
Hai apa kabaarr ??
Masih semangat kan buat lanjut ?
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya ya guys!!
Happy reading!!
##
Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi tertawa keras saat ku sudah selesai menceritakan kejadian yang ku alami siang kemarin. Aku sengaja tak bercerita langsung saat kembali ke kantor. Karena ku pikir aku masih butuh persiapan, kalo saja mereka akan menghujat, meledek dan menertawakanku seperti yang mereka lakukan saat ini.
“Harusnya lo kemarin mandi kembang dulu ,Mbak. Terus berdoa, biar nggak sial-sial banget.” Saran Tiwi.
“Atau lo ajak Rizal aja kemarin, siapa tau tuh cowok kecantol sama Rizal, kan? Nggak jodoh buat lo gak pa-pa lah, yang penting bisa buat teman.”
“Enak aja lo, Mbak! Gue seribu persen normal, kalau pun seandainya di dunia udah nggak ada cewek. Gue rela gerakin tangan gue sendiri, dari pada harus sama cowok terong!” Kami semua tertawa mendengar ucapan Rizal. Terbukti kan, pasti si Rizal sudah sering melakukan hal itu. Dasar kaum colay, wkwkwkwk
Mas Angga geleng-geleng, “lagian gue penasaran deh, gimana rasanya kencan sama cowok maho begitu?”
Kencan? Hah, bahkan kemarin itu ku anggap tak masuk dalam kategori kencan. Si Joe itu datang, sebenarnya hanya untuk mengenalkan kalo dia punya cowok. Cowok ya, najis rasanya mau bilang pacar. Aku bergidik mengingat kejadian kemarin.
“Parah, Mas! Gue kalah memikat sama cowoknya.” Mereka semua tertawa mendengar jawabanku.
“Gue heran ya, kenapa dia lebih milih Terong ya dari pada Apem? Dan yang gue lebih heran lagi, kenapa harus lo sih, Del. Yang ketemu sama cowok itu? Kan gue makin kasihan sama lo, masih jomblo ngenes lagi. Be strong, jomblo ngenes.” Aku melotot ke arah Rizal, kenapa sih mulutnya ngeselin banget. Bikin aku makin merasa kasihan sama diriku sendiri.
“Pagi semua.”
Aku segera menoleh ke sumber suara, lalu meringis kaku. Bagaimanapun juga, kemarin Pak Sam merupakan saksi pertemuanku dengan Joe. Aku dan teman-temanku segera menyapa dan memastikan kalo yang berjalan masuk ke ruangan itu adalah Pak Sam.
“Moodnya lagi baik kayaknya.” Ujar Mbak Sari.
“Padahal gue udah deg-degan, kalo sungutnya bakal keluar.” Imbuh Rizal.
Mas Angga tersenyum, “udah ah, mending kita kerja dulu. Sebelum Sam berubah mood.”
“Nah... gue setuju sama Mas Angga, nggak usah pada kaget kalo Bos Kampret itu tiba-tiba berubah. Anggap aja dia bunglon.” Kataku meluruskan.
Lagian kalo sikap Pak Sam tiba-tiba berubah alangkah lebih baik kalo kami tidak terlalu terlena olehnya. Takutnya kalo semua itu hanyalah kamuflase.
“Nggak mau ah, gue gak mau anggap Pak Sam bunglon ,Mbak. Kalo gue anggap calon suami gimana?” Tiwi nyengir ke arahku.
“Terserah lo! Asal jangan nangis ya kalo Pak Sam kecantol duluan sama gue.” Aku tertawa nyaring lalu menghidupkan komputer ku.
“Duh, yang mau merubah nasib. Setelah harga dirinya di injak sama cowok Terong.” Celetuk Rizal.
Tentu saja itu membuat Tiwi, Mas Angga dan Mbak Sari terpaksa menahan ketawa sembari melirik ke arahku. Dasar Rizal kampreett!!
