My Boss Samuel

My Boss Samuel
86. Tidak Mungkin Cemburu


__ADS_3

Aku kasih bonus deh buat permintaan maaf ku.


Semoga kalian semakin terhibur.


Dan jangan lupa supportnya !!


Happy reading !!


##


Aku duduk manis di sebelah Sam sambil memerhatikan jalanan. Malam ini Sam ingin mengajakku makan di sebuah restoran yang katanya sudah menjadi Restoran ter-favorite nya sejak dulu. Semenjak dia tinggal di Jakarta.


“Sam, kamu tau nggak. Anak-anak di kantor tadi pada heboh gara-gara lihat cincin kamu.” Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kejadian pagi tadi kepada Sam.


“Masa?” Sam menanggapinya dengan santai.


Aku memukul lengan Sam. “Ish! Serius, kayaknya mereka mulai curiga banget deh.”


Aku benar-benar tak mengerti dengan pola pikir Sam. Dia selalu bisa bersikap santai sekali kalau menghadapi masalah yang aku anggap serius. Tetapi giliran masalah yang aku anggap biasa dia malah serius. Aneh kan?


“Del ...” panggil Sam lembut dan aku langsung menoleh ke arahnya. “Kamu tahu kan pepatah, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai suatu saat pasti baunya akan tercium juga. Jadi ... Aku mohon kamu bersikap yang tenang saja.”


Aku menatap Sam tanpa ekspresi. Bagaimana aku bisa tenang kalau ini berhubungan dengan kehidupanku tapi benar juga apa yang di katakan Sam barusan. Aku memilih untuk tak menjawabnya dan kembali fokus menatap jalanan.


Mobil Sam berhenti di halaman parkir sebuah restoran pasta. Restoran ini terlihat tak begitu besar, bahkan letaknya juga bukan di pusat ibu kota. Tetapi kesan klasik modern bergaya Eropa ini membuat Restoran yang di beri nama La Pasta tersebut berhasil mencuri perhatian di banding jejeran Restoran di jalan ini.


“Ini Restoran favorit kamu?” tanyaku begitu aku dan Sam keluar dari mobil.


“Iya, pasta di sini benar-benar enak. Kamu masih ingat kan rasa pasta buatanku? Dari sini lah aku belajar resepnya.” Tutur Sam menjelaskan.


“Oh, ternyata. Baru tahu aku.” Ujarku sambil melangkah.


Sam tersenyum tipis. “Makanya aku ajak kamu ke sini, supaya kamu bisa merasakan enaknya pasta dari restoran ini. Dan kebetulan aku juga cukup akrab dengan pemiliknya karena sering datang ke sini.”


“Jangan-jangan kamu sengaja akrab sama pemiliknya, biar dapat gratisan.” Celetukku asal.


Sam hanya terkekeh. “Bisa jadi.” Aku langsung melotot padanya. Seorang Sam mempunyai jiwa gratisan? Oh, ini pasti bercanda. “Tapi aku salut dengannya, dia sebenarnya anak dari seorang pemilik bisnis properti terbesar di kota ini. Tapi dia memutuskan untuk merintis usahanya sendiri, di banding meneruskan usaha orang tuanya.”


Wah, teman Sam ternyata seorang yang hebat juga ya. Tapi memang seperti itulah hidup ... Manusia pasti akan di hadapkan dengan sebuah pilihan untuk mencapai kesuksesannya sendiri. Semua tergantung masing-masing pilihan kita antara menjadi Pewaris atau Perintis.


Begitu aku dan Sam masuk ke dalam Restoran kedatangan kami langsung di sambut oleh seorang perempuan bertubuh ramping dengan potongan rambut sebahu. Dan yang membuatku sangat terkejut adalah dia langsung memeluk Sam begitu saja ketika menyadari kedatangannya.


“Wah, Sam sudah lama kita nggak ketemu ya.” Kata perempuan tersebut.


Siapa perempuan ini? Apa jangan-jangan dia pemilik Restoran ini? Yang tadi di ceritakan oleh Sam.


Duh, aku harus bersikap seperti apa nih kok kesal bercampur canggung begini ya. Kenapa juga Sam tidak mengatakan kalau pemiliknya itu perempuan? Dan itu berarti yang di maksud cukup akrab tadi, dia akrab dengan perempuan ini?


“Iya, sekarang aku jauh lebih sibuk dengan pekerjaan. Oh iya, kenalkan dia Adelia.” Sam akhirnya mengenalkanku kepada perempuan ini. “Dia tunanganku.”


