My Boss Samuel

My Boss Samuel
93. Gara-gara Resign


__ADS_3

Hallo semua...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya!!


Share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Mbak Sari, Mas Angga, Rizal, Tiwi dan Rio kompak mengepung mejaku. Seolah aku adalah pencuri yang sedang di sidang di sebuah ruangan khusus, sedangkan mereka bersiap untuk menghakimiku.


Tatapan mereka terlihat sama, tatapan bingung, marah, heran dan tidak percaya.


“Gila lo, Del! Gue nggak nyangka lo resign beneran.” Ucap Mbak Sari yang langsung mendapat anggukan dari yang lainnya.


“Ternyata lo diem-diem mau bikin kita syok ya, Del. Lo ada masalah apa sih? Kan gue udah bilang kalo ada masalah curhat aja kita hadapi bersama.” Imbuh Mas Angga.


Aku masih diam menatap mereka satu persatu.


“Parah lo, Mbak. Gue belum ada sebulan lho di sini, lo udah mau keluar gitu aja, jahat banget sih. Padahal siapa tahu lo ada minat gitu ngelirik berondong kayak gue.” Ujar Rio yang langsung mendapat jitakan dari Rizal.


“Ah elaaah, ciripa! Gue aja yang bertahun-tahun nggak membuahkan hasil kok. Gue kepret lo!” Rizal melingkarkan lengannya ke leher Rio hingga membuat Rio mengaduh.


Hm, ternyata laki-laki yang bisa mengalahkan Rizal adalah Rio. Mereka berdua berhasil membuatku tertawa.


“Jangan resign lah, Mbak. Lo bakal kangen lo sama kita nanti.” Kata Tiwi yang langsung mencuri perhatianku.


Aku tersenyum singkat. “Iya, gue pasti bakal kangen banget sama kalian. Lagian di mana lagi sih gue bisa nemuin teman gila kayak kalian. Gue pasti kangen banget sama kalian.”


“Ya elah, Del. Ada nggak sih yang lebih bagusan dikit yang bisa lo ingat dari kita. Masak Cuma gilanya kita aja yang lo ingat, lo itu juga gila kalo lupa!” Mas Angga berhasil membuatku semakin tertawa.


Memangnya apa lagi sih yang bisa aku ingat? Hal yang paling berkesan di sini hanyalah karena aku memiliki teman yang super duper gila, lebay dan heboh yang selalu berhasil membuatku betah dan bertahan di perusahaan ini selama bertahun-tahun.


“Memangnya alasan lo keluar apa, Mbak?” tanya Tiwi.


“Loh, kan gue udah bilang.” Ujarku dengan raut serius tetapi malah membuat Tiwi bingung.


Rizal berdecak. “Adelia mau nikah!”


“Nikah?” sahut Tiwi dan Rio bersamaan. Aku lupa kalau mereka berdua kemarin tidak ada saat aku membahas soal resign ku.


Mbak Sari mencibir. “Halaah, nggak usah di percaya ini Cuma akal-akalan Adelia aja biar bisa keluar. Harusnya kita bilang aja ke Sam kalo alesan Adelia itu Cuma kehaluan semata.”


“What?!” aku menatap sebal ke arah Mbak Sari. Siapa bilang halu, astagfirullah, sabar dulu aja deh.


“Gue setuju gue yang bakal bilang.” Ujar Rizal semangat.


Aku yang mendengarnya pun hanya bisa tertawa.


“Sam!” aku langsung melotot ketika Mas Angga tiba-tiba memanggil Sam yang baru saja keluar dari ruangannya.


Sam mendekat dan otomatis mereka semua sedikit bergerak mundur dari mejaku.


“Rizal mau ngomong.” Mas Angga langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan tawa karena secara mendadak mengoper perkataan ke Rizal.


“Bangkee lo, Mas!” Rizal langsung mengepalkan tangan dan melotot ke arah Mas Angga. “Makan teman banget sih lo.”


“Loh katanya tadi lo mau ngomong sama Sam.” Ucap Mas Angga membela diri.


