My Boss Samuel

My Boss Samuel
70. Pesta Kedua


__ADS_3

Selamat hari Minggu semua.


Sudah kemana sajakah?? hehe.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Sam menggandengku masuk ke sebuah ballroom yang di gunakan untuk pesta malam ini. Sebenarnya ini bukan pesta seperti pada umumnya, acara ini hanya akan di liputi dengan acara makan bersama keluarga saja. Dua orang pelayan menyambut kedatanganku dan juga Sam lalu mereka mengantar kami ke sebuah meja yang sudah ada nama ku dan nama Sam.


Sumpah aku norak sekali melihat hal semacam ini. Tenang, Del, kuasai dirimu jangan tunjukkan ke norak'an ini ke orang-orang. Setidaknya pengalaman ku bekerja di Perusahaan besar sudah cukup untuk membuatku tidak bersikap norak lagi lah. Secara di perusahaan juga sering mengadakan event dan seminar besar.


Setiap bangku berbentuk bundar ini menampung empat orang. Di sini ada aku, Sam, Aroon dan Kai, mereka tampak puas sekali. Di sebelah kananku ada Sam dan di sebelah kiri ada Aroon.


“Gimana, Del, kerjanya lancar kan?” tanya Aroon.


Aku berusaha bersikap sesantai mungkin. “Lancar dong, jangan di samakan dengan halnya mencari kitab suci lah yang banyak rintangan menghadang.” Aroon tertawa di ikuti Kai.


Namun tidak dengan Sam, dia terlihat hanya diam sembari sesekali menikmati minumannya. Sejauh ini sih ekspresinya masih datar.


“Kalau mau mencari kitab suci jangan kerja sendiri, Del. Aku mau kok nemanin kamu.” Imbuh Aroon.


“Aku juga, kak. Aku akan selalu siap mengawal kemana pun kak Adel pergi.” Benar kata Sam kalau si Kai memang jago menggoda.


Sam kali ini mulai bereaksi, belum ikut berbicara namun sudah mulai mengeluarkan deheman kecil ketika mendengar Aroon dan Kai berbicara padaku. Dan sepertinya hal tersebut malah membuat Aroon dan Kai semakin senang.


“Kamu masih anak kecil, Kai. Di rumah saja kuliah yang benar urusan mencari kitab suci biar aku dan Adelia saja. Ya kan, Del.” Aku hanya bisa terkekeh menanggapi ucapan Aroon.


“Aku enggak yakin deh, Ar. Memangnya kamu bisa jagain aku” Godaku yang juga membuat Aroon tertawa.


Aku hendak mengambil gelas minumanku dan tanpa aku duga Aroon dengan cepat mengambilkannya untukku. Aku merasa tidak enak tetapi aku berusaha tersenyum padanya. Dan tepat saat itu Sam mulai menunjukkan rasa kesalnya. Dia sengaja menendang bagian bawah meja hingga membuat benda yang ada di atasnya bergetar dan menimbulkan suara sedikit gaduh di meja kami.


Aku langsung menatap Sam begitu juga Aroon dan Kai. Dia menatap kami tajam dengan kedua tangan bersedekap ke arah kami.


Ok, sepertinya dia sudah benar-benar marah.


“Sensi amat.” Bisik Aroon. Tapi aku yakin yang ada di meja ini bisa mendengarnya termasuk Sam. Dia langsung meletakkan sikunya dengan keras ke atas meja dan lagi-lagi menimbulkan suara.


Astaga.


Bahkan kali ini beberapa pasang mata mulai mengamati kegaduhan di meja ku. Bukannya takut dan mengalah tetapi Aroon dan Kai malah semakin tertawa, sepertinya mengerjai Sam adalah hobi mereka.


Acara satu persatu di mulai dan jujur aku merasa sudah benar-benar masuk ke dalam keluarga ini. Mungkin karena sikap mereka yang memperlakukanku dengan hangat dan baik, bukan seperti pacar dari seorang Sam namun sebagai anggota keluarga baru mereka.


