
Selamat siang semua.
Selamat beraktivitas ya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Hari-hari semakin terasa menyebalkan. Kalau kata orang biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu, bagiku tidak seperti itu. Semakin mendengar anjing menggonggong yang ada semakin membuatku kesal dan telingaku menjadi panas.
Kalau bisa ingin aku sempel deh itu mulut si anjing!
Tidak ada habisnya orang-orang membicarakan aku. Secara hampir delapan puluh persen isi dari kantor ini adalah pemuja Bos bernama Samuel tersebut. Apalagi setelah kabar yang menyatakan kalau dia adalah calon pemimpin baru di perusahaan ini. Dan hal tersebut membuat sederet wanita rela antri-antrian untuk mendekati Sam.
Mungkin sekarang mereka rela menjalankan profesi ganda, selain menjadi kacung mereka juga menjadi paparazi Sam.
Dan kabar kalau aku adalah pacar dan tunangan Sam tentu membuat deretan fans garis keras Sam langsung menyerbuku. Tak ada habisnya mereka menghujat ku. Bukan hanya ketika di kantor, bahkan di akun sosial mediaku yang jarang sekali aku buka itu juga mereka bersikap bar-bar layaknya nitizen yang maha benar.
Bahkan pengikut ku mendadak bertambah drastis, ya walaupun sebagian besar adalah haters. Dan semakin banyak pula komentar tentang pembesar payudaraa yang nangkring di sana.
Butuh pembesar payudaraa kakak? Kita bisa membuat payudaraa besar dalam waktu semalam.
Memangnya aku sedepresi itu apa sampai harus memperbesar aset ku? Rasanya ingin kublokir komentar-komentar unfaedah yang ada di sana. Tapi tidak ada gunanya. Hilang komentar pembesar payudaraa, muncul komentar pembesar alat kelamin pria, dan muncul lagi iklan peninggi badan.
Aarrrggh!!
Sungguh, aku tidak siap terkenal. Maksudku aku tidak suka nantinya setiap hal yang aku unggah mendapat beragam komentar tak berfaedah dari pengikutku. Aku merasa kalau saat ini gerak-gerikku mulai di awasi orang-orang sekitar.
“Ciyee calon manten.” Begitu aku dan Sam melangkah menuju ruangan, Mbak Sari langsung meledek.
“Jangan tagih sepuluh juta saya ya, Pak.” Rizal lagi-lagi masih tak ada habisnya membahas duit sepuluh juta itu. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa setiap kunyuk itu memelas seperti itu.
Sam hanya tersenyum singkat lalu masuk ke ruangannya.
“Lo sekarang jadi selebgram mendadak, Mbak. Follower lo buset.” Ucap Tiwi.
“Mood gue lagi jelek, jangan bahas itu dulu. Bikin emosi dan mengganggu.” Ujarku mulai menghidupkan komputer.
“Komennya rata-rata nyinyir semua ih.” Mbak Sari dan Tiwi asyik membaca komentar-komentar yang ada di sana yang jumlahnya ribuan.
“Iya nyinyir kayak kalian!” Ucapku kesal.
“Ini anak udah mau resign aja jahat banget. Baik-baik sama kita. Kalau nggak mau kena azab.” Ujar Mas Angga.
“Elaaah kacung! Diem lo, Mas, pacar bos nih!” Rizal membelaku. Dia berdiri di depan mejaku sambil tersenyum ke arahku.
“Halaaah, nyari muka lo. Gue tahu isi kepala lo, Zal. Gue sumpahin Adel nagih sepuluh juta dari lo.” Rizal tampak merengut masam berkat ucapan Mas Angga.
“Jangan ya, Del. Gue bercanda.” Ujar Rizal. “Please, kasihanilah nasib gue sebagai kacung di sini. Ya, ya?”
“Bodo amat!!” ujarku cepat dan memeriksa pekerjaan yang belum selesai.
“Mampuus lo, Mas.” Seru Rio sambil tertawa.
Sekarang hari-hariku yang damai mulai hilang. Aku sangat tidak nyaman dengan tatapan orang-orang padaku. Bahkan aku selalu minta di temani jika ingin pergi ke kamar mandi. Bukan karena takut, aku berharap saja dengan adanya seseorang yang berjalan denganku bisa membuatku lebih tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan di belakangku.
Kalau misal mereka sedang bisik-bisik, aku kan bisa asyik ngobrol dengan orang yang sedang jalan denganku.
Aku : pengen pulang.
Satu chat masuk dari Sam.
Sayang : kenapa?
Aku : Malas T,T
Sayang : pulang aja, nggak usah ikut lembur hari ini.
Aku : Boleh?
__ADS_1
Sayang : iya. Tapi pulang ke apartemen aja nanti aku nyusul. Masakin makan juga ya aku lapar.
