
Pokoknya aku udah up ya.
Kalau masih lama berarti dari servernya, tanya aja ke mereka yang lama. Aku juga kesel sendiri ini.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku membuka mata secara perlahan. Seluruh tubuhku terasa remuk, bahkan lebih remuk daripada di suruh kerja lembur berhari-hari. Tangan Sam memeluk tubuhku di bawah selimut yang menutupi tubuh polos kami berdua. Hal pertama yang aku lakukan adalah mengusap wajah dan rambutnya. Membayangkan kilasan kejadian semalam, hal paling menakjubkan yang pernah aku rasakan.
Aku langsung melirik jam dinding dan aku langsung melotot ketika jarum di jam tersebut menunjuk di angka sepuluh.
“Sam, bangun!” Aku langsung mendorong tubuh Sam hingga dia terbangun.
Sam sedikit mengomel ketika beranjak duduk. “Bisa lebih lembut sedikit kalau bangunin suami?”
Aku hanya meringis. “Maaf.” Aku mengerucutkan bibirku lalu tersenyum. “Cepat mandi sana.”
Sam hanya mendengus lalu berjalan ke lemari untuk mencari celana. Aku juga ingin turun tapi tiba-tiba ...
“Akhh !!” Sam segera menghampiriku dan berjongkok di samping tempat tidur. Wajahnya terlihat panik dengan alis berkerut.
“Kenapa?” tanyanya panik.
Aku menggigit bibir bawahku sambil menatapnya. “Sakit.” Ujar ku kemudian.
Sam langsung terkekeh, dia mengusap rambutku dan menyelipkannya di belakang telinga. “Nanti sakitnya hilang sendiri.”
Aku langsung memukul lengannya dan dia semakin tertawa.
“Gara-gara kamu.” Ujar ku sebal.
“Iya aku, tapi kamu juga menikmatinya kan.” Godanya yang berhasil membuatku langsung malu.
Aku menatap cemberut ke arahnya lalu mencubit hidung mancungnya. “Malu.”
“Kenapa?” tanya nya menggoda. “Tadi malam aja nggak malu.” Godanya sambil terkekeh.
“Sam!” aku memekik sambil memukulnya, tapi dengan cepat Sam langsung menggendongku ke dalam kamar mandi untuk mandi berdua.
•••
“Kalian nggak liburan kemana gitu?” aku menatap sebal ke Tante Nurma yang sejak tadi mengekori ku.
Kini aku berada di restoran untuk sarapan pagi. Ya, meskipun sudah terlambat untuk sarapan karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
“Iya nanti. Masih pengen di sini dulu.” Ujar ku sambil menyuap sandwich ke dalam mulutku.
“Kemana?” Tante Indah menatapku penasaran.
“Rahasia lah.” Ujar ku sebal.
“Ih nggak sopan kamu sama orang tua. Kan Tante Cuma nanya!” Tante Nurma menatapku kesal.
Aku hanya menghela nafas, bersabar untuk sedikit lagi karena seluruh keluargaku akan kembali ke Jakarta hari ini kecuali Mama, Papa dan Vino. Karena keluarga Sam ingin menghabiskan liburan bersama.
“Keluarganya Sam masih di sini kan, Del? Sama Mama, Papa kamu?” Tante Indah menatapku.
“Kenapa?” sebenarnya aku malas sekali bertanya.
“Lia tinggal di sini dulu nggak apa-apa kan? Besok aja pulangnya bareng Mama sama Papa kamu. Mereka pulang ke Jakarta di antar pakai Jet kan ya?”
Aku memutar bola mata. Bagaimana aku harus menjawabnya? Ini orang ngeselin banget sih.
“Bisa kan, Del? Lia tinggal di sini dulu. Lagian kan dia sepupu kamu.” Bujuknya lembut.
Aku menghela nafas, menatap sekeliling ruangan untuk meminta bantuan. Dan akhirnya aku melihat Natalie yang tengah melangkah memasuki restoran. Aku berharap Natalie menghampiriku. Dan dia memang melangkah ke arahku.
“Sarapan apa, Del?” Natalie berdiri di samping mejaku.
__ADS_1
Tante Nurma dan Tante Indah seketika memasang wajah manis. Mereka memang sedikit takut dengan Natalie yang tidak pernah tersenyum kepada mereka.
“Natalie cantik banget, sudah berapa bulan hamilnya?” Tante Indah mulai lagi.
Natalie hanya diam, menatap dengan satu alis terangkat.
“Begini, Nat. Tante mau tanya ...” Tante Indah tampak salah tingkah dengan wajah datar Natalie. Dan aku diam-diam mengulum senyum. “Lia bisa pulang bareng Mama dan Papanya Adelia nanti. Katanya dia masih pengen tinggal di sini.” Tante Indah tersenyum.