##
Sudah sejak jam dua siang tadi aku merasakan kantuk yang sangat tak tertahankan. Padahal aku sudah membuat kopi. Tetapi, mulutku masih saja terus menguap. Entah kenapa, sejak aku mulai bekerja, aku mulai beranggapan jam kritis mengantuk bagi seorang pekerja itu di mulai dari Pagi sekitar jam 10, bahkan ada yang baru masuk ke kantor juga sudah menguap aja mulutnya. Kemudian siang, ya sekitar jam segini lah sekitar jam dua.
Aku merasa gravitasi mata untuk terpejam benar-benar kuat di jam tersebut.
__ADS_1
Di tambah, ini kaum ghibah dari tadi terlihat anteng saja. Tapi maklum sih, soalnya selesai istirahat tadi Pak Bos memberi pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum jam pulang nanti.
Atau jangan-jangan mereka juga menahan kantuk, sama sepertiku.
Aku benar-benar mengantuk!
“Wooaaahhh...”
“Ngantuk Del?” Mendengar dan menatap sumber suara itu membuatku merasa kesulitan menutup mulut yang sedang terbuka lebar ini.
Tiba-tiba Seisi ruangan langsung melirik ke arahku.
“Mau saya kasih cara agar nggak ngantuk terus?” Tanya Pak Sam lagi.
Duh, Pak Sam kenapa harus lihat pas aku menguap sih? Mana pas mangap lagi mulutku. Malu aku tuh, tapi bukan malu karena ketahuan mengantuk dan menguap. Lebih tepatnya, malu karena ketahuan gimana jeleknya mukaku tadi saat menguap dengan mulut terbuka lebar? Dan Pak Sam melihat itu. Mau taruh di mana ini muka? Besok kalo ku tinggal di rumah aja boleh nggak sih?
“Emh...” Aku menggaruk belakang telingaku yang sebenarnya sama sekali tak gatal. “Maaf Pak.”
Pak Sam masih menatapku dengan datar. Dan aku semakin bingung karena nggak bisa menebak kalo ekspresinya datar begitu.
“Sekarang kamu berdiri.” Suruh Pak Sam.
“Bapak mau hukum saya?”
“Udah lah Del, tinggal berdiri doang. Atau perlu gue bantu pegangin tangan lo, kalo nggak sanggup berdiri.” Aku hanya berdecak. Ini lagi si Rizal kampret, kenapa ikut-ikutan nyaut aja sih.
Kan sekarang semuanya jadi ngetawain aku.
Rasain kalian!!
“Saya di suruh ngapain, Pak?”
“Kamu nggak denger tadi saya bilang apa?” Pak Sam melipat kedua tangannya. “ Tolong nanti setelah pulang, kalian antar Adelia ke dokter THT, ya? Sebelum berlanjut lebih parah lagi.”
Ya ampun, Bos kampret mau ngatain aku budeg nih ceritanya. Ok Pak, fine. Gak apa-apa saya ikhlas, dan semoga besok gantian Bapak ya yang budeg.
“Iya Pak, tadi saya denger.” Sahutku kesal. Aku langsung berdiri dengan raut wajah kesal.
“Sini maju, berdiri di tengah.” Mendengar instruksi Pak Sam, membuat perasaanku seketika merasa tak enak. “Siapa di sini yang bisa tiruin gaya monyet?” lanjutnya bertanya.
“Rizal Paaaak!!” Kami semua kompak menjawab dan menunjuk ke arah Rizal.
Rizal menatap kami satu persatu sembari mengacungkan jari tengahnya, lalu dia tersenyum ke arah Pak Sam. “Begini Pak.” Rizal membuat gerakan satu tangan di atas dan satu tangannya lagi di belakang. Namun masih dalam posisi duduk.
“Salah! Kamu mau menirukan monyet atau orang sakit, Zal.”
“Begini Pak...” kali ini Tiwi yang angkat tangan. Dia mengikuti gerakan Rizal, di tambah dengan suara, “Uuk... uuk... Uuk...”