Ternyata benar perempuan yang ada di depan kami ini adalah pemilik Restoran. Hah, kenapa hari ini berjalan aneh sekali sih? Tidak ada yang berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. Hiks!


“Oh My God!” pekik perempuan tersebut, dia langsung menjabat tanganku sambil tersenyum lebar. “Aku Clara ... kamu cantik sekali. Enggak nyangka lho ternyata Sam sudah bertunangan. Dia kan selalu bersikap dingin dengan wanita.”


“Terima kasih.” Ucapku canggung.


Aku mencoba tersenyum mendengar cerita Clara. Kok sepertinya dia tahu sekali ya tentang Sam, memangnya seperti apa sih keakraban mereka? Kok jadi sebal begini ya. Clara langsung membawaku dan Sam ke meja VIP dan memesankan menu spesial di restorannya.


“Silahkan di coba.” Aku membalas ucapan Clara dengan tersenyum. “Aku dan Sam sudah kenal sejak 2 tahun yang lalu kayaknya ya? Dan aku pikir dia tidak bisa dekat dengan wanita, karena dia dulu tidak pernah menceritakan tentang wanita padaku..” Clara tertawa sejenak. “Bahkan, aku sampai mengira kalau jangan-jangan Sam menyukaiku, gara-gara dia selalu datang sendirian kalau ke sini.” Clara tertawa lagi kali ini sambil menatap Sam.

__ADS_1


Apa katanya? Aku reflek menatap Sam yang justru terlihat biasa saja mendengar cerita Clara. Bukankah ini sangat menyebalkan.


“Apalagi, Sam dulu pernah menciumku.” Imbuhnya.


Kali ini bukan hanya menatap lagi, aku langsung melotot ke arah Sam dan sepertinya dia menyadari itu. “Ah, itu kan hanya sebagai bentuk hadiah ketika kamu ulang tahun waktu itu. Lagian kamu tidak bilang kalau ulang tahun jadi aku tidak bisa membawakan kado untukmu.” Ucapnya kemudian.


Kok makin kesal ya. Cuma hadiah ulang tahun kok harus di cium segala? Alasan klise sekali. Jangan bilang kalau Sam menciumnya di ... Ah, tidak-tidak. Ayolah, Del! Berpikir yang pisitif.


Seorang pegawai menghampiri meja kami lalu berbisik ke Clara, setelah itu dia pamit sebentar.


“Enak nggak pastanya?” tanya Sam.


Aku meliriknya dengan kesal setelah itu aku berusaha tersenyum. “Enak kok, apalagi yang buat wanita secantik Clara.”


Sam malah tertawa mendengar sindiranku. “Sebenarnya dia hanya memberi resep saja, dan untuk yang membuat tetap saja seorang chef.”


Apa? Bahkan Sam sampai mengetahui hal-hal seperti itu?


Aku yang mendengarnya pun langsung kesal. Apa Sam tidak peka, hah? Dengan santainya dia mengatakan hal tersebut. Aku langsung menekan sendokku ke piring dengan sedikit keras sehingga menimbulkan suara yang membuat Sam setengah kaget. Sadar mendapat tatapan bingung dari Sam aku pun langsung berpura-pura tersenyum sambil melahap pastaku kembali.


“Sam tolong bukain.” Ucap Clara yang tiba-tiba menyodorkan sebuah botol saus ke Sam.


Apa lagi ini? Kenapa wanita ini berani manja sekali dengan Sam. Arrggh!


Sam menatap Clara dengan satu alis terangkat. “Ra, aku ke sini dengan tunanganku untuk menikmati jamuan dari kamu. Lalu dengan seenaknya kamu menyuruhku membuka tutup saus ini. Ck, aku nggak akan mau kalau kamu suruh bayar.” Tetapi Sam tetap mengambil botol saus itu dan membukakannya.


Double Aarrghh !


Kenapa mereka menyebalkan sekali? Aku saja tidak pernah bermanja seperti itu ke Sam. Dan siaalnya, Clara malah berani melakukan hal tersebut. Aku kembali fokus dengan makananku, rasanya aku ingin mengunyah makanan ini sampai ke piring-piringnya.


Selesai makan Sam memutuskan untuk langsung pulang.


“Iya tenang saja. Asal jangan pernah menyuruhku untuk membukakan tutup saus lagi ya.” Ucap Sam dan Clara langsung tertawa sambil memukul lengannya.


Oh, astaga aku sudah tidak tahan lagi.


“Hati-hati ya! Bye, Adelia.” Ucap Clara sambil melambaikan tangan.


