My Boss Samuel

My Boss Samuel
91. Hot News


__ADS_3

Siang semua....


Selamat Hari Jumat Berkah ya....


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Pagi ini Rizal membawa wajah dan ekspresi yang tak seperti biasanya. Bahkan dia sedikit berlari ketika keluar dari lift dan berdiri dengan nafas terengah-engah.


“Heboh!” Pekiknya histeris.


“Ck, lo kayak anak perawan lihat Park Seo Joon aja sih, Zal.” Sahut ku setengah tertawa.


Sama kayak aku dulu waktu lihat mantan pacarku itu, haha.


“Gue serius, ini benar-benar heboh!” Kali ini dia memasang wajah lebih serius.


“Memangnya ada apa sih, Mas?” Tanya Rio yang baru saja datang dari pantry.


Belum ada dua detik ekspresi Rizal langsung berubah, dari yang terlihat serius kini menjadi raut jenaka. “Sini-sini, gue jamin berita ini hanya bisa di terima buat orang yang mau berkumpul.”


“Hah, si kunyuk mulai lagi.” Celetuk Mbak Sari.


Aku hanya tertawa sambil geleng-geleng. Ada tidak sih laki-laki lain yang hebohnya mengalahkan Rizal? Benar-benar aneh bin ajaib itu cowok.


“Kalian udah dengar belom?” ujarnya yang membuat kami penasaran.


Mbak Sari yang tadinya terlihat tidak minat sama sekali dengan berita yang di bawa Rizal, kini mendadak langsung berdiri dan mepet ke Rizal. Tentunya di ikuti yang lainnya juga, termasuk aku.


“Ternyata Pak Sam ...” duh mendengar nama itu di sebut kok jadi aku yang deg-degan ya. Aku semakin menatap serius wajah Rizal. “Pak Sam itu ... Cucu dari Mister Robert gaes! Dan dia mau gantiin posisi kakeknya.”


“Hah!!” pekikkan itu terdengar nyaring di ruangan ini.


“Serius, Nyuk!” Mas Angga menatap Rizal.


“Nggak bohong kan lo!” imbuh Mbak Sari.


“Gila! Selain ganteng ternyata Pak Sam cucu yang punya perusahaan ini.” Tiwi geleng-geleng kepala.


“Pak Sam memang the best lah! Nggak salah kalo gue jadiin dia sebagai panutan gue.” Ujar Rio.


Aku butuh beberapa saat untuk mencerna keadaan ini. Sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan bagiku, tapi dari mana Rizal tahu. Apa jangan-jangan gara-gara sabtu kemarin?


“Dari mana lo tahu?” aku bertanya dengan ekspresi seserius mungkin. Ya untuk akting lah supaya mereka percaya.


“Loh, kalian belum lihat? Coba cek hot news pagi ini, beritanya sudah nyebar kali. Dan sudah banyak yang ngomongin juga saat gue berangkat tadi.” Jelas Rizal.


Wao! Benar kata orang, apapun yang masuk ke internet pasti mudah sekali untuk menyebar. Untung lamaranku kemarin aku sudah mewanti-wanti sesederhana mungkin biar tidak terendus media yang mengincar berita tentang keluarga Sam.

__ADS_1


Mbak Sari langsung mengeluarkan ponsel dan menjerit seketika. “Ya Allah, beneran lho ... Kok gue bisa telat sih tahu berita beginian.”


“Kemampuan lo sudah mulai menurun, Sar. Faktor U tuh.” Cibir Mas Angga yang membuat Mbak Sari melotot padanya.


Tiba-tiba Rizal mengetuk mejanya dan berhasil mencuri perhatian kami lagi. “Gaes, kok kita bisa baru tahu ya kalo si Bos calon penerus tahta perusahaan ini.” Dih lo aja kali yang enggak tahu, gue tahu tuh. “Dan kira-kira ... Menurut kalian sikap kita selama ini ke Bos baik-baik aja kan.” Rizal menatap kami satu persatu.


“Baik kok, gue bahkan baik banget kalo sama Bos.” Sahut Tiwi.


“Memangnya apa hubungannya dengan sikap kita?” tanya Mas Angga.


Rizal berdehem. “Ya, siapa tahu setelah sekian lama menjadi Bos kita terus dia melihat kemampuan kerja dan sikap kita yang baik. Kita bakal di angkat gitu ke jabatan yang lebih baik.” Dia tertawa di akhir kalimat.


Dan percayalah itu hanyalah gurauan semata, sudah tahu kan mulut si kunyuk itu seperti apa.


“Ngarep lo!” sengak Mas Angga yang langsung kembali ke mejanya.


Aku pun juga memutuskan kembali ke mejaku. Lalu menghidupkan komputer. Mataku menatap kosong ke layar monitor yang masih loading tersebut hingga sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku.


“Pagi semua.” Sapa Sam ramah.


“Pagi, Pak!”


“Selamat ya, Pak. Saya enggak nyangka kalau Bapak cucu dari Mister Robert.” Rizal lah yang pertama kali bersuara.


“Parah banget sih, Sam. Kok bisa sih menyembunyikan status keluarga kamu yang ternyata calon penerus perusahaan ini. Hebat banget, jangan-jangan ada rahasia yang lain juga nih yang kamu sembunyikan yang tak kalah hebatnya.” Ujar Mbak Sari.


Sam tersenyum tipis sambil melirik ke arahku. “Kalian ngomong apa sih? Sudah, selamat bekerja ya.” Tak mau ada pembicaraan yang lebih panjang lebar lagi Sam memilih untuk segera masuk ke ruangannya.