Aku, Mbak Sari, Tiwi dan Rio sudah berhasil melepaskan tawa kami. Sam memasang wajah tanpa ekspresi menatap Rizal dan Mas Angga secara bergantian.


“Jangan buang waktu saya.” Tegas Sam.


Rizal langsung meringis. “Gini, Pak ... Adel kan mau resign.” Rizal tampak menahan kesal karena semua mata kini menatap ke arahnya. “Nah, soal alasannya yang mau nikah itu jangan di percaya, Pak. Adel Cuma bohong tuh!”

__ADS_1


“Iya, Sam, klise banget tuh alesan Adelia. Persulit pengunduran diri Adel lah, Sam.” Imbuh Mbak Sari.


Sam melirikku sekilas. “Loh, siapa tahu Adelia benar-benar mau menikah?”


“Ck, nggak mungkin, Pak. Dia itu jomblo akut.” Tuduh Rizal.


Buset itu mulut minta di sumpel laporan kali ya, frontal sekali. Siapa bilang aku jomblo akut, sialaan si Rizal kampret.


“Gue juga belum pernah tuh, dengar kabar Adel punya pacar.” Cibir Mbak Sari.


“Kalian jahat banget sih sama gue. Padahal niat gue ini udah baik lho pengen nikah.” Aku berkata sambil setengah tertawa, rasanya tidak tahan juga kalau hanya mendengar mereka berdebat tanpa membalas ucapan mereka.


“Halah preeet!” tukas Mbak Sari.


“Wah, kalo beneran nikah mampuus si Rizal nih.” Celetuk Mas Angga.


“Memangnya kenapa?” Sam penasaran.


“Dia bilang mau kasih amplop Adelia yang isinya full gaji dia.” Mas Angga tertawa di akhir kalimatnya.


“Yakin lo, Mas!” seru Tiwi.


“Enggak nyangka gue, ternyata brother gue seroyal ini.” Rio menepuk bahu Rizal.


Rizal hanya mendengus dengan tatapan kesal karena lagi-lagi dia yang kena umpan. “Kan gue bilangnya kalo nikahnya beneran, tapi gue yakin Adel Cuma ngibul.”


“Halaah, kalo gue ngibul berarti lo berani tambahin dong isi amplopnya.” Tantangku sekalian. Biarin aja aku sangat-sangat menikmati pembicaraan ini. Sedangkan Sam pun terlihat sama.


“Ok, fine! Gue kasih sepuluh juta.” Ujar Rizal bangga.


“Anjiir!!” pekik yang lainnya.


Aku sudah tidak tahan, rasanya aku ingin tertawa kencang sekali. Duh, si kampret itu kok bisa segampang itu sih bicara sembarangan. ***** kok di pelihara.


Sam ikut tersenyum lalu menggeleng. Dia segera memberi isyarat agar kami semua kembali diam.


“Kalo memang Rizal ada niat seperti itu ya nggak apa-apa.” Sam menepuk bahu Rizal sambil tersenyum. “Saran saya, kamu harus mulai menabung dari sekarang.” Ujar Sam yang langsung pergi meninggalkan kami.


Rizal hanya mencibir dan hal tersebut membuat aku dan yang lainnya kembali tertawa.


Setelah surat resign itu di tanda tangani oleh Sam, sekarang tugasku tinggal menunggu satu bulan lagi sebelum aku benar-benar di nyatakan keluar dari perusahaan ini. Dan itu memang peraturan perusahaan.


Sekarang tugasku hanya menunggu dan menikmati waktu yang tersisa selama satu bulan di Perusahaan ini. Semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan yang aku harapkan.


••


Hari ini aku pulang paling akhir karena mendadak Sam memberiku tugas tambahan dan dia hanya percaya tugas itu bisa selesaikan olehku. Tentu saja, teman-teman lucknut ku bersorak dan mengiyakan ucapan Sam setelah itu meninggalkan aku lembur seorang diri dengan wajah bahagia.


“Itung-itung ini siksaan buat lo, Del. Sebelum lo bener-bener resign.” Begitulah kata Mbak Sari.


