My Boss Samuel

My Boss Samuel
33. Makan Bersama


__ADS_3

Halloow balik lagih!!


Aku udah semangat nih..


makasih atas doa dan dukungannya..


love you all


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya.!


Kalo suka di share juga boleh..


Happy reading !!


##


Pak Sam memanggilku ke ruangannya guna menyelesaikan laporan yang akan di gunakan untuk acara Event bulan depan. Akhirnya segala ***** bengek laporan itu selesai juga, yang artinya kita bisa kembali kerja normal kembali.


Aku mengetuk pintu ruangan Pak Sam kemudian masuk lalu menutupnya kembali. Saat aku membalikkan badan, ku lihat Pak Sam tengah sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Pantas saja tadi aku ketuk pintunya nggak ada jawaban, saking sibuknya mungkin.


Tapi, sejujurnya aku tak berfokus pada hal tersebut. Melainkan aku terfokus oleh pesona Pak Sam saat ini. Aku tertegun menatap sosoknya yang terlihat serius dengan sebuah pena dan beberapa kertas di tangannya. Duh, kenapa Pak Sam kalo sedang diam begitu tambah memikat sekali sih? Bahkan aku sampai kehilangan kata-kataku, yang harusnya aku segera memberikan laporan ku tetapi aku malah berdiri sembari memandang Bos yang tengah duduk di hadapanku.


Lagi-lagi Pak Sam berhasil membuat ritme jantungku berdetak tak karuan. Dan aku yakin Pak Sam belum menyadari kehadiranku karena aku yang memang belum membuka suaraku kembali. Hingga akhirnya Pak Sam menghentikan aktivitasnya kemudian menatap ke arahku.


“Loh... Del, kapan masuknya kok saya nggak tau?” tanya Pak Sam.


Aku hanya meringis. Lalu berjalan mendekat ke arah mejanya. Padahal dalam hatiku aku berharap Pak Sam jangan sadar dulu dengan kehadiranku. Tapi ya sudahlah...


“Ini Pak laporan terakhirnya, jadi sekarang sudah clear kan?” Ujarku sembari menaruh berkas ke atas meja.


Pak Sam menopang dagunya sembari menatapku. “Sebenarnya sudah tapi mungkin saya masih butuh bantuan kamu.”


“Buat apa lagi, Pak? Itu sudah semuanya lho... nanti kalo di revisi terus malah tambah salah.” Sahut ku cepat.


“Bukan yang ini, tetapi laporan kamu yang saya beri sebelum tugas ini.”


Aku membulatkan bibirku penuh, kemudian meringis ke arah Pak Sam. “Kirain ini, tenang aja Pak laporan yang itu sudah sebentar lagi beres kok.”


“Hari ini.”


“Hah?” Ucapku kaget. Maksudnya Pak Bos itu bertanya, memastikan atau apa sih? Tolong Pak kasih saya intonasi yang jelas.


“Selesai hari ini, kan.” Ulang Pak Sam.


“Duh, ya belum bisa dong, Pak. Besok deh, hari ini belum bisa.” Kataku berusaha menawar.


Sebenarnya hanya kurang sedikit lagi. Tapi aku nggak mau jujur dengan Pak Sam. Bisa gagal total rencana yang sudah ku buat sejak tadi.

__ADS_1


“Saya mau hari ini selesai. Saya mau buat rekap data laporan itu hari ini.” Ujar Pak Sam.


“Pak ...”


“Saya bersedia menunggu sampai kamu selesaikan laporannya hari ini.” Sela Pak Sam.


Gagal total!!


Padahal sejak tadi aku sudah berencana bisa pulang awal terus mampir nongkrong dulu sama anak-anak. Untung saja aku belum sempat menyampaikan rencana ku ke yang lainnya. Coba kalo sudah pasti aku bakalan di cap pembohong.


Aku hanya mendengus sembari melirik Pak Sam dengan kesal. Setelah itu aku berniat ingin segera keluar ruangannya. Tetapi lagi-lagi Pak Sam seolah menahan ku, mungkin dia belum puas membuatku kesal makannya mau di puas-puasin dulu.


“Del...”


“Apa lagi, Pak?” tanyaku sedikit sengak.


Pak Sam menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya dengan mata terpejam. Maunya apa sih manusia ini? Bikin gemes aja deh...


“Kenapa ya Rizal sama Sari kemarin bisa gosipin saya tunangan?” Tanya Pak Sam sembari membuka matanya.


Aku sedikit menelan ludahku setelah mendengar pertanyaannya. “Ya mana saya tau. Bapak tanya sama mereka dong jangan sama saya.”