Aku : Oke.
Aku segera membereskan barang-barangku dari atas meja.
“Mau kemana lo?” tanya Mbak Sari.
“Mau pulang lah, gue pagi tadi udah izin mau nganter nyokap ke rumah saudara.” Ujarku kabur sebelum rentetan pertanyaan lebih lanjut menyerbuku.
Aku bersyukur sudah memikirkan untuk resign lebih cepat, aku tidak akan sanggup bekerja dengan situasi seperti ini. Dimana setiap gerak-gerikku menjadi pusat perhatian. Bahkan saat di Lobi, semua orang melirik dan bahkan ada yang menatap terang-terangan. Aku melangkah cepat, dan beruntung sudah ada sopir yang mengatakan kalau dia akan mengantarku sesuai perintah Sam.
Mereka pasti akan semakin membicarakan yang tidak-tidak tentangku, ketika aku di sambut oleh salah satu sopir pribadi kakek Robert dan langsung membukakan pintu mobil untukku.
Masa bodohlah, aku juga akan segera berhenti dari perusahaan ini.
Bye bye kaum nyinyiers dan para haters!!
•••
“Masak apa?” aku tersentak kaget saat sepadang lengan memelukku dari belakang. Aku menoleh dan tersenyum setelah mengecup pipi Sam.
“Kok kamu pulangnya cepet banget? Aku baru aja setengah jam yang lalu lho sampainya.” Aku mengaduk tumis udang cumi balado yang aku masak.
“Lapar.” Bisik Sam sambil membenamkan wajahnya ke leherku.
Beberapa menit kemudian aku membawa masakanku ke meja makan. Sam yang kelihatan sudah sangat lapar itu langsung menuang nasinya ke atas piring.
“Kerjaan kantor gimana?” aku membuka lemari pendingin dan mengambil minuman.
“Nggak gimana-gimana. Aku udah bilang lembur sampai jam delapan aja. Kamu tau, nanti setelah aku resmi menggantikan kakek, Raffael yang akan menggantikan posisiku.”
“Hah?” ujarku kaget. “Memangnya dia bersedia? Bukanya Raffael terlihat sedikit nyeleneh ya.”
Sam terkekeh. “Jangan salah, walaupun kelihatannya begitu. Dia cukup handal dalam bidang perusahaan, dan mulutnya juga lebih pedas dari aku.” Sam menarikku duduk di sampingnya.
“Ada yang ngaku mulutnya pedas nih?” godaku sambil menuangkan air minum ke dalam gelas.
“Kan kamu yang selalu bilang aku begitu.” Ujarnya mulai menyantap makanan dengan lahap.
“Tadi aku diskusi sama Kakek, katanya serah jabatan harus dilakukan dalam waktu dekat.”
“Kakek udah nggak tahan mau pensiun ya?” aku membereskan meja makan dan membawa piring ke tempat cucian piring.
“Ya, begitu lah. Lagian kamu juga udah mau resign. Nggak asyik nggak lihat kamu di sana.” Sam meletakkan gelas kosong ke atas meja. “Oh ya, kamu udah punya rencana setelah resign nanti kamu bakalan kerja lagi atau ...”
Aku segera mendekati Sam dan menuntunnya ke sofa depan TV. “Sebenarnya ... Papa Carlisle dan Kakek Robert pernah menawariku untuk menjadi dosen di salah satu cabang kampus kakek yang ada di Jakarta sini.”
“Dosen? Kok aku nggak tahu soal ini.” Ucap Sam meminta penjelasan lebih.
“Udah lama sih sebenarnya, dan aku sengaja aja nggak mau cerita ke kamu. Biar kamu tanda tangani surat resign ku dulu setelah itu aku baru cerita.” Aku meringis ke arah Sam.
Sam menatapku datar. “Kok aku merasa terkhianati ya dengan keluargaku sendiri, dengan calon istriku juga.” Aku hanya bisa tertawa mendengar ucapan Sam. “Kampus kakek ... Universitas guna bangsa ya? Tapi kamu yakin mau jadi dosen? Kerjanya beda lho dengan kerja kantoran.”
Aku mengangguk yakin. “Aku udah belajar sedikit-sedikit kok.”
“Jadi memang sudah lama sekali ya kamu mempersiapkan ini. Hm ... Pintar ya kamu menyembunyikannya dariku.”
Aku hanya tertawa dan menyusup masuk ke dalam pelukannya. Saat ini hanya momen-momen seperti inilah yang bisa membuatku sejenak lupa dengan segala apa yang tengah terjadi saat ini. Dalam pelukan inilah aku bisa merasakan yang namanya ketenangan.
Sam segera melepas pelukanku lalu membuka ponselnya. Tak lama kemudian terdengar sebuah lantunan lagu dari ponsel Sam.