“Nggak bisa.” Jawab Natalie terus terang dengan dingin. “Tiket buat kalian sudah di siapkan, kalau salah satu dari kalian tinggal, tiketnya hangus.”
Nah lo! Aku tertawa kencang dalam hati. Memang semua akomodasi di biayai oleh keluarga Sam, termasuk tiket pesawat untuk keluargaku dari Jakarta-Bali pulang pergi. Harusnya mereka bersyukur, bukanya ngelunjak!
Namun keluarga Sam meminta Papa, Mama dan Vino untuk tinggal di sini dulu dan membiarkan sanak keluargaku dari pihak Mama maupun Papa pulang lebih dulu, mereka sudah menyiapkan tiket untuk pulang sore ini.
“Tapi, Nat. Apa nggak bisa Lia di titipin sama Mama dan Papanya Adel sebentar? Dia nggak bandel kok anaknya, rajin, baik dan nggak neko-neko.” Tante Nurma kini ikut berbicara.
Natalie menghela nafas seolah merasa lelah. “Dia bisa tinggal di hotel ini selama yang dia mau, tapi untuk pulang ke Jakarta, dia bisa memesan tiket sendiri. Saya sudah menyiapkan tiket untuk dia, tapi kalau dia mau tinggal, terserah. Saya tidak bisa melarang, dia bebas. Tapi dia tidak bisa ikut bersama kami.” Natalie tersenyum angkuh. “Maaf, jet kamui khusus untuk keluarga kami saja. Orang asing tidak di izinkan menaikinya. Permisi.” Ujarnya lalu pergi setelah menepuk pelan lenganku.
“Ck, sombong banget sih itu sepupunya, Sam. Mentang-mentang punya jet.” Tante Nurma mengomel dengan wajah sinis. Lalu menatapku sebal. “Kamu sih, nggak ada gunanya jadi sepupu, Lia kan sepupu kamu juga!”
Sabar ... Sabar ...
Tarik nafas, Del.
“Mentang-mentang nikah sama orang kaya dia, Mbak!” Tante Indah ikut mengompori.
“Tan.” Aku menatap mereka tajam. “Jet itu punya mereka, bukan punya aku. Jadi aku nggak bisa memaksa mereka buat masukin orang yang nggak mereka suka ke jet pribadi mereka.” Aku masih berusaha sabar.
“Tapi Lia bukan orang lain, sepupu kamu, Del!”
Sepupu yang tiba-tiba ada maunya! Arrggh!!
Aku ulek juga lama-lama mulut mereka. Harus aku apakan mereka ini biar bisa mengerti?
“Kenapa, Del?” Raffael tiba-tiba saja mendekat, lalu menatap Tante Indah dan Tante Nurma tajam.
“Nggak apa-apa kok, Raff.” Ujarku tersenyum.
Tante Nurma melengos, namun Tante Indah menatap manis pada Raffael. “Gini loh, Tante Cuma mau nitip Lia pulang bareng Mama dan Papanya Adel. Karena Lia masih pengen di sini katanya.”
“Lia?” Raffael menatapku. “Yang mana sih?”
“Anak Tante, Raff. Yang cantik itu, yang lebih tinggi dari Adel.” Ujar Tante Indah.
“Oh.” Hanya itu respon Raffael lalu dia tersenyum usil padaku. Aku merasakan ada aura ganjil dari caranya tersenyum. “Dia masih mau di sini?” Raffael bertanya pada Tante Indah yang mengangguk cepat. “Boleh aja sih.”
“Serius boleh?” Tante Indah menatap penuh harap.
Aku menyentuh menatap Raffael dan dia mengedip padaku.
“Boleh.” Raffael mengangguk-angguk dan aku mulai tidak yakin saat melihat wajahnya yang tengah menyengir. “Ngomong-ngomong anak Tante masih perawan?”
“Ha?!” Tante Indah dan Tante Nurma menatap horor pada Raffael yang kini tersenyum angkuh. “Maksud kamu?!” Tante Indah menjerit.
“Tante nyuruh anak Tante tinggal buat godain salah satu dari kami, kan? Boleh-boleh aja. Dia bisa ikut pulang bersama saya nanti, tapi ... Dengan syarat harus menemani saya dulu malam ini. Yah, ibarat test drive lah seperti beli mobil. Kalo cocok bisa di beli, kalau enggak ya buat apa di beli.” Ujarnya santai.
“Kamu merendahkan keluarga saya?!” Tante Indah berteriak marah.
“Ups!” Raffael mengangkat bahu. “Hanya mengutarakan fakta. Kan Tante yang bersikeras meninggalkan anak Tante di sini, artinya Tante siap untuk melepaskan anak Tante untuk kami. Jadi kami punya hak untuk bergilir malam ini. Toh ibunya aja nggak peduli dengan keselamatan anaknya sendiri.” Raffael tersenyum miring.
