
Yeeyy balik lagi..
Mau ngingetin lagi yaa.. Ini ceritanya low konflik.. Jadi slow aja ya, yang penting bikin hepii..
Happy reading !!
##
Pagi ini seperti biasa aku menikmati sarapan pagiku dengan sangat khidmat, sepiring nasi goreng full dengan toping di tambah segelas jus yang sudah sengaja ku buat. Berhubung Papa tengah ada urusan bisnis ke Jawa jadinya kita hanya bisa sarapan bertiga.
“Mbak, kok buat jus Cuma satu sih?”
“Terserah gue lah, yang minum gue kok.” Jawabku asal.
Vino mencebik, “lain kali buatin Vino juga dong. Jangan egois jadi orang.”
Aku melirik bocah semprul ini bengis. Aku nggak rela saja tenagaku habis seketika sebelum pergi ke kantor gegara meladeni omongan Vino.
“Del, Mama mau minta tolong.”
Aku menoleh ke arah Mama, “minta tolong apa, Ma?”
“Tapi kamu janji dulu ya, harus mau jangan nolak.” Rasa-rasanya nggak enak nih, tenggorokanku kering seketika.
Aku meminum jusku hingga habis setengah gelas, lalu aku kembali menatap Mama dengan sorot mata penuh selidik. Sepertinya akan ada sesuatu yang nggak beres.
“Jawab Del, malah lihatin Mama.” Ucap Mamaku.
“Memangnya apa sih, Ma? Adel nggak mau janji, kalo nggak di kasih tau terlebih dahulu.”
“Kok kamu begitu sih, Del. Sekali-kali nurut dong sama Mama tinggal jawab iya apa susahnya sih?”
Asal Mama tau aku ini selalu nurut, Ma. Kalo masih di katain begitu rasanya sakit sekali, pengen nonjok muka Vino aja deh!
“Yang mana sih, Ma... yang nggak pernah Adel turutin? Adelia selalu berusaha nurutin kemauan Mama lho, kalo Mama lupa.” Aku menyantap sendok terakhir nasi gorengku dengan kasar.
“Hati-hati Mbak, nanti keselek.” Nih bocah selalu bisa membuat suasana makin kisruh, suka banget nambah-nambahin, kayak bumbu masakan.
“Halah... Memang kenyataannya kamu nggak pernah mau nurutin kemauan Mama. Buktinya, Mama suruh nikah kamu nggak mau.” Mama meletakkan sendoknya, “nikah lho ya, bukan kawin.”
Kali ini Mama berkata dengan sangat teliti. Tau aja kalo aku suka membelokkan kata.
“Ma, masalahnya Adel...” Aku menatap Mama sejenak lalu beralih menatap Vino, dan sialannya muka Vino tersenyum seolah sudah bisa menebak apa yang akan aku ucapkan. Dan sepertinya dia terlihat sangat menantikan ucapanku.
“Masalahnya apa?” Desak Mama.
“Ya.. masalahnya.” Aku menggaruk belakang telingaku yang tak gatal. “Masalahnya, Adel belum punya calon.”
Duh, sumpah rasanya malu juga ya mengakui status diri sendiri. Apalagi Vino malah tertawa setelah mendengar pengakuanku.
“Sudah Vino duga.” Kata Vino sembari mengelus-elus dagunya.
“Apa sih micin!!” Vino kembali diam namun wajah ngeselinnya masih belum hilang.
“Nah... itu yang mau Mama minta tolongin.” Aku menaikkan satu alisku heran, “Mama rencananya mau ngenalin kamu sama anak temen Mama.”
__ADS_1
“Tunggu dulu.” Ucapku protes. “Mama sebenarnya mau minta tolong apa maksa nih?”
Seolah tak memperdulikan pertanyaanku Mama justru makin semangat melanjutkan ucapannya.
“Dia seumuran dengan kamu namanya, Joe. Anaknya ganteng lho, Del. Mama udah lihat fotonya, kamu mau lihat?” Mama tersenyum ke arahku.
“Ma.. mama belum jawab pertanyaan Adel.”
“Kenapa sih Del, katanya tadi kamu mau nurutin kemauan Mama.” Ucap Mama sewot. Padahal aku dari tadi belum menyetujui permintaan nya lho.
“Ya tapi kan~”
“Nggak ada tapi!” Bentak Mama. “Mama udah terlanjur sepakat sama teman Mama. Kamu tega buat Mama malu dengan teman Mama sendiri? Lagian, apa susahnya sih di coba dulu, Mama Cuma pengen yang terbaik buat kamu, Del.” Mendadak Mama berucap melow atau lebih tepatnya penuh drama. Pasalnya aku sudah hafal sekali dengan sifat Mama.
Namun anehnya aku selalu saja nggak tega melihat Mama seperti itu. Padahal aku sudah tau kalo Mama hanya berpura-pura.
“Dih, Mbak Adel. Jangan buat Mama sedih dong, Mbak. Kasihan Mama, lagian Mbak kan udah gede. Masa nggak mau sih nyenengin hati orang tua.” Ini anak memang micin banget deh, kan aku jadi kemakan omongannya. Aku jadi semakin nggak tega lihat Mama.
“Ya Del, Mama mohon kali ini aja turutin kemauan Mama.” Mama mengusap punggung tanganku.
Aku menghela nafas panjang, “ok Adelia bakalan nurutin permintaan Mama.”
Mama dan Vino kompak bersorak, lah tadi drama-dramaan sedih sekarang langsung berubah sumpringah nih.
