
Sebelum hepi reading..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
love you all...
Happy reading !!
##
“Sam kayaknya sudah di rasuki malaikat deh.” Tentu saja aku segera menatap ke arah Mbak Sari setelah mendengar ucapannya tersebut.
Kalau sosok malaikat yang di maksud itu aku, tidak ada salahnya sih.
“Jangan seneng dulu kayak nggak tau sifat Sam aja. Ini masih pagi, nggak tau deh nanti siang bakalan berubah jadi apa, ya nggak, Del?” Mas Angga menatap ke arahku.
“Ya?” Aku terkejut mendapat todongan pertanyaan dari Mas Angga. Sembari menggaruk belakang telingaku, aku hanya bisa nyengir ke arah Mas Angga. “I-iya, Mas. Dia kan bunglon.”
Semoga saja aku tidak kualat ngatain pacar seperti itu. Eh, tapi kenapa sikapku jadi aneh begini sih? Bukankah lebih baik aku bersikap biasa saja supaya tidak menimbulkan kecurigaan.
“Mau kerasukan malaikat kek, mau bunglon kek. Gue nggak peduli, yang penting Pak Sam selalu nepatin janji kalo soal urusan traktir mah.” Aku memajukan bibirku ke arah Rizal, berani-beraninya dia mau morotin pacar orang.
“Tapi, ada yang aneh nggak sih?”
Kini tatapanku, Mas Angga, Mbak Sari dan Rizal beralih menatap Tiwi. Bocah kunyil yang sejak tadi hanya diam itu mendadak mengutarakan isi kepalanya. Kalau melihat dari raut wajahnya, Tiwi tampak sedang memikirkan sesuatu. Lalu tatapannya berubah serius ke arah kami.
“Kalian ngerasa nggak sih, dengan perubahan sikap Pak Sam?” imbuhnya
“Umm ... Gue lagi males mikir nih, kita dengerin hipotesis lo aja deh.” Ucapku yang di setujui oleh yang lainnya.
Tiwi melipat kedua tangannya ke atas meja. “Kalo menurut pengalaman yang gue pelajari, sikap seorang cowok yang tiba-tiba berubah drastis begitu. Kemungkinan hanya ada dua penyebabnya.” Tuturnya.
“Dua kemungkinan apa? Jangan ngawur deh lo.” Sanggahku cepat dan ucapanku tersebut berhasil mencuri perhatian teman-temanku.
“Kok lo sewot banget sih, Del. Santai dong, kalo gue gemes gue cium lho.” Sahut Rizal.
“Idih! siapa yang sewot, gue nggak ngerasa mengeluarkan nada sewot tuh Mas Rizal yang terhormat.” Pelototku ke arah Rizal.
Mas Angga melempar kertas ke arah kami. “Kalian ini mau debat sendiri atau mau dengerin pendapat Tiwi dulu?”
Sejujurnya sih aku berharapnya tidak usah ada debat-debatan deh. Takutnya nanti malah memancing ke hal yang tidak aku inginkan. Lagian kemampuan rekan perghibahan rekan seperguruanku ini sangatlah di luar batas, bahkan aku sendiri terkadang tak mampu melampaui kemampuan mereka.
“Cuuss lanjut, Wi!” Seru Mbak Sari.
Tiwi menghela nafasnya sesat. “Oke, kemungkinan yang pertama mungkin Pak Sam baru aja dapat uang banyak. Kemungkinan ini di dukung oleh pernyataannya yang ingin mentraktir kita makan.” Duh, alibinya sudah kayak detektif aja nih bocah. Aku hanya tertawa dalam hati. “Terus, kemungkinan yang kedua. Hm ... kayaknya aura Pak Sam seperti orang yang sedang jatuh cinta, deh.”
Deg!
__ADS_1
Aku hampir saja terkejut mendengar pernyataan Tiwi barusan. Gawat tuh bocah, sepertinya aku memang benar-benar harus hati-hati sama mereka semua. Kemampuan membaca ekspresinya benar-benar hampir tepat sasaran sekali. Untung saja aku pandai berakting, aku segera berpura-pura membuka file di layar komputerku sembari berdehem.
“Alibi lo yang kedua kurang kuat. Lo harus menyertakan bukti yang kuat untuk kemungkinan nomor dua.” Tukas ku sambil berpura-pura sibuk dengan layar komputer.
