
Yuhuu apa kabar ??
Sehat-sehat ya semuanya..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Happy reading !!
##
Aku baru saja masuk ke ruangan dan menaruh tasku di atas meja. Rizal yang memang sejak kedatanganku tadi terlihat mengincarku, kini dia mulai berjalan ke arahku kemudian duduk di atas mejaku.
“Jangan duduk sini, nanti ketahuan Pak Bos kena semprot lho.”
“Lo kemarin pulang jam 9, ya?” Tanya Rizal yang tak menghiraukan ucapanku.
“Kok lo tau? Kenapa semua orang bisa baca pikiran orang lain? Sedangkan gue nggak bisa, kenapa?”, Ucapku heboh.
“Tenang, bukan lo aja, Mbak. Gue juga nggak bisa kok baca pikiran.” Sahut Tiwi dari mejanya.
Dan entah kenapa ucapan Tiwi terdengar lucu di telingaku.
“Gue kemarin kayaknya lihat lo deh, Del. Lo ke Restoran steak, kan? Sama cowok, ya kan?.”
Duh gawat, dari mana kampret ini tahu. “Lo tahu dari mana?”
“Jangan-jangan Rizal mulai menguntiti lo, Del. Hati-hati sama tuh kunyuk.” Sahut Mas Rizal yang sejak tadi anteng saja di kursinya.
“Yee... nggak ada ya! Gue tuh kebetulan kemarin lagi makan di warung nasi goreng kambing, seberang jalan Restoran Steak itu lho.” Jelas Rizal, dan kemungkinan memang dia melihatku.
“Lo sama cowok lo ya kemarin?” Aku hampir terkejut mendengar pertanyaan Rizal.
Apakah ada kemungkinan kalo Rizal juga melihat sosok cowok itu adalah Pak Sam. Bisa gawat nih, kalo sampai ketahuan. Nanti di kira yang tidak-tidak lagi.
“Eh, enggak. Mana ada, salah lihat kali.” Elakku cepat sebelum menimbulkan kecurigaan yang lebih panjang.
“Dih, pacar sendiri nggak di akuin. Hilang baru tau rasa lo.”
“Mbak Adel kok punya pacar nggak bilang-bilang sih?”
Kan, gawat sudah. Paparazi memang berbahaya!
“Apanya? Kalian jangan percaya deh sama Rizal. Nggak ada bukti kok, hati-hati nanti jatuhnya fitnah lho.” Aku masih berusaha membela diri.
“Tuh, gue makin curiga nih.” Rizal menunjukku penuh nafsu, “Ngaku aja, pacar kan? Atau jangan-jangan lo sedang menjalin hubungan gelap, makanya sok lo tutup-tutupin begitu?”
“Selingkuhan kali.” Kataku nggak terima.
“Siapa yang selingkuh?” Aku buru-buru menghidupkan komputer, saat Pak Bos tahu-tahu sudah berada di ruangan ini.
__ADS_1
“Si Adel, Pak”, Rizal memasang cengirannya. “Punya pacar, tapi macam jadi selingkuhan.”
“Heh! Gue nggak punya pacar dan nggak jadi selingkuhan, ya.” Aku mencubit pinggang Rizal dengan geram.
“Maksudnya?” duh Pak Bos ngapain harus bertanya sih, Rizal ngomongin kita lho.
“Tadi malam kan, saya makan nasi goreng kambing, di seberang jalan Restoran Steak ternama itu lho, Pak. Terus, nggak sengaja saya lihat Adel. Dia lagi jalan, tiba-tiba di susul sama cowok, terus gandengan tangan lagi. Sayangnya, nggak kelihatan muka cowoknya tempat parkirnya gelap soalnya. Mana tubuhnya tinggi banget, persis Pak Sam lah.”
Nah kan, makin gawat ini, gawat!
“Salah lihat kali lo”, Mbak Sari yang baru datang langsung nimbrung, dan menaruh tasnya ke atas meja. “Bukan cowok kali, tapi...” Dia melirikku dengan senyum jenaka, “Genderuwo.” Semua terbahak-bahak, kecuali aku dan Pak Sam. Ku lirik Pak Bos was-was. Takutnya dia nggak terima terus tersinggung!
“Bisa jadi tuh, gue juga ragu kalo Adel punya cowok beneran.” Aku menatap Mas Angga dengan tatapan tajam. Sialan sekali, maksudnya dia meremehkan ku, begitu?
“Kurang ajar! Gini-gini gue juga primadona!”
“Primadona primata?”
“Mulut lo, Mas, mau gue sambelin. Biar tambah pedes!.” Semua kembali terbahak-bahak lagi.
“Ya syukur deh, kalo Adel punya pacar. Biar tambah semangat kerjanya.” Pak Sam terlihat tersenyum simpul di akhir kalimatnya.
“Terima kasih lo, Pak.” Nggak ikhlas banget aku tuh. Rasanya, kayak Pak Bos lagi main tebak-tebakan buah Kedondong. Drama kali ah. Mending jadi aktor saja deh, Pak. Aku jamin banyak yang ngefans!
“Kalo begitu semangat bekerja. Dan Sari, saya tunggu laporan kamu di ruangan saya.” Pak Sam berjalan masuk ke ruangannya, dan akupun bisa bernafas lega.