“Eh, iya makasih, bye.” Aku berusaha membalas dengan seramah mungkin.


Sam melajukan mobilnya ke arah rumahku karena hari juga sudah malam. Di sepanjang jalan entah kenapa rasanya aku masih kesal sekali, aku merasa tadi itu seperti nyamuk di pertemuan antara Sam dan Clara. Ck!


Aku mengambil sebuah botol minuman dingin yang aku bawa dari restoran tadi. Perasaan kesal ini berhasil membuat leherku benar-benar kering.


Tetapi ketika aku hampir membuka tutup botolnya, aku langsung teringat dengan kejadian di mana Clara tadi meminta tolong ke Sam untuk membuka tutup sausnya.


Kalau orang lain saja bisa manja ke Sam, kenapa aku tidak? Aku menatap Sam yang tengah fokus mengemudi lalu dengan ragu-ragu aku mulai berkata.


“Tolong bukain minumanku dong, sayang.”


Untung saja Sam menghentikan mobilnya tepat di lampu merah. Bahkan karena aksi rem mendadak ini berhasil membuatku dan dirinya sampai sedikit terhuyung ke depan.


“Apa? Apa kamu bilang.” Sam menatapku tak percaya.


Aku berdehem pelan, “tolong bukain minumanku, sayang.” Aku berusaha mengucapkan kalimat tersebut dengan lembut sekali.


Sam langsung tersenyum lebar ketika mendengar ucapanku baru saja. Ya, aku tahu ini adalah pertama kalinya aku memanggil Sam dengan sebutan sayang. Bahkan aku sendiri masih sedikit malu.


“Tunggu, Adelia ... Sepertinya aku harus merekam suaramu saat ini.” Sam mengambil ponsel yang ada di sakunya. “Coba kamu panggil sayang lagi.” Ucap Sam.

__ADS_1


“Sam!” tentu saja hal itu malah membuatku jengkel.


“Ayolah, suaramu terdengar menggemaskan sekali ketika mengatakan sayang.” Pinta Sam sedangkan aku malah diam sambil menatap Sam. “Jadi ... Aku sekarang benar-benar sudah menjadi sayangmu kan? Calon suami kamu?” Imbuhnya lagi.


“Bodo amat!” saking kesal dan malunya aku tak jadi meminta Sam untuk membukakan minumanku. Aku langsung membukanya sendiri lalu meneguknya hingga habis setengah.


Sam hanya tertawa melihat tingkahku lalu kembali melajukan mobilnya ketika lampu sudah berubah menjadi hijau.


“Aku nggak nyangka ternyata kamu menggemaskan sekali ya kalau lagi cemburu.” Perkataan Sam langsung membuatku melongo.


Siapa yang cemburu?


“Sok tahu, siapa juga yang cemburu.” Aku berusaha mengelak.


“Kamu lah, kamu cemburu kan dengan Clara tadi.” Sam terus saja menuduhku cemburu.


“Aku enggak cemburu!” Aku mengatakan kalimat tersebut dengan penuh penekanan biar dia tahu dan tidak ke Ge-eRan.


“Uh, imut banget sih kalau lagi cemburu.” Sam malah semakin tertawa saat ini.


“Sam!” teriakku.


“Iya, iya.” Katanya sambil tersenyum.


“Iya apa?” sengak ku padanya. Sam benar-benar membuatku jengkel malam ini.


Sam tersenyum. “Iya kamu imut kalo lagi cemburu.” Langsung saja aku menghujani Sam dengan pukulan tetapi tampaknya hal tersebut malah membuat Sam semakin senang.


Dan lihatlah kelakuannya, apakah dia sadar dengan kelakuannya saat ini. Benar-benar bukan seperti Sam yang biasanya.


Mobil Sam berhenti tepat di depan rumahku. Aku segera melepas seat belt dan berniat turun tetapi Sam langsung menahan lenganku.


“Kamu nggak mau memberi ciuman dulu ke sayangmu ini, hm?” ucap Sam sambil tersenyum ke arahku.


“Apa sih?” aku mengernyit heran ke arahnya. Lihatlah betapa menjengkelkannya wajah itu.


Aku tak menghiraukan ucapan Sam dan langsung memilih untuk turun dari mobilnya. Tetapi sebelum aku menutup pintu mobilnya, Sam kembali berkata.


“Jangan lupa untuk memimpikan sayangmu ini ya.” Godanya.


Aku mendengus kesal sebelum akhirnya aku membanting pintu mobil Sam dengan sangat keras. Siaal!


Sam benar-benar sialaan!


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


__ADS_1


__ADS_2