
Hallo semua...
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen ya !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Akhir-akhir ini Sam punya kebiasaan aneh yang sangat menyebalkan bagiku. Setiap pukul satu malam, dia akan membangunkan aku dan mengajakku bercinta. Setelah itu dia memaksaku untuk menemaninya makan di ruang makan.
Rasanya ingin aku pukul kepalanya setiap dia membangunkan aku seperti saat ini.
“Del.” Tangan Sam mulai membelai-belai tepian celana dalamku. “Bangun dong.” Bisik nya dengan tangan yang mulai menyusup masuk, menarik celanaku turun.
“Aku ngantuk, Sam.” Ujar ku malas.
“Tapi pengen.” Jawabnya sambil mengecup bahuku. “Sekali aja.” Bujuknya setelah berhasil menarik celana dalam ku ke bawah.
Aku menghela nafas, menolak juga percuma, dia akan terus merayuku hingga aku memenuhi keinginannya.
Dia tersenyum saat aku berguling telentang dan melotot padanya. “Kamu itu pengennya tiap malam loh, Sam, jam satu pula.” Ujar ku sewot.
Dia menunduk, mengecup leherku. “Kalau di tahan sampai pagi aku nggak bisa tidur nanti.”
Sam mulai mengecup ku di mana-mana dan mulai membelai, memberikan aku kenikmatan yang sejujurnya juga tidak mampu aku tolak. Dia suka sekali melakukan foreplay yang mampu membuatku tak bisa menahan hasrat ku sendiri. Bibirnya mencium bibirku sedangkan salah satu jarinya sudah menyusup dan bergerak cepat di bawah sana.
Tubuhku menegang dengan dada yang membusung. Namun tiba-tiba Sam menarik jarinya, sejujurnya aku ingin sekali berteriak ketika dia selalu mempermainkan aku seperti ini. Namun semua ku urungkan ketika dirinya langsung membalikkan tubuhku, dan menyusup masuk dari belakang. Menghujam dengan gerakan cepat dan nikmat, tentu saja.
Tanganku terus meremas sprei ketika Sam terus menghujam nikmat. Tiba-tiba salah satu tangannya menyusup dan meremas dadaku, membuatku mendongak dengan mata tertutup. Sam benar-benar tahu bagaimana cara memuja tubuhku.
Sekali yang ia janjikan berubah menjadi lagi dan lagi hingga aku berteriak protes dan barulah Sam mengakhirinya.
Aku menguap di kursi sambil menunggui Sam yang tengah makan mie rebus dengan tambahan dua telur sekaligus yang ia buat sendiri. Aku menyesap susu cokelat hangat yang dia buatkan. Hari sudah hampir pukul setengah empat dan aku benar-benar mengantuk dan capek. Sam benar-benar gila, ku pikir dia akan membiarkan aku tidur tadinya. Tapi dia malah menggendongku menuju ruang makan hanya berbalut gaun tidur tipis.
“Masih lama nggak sih?” aku meletakkan kepalaku ke atas meja dengan mata terpejam.
“Dikit lagi.” Sam menyuap makanannya dengan semangat.
Lihatlah suami kampret itu, setelah menghabiskan tenaga dia langsung makan dengan begitu rakusnya, Ck!
Aku menguap lagi dan membiarkan kantuk membuatku melayang. Dan ternyata aku benar-benar melayang karena ketika aku membuka mata, Sam tengah menggendongku menuju kamar.
Dia tersenyum dan mengecup keningku. “Tidur aja.” Bisik nya meletakkan aku di ranjang dan dia ikut berbaring di sampingku.
Aku hanya bergumam, meringkuk dalam pelukannya untuk mencari kehangatan.
Sam benar-benar semakin aneh setiap hari, atau dia memang aneh sejak dulu? Dan aku baru menyadarinya sekarang??
•••
“Sam!” aku berteriak dari walk in closet dengan hanya berbalut handuk. “Samuel!” aku berteriak lagi.
Tak lama Sam datang sambil mengunyah roti di mulutnya. “Kenapa?” dia bertanya heran.
Aku mengerucutkan bibir, duduk di kursi yang ada di sana. “Dress hitam ku nggak ketemu.” Ujar ku lesu.
“Pakai yang lain aja.” Ujarnya datar dan bersiap kembali ke ruang makan.
“Tapi aku mau yang itu!” jeritku menahan tangis.
“Ya udah nanti tanya sama Bibi dulu.”
“Aku maunya sekarang!” kini aku benar-benar menangis kesal. Dia tidak tahu apa kalau Dress hitam itu kesayanganku? Dia sendiri yang membelikannya beberapa bulan yang lalu.
Aku berniat memakainya dan memadukannya dengan blazer putih yang sejak tadi sudah aku siapkan, bahkan sebelum mandi.
“Cengeng.” Ujarnya lalu keluar dari kamar.