“Kamu tidak bermoral! Kurang ajar!!” Tante Indah berteriak histeris. Menatap berang pada Raffael dan juga padaku. “Kamu!” Tante Indah menunjukku. “Pantas berada di sini, kamu pantas berada di tengah-tengah orang yang tidak punya sopan santun seperti mereka!” tudingnya padaku.
Aku hanya mengerutkan keningku.
“Kami hanya berusaha bersikap jujur. Setidaknya kami tidak berpura-pura baik kalau ada maunya.” Ujar Raffael santai.
Tante Indah meraih gelasku yang masih penuh dengan air putih lalu menyiramkannya ke wajah Raffael. “Sikap kamu keterlaluan! Dasar keluarga busuk!” ujarnya lalu melangkah marah dengan Tante Nurma.
Raffael hanya tertawa geli sambil mengusap wajahnya. “Gue baru mandi loh, Del.”
“Salah lo sendiri, punya mulut pedes banget.” Aku tertawa lalu meraih tisu dan membantu Raffael mengeringkan wajahnya.
“Ya habisnya nggak enak banget lihat wajah lo tadi, Del. Jadi gue bantuin aja buat ngusir mereka.” Ujar Raffael sambil terkekeh.
__ADS_1
“Gila!” kataku dan Raffael semakin tertawa.
“Kenapa kamu?” Sam datang karena tadi dia ada sedikit keperluan dengan manager hotel.
“Habis renang.” Raffael menjawab sambil beranjak berdiri. Lalu dia tersenyum dan mengerlingkan matanya padaku. Dan tiba-tiba dia mengecup pipiku cepat. “Gue anggap sebagai ucapan terima kasih ya, kakak ipar.” Ujarnya lalu bergerak menjauh dengan cepat.
“Heh!” Sam berteriak marah, menatap meja untuk mencari sesuatu yang bisa ia lemparkan ke Raffael.
Di atas meja ada sendok dan pisau makan. Aku segera meraih sendok sebelum dia meraih pisau.
“Ini aja.” Ujar ku lalu melempar pisau menjauh.
Sam meraihnya dan melemparkannya ke kepala Raffael. Raffael langsung mengumpat saat sendok tersebut mengenai kepala bagian belakangnya.
“Sekali lagi kamu berani pegang istriku. Pisau yang bakal aku lempar!” teriak Sam kesal.
“Sebelum lo lempar pisau, gue bakal bunuh lo duluan!” Raffael memberi Sam jari tengahnya sambil tersenyum miring lalu bergerak pergi sambil mengusap kepala.
Aku hanya tertawa. Tapi segera mengatupkan mulutku saat melihat Sam masih marah dan rahangnya mulai mengeras
Wah, sepertinya setan akan bangkit nih?
••
Sam terus menarik lenganku hingga membuatku merasa kesal. Aku juga tidak tahu apa yang membuat sikapnya berubah seperti ini.
“Siapkan mobil, saya mau pindah ke Villa.” Ujar Sam kepada Manager hotel yang ia temui.
“Kenapa, Pak? Apa dikamar tidak nyaman?”
Sam hanya menatap datar ke manager hotel tersebut. “Nyaman, saya hanya ingin privasi lebih.”
Manager tersebut langsung mengangguk. Dan mulai menghubungi petugas hotel. “Mobilnya akan siap tiga puluh menit lagi, Pak.”
“Terima kasih.” Sam memutar tubuh dan kembali menarik tanganku masuk ke dalam lift. Menuju lantai teratas tempat dimana kamar kami berada.
Begitu aku dan Sam sampai, aku langsung menarik tanganku. “Sam.” Aku menatapnya.
Sam menghela nafas, aku tahu dia kesal tapi haruskah dia melampiaskannya padaku? Kalau memang iya, benar-benar kekanakan sekali dia.
“Sam.” Aku memanggilnya lagi, dan dia hanya menoleh tanpa menjawab. “Berenang yuk.” Ajakku.
“Kamu aja. Aku mau nge-gym.” Ujar Sam lalu meninggalkanku begitu saja.
What the hell!!
Sepertinya Sam benar-benar marah. Hm.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Nggak tahu deh mau bilang apa lagi, pokoknya aku kesel !!
Aku udah up lho, udah aku tunggu semalaman belum lulus riview juga... Sampai aku tambahin saru part lagi nih.
Tau deh, bisa cepet up apa enggak.
Jadi please jangan tanya kapan up ya. Tunggu aja, aku disini juga berusaha.
salam cinta dari penulis amatir 😘
__ADS_1