
Selamat siang...
Balik lagi, jangan pernah bosan ya.
Jangan lupa juga Like, Vote dan Komen nya!!
Share juga boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Aku terperangah mendengar notifikasi dari ponselku. Mendengus sesaat lalu aku sipitkan mataku ke arah jendela, sepertinya mentari tlah menyambutku pagi hari ini. Aku beranjak duduk lalu mengambil ponsel yang berada tak jauh dari bantalku.
Satu pesan masuk.
Sayang : Morning.
Aku tersenyum membaca pesan dari Sam. Akhir-akhir ini dia memang sering mengirim pesan di pagi hari. Padahal dia sendiri yang selalu bilang kalau acara paginya itu di penuhi kesibukkan. Dan sebenarnya aku juga tak masalah jika Sam tak mengirimi ku pesan di pagi hari. Tapi ... Ya sudahlah, ini juga kemauan dia sendiri yang penting dia bahagia saja.
Dari pada dia marah. Kan?
Anda : Morning too.
Kali ini aku menggigit ibu jariku untuk melampiaskan perasaan yang mulai menggelitik dalam dadaku.
Sejak kejadian ponsel ku di rampas paksa oleh Sam. Ternyata diam-diam Sam sudah mengubah nama itu sendiri menjadi 'Sayang'. Awalnya, itu sedikit lucu ketika aku mengetahui perubahan nama tersebut. Tapi ternyata setelah aku gali lebih dalam, Sam memang lebih suka dengan kata tersebut di bandingkan dengan My Lovely, Honey, Sweet heart, Hubby, Papa, Mama .... No!! Hilangkan dua kata terakhir.
Simple!
Sebenarnya ketika ponsel itu di kembalikan, aku hanya ingin mengubahnya dengan nama Sam. Tapi niat itu segera ku urungkan karena Sam sendiri yang memberi nama tersebut. Bagiku ... Itu memiliki arti lebih.
Sekarang kita berpikir realistis. Bayangkan jika tanpa sengaja teman-temanku melihat nama Sam mengirimiku pesan dengan emoticon love atau panggilang sayang. Bukankah itu berbahaya bagi kehidupanku?
Secara logis, pemikiran Sam memang jauh lebih maju di banding aku. Haha.
Mungkin saat ini hanya bisa sebatas memanggil 'Sayang'. Tapi, siapa tau kalau nanti aku dan Sam menikah terus punya anak. Panggilan itu akan berubah sendiri kan menjadi Papa dan Mama atau Mommy and Daddy. Semoga.
Kalau, seandainya nanti takdir berjalan tak seindah dengan apa yang kita rencanakan. Tak ada salahnya kan kita mengucap semoga dalam setiap doa.
Say amin gengs. Amin.
•••
“Jadwal hari ini ada meeting dengan divisi pemasaran ya, Mas?” tanyaku ke Mas Angga. Bapak satu anak itu langsung menghentikan aktivitasnya lalu menatapku.
“Iya, gue juga baru ingat. Jam berapa ya?” tanyanya balik.
“Lo gimana sih, Mas. Gue kan nanya, kenapa lo tanya balik.” Tukasku.
“Makanya jangan kebanyakkan makan brutu ayam.” Sela Mbak Sari yang baru saja keluar dari ruangan Sam.
Mas Angga mencibir. “Nggak ada hubungannya, Sar. Yang namanya lupa udah sifat bawaan sejak lahir.” Aku mengangguk setuju.
Mbak Sari hanya melengos lalu berjalan ke tempat duduknya.
“Nanti jam sepuluh. Gue baru aja di kasih pesan sama Sam. Dan yang dia ajak meeting nanti elo.” Mbak Sari menunjuk ke arahku. “Sama Angga.”
Meeting dengan divisi pemasaran. Malas banget, ketemu sama Pak Arief yang genitnya minta ampun.
__ADS_1
“Lo gantiin gue deh, Mbak. Males gue.” Ucapku seraya membuka-buka dokomen.
“Kenapa? Lo takut nggak konsen ya kalau ada Pak Arief.” Mbak Sari mulai membuat ruangan ini panas.
Mas Angga tertawa. “Lo nanti duduk di belakang aja, Del. Biar aman dari tatapan Pak Arief.”