“Nggak sengaja nemu di YouTube. Aku mau nyanyiin ini tapi di sini nggak ada gitar.” Ucapnya jujur, aku hanya bisa tertawa dan tawaku semakin keras ketika Sam mulai menarik kakiku hingga aku berbaring di atas sofa.
“Katanya mau nyanyi.” Aku terus terkekeh, saat Sam mulai berada di atas ku dan menatapku lekat.
Dia mulai mengikuti alunan lagu tersebut. Aku sangat suka mendengar suaranya yang sedikit berat dan serak.
Tomorrow i'll open my eyes
And i will whisper to my life
I belong to you.
__ADS_1
And i will wait to hear you say
As a tear rolls down your face
(Sumber lagu, Jacob Lee judul 'I belong to you')
Sam jarang bersikap romantis, dia lebih banyak bersikap menyebalkan kepada siapa saja, termasuk padaku. Tapi sekalinya dia bersikap manis, tak urung membuatku bahagia dan merona. Jantungku mulai berdebar hangat.
“I belong with you.” Sam mengakhiri lagunya dan tersenyum padaku. Ia segera meraih daguku lalu mengecup lembut bibirku di sana. “I can hardly wait, have you be my wife.” Bisiknya di depan bibirku.
Aku tersenyum mengusap pipinya. Sam kembali mengecup bibirku pada awalnya, lalu memberikan gigitan di bibir bawahku agar terbuka. Tidak butuh waktu lama bagi lidahnya menyusup masuk dan memainkannya di dalam sana.
He's really a good kisser.
“Peningkatan kekayaan investor sebagai hasil tanam modalnya?
“Laba.” Sam tengah bersila di lantai, mengerjakan pekerjaannya dengan menggunakan laptop. Sedangkan aku berbaring di sofa, mengisi TTS yang ada di ponselnya.
“Suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal?”
“Berapa huruf?” dia bertanya sambil mengetik laporan.
“Sembilan.”
Sam diam sejenak. Tampak berpikir. “Negosiasi.” Jawabnya kemudian.
“Tempat kel~”
“Kamu yang mau ngisi atau aku sih?” Sam bertanya sambil menatapku.
Aku tertawa lalu mengecup pipi Sam. “Kan aku nggak tahu jawabannya.”
“Masa?” cibirnya lalu kembali sibuk kerja.
Aku semakin tertawa. Lalu aku mulai iseng-iseng membuka galeri foto yang ada di ponsel Sam. Sebenarnya aku bukan tipe perempuan yang suka kepo dengan ponsel pacarnya. Tapi mumpung sekarang ponselnya ada di tanganku kan. Siapa tahu dia diam-diam menyimpan foto mantan pacar atau blue film kan?
Tapi nihil. Tidak ada apa-apa di sana hanya ada foto-foto tentang laporan hasil kerja atau foto pemandangan yang ia ambil. Aku terus melihat-lihat album fotonya dan aku penasaran saat ada sebuah album yang hanya di beri nama A. Dengan semangat aku membukannya dan tercengang.
Album tersebut berisikan fotoku yang entah sejak kapan dia mulai mengambilnya. Dan semua foto tersebut di ambil secara candid, dari jarak jauh maupun dekat.
“Ck, dasar paparazi.” Ujarku memperlihatkan layar ponsel padanya.
Sam menoleh, lalu tertawa melihat foto yang aku perlihatkan padanya. Foto aku yang sedang duduk dan menatap cemberut ke arah komputer, itu foto satu tahun yang lalu ketika Sam baru-baru saja menjadi Bos ku.
“Aku jelek banget.”
Sam meraih ponselnya dan menscrollnya ke bawah, memperlihatkan fotoku yang lainnya. Rambutku di cepol ke atas terlihat berantakan, wajah kesal dengan memegang beberapa map di tanganku.
“Lebih jelek ini.” Ujarnya dan menyerahkan kembali ponselnya padaku.
Aku memukul lengannya dan dia hanya tertawa. Sam lalu membalikkan tubuhnya, menatapku yang tengah berbaring di atas sofa. Dia meraih tanganku lalu menggenggamnya.
“Apa kabar kamu hari ini?” tanyanya tiba-tiba.
Aku diam sejenak sambil memandangi wajahnya, aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi dia terus tersenyum.
“Bahagia.” Ujarku setelah mengerti makna dibalik pertanyaan itu.
Sam menggenggam tanganku lebih erat. “Semoga kabar kamu tetap seperti hari ini untuk ke depannya.”
Aku tersenyum, mendekatkan tangan Sam dan menggigit punggung tangannya. Sam hanya meringis sedangkan aku malah tertawa. “Aku juga berharap seperti itu.”
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TO BE CONTINUED....