
Selamat siang semua.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Sam berjalan keluar dari lift terlihat dia tampak sibuk dengan panggilan teleponnya pagi ini. Bahkan aku dan teman-temanku yang sudah siap menyambut kedatangannya pun malah di lewati begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Kami bukan karyawan tak kasat mata lho ya.
Sam sudah sampai di depan pintu ruangannya, aku dan yang lainnya langsung berniat untuk duduk kembali. Belum sempat pantat ini menyentuh kursi suara Sam berhasil membuatku langsung berdiri kembali. Bukan hanya aku tapi semuanya aku rasa juga langsung kaget dan berdiri.
“Adelia masuk ke ruangan saya sekarang.” Perintahnya tanpa ekspresi, aku hanya mengangguk setelah itu Sam masuk ke ruangannya.
Ada apa pagi begini sudah ada perlu denganku? Perasaan scedule hari ini free.
“Anjiir! Kayaknya gue lama-lama bisa mati muda deh.” Celetuk Rizal sambil mengelus dada.
Aku hanya melengos lalu menepuk kepalanya dengan sebuah buku. “Ingat, omongan itu doa lho. Siapa tau pas lo ngomong tadi malaikat lagi lewat terus di catat.” Ucapanku berhasil mendapat persetujuan dari yang lainnya.
“Jahatnya ... Ok, kalau gitu gue ganti.” Rizal tersenyum jenaka ke arahku. “Kayaknya lama-lama gue bisa nikah sama elo.”
“Mending lo benaran mati aja deh, Zal. Gue kasihan lihat elo, masih muda tapi suka banget jadi fakir asmara.” Cibir Mbak Sari.
Aku, Mas Angga dan Tiwi langsung tertawa. Ada-ada aja sih dapat kata-kata dari mana coba fakir asmara.
“Kalau Rizal jadi fakir asmara kita yang repot, Sar, kita harus ngasih sumbangan ke dia.” Imbuh Mas Angga dan tentu itu semakin membuat ruangan ini semakin heboh.
“Ya, nggak apa-apa lah gue jadi fakir asmara yang penting gue bukan pengemis cinta.” Rizal berdiri dan merentangkan tangannya ke atas bersamaan dengan kalimatnya barusan. Dan bisa kalian bayangkan dia melakukan itu dengan penuh dramatis. Sumpah ya aku pengen banget nampol wajahnya.
Aku dan yang lainnya tak kuasa menahan tawa bahkan aku sampai menepuk-nepuk buku karena gemasnya. Rasanya saat ini juga aku ingin langsung menemui orang tuanya Rizal supaya mereka segera memanggil ahli psikiater, otak anaknya kayaknya sudah benar-benar sedikit kehilangan fungsi.
“Adelia!” seru Sam.
Aku yang tadinya masih asyik tertawa langsung menahan nafas begitu mendengar panggilan dari Sam.
Kebiasaan.
Aku dan yang lainnya selalu melakukan kebiasaan buruk yaitu melupakan keberadaan Bos kami. Padahal belum ada lima menit si Bos memberi perintah bisa-bisanya aku dan teman-teman asyik bercanda. Resiko deh kalau sekarang urat lehernya Bos jadi keluar.
“Saya tidak suka mengulang perintah!” Sam kembali menutup pintunya keras. Aku langsung bisa bernafas lega dan tentunya semua teman-temanku juga melakukan hal yang sama denganku.
“Lunakkan sedikit hati calon pacar hamba Ya Allah.” Aku langsung mengernyit ke arah sumber suara yang tak lain dan tak bukan adalah Tiwi.
Seperti biasa aku mengetuk pintu ruangan si Bos kampret ini sebelum aku memasukinya. Nanti di kira tak sopan lagi sebagai anak buah, eh ... Tapi kan aku pacarnya ya. Hm, sepertinya aku harus membuat perhitungan dengan Sam.
“Ada apa, Pak?” tanyaku begitu sudah menghadap yang mulia kampret.
Sam menatapku dengan serius bahkan kilatan matanya langsung menembus ke dadaku. Uh ... Kuatkan hamba Ya Allah.
“Sabtu besok aku mau mengajak kamu ke Bali lagi, kamu mau kan?” aku mengedipkan mataku dua kali ketika mendengar ucapan Sam barusan. “Sabtu besok Bunda ulang tahun dan rencananya mau membuat perayaan kecil-kecilan.”
Mataku berkedip lagi dua kali, aku menatap Sam lalu meringis kaku. “Jadi kamu panggil aku ke sini Cuma mau ngomongin ini?”
“Iya.” Ujarnya. Wao ... tak merasa berdosa sekali manusia ini.