“Saya kira kamu tau. Lagian kan kamu juga sering gosip sama mereka.”


“Ya, tapi kalo soal kemarin saya nggak ikutan loh, Pak.” Ucapku berusaha membela diri.


Uhuk...!! Sialan kenapa tanya begitu sih keselek kan aku.


“Kenapa, Del?” pakai tanya lagi.


“Nggak pa-pa kayak ada yang nyangkut di leher saya.” Jawabku dengan mengelus-elus leherku. Aku mohon Pak jangan terusin pertanyaannya lagi. Jangan buat aku bingung.


“Hm ... jadi gimana menurut kamu?” Seakan tak menyerah Pak Sam masih kembali bertanya lagi.


Aku kembali terbatuk-batuk lagi. Dan ku lihat Pak Sam mulai khawatir ia segera bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekatiku. Ya ampun kalo begini caranya yang ada nggak bakalan berhenti ini batuk.


“Kamu sakit?” Tanya Pak Sam dengan nada khawatir.


“Nggak kok, Pak.” Selaku cepat sembari mengibaskan tanganku di depan Pak Sam. “Rasanya hanya ada yang mengganjal saja. Nanti kalo minum juga hilang kok... uhuk...”


“Mau saya pesankan minum?”


“Jangan, Pak, saya bisa sendiri.” Aku tersenyum ke arah Pak Sam. “Kalo begitu saya permisi dulu ya, Pak.” Tanpa menunggu jawaban dari Pak Sam aku segera keluar dari ruangannya dan berlari menuju pantry.


Pak Sam benar-benar kampret! Kenapa harus bertanya begitu sih? Dan untungnya saja dia tidak peka dengan reaksiku. Nggak tau apa aku batuk karena kaget dengan pertanyaannya. Setidaknya aku bisa menghindar dari pertanyaan aneh darinya.


Dan gara-gara mandat Pak Bos tadi siang hari ini aku lembur seorang diri. Padahal Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi pulang jam 6. Andai saja Bos kampret itu bisa sedikit memahami isi hatiku.

__ADS_1


“Wah... Del, kayaknya bonus lo bakalan yang paling besar nih bulan depan.” Ucap Mbak Sari


“Ya jelas lah. Jangan iri ya.” Sahut ku sombong.


“Sorry, Del, gue nggak iri. Gue mah udah syukur banget bisa pulang jam enam dengan gaji yang cukup.” Tutur Mas Angga yang seketika membuatku kalah telak.


“Setuju!” jawab Mbak Sari, Rizal dan Tiwi kompak sembari mengacungkan jempol ke Mas Angga.


Sialaaann!!


“Tapi tenang aja, Del. Menurut gue lo istri idaman banget lho ya nggak?” ucap Rizal sembari menatap ke yang lainnya. “Rajin bekerja, rajin lembur, taat sama Bos. Duh, pengen gue bungkus rasanya terus gue simpan di kamar.”


“Lo kira gue menyan.” Sahutku


Kami semua tertawa sebelum akhirnya berhenti karena Pak Sam terlihat keluar dari ruangannya.


“Um ... ya udah kita pamit ya, Del. Kita pulang dulu. Da-dah” ucap Mbak Sari lalu mereka semua pergi begitu saja.


Pak Sam yang masih berdiri di depan pintunya kemudian berjalan mendekat ke arah mejaku setelah yang lainya sudah pada pulang.


“Kamu mau makan dulu apa enggak, Del?” tanyanya.


“Em, gimana ya, Pak. Malas banget nggak ada temannya.” Ujarku sambil menggaruk leher.


Pak Sam menatapku. “Terus kamu anggap saya apa?”


Duh kok malah tanya sih. Jelas-jelas Bos ku, memangnya mau apa ku anggap suamiku. Aku tertawa dalam hati membayangkan ucapan ku.


“Kok diam?” Imbuh Pak Sam.


“Ya?” aku mengerjap lalu menatap Pak Sam.


“Mau makan sama saya?”


Aku sedikit menelan ludahku untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja terasa mengering. Dan entah dorongan dari mana tiba-tiba kepalaku mengangguk pelan pertanda menyetujui tawaran dari Pak Sam.


Pak Sam tersenyum ke arahku lalu mengisyaratkan agar aku mengikutinya saat ini juga. Dan saat itu juga perasaanku mulai berdebar tak karuan.



##


Duh nggak tau deh.. aku jatuh cinta banget sama karakter cowok ituuh.. gambar bisa setampan itu ya wkwkwkwk


Kira-kira bakalan ada drama apa ya antara Pak Sam dan Adelia??


Salam dari penulis amatir.❤️

__ADS_1


__ADS_2