My Boss Samuel

My Boss Samuel
71. Pertengkaran


__ADS_3

Hallo semua?


Sudah tak sabar menunggu?


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Ternyata benar ya, orang yang paling kita cintai memang biasanya yang paling paham bagaimana caranya menyakiti.


.


.


--


“Aroon.”


Aku terkejut ketika tiba-tiba Aroon muncul di depanku. Dia tampak bingung menatap ekspresiku saat ini.


“Kenapa di sini, Del?” Tanyanya.


Aku sedikit gelapan, bagaimana aku akan menjawab. “Ng ... Anu, tadi haus tapi sekarang enggak jadi.” Aku menggigit bibir bagian dalamku keras. Semoga saja Aroon sedang tak ingin masuk ke dalam dapur.


Tapi ...


Dugaanku salah, Aroon maju selangkah ke pintu dapur dan langsung berhenti. Aku pun berusaha mengikuti langkahnya dan apa yang baru saja aku lihat langsung membuat hatiku seketika luruh. Kakiku terasa lemas, bahkan sekarang aku sudah menyandarkan tubuhku ke tembok lagi. Ada rasa yang menusuk hatiku dan membuat jantungku terasa berhenti berdetak.


Tuhan, aku berharap ini hanyalah mimpi burukku.


Tetapi kenyataan menyadarkanku setelah Aroon kembali menatapku. Wajahnya tampak biasa saja berbeda denganku yang penuh dengan kebingunan.


“Lebih baik kita langsung menyusul Kai saja, yuk!” Aroon berusaha menggandeng tanganku. Namun seketika aku langsung tersentak. Aku refleks menarik tanganku dan menatap Aroon dengan penuh tanda tanya.


Dia juga melihat kejadian barusan kan? Kenapa dia hanya bersikap biasa saja? Seolah hal tersebut sudah biasa di matanya. Apa maksud semua ini, aku tak mengerti. Aku butuh kejelasan.


“Del lebih baik kita~” aku langsung memotong ucapannya.


“Ar ...” kataku dengan suara sedikit keras, aku yakin dua orang yang ada di dalam dapur kini bisa mendengar keributan yang terjadi antara aku dan Aroon. “Aku bisa pergi sendiri.”


“Adelia.” Seru Sam yang langsung berlari menghampiriku.


Aku menatap kehadiran Sam dan di belakangnya di ikuti Natalie. Kenapa wajah itu semakin membuatku terasa sakit? Sebisa mungkin aku menahan cairan bening yang mulai terasa menggenang di pelupuk mataku. Aku tak mau menangis di depan mereka, aku tak mau terlihat lemah.


“Adelia, kamu~” Aroon langsung menampik tangan Sam yang hendak menyentuhku.


“Biar Adelia sama aku.” Tanpa menunggu persetujuan dariku, Aroon langsung menarik lenganku menjauhi dapur dan menjauh dari Sam dan juga Natalie.


Lidahku terasa kelu, aku seperti kehilangan suaraku dan juga kekuatanku. Tubuhku mulai bergetar seiring dengan cairan bening yang jatuh membasahi pipiku. Aroon terus menarik ku entah kemana, tetapi bayangan yang aku lihat tadi masih begitu jelas di dalam ingatanku.


Jelas aku tak salah lihat bahkan aku yakin seribu persen Aroon juga melihatnya. Aku yakin dengan apa yang aku lihat ... Aku melihat Sam mencium pelipis kiri Natalie ketika Natalie menyendok ice cream ke dalam mangkuk. Aku jelas melihatnya bahkan mereka saling tersenyum. Apa arti itu semua? Kenapa aku tidak mengerti?

__ADS_1


Dan harusnya Aroon juga terkejut sama sepertiku, tetapi kenapa semuanya terasa aneh. Seolah kejadian tadi seperti hal yang biasa terjadi di dalam keluarga ini. Tetapi kenapa? Bukankah mereka ada ikatan saudara? Bukankah mereka keluarga?


Air mataku semakin deras mengalir, aku merasa seperti orang bodoh sekarang. Apakah aku yang baru sadar kalau ternyata keluarga Sam memang seperti ini? Mereka hanya mempermainkan perasaanku. Berusaha membuatku melayang lalu menjatuhkannya. Tapi kenapa? Sebodoh itukah aku sehingga aku di perlakukan seperti ini di keluarga ini.


Apa salahku?