Saat ini sudah memasuki acara berdansa. Ini memang permintaan Bunda Eliza, dia dan suaminya mulai berdansa di tengah mengikuti alunan musik yang lembut dan romantis. Ah ... Sepertinya mereka berdua memang pasangan yang manis walau usianya sudah tak muda lagi. Beberapa ada yang mengikuti seperti Tasya dan Kai, Tante Sarah dan Om Aksa, Kakek Robert dan Papa Carlisle, serta keluarga lainnya yang aku lupa siapa namanya.

__ADS_1


Aroon mendekatiku dengan canggung lalu tiba-tiba Sam menggeser posisinya tepat di depan Aroon.


“Mau apa?” tanyanya dingin.


“Enggak apa-apa. Orang aku mau ambil makanan kok.” Aroon mendengus lalu pergi ke meja sebelah untuk mengambil beberapa makanan.


Aku hanya tersenyum lalu melingkarkan tanganku ke lengan Sam. “Sudah Sam, dia kan hanya bercanda. Kamu kenapa sih?”


Sam berdecih. “Jadi kamu suka di goda seperti itu?”


Aku melotot, “siapa yang bilang suka di goda. Aku hanya bilang Aroon bercanda.” Kebiasaan memang, niatnya hanya mau mencairkan suasana tetapi Sam malah kekeuh dengan pikirannya sendiri.


Embuh lah, Sam. Terserah.


“Buktinya tadi kamu asyik ketawa-ketawa sama mereka.” Tuduhnya lagi.


Kalau aku memukul Sam sekarang juga boleh tidak sih. “Ya ampun, namanya orang ngajak bercanda ya aku tertawa lah. Memangnya kamu yang bisanya diam saja.” Biar saja aku memang sengaja mengucapkan kalimat itu. Sekarang aku sudah melepaskan tanganku dari lengannya.


Kesal.


“Kenapa? Sekarang kamu mau ikutan marah.” lagi-lagi Sam menuduhku dengan hal yang tidak benar, aku tidak marah Sam aku hanya kesal. Ya walaupun entah setipis apa perbedaannya.


“Enggak, Sam.” Kataku penuh penekanan. Aku melotot ke arah Sam dan dia membalasku. Lihat, betapa kekanakannya dia, cih. “Aku haus.” Imbuhku dengan nada kesal.


Pasti Sam memilih untuk tak memperdulikan ucapanku dan lebih mementingkan egonya. Sebelum ucapanku benar-benar terjadi aku ingin segera pergi mengambil minumanku sendiri. Namun hal tak terduga terjadi, Sam langsung menahan lenganku dan menatapku. Dari tatapanya aku bisa mengartikan kalau itu berarti tunggulah di sini biar aku yang mengambilkan.


“Sama apalagi?” tanyanya.


“Jangan kemana-mana dan jangan dekat sama dia.” Aku mengikuti arah mata Sam yang melotot ke arah Aroon. Ya ampun, lucu juga ya melihat ekspresi Sam saat ini.


Aku pun menurut dengan ucapan Sam, aku melihatnya berjalan menuju meja minuman dan makanan dengan bibir mengembang. Bisa manis juga manusia itu.


Tiba-tiba Natalie datang menghampiriku. “Kamu nggak ikutan dansa?” tanyanya sambil tersenyum.


“Ah, enggak.” Aku reflek menggaruk belakang telingaku. “Aku takut di tertawakan kalau ketahuan nggak bisa berdansa.” Jawabku yang berhasil membuatnya tertawa.


“Sama dong, padahal Destian sudah kepengen banget dansa dari tadi.” Ujar nya sambil melirik Destian yang sudah asyik berjoget seorang diri.


Kami berbincang sesaat sembari menunggu kedatangan Sam kembali. Sebenarnya aku mulai penasaran sudah berapa lama Natalie menikah dengan Destian dan berarti dia mendahului Aroon dong. Aroon yang kakaknya saja belum menikah.


Aku melihat Sam menatap ke arahku sesaat lalu mulai berjalan mendekat. Begitu sampai dia memberikan segelas minuman untukku, di tangan kirinya dia membawa kue yang berjumlah dua potong. Pikirku itu untuk dirinya sendiri tetapi ternyata dia memberikannya satu ke Natalie.


“Jangan lupa makan, nanti sakit lagi.” Begitu ucapnya ketika memberikan kue tersebut.