__ADS_1
Aku langsung berkacak pinggang dengan mata melotot. “Jadi Cuma karena ini kamu panggil aku ke ruangan kamu.” Ulangku sekali lagi. “Memangnya nggak ada waktu lain untuk membicarakan hal ini.”
“Tidak.” Sahut Sam cepat dengan menggerakkan jari telunjuknya. Dan hal tersebut berhasil membuatku semakin emosi.
“Sam! Kamu tahu nggak sih, kalo Cuma mau membahas masalah ini nanti sepulang kerja juga bisa. Kenapa harus pagi-pagi begini? Apalagi tadi kamu menyuruhku dengan aura yang tak bisa aku mengerti, bahkan jantungku tadi rasanya hampir mau copot kamu teriaki, gara-gara aku masih ngobrol di luar.” Nafasku sedikit memburu setelah meluapkan emosi di depan Sam.
Sam menatapku dengan satu alis terangkat lalu mendengus kecil. Ia segera berdiri dan berjalan menghampiriku, kini dia sudah berhenti tepat di hadapanku dan langsung menunduk hingga wajah kami kini saling berhadapan.
“Kenapa kamu cerewet sekali?” ujarnya dengan wajah datar.
Apa katanya? Mataku semakin membulat dengan bibir komat-kamit.
Sam sialaan!!
“Terserah deh, terserah kamu.” Akhirnya aku mengalah. Memang begitu kan seharusnya yang waras mengalah, dan langsung berniat untuk keluar dari ruangannya saat ini juga. Namun ketika aku membalikkan badan Sam langsung menarik lenganku kembali.
Sam membawaku ke pelukannya, ia mengusap rambutku dengan lembut lalu mengecup pundak kepalaku. Aku segera mendongak dan menatap Sam dengan tatapan heran, dan Sam segera mendekapku lagi ke dalam pelukannya.
“Kamu jangan cerewet begini ya kalo sama laki-laki lain. Karena aku nggak akan pernah rela jika wajah menggemaskan ini di lihat laki-laki lain.” Ucapnya sambil mencubit hidungku.
Deg.
Ada sedikit rasa berbunga di hatiku. Apa katanya menggemaskan, ternyata aku menggemaskan juga di mata Sam.
Tidak boleh! Aku tidak boleh luluh dengan rayuan mulut Sam kampret ini. Aku kan sedang marah kalau aku tersipu nanti dia kira aku tidak marah lagi. Tak akan aku biarkan.
Aku segera mendorong dada Sam lalu menatapnya dengan tatapan bengis, setelah itu aku langsung melengos dan keluar dari ruangannya.
Sampai di luar aku langsung bersandar di pintu ruangan Sam sambil mengibas-ngibaskan tanganku. Panas sekali, semakin hari semakin berbahaya mulutnya.
“Del, lo kenapa?” aku langsung menatap ke sumber suara dan terlihat Rizal, Mas Angga, Mbak Sari dan Tiwi tengah menatapku dengan terheran-heran.
•••
Tepat pukul enam aku dan teman-temanku sudah bersiap untuk pulang. Seharusnya tadi bisa pulang lebih awal lagi, tapi gara-gara si Bos super perfect itu yang kayaknya tidak rela jika anak buahnya menikmati indahnya pulang di temani sang senja. Jadi, kami bari pulang sekarang.
Ck!
“Sebenarnya Sam itu baik apa kebangetan ya, orang jelas-jelas nggak ada kerjaan masih di suruh pulang jam enam. Berasa makan gaji buta banget kan kita?” Mbak Sari membuka percakapan ketika masuk ke dalam lift.
“Baik kali, Mbak. Dia tahu kalau anak buahnya keseringan pulang awal dan nggak ada lemburan jadi banyak hutang.” Sahut Tiwi yang justru langsung mendapat tatapan tajam dari yang lainnya.
Mulut bocah kalau ngomong memang berasa tak ada dosanya ya, jujur banget.
“Ya udah deh gue makan gaji buta juga nggak apa-apa. Toh, juga perintah dari Bos.” Ucap Rizal.
“Heh! Kalian nggak ada kapoknya ya? Masih aja ngomongin Bos nanti orangnya tiba-tiba muncul lagi lho.” Gertak ku.
Aku hanya malas saja setiap hari harus mendengarkan mereka membicarakan Sam. Tak taukah mereka kalau aku ini pacarnya? Dan dengan kampretnya mereka berbicara yang aneh-aneh tentang pacarku. Jelas aku bingung di dalam lubuk hatiku, aku merasa kasihan dengan Sam. Bisa panas kupingnya kalau setiap hari di omongin terus, dan di sisi lain aku juga harus pura-pura memihak mereka.
Ah, whatever!
“Mana mungkin jelas-jelas ini di lift.” Elak Rizal.