Aku menangis semakin kencang ketika mendengarnya. “Dasar kampret, nyebelin, rakus, tukang makan!” aku mengomel sambil mencari-cari gaun lain yang tergantung di sana. “Nggak peka!” jeritku kesal.
Sam kembali memasuki kamar dalam diam, membiarkan aku mengomel sesuka hati dan dia hanya mencari dasinya.
“Kamu tuh nyebelin!” ujar ku saat melihatnya.
Dia tidak merespon, sibuk memasang dasi di depan cermin.
“Baik kalau ada maunya aja, kalau minta jatah aja manis banget!” aku masih mengomel sambil memasang pakaian dalam.
__ADS_1
Sam hanya melirikku dengan satu alis terangkat, wajahnya tanpa ekspresi, dan hal itu malah membuatku semakin kesal. Kapan sih dia akan berhenti membuatku kesal seperti ini?
“Aku sebel lihat muka kamu!” Ujar ku sambil melemparnya dengan handuk.
Sam meraih handuk yang mengenai wajahnya itu lalu menggantungnya di tempat gantungan tanpa bicara, sedangkan aku mulai memakai dress berwarna pink dan blazer putih tadi sambil mengomel.
“Makan siangnya sendiri aja nanti, jangan ajak-ajak aku!” sembur ku kesal.
“Iya.” Jawabnya datar.
Aku langsung melotot begitu mendengar jawabannya. “Tuh kan! Kamu itu memang bos setan kampret!”
“Aku salah apa sih?” dia menggaruk tengkuknya bingung. “Kamu bilang makan siangnya jangan ajak kamu, aku jawab iya kamu marah. Maunya apa?” dia bertanya lelah.
“Masa kamu nggak ngerti? Kamu punya istri sudah berapa lama sih, Sam? Gitu aja nggak paham!” jeritku kesal.
“Aku nggak bisa baca pikiran dan nggak ngerti isi kepala kamu. Kalau kamu mengharap pria bisa mengerti keinginan wanita tanpa mereka bicara, maka kamu salah. Aku benar-benar nggak paham maunya wanita itu apa. Di jawab salah, nggak di jawab juga salah.” Omelnya sambil memasang sepatu.
Oh, ternyata dia sudah pintar mengomel rupanya?
“Jadi makan siang bareng apa gimana?” dia bertanya setelah memasang sepatunya.
“Terserah.” Jawabku ketus.
“Ya udah, nanti aku jemput. Makan di mana?”
“Terserah.” lagi-lagi aku menjawabnya ketus.
Dia menoleh, menatapku datar. “Aku mulai benci dengan kata terserah.” Ujarnya datar.
“BODO AMAT!!” aku meliriknya tajam lalu memoles lipstik di bibirku.
“Kalau begitu makan di rumah makan padang aja, aku lagi pengen makan rendang.” Kata Sam memberi usul.
“Terserah.” Aku mulai fasih mengucapkan kata tersebut.
“Oke.” Jawabnya kesal lalu keluar dari kamar.
Aku menatap punggungnya tajam. “Nyebelin!” teriakku padanya.
Dia menoleh, mengabaikan ocehan ku dan melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.
Sepanjang perjalanan mengantarku ke kampus, aku terus mengomel bagai bebek tetangga di pagi hari, dan semakin kesal saat Sam hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
“Dengar.” Jawabnya pelan sambil terus memperhatikan jalanan.
“Emang aku bilang apa?”
Dia menoleh. “Aku nggak ingat.” Jawabnya santai.
“Tapi katanya dengar!” aku mulai bertambah kesal.
“Ya dengar, tapi nggak perlu di ingat.” Wajahnya begitu datar hingga aku tergoda untuk meninju hidung mancungnya.
“Bunuh gue, bunuh! Hah!” jeritku kesal sambil menendang-nendang dashboard mobilnya.
“Del, nggak boleh bicara seperti itu.” Ujar Sam pelan.
“Bodo amat.” Aku melipat kedua tanganku lalu memalingkan muka ke arah kaca mobil.
Rasanya aku mau pingsan sekarang. Saking gondoknya aku ingin sekali memukul kepala Sam.
“Aku mau belanja nanti sore. Sendirian.”
“Oke, aku suruh sopir jemput nanti.” lagi-lagi dia menjawab datar.
Dia memang menyebalkan! Rasanya ingin aku tukar tambah kalau bisa!!
•••
Aku membawa kantong-kantong belanjaan ketika memasuki rumah. Ini belum seberapa, masih ada beberapa lagi yang sedang di bawakan oleh sopir. Begitu aku memasuki rumah, Sam sudah ada di depan TV sambil bermain game.
Aku menghempaskan kantong-kantong belanjaan di sampingnya yang tengah duduk bersila di atas karpet. Aku duduk di sofa sambil melepaskan sepatu. Sam sama sekali tidak menoleh pada barang-barang belanjaan ku. Jangan sampai sepatu ini melayang ke kepalanya kalau darahku naik lagi.