Sejujurnya aku sedikit terganggu dengan kata-kata Sam tersebut. Di telingaku itu terdengar seperti sebuah perhatian lalu aku lihat Natalie tersenyum manis ke arah Sam dan Sam membalasnya. Hatiku langsung mencelos begitu saja melihat adegan tersebut.


“Aku tinggal dulu ya, Del.” Natalie menepuk pundakku dan aku langsung mengerjap lalu mengangguk.


Aku masih menatap kepergian Natalie sampai dia berhenti tepat di samping suaminya, Destian.

__ADS_1


“Mau aku suapin?” aku terkejut lagi ketika mendengar ucapan Sam. Dia menatapku dengan alis terangkat.


“Ah, nggak usah aku bisa makan sendiri.” Kataku lalu merebut paksa piring kue dari tangan Sam.


Entah dia menyadari perubahan sikapku atau tidak, yang jelas sejak jam itu sampai acara pesta selesai aku masih memikirkan kejadian tadi. Rasanya aneh sekali dan seharusnya aku tak perlu merasakan seperti ini. Tetapi entahlah, aku tak bisa membohongi hati kecilku.


##


Aku dan keluarga Sam kembali ke rumah tepat pukul delapan malam. Karena memang acara tadi sudah berlangsung sejak pukul tiga sore. Aku berniat langsung ke kamar untuk mengganti baju setelah itu menyusul Tasya ke kolam belakang.


Sampai di kolam belakang aku melihat Tasya sudah bersama dengan Kai dan membawa sebuah gitar.


“Kalian mau nyanyi?” tanyaku.


“Kita mau lanjut pesta, Kak. Tapi ini khusus anak muda.” Kai tertawa ketika menjawab pertanyaanku.


Memang yang pulang ke rumah saat ini hanya yang muda saja. Sedangkan yang tua masih asyik menginap di hotel.


Tasya tampaknya sadar kalau aku masih bingung dengan ucapan Kai. “Dia mau ngajak pesta di pantai lagi, Kak.”


“Cuma bertiga?” tanyaku bingung.


“Aku juga ikut dong.” Suara Destian mengejutkan ku dari belakang. “Nanti kalau aku nggak ikut nggak rame lagi.” Aku dan yang lainnya langsung tertawa.


“Semua kok, Kak. Tadi aku udah bilang paling masih pada siap-siap.” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Kai. “Nanti Kak Adel nyanyi ya?” pintanya.


“Hah?” aku sedikit terkekeh, “lebih baik kalau kamu masih sayang sama telinga jangan dengerin aku nyanyi deh.” Ucapanku berhasil membuat Kai, Tasya dan Destian tertawa.


Aku celingak-celinguk berharap Sam segera datang tetapi belum nongol juga. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil minuman sembari menunggu kedatangan yang lainnya.


Hampir di dekat dapur aku seperti mendengar sebuah obrolan. Semakin dekat dan semakin jelas suara obrolan tersebut, jujur aku belum mendengar apa yang mereka obrolkan tetapi tiba-tiba sudut hariku terasa tak enak mendengar suara tersebut. Berusaha menampik rasa tersebut, aku semakin berjalan mendekat ke arah dapur.


Begitu aku sampai di ujung dapur aku langsung bisa melihat dengan jelas siapa orang yang tengah terlibat dalam obrolan tersebut. Sekuat hati aku berusaha menahan dan menghentikan langkahku tepat di pintu masuk dapur lalu aku langsung menyandarkan diriku ke tembok penyekat karena aku tak mau mereka menyadari kehadiranku. Nafasku terasa semakin berat dan sudut hatiku tiba-tiba terasa ngilu.


Aku mendengar suara tawa dari sana. “Apa aku bilang, kamu sih nggak percaya.” Itulah sekilas yang bisa aku dengar yang entah kenapa menambah rasa ngilu di dalam sudut hatiku.


Mataku terpejam sesaat lalu aku hirup udara sebanyak mungkin. Aku ingin kembali ke kolam belakang dan mengurung niat mengambil minum di dapur. Tetapi tiba-tiba aku di kejutkan oleh kemunculan seseorang ketika aku membuka mataku.


Dia berdiri dengan satu alis terangkat.


“Aroon.”


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED....


__ADS_2