Aku langsung menyentak tanganku hingga lepas dari genggaman tangan Aroon. Dia langsung terkejut dan menatapku bingung. Saat ini aku dan Aroon tengah sampai di ruang tengah.


“Aku bisa jalan sendiri, lebih baik sekarang kamu tinggalin aku.” Suara ku terdengar sedikit bergetar karena menahan tangis dan sesak di dalam dadaku.


“Aku nggak mungkin ninggalin kamu, Del.” Sekarang apa maksudnya, kenapa Aroon bersikap seperti ini apa dia mau sok peduli dengan kebodohanku. Apa dia diam-diam menertawakan aku juga?


ARRRGGH!


Kenapa seperti ini??


“Del dengarkan aku ...” Aroon berusaha menyentuh bahuku tetapi dengan cepat aku menampik apa yang hendak ia lakukan.


“Aroon!” Seruku sedikit keras.


Sedetik setelah itu satu pukulan mendarat di wajah Aroon, aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku menutup mulut dengan kedua tanganku lalu aku menatap Sam yang masih berdiri dengan nafas memburu.


“Kamu kenapa sih, Sam?” Aroon menatap Sam dan di sudut bibirnya kini terlihat ada sedikit luka akibat pukulan Sam.


“Jangan sentuh, Adelia.” Sam memperingatkan.


Aroon berdecih, “Aku hanya mau membantunya.”


Sam hendak melayangkan pukulan lagi ke wajah Aroon. Aku yang menyadari hal tersebut langsung berteriak. Aku sedikit merasa beruntung pertengkaran ini terjadi sekarang karena semua orang tua belum tiba di rumah ini.


“Del, dengarkan penjelasanku.” Aku menggeleng lalu pergi begitu saja meninggalkan Sam dan juga Aroon.


Aku berlari menuju kamar yang aku tempati selama berada di rumah ini. Sampai di dalam aku langsung mengambil koper dan memasukkan kembali semua bajuku ke dalamnya. Mungkin ini pilihan terbaik yang harusnya aku ambil dari tadi agar aku bisa segera pergi dari keluarga ini.


“Del, kamu jangan begini. Kamu kenapa? Aku bisa jelasin, Del ... Aku mohon.” Sam meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat.


“Lepas Sam! Aku mau pulang!” teriakku sambil menyentak kedua tanganku.


Sam menggeleng. “Enggak ... Kamu nggak boleh begini, Del, kita akan pulang bersama besok bukan sekarang.”


“Aku mau pulang sendiri sekarang, Sam. Nggak perlu kamu antar, aku bisa pulang sendiri!” Tegasku.


“Tapi kenapa?” Alisku berkerut mendengar pertanyaan Sam.


Haruskah dia menanyakan hal bodoh seperti itu?


Aku langsung menutup koperku dan menyeretnya keluar kamar, Sam terus mengikutiku dan memohon padaku agar aku tetap tinggal namun sekeras mungkin aku berusaha untuk tak memperdulikannya. Sam langsung memelukku begitu sampai di tangga bawah. Apa yang sedang di lakukannya sekarang, percuma semua yang Sam lakukan tak bisa mengobati rasa sakit yang terlanjur menggores lubuk hatiku. Justru aku semakin merasa sakit saat ini.


“SAM KAMU GAK DENGAR AKU BILANG APA?!” Aku berteriak sambil melepaskan pelukan Sam. “Aku mau pulang sekarang ... Tolong kamu ngertiin aku Sam.” Persetan dengan air mata yang tak bisa aku tahan ini, bahkan tubuhku sampai bergetar menahan tangis yang sebenarnya tak ingin aku lepaskan sama sekali. “Hatiku sakit, Sam, aku mau pulang ... SEMUA INI GARA-GARA KAMU!” Aku berteriak sejadi-jadinya di depan Sam saat ini.


“Maaf kalau aku sudah buat kamu sakit, Del.” Ucapnya lirih.


“Maaf kamu bilang?” aku menatap tajam ke arah Sam. “Kamu anggap aku apa sih Sam di sini, kamu menganggap aku sebodoh apa? Sampai kamu tega seperti ini.” Aku terus menyalahkan Sam karena hanya ini yang bisa aku lakukan.


Siaal!

__ADS_1


Sebisa mungkin aku menghapus air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipiku. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan keluarga ini.


“Kenapa kamu tega, Sam? Kenapa?!” aku terus meracau.


