aku tersenyum, memangnya hanya pria saja yang mempunyai rahasia, perempuan juga punya. Aku punya rahasia dengan novel-novel erotis yang pernah ku baca. Aku dan Sam sudah sama-sama dewasa dan memahami hal ini. Aku mendorong dadanya hingga Sam telentang dan aku berada di atasnya. Aku pernah punya beberapa fantasi liar ketika membaca novel dewasa. Di tambah dari mendengar cerita-cerita ranjang dari Mbak Sari. Benar-benar racun!
Tidak ada salahnya kan mempraktikkan bersama Sam. Toh kami sudah sah.
“Dari mana kamu belajar?” Sam mendongak saat aku menciumi lehernya.
“Novel dewasa.” Bisik ku tersenyum dengan satu tanganku menggenggam di bawah sana. Bergerak, membelai dari pangkal hingga ke ujung. Turun naik seiring dengan nafas Sam yang terputus-putus. Wajah Sam sudah memerah dan dia mulai berkeringat.
“Kemana perginya Adelia yang malu-malu dan polos?” Bisik nya memejamkan mata sambil tersenyum.
Sam mengumpat saat aku menjilat nya. Aku tidak pernah mendengarnya mengumpat tapi kali ini, dia nyaris meneriakkan umpatan tersebut. Aku tersenyum, tidak hanya mengecup tapi juga menjilat nya dan memainkannya dengan lidahku, ketika tangan Sam mengumpulkan rambutku menjadi satu dalam genggaman tangannya.
Tiba-tiba Sam mencengkeram dan menahan rambutku.
“Stop!” teriaknya sedikit tertahan. Aku masih terus menggodanya. “Stop, Del!” dia bangkit dan meraih tubuhku agar aku telentang dan dia kembali berada di atas ku. Nafasnya terputus-putus dan wajahnya sangat merah. “Siaal! Aku pikir bisa bertahan lebih lama.” Lalu tanpa aba-aba dia mulai menyusup masuk ke dalam ku.
“Aah!” aku kehilangan suara saat merasakan Sam mulai menghujam.
Sam menggeram dam mendesak dirinya. Sedangkan aku mulai meringis ketika sakit itu perlahan datang. Aku meremas dan mencakar bahu Sam, sedangkan dia mencengkeram sprei dengan kuat.
“Siaal!” dia mengumpat sekali lagi dan mendorong lebih kuat.
Aku merintih merasa kesakitan.
“Aku minta maaf untuk ini.” Ujarnya terengah. Meraup bibirku dan menciumnya keras bersamaan dengan dia yang menghujam dalam satu gerakan cepat hingga aku berteriak di bibirnya.
Sam berhasil masuk dan terdiam kaku.
Dia tidak memberiku kesempatan untuk menarik nafas ketika dia menarik diri lalu menenggelamkan dirinya dalam satu gerakan yang cepat.
“Sakit!” aku memukul punggungnya dengan kepalan tangan.
“Aku minta maaf.” Ujarnya tapi kembali bergerak menarik diri lalu kembali menghujam lebih dalam.
“Sam!” aku memeluk lehernya kuat.
“Aku sudah berusaha ...” ujarnya terlihat berusaha keras menahan diri. “Tapi ini benar-benar ...” dia tidak melanjutkan kalimatnya dan kembali bergerak. “Aku minta maaf.” Bisik nya seiring dengan gerakannya yang semakin cepat.
Rasanya tidak nyaman, asing dan sakit. Tapi aku tak bisa menghentikan Sam yang mulai bergerak liar. Refleks pertamaku adalah mendorongnya menjauh agar rasa tidak nyaman dan sakit ini mereda. Tapi Sam memelukku kian erat dan terus mengucap kata maaf dalam setiap hujaman nya yang semakin cepat.
“Aku minta maaf.” Ujarnya benar-benar kehilangan kendali.
Aku hanya memejamkan mata, membiarkan cairan bening menetes dari ujung mataku. Aku mencoba mengatur nafas dan berusaha membuat diriku sendiri nyaman dengan Sam yang memasuki ku. Meski rasa sakitnya sudah berkurang tapi rasa asing itu masih terasa.
Sam mengusap sisa cairan bening pada mataku, kemudian meraup bibirku membelai lidahku dengan lidahnya. Tangannya membelai puncak dadaku.