“Jam 12 di Cafe Starbucks.”
“Mama tau Starbucks?” Tanyaku penasaran.
“Ah enggak ini ide Vino.” Aku melirik bocah semprul yang kini tengah menyengir ke arahku, “nanti Mama bakalan kabarin kamu, ya.”
##
“Eh anak perawan, pagi-pagi udah kusut aja mukanya.”
Aku memilih untuk tak menghiraukan ucapan Mbak Sari dan langsung duduk ke kursi ku.
“Del... jangan kusut gitu lah mukanya, kan gue jadi pengen ngerawat lo sepenuh hati gue. Terus menyayangimu hingga akhir waktu."
Hoeekk!! Ember dong! Mau muntah nih..
“Lo emang doyan banget ya ngembat semua cewek.” Ucap Mbak Sari ke arah Rizal.
“Siapa bilang, gue Cuma doyan yang cantik kok. Buktinya Tante-tante gue tolak.” Elak Rizal.
"Tapi kalo cantik lo juga suka, kan?"
Aku menggebrak mejaku kasar, kenapa teman-temanku ini tak bisa diam. Sedangkan, aku tengah di landa gundah gulana seperti ini. “Kenapa bumi itu bulat? Kenapa nggak persegi atau jajar genjang? Kenapa gue harus punya temen yang suka ngomong nggak jelas kayak kalian? Dan kenapa gue harus jomblo, kenapa?” Aku histeris.
“Mbak, Adel kayaknya kesurupan.” Ucap Rizal yang justru malah membuatku terbahak kencang. “Mbak, ini kayaknya serius deh, dari film yang pernah gue tonton gejala yang di alami Adelia itu persis orang kesurupan.”
Aku menaikkan alisku saat mendengar ucapan Rizal. Aku kembali tertawa dan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Aku sendiri juga heran. Kenapa aku bisa seperti orang gila begini?
“Menurut gue itu bukan kesurupan, Zal. Lebih tepatnya meratapi nasip.” Aku menggebrak meja keras sehingga membuat Rizal dan Mbak Sari kaget.
“Wah... apaan nih, pagi-pagi udah main reog aja?” Ucap Mas Angga yang baru saja kembali dari pantry bersama Tiwi.
__ADS_1
“Nah ini dia pawangnya.” Rizal menarik Mas Angga dan langsung mendorongnya ke arah mejaku, “Adel kesurupan kayaknya, Mas.”
“Hah? Sumpah lo demi apa? Mas Rizal jangan ngawur, deh.” Kata Tiwi panik. Setelah meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
Mas Angga dengan sedikit takut-takut memberanikan diri menyentuh pundakku, “Del, siapa nama Bos kita?”
“Pak Sam, kampret!”
Jawabanku berhasil membuat mereka semua bernafas lega dan mengelus dada.
“Syukur deh, masih sadar ternyata” Ucap Mbak Sari yang langsung kembali duduk ke kursinya begitu juga yang lainnya.
“Woy, tega ya lo pada!” Teriakku.
“Habisnya lo bikin kita takut aja sih, emang kenapa sih?” Sahut Mbak Sari penasaran.
Aku menarik nafas terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bercerita tentang rencana Mamaku pagi tadi.
“Gue di paksa Mama buat ketemuan sama anak temennya.”
Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi kompak berlari mengepung mejaku. Aku yakin, pasti mereka akan mengajukan beberapa pertanyaan yang akan membuatku semakin pusing.
“Maksud lo kencan gitu?” Aku menatap Mas Angga.
“Serius lo mau kencan, Del?” Tatapanku beralih ke Mbak sari.
“Wah, nggak nyangka. Akhirnya lo mau kencan juga Mbak. Berarti nggak jadi sama Pak Sam dong.” Aku mengerutkan alisku ke arah Tiwi.
“Hmm...” Rizal mengusap-usap dagunya, “mau kencan ya? Cowok ini beneran orang apa bukan?”
Kali ini tatapanku semakin malas dengan pertanyaan mereka. Kenapa sih aku harus jomblo dan punya temen seperti mereka??
Belum sempat ku menjawab, Pak Sam sudah berjalan keluar dari lift.
“Kalian ngapain? Saya bosen lho ya, setiap hari harus lihat kalian gosip terus. Kerjaan kalian banyak!” Tambah lagi nih kampret, rasanya pengen pingsan aja huhu...
“Kita nggak gosip kok Pak.” Ucap Tiwi jujur.
“Iya Sam. Justru kita lagi kepo-in Adel yang mau kencan.” Aku membulatkan mataku setelah mendengar ucapan Mbak Sari.
“Kencan?” Pak Sam menaikkan satu alisnya sembari menatapku. Lalu dirinya mulai melangkah mendekati mejaku. “Kerja dulu yang benar!” Tangan itu menggebrak mejaku keras.
Sumpah lho ya, bikin jantungan banget. Monitor ku bahkan sampai bergoyang-goyang.
“Dan buat Adelia, kalo mau kencan nggak usah bikin rusuh temen sekantor!”
‘Hah kenapa harus saya Pak?? Saya dari tadi hanya diam sayalah korban yang sesungguhnya, saya yang tersakiti Pak bukan mereka'. Jeritku dalam hati yang membuat ku menangis sejadi-jadinya.
##
Nggak kebayang malunya Adelia, gegara punya temen kampret semua 😂😂
maaf ya mungkin selama bulan puasa bakalan low update.. 😁😁
salam dari penulis amatir, ❤️
__ADS_1