Aku melirik sudah hampir pukul delapan dan pekerjaanku sudah selesai. Tak perlu menunggu jam hingga tepat di angka delapan, aku memutuskan untuk masuk ke ruangan Sam untuk menyerahkan laporanku.


“Sudah selesai?” dia menaikkan satu alisnya.


“Sudahlah.” Ujar ku setengah bangga. Ya setengah saja kalau kebanyakan nanti di sangka geer lagi.


Sam meneliti sesaat laporanku lalu menaruhnya ke atas meja. Dia segera berdiri mengambil jas dan tas nya lalu menggandengku keluar ruangannya.


“Kita pulang sekarang.”


“Tunggu!” aku melepas cekalan tangannya. “Aku ambil tasku dulu.”


Sam menungguku mengambil tas setelah itu ia kembali menggandeng tanganku menuju lift.


Aku dan Sam sampai di parkiran khusus di mana Sam memarkirkan mobilnya. Tetapi tiba-tiba langkahku terhenti karena aku merasakan sesuatu menggigit kakiku. Ya ... Semut sialan.

__ADS_1


Aku mengangkat kakiku untuk mengambil semutnya tetapi malah semutnya sudah berjalan sampai ke pahaku. Aku segera membuang semutnya ke tanah.


“Kamu sengaja mau menggodaku?”


Tentu saja aku langsung melotot ke sumber suara, di mana Sam berdiri dan menatap lekat ke arah kakiku yang terangkat. Otomatis kelakuanku saat ini membuat pahaku semakin terekspose di depan Sam. Bukannya segera membenarkan posisi berdiriku tetapi aku malah diam terpaku sambil menatap Sam.


Sam segera mendekatiku lalu meraih pinggangku dan menekan tengkukku. Ketika bibirnya hendak mencapai bibirku, aku langsung menahan wajahnya.


“Sam kamu ngapain sih? Ini masih di area parkir kantor, Sam.”


Tanpa menghiraukan suaraku, Sam segera mempertemukan bibirnya dengan bibirku dalam satu irama yang meledak hebat. Tangannya mendekapku erat dan bibirnya meluumat bibirku seolah di sini hanya ada kami berdua.


Sam melepaskan bibirnya dengan nafas terengah. Dia tersenyum miring dan kembali meraup bibirku tanpa ampun.


“Aku mau kamu.” Bisiknya di bibirku. Lalu menarikku menuju mobilnya.


Heh?! Maksud dia apa? Ada yang bisa menjelaskan? Tolong!


Sam membuka pintu mobilnya untukku dan segera mendorongku masuk. Gila, rasanya seperti orang di culik ini mah.


“Sam maksud kamu ap ...”


“Diam saja.” Tukasnya cepat sambil menghidupkan mesin mobil.


Aku menggeleng panik. Aku tadi hanya ingin menghilangkan semut bukan untuk menggodanya. Tapi aku tidak menyangka kalau reaksi Sam akan seperti ini.


Astaga! Apa aku baru saja membangunkan macan tidur?


“Sam.” Panggilku.


“Apa?” Sam menoleh sambil tersenyum. “Mau menggoda lagi. Ternyata kamu cukup punya nyali ya, sayang.” Ledeknya di akhir kalimat.


Bibirnya menyeringai.


“K-kita mau kemana?” tanyaku gugup.


“Apartemen.” Jawabnya santai.


“M-mau apa?” aku segera menutup pahaku menggunakan tas. Tindakan refleks dari hasil kesimpulan yang kini terbentuk di dalam kepalaku.


Sam menatap tasku, lalu tersenyum miring. “Menurut kamu kita ngapain di sana?”


Aku menelan ludah dengan susah payah. “Makan?” ujarku penuh harap.


Sam mengangguk. “Kita memang butuh makan untuk mengisi tenaga.” Ujarnya lalu tersenyum seperti malaikat pencabut nyawa.


Cabut saja nyawaku sekarang!


Sekakmat! Tamat. Selesai. The end. Aku tidak bisa lagi membantah.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2