Aku bergidik geli membayangkan Pak Arief yang suka genit ke setiap wanita itu. Memangnya kalau sudah jadi Duda boleh genit begitu ya?
“Gue nggak yakin si Bos ngebolehin, secara dia selalu mengandalkan catatan notulen gue setiap meeting.” Ucapku jujur.
“Nah ... Kalo gitu lo minta tedeng aling-aling aja sama Sam.” Mbak Sari dan Mas Angga kompak tertawa. Aku hanya bisa mendengus, sebenarnya tanpa mereka suruh pun pasti aku akan mengambil inisiatif itu sendiri.
Masalahnya ini lingkungan kerja. Dan aku punya perjanjian dengan Sam yang tak boleh kita langgar ketika berada di lingkungan kantor ini.
Duh, nelangsa banget nasip lo, Del!
“Eh ... Yang udah pada ketawa. Baru juga di tinggal lima menit.” Ucap Rizal yang baru saja datang membawa minuman bersama Tiwi.
“Lima menit, gundulmu! Lo nggak nyadar ini sudah hampir setengah jam.” Omelku, “lagian Cuma buat minuman lima cangkir aja lama banget. Belok mana dulu?”
Rizal hendak menjawab tetapi langsung di potong oleh Tiwi. Sepertinya akan ada gosip baru yang di bawa Tiwi.
Tiwi melirik Rizal sekilas. “Tadi di pantry kita ketemu, Mira.”
Mendengar nama Mira, mata dan telingaku segera berubah menjadi lebih tajam dari biasanya. Aku menyimak dengan serius apa yang akan Tiwi ucapkan selanjutnya.
“Dan tau nggak apa yang buat kita lama?” Ujar Tiwi sambil menatap kami satu persatu. Dasar tinggal ngomong intinya saja pakai bertele-tele.
Aku berdecak. “Apa?” pertanyaanku berhasil mengundang tatapan mata dari semua temanku.
“Santai, Mbak. Jangan emosi sekarang, tunggu gue kelar ngomong baru lo boleh emosi. Soalnya gue tadi juga emosi banget! Kalo saja Mira nggak buat gue emosi mungkin saat ini Mas Rizal masih betah di pantry.” Jelas Tiwi panjang lebar.
Kepalaku sudah hampir meledak tapi Tiwi masih saja mengulur waktu.
“Mungkin aja!” Ucap Tiwi tak mau kalah.
Mbak Sari menggebrak meja. “Kalian mau bertengkar dulu atau mau lanjutin ceritanya? Gue tinggal minum dulu deh sama Adel dan Angga.” Perwujudan kekesalanku akhirnya tersampaikan juga.
Tiwi tersenyum. “Iya gue lanjut ya ...” dia menghirup nafasnya sesaat. “Tadi si Mira tanya-tanya ke kita soal Pak Sam. Rumahnya mana, punya pacar apa enggak. Dan tau nggak apa yang bikin gue tambah kesel.”
Astaga! Rasanya aku ingin segera mencekik leher Tiwi agar dia segera melanjutkan ceritanya.
“Lo pernah di pukul pakai PC komputer?” tanyaku dengan ekspresi dingin.
Tiwi tersenyum. “Belum pernah lah, jangan ya. Oke gue lanjut ... Dari ucapannya Mira, kayaknya dia itu pengen buat gue sama Mas Rizal menerka-nerka kalo dia sama Pak Sam itu lumayan deket. Jelas gue langsung emosi dong! Gue sudahi acara mengaduk kopinya lalu gue tarik Mas Rizal keluar dari pantry.”
“Bagus.” Mbak Sari mengangguk-angguk. “Lebih bagus lagi kalo lo siram kopi ke mukanya, biar drama sedikit.” Aku melempar tos ke arah Mbak Sari lalu tertawa bersama.
“Kenapa sih? Lagian kalo si Mira mau ngejar Sam ya biar aja lah. Sama-sama single nggak ada larangan.” Ucap Mas Angga santai.
Ingin sekali aku melempar mulut berdosa itu dengan buku.
“Dih ... Gak bisa. Banyak yang lebih cocok buat jadi pasangan Pak Sam.” Kataku tak terima.
“Setuju gue, Mbak. Contohnya gue.” Tiwi mengacungkan tangannya.
Aku hanya melengos. Aku segera berdiri dari kursiku sembari membawa buku catatan kecil. “Sorry, Wi. Kayaknya bukan elo. Tapi ... Gue.” Aku mengakhiri kalimatku dengan tawa yang begitu keras.