“Lo beneran punya pacar?” Mbak Sari mengulang pertanyaan yang sama. Ini sudah pada diem lho ya, masak harus di ulang lagi.
“Mau ke mana lo?” tanyaku saat melihat Rizal berdiri. Niatnya sih sekalian mengalihkan pertanyaan Mbak Sari.
Dia tersenyum jenaka, “foto copy, Del. Lo takut kangen kalo gue tinggalin.” Lalu muka ngeselin itu hilang di balik pintu lift. Aku hanya berdecak menatap kepergian Rizal.
“Lo kalau sudah punya pacar, mending cepet-cepet nikah deh.”
“Wah, gue nggak punya tapi.” Aku mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuk. “Belum nemu sih, Mbak.”
“Lo mau cari yang kayak gimana sih, Del? Kebanyakan kriteria lo, entar jatuhnya malah maho lagi kayak yang kemarin.”
“Kok lo doainnya kayak begitu sih, Mas? Gue kan Cuma nggak mau sembarangan.” Memang ribet kalo udah ngomongin beginian, nggak di rumah, nggak di kantor. Cari pacar itu nggak semudah cari baju di pasar. Tinggal di tawar, bayar, dan bawa pulang. Terus Kalo ukuranya nggak sesuai masih boleh di kembaliin lagi. Nah kalau pacar? Kalau nggak sesuai, mau aku kembaliin sama siapa? Yang ada nyesel berkepanjangan.
“Gue nggak nyuruh lo buru-buru. Fleksibel saja sekarang, Del. Turunin dikit standar lo.”
“Gue nggak punya standar.” Jujur nih kalo ini. “Gue juga nggak pernah matok, Cuma nunggu yang klik saja. Tapi kalo gue di kasih jodoh yang kayak Park Seo Joon juga nggak nolak, haha.”
“Ngimpi lo! Lo sama si Rizal kunyuk juga klik-klik aja tuh.”
“Wah, kalau itu jangan, berat. Soalnya, dia juga klik terus sama semua cewek.”
“Haha... benar juga lo, Mbak.” Tiwi cengengesan mendengar ucapanku, “Ribet yang ada.”
__ADS_1
##
Aku tengah membuat kopi di pantry dan niatnya sekalian mau duduk-duduk dulu lah. Buat relaksasi mata, biar nggak pegel di depan komputer terus. Tapi, tanpa ku duga, aku malah ketemu Pak Sam di sini.
“Pak...” Sapaku sok ramah, sembari mengangkat cangkir kopiku.
“Minum apa?”
Ciye Pak Bos sok perhatian, “kopi, Pak. Bapak mau saya buatin?” kebetulan aku masih ingat dengan seleranya nih.
“Nggak usah, saya bisa buat sendiri.”
Aku yang masih duduk sembari menyeruput kopi, dan diam-diam aku memperhatikan Pak Sam yang tengah membuat kopi itu. Dia mengambil cangkir, memasukkan kopi hitam dengan gula sedikit, lalu menuangkan air panas kemudian mengaduknya.
Kelihatannya sih biasa, hanya memperhatikan seseorang yang membuat kopi. Tapi, entah rasanya senang sekali mengamati setiap gerakannya. Seperti ada daya magnet yang menarik perhatianku.
“Del?”
Aku tersentak dan langsung menaikkan kedua alisku ke arah Pak Sam. “Ya Pak, kenapa?”
“Soal tadi pagi.” Pak Sam berjalan mendekat ke arahku, lalu menyenderkan tubuhnya di meja pantry, “yang di omongin Rizal itu, kita kan?”
Nah kan, Pak Bos mengkonfirmasi juga. Emang mulut mereka tuh, suka nggak terkontrol kalo gosipin orang.
“Ah... sepertinya sih begitu.” Jawabku sesingkat mungkin.
“Berarti yang di kira pacar kamu itu saya, kan?”
Wah aku harus jawab apa ini, “Ya mungkin iya. Ah... tapi Bapak nggak usah terlalu mikirin ucapan Rizal, dia orangnya memang begitu.”
Pak Sam terlihat diam memikirkan sesuatu. “Kenapa kamu nggak cari pacar saja, supaya mereka nggak curiga terus sama kamu?”
“Wah, kalo itu sih berat, Pak. Belum ada yang naksir saya. Dan saya belum nemu orang yang saya sukai.” Aku memasang cengiran untuk mengurangi suasana awkward yang menyelimuti hatiku.
“Begitu ya?”
Aku nggak tahu lagi harus menjawab apa, dan sepertinya ini waktu yang tepat untukku supaya bisa segera kembali ke mejaku.
Namun belum sempat aku membuka suara untuk berpamitan Pak Sam kembali bersuara.
“Menurut kamu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tertarik dengan lawan jenis?”
Aku berpikir sejenak. “Sedetik setalah bertatapan.” Jawabku asal dan aku sendiri pun juga nggak yakin.
“Secepat itu?”
Aku mengangguk. Kupikir-pikir, memang secepat itu. Kebanyakan orang memang percaya cinta pada pandangan pertama kan? Itu berarti, ada benarnya kan dengan ucapanku?
“Hmm... Well, mungkin memang secepat itu.” Aku hanya tersenyum tipis, sebelum akhirnya aku memutuskan berpamitan untuk kembali ke ruangan lebih dulu.
__ADS_1