“Iya juga sih Mbak Adel. Tapi delapan puluh persen memang aura pria yang sedang jatuh cinta kebanyakan seperti itu. Semangat, bahagia dan mendadak berubah menjadi manis.” Ucap Tiwi yang terus saja mengungkap pendapatnya.
“Ck! Rizal tiap hari juga manis tuh, tapi bukan jatuh cinta melainkan modus doang.” Aku langsung melirik ke arah Rizal yang tengah menatapku.
“Yah, si kunyuk mah manis kalo mau pinjam duit doang, Del.” Ujar Mas Angga yang membuat kami tertawa.
##
Jam sudah menunjuk di angka 10 dan yang tersisa di ruangan ini hanya tinggal aku, Mbak Sari dan Mas Angga. Kami sibuk mengerjakan laporan bulan ini, hingga tak sadar kalau Pak Sam sudah keluar dari ruangannya dan berdiri di antara kami.
“Sudah sampai mana kerjaan kalian? Saya butuh itu secepatnya, nggak ada toleransi sama sekali.” Itulah ucapan Sam yang berhasil membuat aku kaget dan mungkin bukan hanya aku saja karena mengingat aku tak hanya sendiri di sini.
“Segitunya Sam, kasih lah toleransi sedikit buat jaga-jaga.” Ujar Mbak Sari.
“Jaga-jaga apa maksudnya?” tanya Sam.
“Ya kalo ada salah sedikit.” Jawab Mbak Sari pelan.
Braakk!
Suara gebrakan meja itu tiba-tiba terdengar menggema di ruangan ini.
“Saya bilang nggak ada toleransi! Itu berarti nggak boleh ada kesalahan, walau hanya sedikitpun!” Sam menatap ke arah kami bertiga satu persatu. “Adelia, tolong nanti jam 3 bawa laporannya ke ruangan saya.”
Hingga akhirnya jam pulang tiba, lima menit sebelum jam pulang aku mendapati sebuah chat masuk ke ponselku. Kalo biasanya aku akan bersikap biasa saja mendengar nada chatku berbunyi, tetapi tidak untuk kali ini. Aku menatap layar notifikasi dengan hati berdebar saat mengetahui nama dari sang pengirim.
Bos Kampret : masuklah ke ruanganku dulu sebelum pulang.
Aku langsung menutup kembali layar ponselku lalu berdehem pelan.
“Kalian duluan aja ya, gue mau ke toilet dulu.” Ucapku berbohong
“Ok, oh ya ... kalo ketemu Sam bilang kita tunggu di bawah ya, gue takut mau masuk ke ruangannya. Nanti di kira gue ngarep banget lagi sama traktiran dia.” Ucap Mbak Sari yang berhasil membuatku mendengus.
“Lah, bukannya emang iya ya, Sar.” Mbak Sari melotot ke arah Mas Angga dan hal tersebut berhasil membuatku tertawa begitu saja. Ya begitulah kelakuan Emak sama Bapak di divisi ini.
Setelah keadaan aman aku segera beranjak dari kursiku, tak lupa aku mematikan lampu terlebih dahulu supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Takutnya kalau mereka semua sudah sampai di luar terus lihat lampu ruangannya masih menyala nanti di kira ada apa-apa lagi.
Aku segera mengetuk pintu ruangan Sam lalu membukanya perlahan. Aku sedikit mengintip terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam dan anehnya aku tak melihat Sam ada di kursinya. Makanya aku langsung masuk begitu saja untuk memastikan keberadaan Sam. Aku langsung menutup pintunya dan seketika terkejut karena Sam yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku begitu aku membalikkan badanku.
“Sam ...” aku reflek mengelus dadaku karena menyadari kerja jantungku yang sedikit mengeras karena ulah Sam.
“Kenapa?”
__ADS_1
Astaga, ternyata manusia ini setelah menjadi pacarku sifatnya tetap sama saja ya. Tidak berubah sama sekali masih menjengkelkan. Sudah tau orang kaget, masih di tanya kenapa lagi hm.
“Kamu bikin aku kaget.” Ujarku
Sam tersenyum tipis dengan mata memandang ke arah wajahku. Dan tentu saja sikapnya mampu membuatku tiba-tiba merasa sesak. Sam mengangkat daguku ke atas sehingga kini pandangan kami saling bertemu.