Sampai tak sadar kalau manusia yang sejak tadi kita bicarakan sudah keluar dari tempat mencari wangsitnya.
__ADS_1
Aku dan yang lainnya segera membungkuk ketika Sam sudah memasang wajah dinginnya.
“Angga sama Adelia kita meeting sekarang.” Aku dan Mas Angga kompak mengangguk lalu berjalan mengikuti Sam ke ruang meeting.
##
Meeting kali ini terasa sedikit lebih panas untukku. Mungkin ini efek dari cerita Tiwi tadi. Dan sialnya, aku malah langsung bertemu dengan yang namanya Mira. Dia menjadi asisten dari Pak Arief untuk meeting kali ini.
Dan taukah kalian apa yang membuatku semakin kesal? Meeting ini di hadiri oleh enam orang. Tiga dari divisiku dan tiga dari divisi pemasaran. Meja yang ada di ruangan ini berbentuk melingkar. Di sisi kanan yang menempati posisi depan adalah Sam, aku lalu Mas Angga. Dan seharusnya di sisi kiri bagian divisi pemasaran.
Berhubung Pak Arief berdiri untuk menerangkan acara meetingnya. Jadi, kali ini Mira berkesempatan untuk pengontrol laptop yang berfungsi sebagai sarana penjelasan dari Pak Arief. Dan Mira dengan sengaja memutar kursi supaya bisa duduk di depan Sam.
What the hell!
Baru kali ini waktu sejam berasa seperti satu hari.
Selesai meeting aku langsung pergi ke kamar mandi. Tujuanku hanya untuk meredam panas yang menjalar di kepalaku. Aku memutar air kran lalu membasuh tangan dan wajahku.
Saat itu aku melihat pintu terbuka dan dari kaca besar yang berada tepat di hadapanku terpampang wajah seseorang yang selama satu jam tadi berhasil membuatku panas.
“Mbak Adelia.” Aku terpaksa tersenyum ke arahnya. “Boleh tanya nggak?”
Aku mematikan air kran lalu menatap Mira. “Tanya apa?”
Mira tersenyum. “Pak Sam kan sudah cukup lama jadi Bos nya Mbak Adelia. Jadi, Mbak tau dong sifat Pak Sam itu seperti apa?”
“Kenapa tanya begitu?” aku mulai terpancing emosi.
“Hm ... Gimana ya, aku pengen tau aja, Mbak. Kali aja aku bisa dekat sama Pak Sam.” Rasanya seperti seember air panas mengguyur tubuhku. Ada rasa membakar dan ingin menjerit-jerit.
“Kira-kira ada nggak hal yang tidak di sukai oleh Pak Sam? Biar aku bisa antisipasi gitu, Mbak.” Mira tersenyum ke arahku.
Aku hanya bisa memejamkan mataku untuk beberapa saat. Mencoba untuk meredakan sedikit rasa jengkelku. Kemudian aku kembali menatap Mira sembari tersenyum.
“Setahu gue, Cuma ada satu hal yang nggak di sukai sama Pak Sam.” Mira begitu antusias mendengar ucapanku.
“Apa Mbak?’ tanyanya tak sabaran.
Aku tersenyum lagi. “Satu hal yang tidak di sukai sama Pak Sam adalah ... Cewek seperti elo!” aku sengaja menekan kalimat terakhirku sembari memandang wajah Mira. Ekspresi wajahnya seketika berubah, terdengar dengusan kasar dari Mira.
Aku tak peduli. Aku hanya tersenyum lalu berjalan keluar dengan perasaan puas.
Aku berjalan menuju lift untuk kembali ke ruanganku. Ketika aku hendak menekan tombol liftnya aku di kagetkan oleh kehadiran seseorang.
Aku menoleh sembari mengelus dada. “Aku pikir kamu duluan.”
“Memangnya kamu nggak mau aku tunggu?” Debaran dalam dadaku muncul begitu saja tanpa permisi. Membuat seperti ada rasa menggelitik di dalam sana.
Aku menarik nafas sesaat lalu ku tatap Sam sembari tersenyum. “Mau.” Ucapku singkat.
Sam membalas senyumanku lalu menarik tanganku masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TO BE CONTINUED..