##


Aku segera mendekat lalu mengulurkan sebuah surat resign yang sudah aku siapkan sejak beberapa hari yang lalu.


“Jadi, beneran mau resign nih? Memangnya kenapa sih, Del?” tanya Sam.


Sepertinya pembahasan kami kemarin belum membuatnya puas sama sekali.


“Aku hanya ngerasa mulai capek aja.”


“Capek kerja?” sahutnya cepat.


Aku mengangguk sambil tersenyum. “Bukan hanya itu saja, Sam. Aku juga mulai capek dengan keadaan ini, aku mulai capek berakting. Harus diam-diam menyembunyikan hubungan, harus bersikap profesional kalo di kantor. Dan lagi pula di perusahaan ini juga ada aturan yang melarang antar karyawan menjalin hubungan termasuk dengan Bos. Jadi ... Sebelum aku kamu keluarkan mending aku resign terlebih dahulu kan?” aku berusaha menjelaskan sesimple mungkin ke Sam.


Sam tersenyum tipis sambil memandang surat resign yang ada di tangannya. “Kamu nggak perlu memikirkan itu, kan aku bos nya. Jadi kamu bisa bekerja sesuka kamu tanpa harus memperdulikan omongan orang lain.”


“Nggak bisa Sam.” Selaku cepat. “Sebentar lagi posisi jabatan kamu bakalan berubah, harusnya kamu sebagai Bos bisa memberikan contoh yang baik buat karyawan kamu bukan malah seenaknya.”


Tak ada respon sama sekali dari wajah Sam.


Dia segera berdiri lalu menggandeng tanganku keluar ruangannya. Apa ini? Sam membuka pintu ruangannya dan terus menggandengku agar mengikuti langkahnya. Aku hanya bisa meringis saat melewati teman-temanku yang sudah melotot melihat adegan yang baru saja mereka lihat. Sudah seperti iklan lewat saja ya kami.


Pintu lift terbuka di lantai lima belas dan Sam kembali menggandengku, membawaku masuk ke ruangan khusus yang ternyata adalah ruangannya pribadinya.


“Sam kenapa kita ke si~” aku berhenti bicara saat Sam membekap bibirku dengan bibirnya. Aku melotot dan segera mendorongnya. “Sam!”

__ADS_1


Sam terkekeh, bergerak menjauh. Berdiri di dinding kaca yang mengelilingi ruangannya lalu menatap kota Jakarta yang selalu sibuk di bawah sana.


“Aku sudah berjanji dengan kakek begitu waktunya tiba, aku akan mengambil alih kepemimpinannya. Kita juga pernah membahas ini sebelumnya kan.” Ujarnya dan aku hanya berdiri mengamatinya. “Dan aku rasa sekarang sudah waktunya, aku bertahan di divisi kita hanya karena kamu.” Sam menoleh padaku. “Begitu aku pindah, mungkin kita sudah akan jarang bertemu lagi. Tapi tidak apa bagiku toh kamu sebentar lagi akan jadi istriku.”


Aku tersenyum mendengar cerita Sam.


“Sebenarnya kalau kamu tidak mengajukan resign, aku berniat mempromosikan kamu untuk menjadi Manager penggantiku kepada pihak HRD.” Imbuhnya yang langsung membuat kedua mataku terbelalak.


Aku menggeleng cepat. “Sam kamu bercanda, kan?” aku tertawa histeris. “Aku belum mampu, Sam, tolong jangan gegabah.”


“Kamu mampu, Del. Kamu hanya perlu percaya pada diri kamu sendiri.”


Aku menggeleng. “Manager lain akan bilang apa? Mereka pasti akan tahu kalo kita ada hubungan. Lalu orang-orang akan mulai bergosip dan menuduh kalo aku mendapat jabatan itu dengan cara yang kotor. Aku enggak mau!” tegasku dengan wajah serius.


“Kamu hanya perlu membuktikan kepada mereka, bahwa kamu pantas berada di posisi itu. Orang lain pasti akan diam pada akhirnya jika melihat kemampuan kamu.” Sepertinya Sam berusaha ngeyel sekali.


“Itu terlalu berat, Sam, aku nggak yakin.” Aku membuka pintu dan melangkah keluar.


“Adelia, dengarkan aku dulu. Kenapa kamu tidak percaya dengan diri kamu sendiri?” Sam mengikutiku menuju lift.


“Sam, aku tahu batas kemampuanku dan jabatan itu terlalu tinggi, masih banyak kandidat lain yang lebih cocok. Dan aku lebih baik resign saja.” Aku terus melangkah menyusuri lorong menuju lift.


“Adelia, kita perlu membicarakan ini.”


“Pembicaraan selesai, tanda tangani saja surat resign ku!” ujarku cepat.


Sam ini otaknya di mana sih? Seenaknya saja dia menyuruhku menjadi manager seperti itu. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak ingin mendapat posisi itu dengan cara singkat seperti ini.


Memang benar, resign lah jalan yang terbaik.


“Adelia.”


Aku mengabaikan dan orang-orang yang berada di lantai lima belas yang mulai menatap ke arah kami. Aku menunduk dan mempercepat langkah.


“Sayang!” Sam berteriak kencang.


Tubuhku kaku seketika dan tidak mampu bergerak saat mendengar suara orang-orang terkesiap.


D-dia panggil aku apa?


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2