“Kamu udah makan?” akhirnya aku yang harus mengeluarkan kata terlebih dahulu.
“Belum.” Dia menjawab sambil serius bermain game.
“Mau makan apa?”
__ADS_1
“Biar Bibi aja yang masak.” Ujarnya melirik sekilas.
“Oke.” Aku menguap dan berbaring di atas sofa, dan duduk saat sopir meletakkan belanjaan ku di atas meja. Aku segera meraih dan membongkarnya.
“Aku beliin kamu kemeja baru.” Aku memperlihatkan kemeja itu padanya.
Sam menoleh dan menatap kemeja itu sekilas. “Makasih.” Ujarnya lalu kembali sibuk bermain.
Aku hanya menghela nafas, mulai kembali kesal.
“Aku hari ini belanja banyak.” Ujarku memulai percakapan.
“Iya aku udah lihat.” Lagi-lagi Sam hanya menjawab datar.
“Tadi aku beli nggak pakai pilih-pilih. Aku ambil apa aja yang menurut aku bagus. Kamu nggak keberatan?”
Dia menoleh. “Kamu senang?” aku mengangguk. “Kalau begitu aku nggak keberatan.”
Aku tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba terkekeh geli dengan kelakuanku sendiri. Aku belanja hari ini hanya untuk menggodanya, melihat bagaimana reaksinya melihat barang-barang yang aku bawa. Tapi sepertinya Sam tidak mengeluh sama sekali.
Aku bangkit dan akhirnya duduk di pangkuannya, Sam meletakkan stick game tersebut di lantai dan memelukku.
“Aku habisin uang kamu banyak banget hari ini.” Ujarku tanpa merasa berdosa sedikitpun.
“Nggak apa-apa.” Ujar Sam sambil mengecup bibirku. “Aku tahu kamu marah seharian ini gara-gara kesal sama aku.”
Aku mengangguk, tapi sekarang rasa kesal itu sudah hilang secepat kilat. “Baru kali ini aku merasa jadi istri konglomerat. Tinggal tunjuk apa yang aku mau, terus kasih credit card unlimited kamu.” Aku terkikik geli.
Dia ikut terkekeh pelan. “Selama setahun ini, kamu jarang belanja kalau nggak di paksa sama tante Monika atau Bunda. Jadi nggak masalah kalau hari ini kamu belanja banyak. Asal barangnya kamu pakai dan nggak di jadikan pajangan.”
Aku tertawa, selama ini memang banyak barang-barang yang tidak aku gunakan. Rasanya hanya ingin membelinya tapi setelah itu aku tidak pernah menggunakannya. Entah apakah memang seperti itulah yang di sebut kalap mata? Atau memang naluriku sebagai wanita saja. Tapi sebenarnya aku tidak terbiasa menghambur-hamburkan uang.
Namun, Tante Monika bilang : Buat apa punya suami kalau belanja aja masih mikir-mikir, tugas dia kasih kita uang belanja, Del. Tante juga begitu kok kalau sama Om Juna. Kalau Tante lagi kesel pasti Tante selalu belanja banyak, biar dia kapok bayar tagihan.
Saat itu aku hanya tertawa, ketika mengikuti Tante Monika belanja. Dan sekarang aku benar-benar merasakan apa yang di rasakan Tante Monika, seperti ada perasaan bahagia yang tiba-tiba muncul begitu saja di dalam kepala.
Bagiku berkumpul dengan keluarga Sam sangatlah menyenangkan. Mereka tidak membuatku terasa asing. Malah aku yang selalu merasa asing jika berkumpul dengan keluarga besarku sendiri.
“Aku lebih banyak beliin barang buat kamu, kemeja baru, dasi, sama jam tangan baru.” Ujarku mulai menguap.
“Hm.” Sam hanya bergumam, fokus pada permainan.
“Aku ngantuk tapi nggak mau bergerak dari sini.” Ujarku pelan.
“Tidur aja, nanti aku pindahin ke kamar.”
Aku mengangguk, tapi mendadak ingin buang air kecil. Akhir-akhir ini aku juga sangat rajin buang air kecil.
Aku bangkit berdiri tapi Sam menahan tanganku. “Mau kemana?”
“Toilet, rasanya aku ingin buang air kecil terus, Sam.”
Sam menahan tanganku dan menatapku lekat. “Aku nggak sengaja lihat pembalut kamu masih utuh di dalam laci.” Ujarnya pelan.
“Hm.” Aku berusaha mengingat-ingat.
Apa iya pembalutku masih utuh? Sam benar-benar keterlaluan, dia memperhatikan hal lain yang tidak penting tapi terkadang hal yang lebih penting malah luput dari perhatiannya.
“Gimana kalau kita coba periksa?”
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Sudah ada yang bisa menebak hasilnya apa?? haha...
__ADS_1
Di tunggu kelanjutannya aja ya biar nggak penasaran.
salam cinta dariku ❤️