Mas Angga mendengus, “belum tau lo, siapa tau Sam tiba-tiba muncul dari tembok. Bos kan selalu bisa melakukan apapun, hahaha.” Dia tertawa di ikuti dengan yang lainnya.
Aku pun terpaksa harus ikut tertawa hingga pintu lift akhirnya terbuka dan ... Seketika tawa kami langsung berhenti dengan mulut masih terbuka lebar. Begitu pintu lift terbuka ternyata sosok Sam sudah berdiri di depan pintu lift sambil melipat kedua tangan nya.
Sam benar-benar tukang sihir ya?
__ADS_1
Mas Angga tertawa garing. “Ha-ha, Sam mau pulang juga atau mau balik kerja?” dia berjalan keluar dari lift di ikuti yang lainnya termasuk aku.
“Mau pulang tapi masih ada yang ketinggalan di ruangan.” Sam tersenyum tipis lalu masuk ke dalam lift, ia terlihat melirikku sekilas dan aku langsung paham maksudnya.
Aku segera membuka ponsel dan benar kan dia sudah mengirim pesan padaku.
“BUNUH GUE!” Teriak Rizal histeris hingga mencuri perhatian dari karyawan-karyawan lain yang tengah lewat.
“Lo udah lupa sama yang gue omongin pagi tadi.” Sahutku cepat.
Rizal menatapku dengan wajah serius lalu beralih ke yang lainnya. “Kayaknya ini benar-benar teguran supaya kita nggak ngomongin Pak Sam lagi.”
“Lebay lo!” sahut Mbak Sari.
Sampai di luar gedung aku melihat langit masih tampak terang, siluet cahaya oranye masih terlihat menghiasi langit.
“Gue duluan ya.” Pamit Mbak Sari dan Tiwi bersamaan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Seperti senja.” Tiba-tiba Rizal kembali mencuri perhatian di halaman kantor ini, sumpah ya malu-maluin bahkan beberapa orang sudah menatapnya dengan heran. “Meski indah, namun cara dia meninggalkan begitu menghanyutkan hingga bekas luka yang tertinggal sulit untuk di sembuhkan.”
Anjiir!
“Mas, lo cepet bawa Rizal pergi deh, udah kumat tuh gilanya!” seruku ke Mas Angga, dia langsung menggeret Rizal dengan paksa meninggalkan halaman kantor ini.
Ck! Sweet juga mulut Rizal kampret. Pantas saja banyak yang mau jadi gebetannya, dasar.
##
Sam melajukan mobilnya ke arah rumahku dengan kecepatan rata-rata. Sejak aku masuk ke mobil ini sampai di perjalanan, aku dan Sam masih saling membisu. Ingat, aku masih harus berakting kesal dengan Sam. Kalau aku mengajaknya berbicara terlebih dahulu bisa besar kepala dia nanti.
Dan sialnya, Sam malah dengan senang hati membiarkan ku bergelut dengan aktingku ini. Ck!
Ponselku berbunyi, satu pesan masuk.
Mama : Ajak Sam mampir dulu. Mama sudah masak buat dia.
Aku langsung menggigit jariku gemas. Kenapa Mama mengirim pesan seperti itu? Kenapa harus di saat aku sedang pura-pura marah seperti ini. Duh, selamat tinggal harga diri.
Mobil Sam sudah berhenti di depan rumahku dan aku masih tak bergeming dari posisiku. Sam memutar posisi duduknya hingga dia menatap ke arahku, satu alisnya terangkat lalu perlahan dia tersenyum.
Kampret!
Kenapa harus tersenyum.
Bilang, jangan, bilang, jangan, bilang. Ah ... Benar-benar menjengkelkan gengsi aku tuh. Apa aku bohong saja ke Mama kalau Sam sibuk dan tidak mau mampir. Tapi mana mungkin aku bisa bohong, sudah terlalu banyak dosa yang aku buat, aku tak mau lagi menambahnya.
Aku menggigit bibirku sembari sesekali melirik Sam yang bahkan juga masih diam dengan wajah tersenyum itu. Hih! menyebalkan, aku sudah tak tahan.
“Sam ...” bodo amat sama gengsi. “Mama nyuruh kamu mampir makan malam dulu di rumah.”
“Ok, yuk kita turun.” Sam kian tersenyum dan itu semakin menjengkelkan.
Aku langsung keluar dari mobil Sam tanpa menunggu dia membukakan pintu untukku. Begitu sampai di luar aku langsung menutup pintu mobil Sam menggunakan kakiku dengan sangat keras,
Duuaakk!!
Sam mengerutkan alisnya ke arah ku tapi hanya ku balas dengan dengusan.
__ADS_1
Bodo amat! Kalau tidak bisa mengamuk ke dia setidaknya masih ada mobilnya sebagai sarana pelampiasan kan. Ck, sorry ye mobil mahal!