“Del ...” Sam berusaha menyentuhku namun secepat mungkin aku menghindar.


“Kenapa kamu dan Natalie ... Kenapa Sam? Aku lihat apa yang kamu lakukan.” Tiba-tiba dadaku terasa sangat sesak. “KAMU PIKIR AKU BODOH?! Jadi kamu bisa menyakiti perasaanku dengan cara seperti itu.” Sam mengerutkan alisnya ke arahku dan aku semakin benci melihat ekspresi dari wajahnya. “Apa salahku Sam?”


“Aku bisa jelasin.” Ujarnya.


“Aku nggak perlu penjelasan dari kamu, aku sudah melihat semuanya.” Aku mengusap lagi cairan bening yang kembali menetes. “Sudah puas kamu menyakiti aku?”


Aku memberanikan menatap Sam dan siaalnya dia juga menatapku. Dan tatapan itu ah ... Kenapa tatapan Sam seperti itu? Rasa di hatiku semakin ngilu ketika sorot mata kami bertemu.


“Maaf.” Ujarnya lirih.


Lagi-lagi dia hanya mengucap kata maaf dengan suara lirihnya, yang justru membuatku semakin sakit dan muak. Aku sudah tidak tahan.


“Aku mau pulang.” Pintaku sekali lagi. “Kalau kamu nggak mau mengantar aku pulang, aku bisa pulang naik pesawat sendiri ke Bandara malam ini.”


“Enggak, Del. Aku mohon jangan pulang sekarang.” lagi-lagi Sam memohon.


“LALU APA?! KAMU MAU APA?!” bentakku. Aku memejamkan mata sejenak lalu memijat pangkal hidungku. Aku berharap apa yang aku lakukan saat ini bisa mengurangi sedikit rasa gemuruh yang memuncak dalam dadaku.


Sam masih diam memandangku dengan tatapan yang sejak tadi membuatku benci sekaligus sakit. Aku hanya ingin pergi dari hadapan Sam secepat mungkin. Kenapa dia harus menahanku? Bukankah seharusnya dia puas karena sudah berhasil menyakiti perasaanku.


“Sam aku mau pulang.” Imbuhku lagi. Kini nadaku terdengar lebih pelan dan memohon, karena aku sudah tak tahu harus meminta seperti apa lagi supaya Sam bisa membiarkan aku pergi dari sini sekarang juga.


“Enggak, Del.” Sam menghirup nafasnya panjang. Ada jeda sesaat sebelum akhirnya dia memutuskan. “Ok, kalau kamu mau pulang. Kamu boleh pulang tapi besok pagi dan kamu harus pulang bersamaku.” Ujarnya kemudian.


“Besok?” aku mengerutkan kedua alisku.


Sam mengangguk. “Aku akan pesan tiket pesawat untuk besok pagi. Dan untuk sekarang, aku mohon tetaplah di sini.” Dia mulai mendekat memegang kedua bahuku lalu menatapku dengan sorot mengiba.


Ck! Apa tak ada yang bisa di lakukan Sam selain mengiba.


“Aku mohon ... Sayang, aku mohon.” Jangan begitu Sam, kamu hanya akan membuatku bertambah sakit. Aku mohon jangan membuatku bertambah sakit.


Aku terdiam sejenak, berusaha mengembalikan semua kesadaran yang aku miliki. Aku tidak boleh salah mengambil keputusan.


Ok, bukan berarti aku mengalah dan memaafkan Sam. Aku juga tak mau kepergianku yang mendadak ini akan menimbulkan tanda tanya dari Papa Carlisle, Kakek Robert, Bunda Eliza dan suaminya. Setidaknya malam ini aku bisa memikirkan alasan yang tepat terlebih dahulu sebelum pulang, karena dari awal rencana kembali ke Jakarta harusnya Minggu sore.


Aku tak menjawab, aku hanya mengangguk pelan sebagai respons yang aku berikan untuk Sam. Ekspresi Sam langsung berubah, dia hendak memelukku namun dengan tegas aku menolaknya. Aku terpaksa harus melakukan ini, karena mungkin saja saat tiba di Jakarta nanti hubungan kami sudah tak akan seperti ini lagi.


Kenapa hatiku terasa tersayat ? Apa sudah benar dengan apa yang aku pikirkan. Ah ... Tapi kenapa sakit sekali?


.


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED....


__ADS_2