__ADS_1
“Maaf sayang.” Bisik nya memuja tubuhku dengan caranya sendiri.
Tapi seiring dengan Sam yang makin hilang kendali, aku mulai merasakan gairah yang tadi sempat di padamkan oleh rasa sakit itu bangkit lagi. Aku memeluk lehernya ketika Sam melepaskan bibirku untuk menarik nafas. Aku mengecup bibirnya dan Sam mengerang.
“Aku ...”
“Jangan meminta maaf lagi!” aku menggeram di lehernya, menikmati hujaman nya yang mulai terasa nikmat. “Lebih kuat.” Bisik ku dan Sam tersenyum, menghujam dengan lebih cepat.
Aku dan dia bergerak liar untuk mendaki puncak kenikmatan itu bersama-sama. Mataku terpejam, nafasku memburu dan perlahan sensasi memabukkan itu mulai menyerang ku dalam pusara gairah yang tak tertahankan. Puncak kenikmatan itu kian mendekat dan aku membiarkan Sam bergerak seliar yang dia inginkan karena aku menikmati setiap pergerakannya.
Dalam satu tarikan nafas tubuhku mengejang, ujung kakiku menekuk dan sekujur tubuhku bergetar menikmati pelepasan yang datang. Sam menghujam lebih cepat, lebih kuat, mengerang lalu meneriakkan namaku dalam satu hujaman dalam. Lalu tubuhnya bergetar di dalam tubuhku.
Kami terengah-engah saling berebut oksigen. Jantungku berdetak keras. Tapi terlepas dari itu semua, ini pengalaman yang menakjubkan.
Sam menempelkan keningnya di keningku. Dia menyatukan selama mungkin, setelah nafasnya mulai tenang, Sam mengecup keningku yang di penuhi oleh keringat.
“Terima kasih.” Bisik nya mengecupi kelopak mataku yang masih terpejam. Lalu memberikan kecupan lembut di bibirku sebelum dia menarik dirinya dan membawaku ke dalam pelukannya.
Aku dan Sam tidak langsung tertidur. Kami mulai asyik bercerita, tertawa dan memainkan game di ponselnya bersama sampai lupa waktu yang terus berjalan. Hingga perlahan-lahan tangannya mulai meraba-raba pahaku, naik ke atas lalu turun lagi. Begitu terus hingga aku mulai menggelinjang geli. Sam mulai menenggelamkan wajahnya ke leherku.
“Ngapain kamu?” sentakku.
“Godain istriku.” Jawabnya polos sambil terus meraba pahaku. Hingga aku merasa sebal sendiri.
“Sam!” aku berteriak kesal.
“Kenapa?” dia terkekeh geli.
“Tangan kamu!”
Sam hanya mengangkat bahu. “Dia baru ketemu tempat yang pas dan hangat.” Ujarnya menggigit leherku.
Aku hanya bisa memejamkan mata, ketika dia terus menggodaku di bawah sana. Sam tahu kalau aku sudah terbakar gairah. Aku menggigit bibir bawahku menunggu pelepasan itu datang. Tepat ketika aku mulai menikmatinya, Sam menarik tangannya dan memeluk bantal.
“Aku mau tidur.”
Aku berteriak frustrasi, memukulnya dengan bantal dan di balas tawa olehnya.
Aku tersenyum dan menarik lehernya. Lalu dengan cepat aku mengecup dan menjilat nya secara perlahan dengan ujung lidahku. Tak butuh waktu lama bagi Sam kehilangan kendali. Seolah ada tombol on di lehernya dan membuatnya lupa diri. Rasakan pembalasanku.
See, dia begitu menyebalkan bukan.
Tunggu dulu menyebalkan bagaimana?
Mau semenyebalkan bagaimanapun aku sudah tidak peduli lagi.
Karena mulai malam ini, pikiranku selalu di penuhi oleh wajahnya.
Duniaku selalu di penuhi oleh senyumannya yang sekali senyum langsung bisa melelehkan gunung es di kutub utara. Lebay memang, tapi itulah yang aku rasakan.
Aku seperti melihat dunia dari sisi lain.
Hatiku sekarang di penuhi dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
Karena aku milik Sam.
Dan Sam adalah milikku.
Di mataku dunia sekarang benar-benar indah.
Dunia milik kami berdua.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1