“Uuk...Uuk... apaan? lo kira anjing tetangga.” Sahut Mas Angga yang membuat kami semua tertawa.
Aduh Tiwi ada-ada saja. Lagian sejak kapan monyet bersuara uuk... uuk...
“Salah, Wi... yang bener tuh. Uuk-aak uuk-aak.” Jawabku membenarkan.
__ADS_1
“Terus gayanya gimana?” Aku langsung menatap Pak Sam.
“Ya beginilah.” Dengan bodohnya aku mempraktikkan gaya seorang monyet, di tambah dengan suaranya, “ uuk-aak uuk-aak.”
“Nah... nah seperti itu. Bagus Del, ayo lanjutkan. Lima belas menit sanggup kan?”
Seketika aku menghentikan gerakan dan suaraku. Kemudian aku mulai melirik ke arah Rizal, Mas Angga, Mbak Sari dan Tiwi satu persatu. Ku lihat semua tangan mereka membekap mulutnya masing-masing, seolah berusaha menyembunyikan gelegar tawa yang akan mengalahkan kerasnya suara petir.
Dan yang terakhir, tatapanku jatuh ke arah Pak Sam. Dan di situlah aku baru menyadari kalo manusia kampret itu telah mengerjaiku. Aku justru berharap, aku bisa berubah menjadi monyet sungguhan untuk beberapa saat ke depan. Agar aku bisa mengamuk dan mencakar-cakar muka Bos Kampret itu, tanpa harus memperdulikan ketampanan dari wajahnya sedikitpun!
Sial!!!
“Bapak ngerjain saya?” Tanyaku setengah emosi dan sebentar lagi akan berubah full emosi.
“Saya nggak ngerjain kamu, orang kamu sendiri yang mau begitu kok. Tanya aja sama yang lainnya, ya kan?”
“Betul Pak...” Dan mereka semua kompak menjawab serupa.
Ok, Fine !!
“Lagian berkat kamu kita jadi nggak mengantuk lagi lho, Del.” Pak Sam tersenyum sedikit, faak!
“Bapak ngeselin banget sih!” Kataku setengah berteriak.
“Ngeselin gimana? Saya hanya diam dari tadi. Lagian kamu sendiri kan yang inisiatif menirukan gaya monyet?”
Aku merasa memang dari awal Pak Sam memang sengaja ingin membuatku jadi bahan lelucon.
“Pak!!” Aku masih berteriak kesal.
“Saya dan teman-teman kamu ingin berterima kasih, karena berkat kamu kami jadi nggak mengantuk lagi.”
“Pak Sam, stop!” Aku semakin berteriak dengan penuh emosi.
Pak Sam sedikit terkekeh. “Oh ya, kalo kalian masih mengantuk silahkan suruh Adelia goyang monyet lagi ,ya?” Dan manusia kampret bin ngeselin titisan setan itu langsung berjalan masuk ke ruangannya tanpa merasa berdosa.
“Paakkk!!!!!” Aku berteriak nyaring sekali.
Nggak peduli kalo sampai satu gedung mendengar suara teriakkan ku. Bos bernama Sam itu benar-benar menjatuhkan harga diriku di depan manusia-manusia yang tak kalah kampret darinya ini. Dan kini mereka tengah menikmati ngakak berjamaahnya.
“Del, gue masih ngantuk.” Ucap Mbak Sari .
Aku mendengus sembari menghentak-hentakkan kakiku ke lantai. Lalu berjalan ke mejaku lagi. Aku menggebrak meja ku keras dan menendang tempat sampahku hingga isinya berhamburan.
“Gawat, monyetnya ngamuk.” Celetuk Rizal yang membuat mereka kembali tertawa.
Aku melotot dengan nafas memburu, keterlaluan syekalee!!
“Bangsaaattt!!!”
##
Adelia di bikin apes mulu ya sama Pak Sam.. kalo gue jadi Adelia udah gue dukunin tuh Bosnya, biar kepincut sama gue hahaha...
__ADS_1