“Maaf.” Ujarnya singkat.
Hanya mendengar satu kata singkat tersebut mampu membuat hatiku berdesir aneh. Dan percayalah ini sangat menyiksa.
Aku segera menangkis tangannya. “Ayo buruan keluar, udah di tunggu anak-anak. Lagian ngapain pakai nyuruh ke ruanganmu segala sih?” Aku melipat kedua tanganku ke depan.
Lagi-lagi Sam hanya tersenyum.
“Nggak apa-apa pengen berdua aja sama kamu.” Ujarnya dengan nada menggoda.
Aku pukul boleh tidak sih? Kenapa harus manis begitu sih ucapannya, jujur aku lebih suka Sam berkata seperti biasanya saat ini di banding berkata manis begitu.
“Sam ... jangan ngaco deh. Buruan nanti keburu ketahuan lho.” Aku melotot ke arahnya.
Sam kini malah menundukkan wajahnya hingga tepat sejajar dengan wajahku. Ya ampun, jangan salahkan diriku kalo aku reflek memukul wajahnya.
“Lagian kenapa sih, Del. Kamu pakai minta ke aku agar hubungan ini di rahasiakan? Kenapa kita nggak bilang aja ke mereka langsung? Sekarang, kita sendiri kan yang susah. Aku jadi nggak bisa bebas ngobrol sama kamu.” Sam berucap panjang lebar.
Tunggu dulu ... Bukankah pernyataan Sam barusan mengatakan kalo hanya dia saja kan yang susah karena tidak bisa ngobrol sama aku. Haha aku tertawa dalam hati. Dasar manusia ini benar-benar membuatku makin heran saja dengan sikapnya.
“Perlu aku ulang alasan kenapa kita harus rahasiain hubungan kita.” Aku menatap Sam dengan wajah serius. “Yang pertama, aku masih ingin bekerja di sini dengan keadaan damai. Yang berarti, aku masih ingin bekerja setiap hari dengan kondisi sama seperti biasanya, tanpa ada gosip dan beragam pertanyaan mengenai masalah pribadiku. Pokoknya aku mau kerja di kantor ini dengan damai. Titik!" aku memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan ucapanku.
"Yang kedua, kamu tau kan mulut mereka itu ember. Apa jadinya kalo mereka tau soal hubungan kita, kamu mau buat aku gila dengan berhadapan sama mulut kampret mereka setiap hari. Sam ... mereka bisa saja setiap saat ngatain aku, setiap ucapan, setiap pandangan, setiap gerakanku pasti bakalan menjadi bahan gosip buat mereka.” Aku menghela nafas sesaat sembari menatap Sam.
“Dan yang lebih parah, mungkin nafasku juga nggak akan bisa setenang seperti sebelumnya kalau semua orang di perusahaan ini tau aku dan kamu pacaran.”
"Dan yang ketiga, bukannya kamu tau sendiri kan kalo peraturan di Perusahaan ini melarang setiap karyawan menjalin hubungan dengan rekan kerja maupun atasannya. Dan kamu tau juga kan, apa konsekuensinya? Salah satu dari kita harus ada yang keluar."
Aku melihat seutas senyum itu kembali menghiasi wajah Sam lagi dan kini dia semakin menundukkan wajahnya ke arahku. Mau ngapain dia? Duh jantungku berdetak tak karuan setelah nafasnya mulai mengenai wajahku.
Jangan sekarang Sam ... please.
“Jadi, kamu benar-benar mau pacaran diam-diam sama aku?” Tanyanya pelan.
Aku mengangguk pelan seraya menggigit bibir bawahku saat Sam tak kunjung merubah posisinya saat ini. Cukup lama kami bertahan di posisi seperti itu, hingga akhirnya sebuah chat dari Rizal mengacaukannya. Hah mengacaukan? Berarti aku tadi sempat mengharap lebih dong.
Duh ... ngomong apa sih aku?
##
Yaah ternyata Pak Sam sama Adelia harus back street macam anak ABG yang takut ketahuan pacaran sama Bapak Ibunya.. wkwkwkwk
__ADS_1
Sabar ya..
Salam dari penulis amatir ❤️