
Yuhuu balik lagi...
Semoga sudah tidak eror lagi ye...
jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
“Parah lo, Mbak. Lo udah main-main ke apartemen Mas Sam. Lo itu cewek.” Ucap Vino. Dia terlihat cerewet sekali, padahal dia sedang menyetir alih-alih memfokuskan dirinya untuk menyetir malah sibuk sok menasehati ku.
“Sam sakit, Vin. Gue tadi udah bilang ke lo kan.” Ujarku menjelaskan.
Vino berdecak. “Gak peduli mau sakit apa enggak. Cowok itu hanya perlu dimana ada tempat tertutup, ada dinding, ada atapnya, tempat gelap dan nggak ada yang bisa melihat.” Aku melotot ke arah Vino. “Semua bisa terjadi.”
Aku memukul kepala Vino dengan keras. “Lo pikir Mbak mu ini sudah hilang kewarasan?”
“Bisa jadi.” Sahut Vino kesal sembari mengusap-usap kepalanya.
Aku hanya mendengus. Memang ada benarnya juga sih. Tapi untungnya malaikat baik masih mendominasi diriku. Jadi aku tak terjerumus ke jurang ke-khilafan. Ya ... Kalau khilaf dikit maklum lah ya.
“Lagian lo tadi kok lama banget, sih? Dari lobby sampai ke kamar Sam itu gak butuh waktu sampai setengah jam.”
Vino menampilkan cengiran ke arahku. “Maklum, mbak. Gue foto-foto dulu. Sayang banget kan gue udah datang ke apartemen mewah kalo gak ada buktinya.”
“Ya Allah ... Norak lo!” Seruku.
“Ish! Mbak Adel. Besok-besok kalo mau ke apartemen Mas Sam ajak Vino deh. Vino pengen foto apartemen Mas Sam yang keren itu.” Ujar Vino.
“Eee, bocah ... Belum ada lima menit lo sewotin gue karena datang ke apartemen Sam. Sekarang lo malah minta di ajak.” Aku tak habis pikir. Vino juga kelewat aneh.
“Kan sama gue. Ya Mbak, boleh ya.” Vino mulai merengek.
Untung ini sudah malam. Jalanan juga sudah terbilang sepi. Dia kira menyetir sembari merengek dan bertingkah seperti anak-anak begitu tidak akan membahayakan keselamatan nyawa kali.
Tadi memang sengaja aku menyuruh Vino untuk menjemputku. Walaupun Sam awalnya keberatan. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga kasihan sama dia apalagi mengingat punggungnya masih sakit. Jadi biarkanlah Sam beristirahat dari pada harus capek mengemudi bolak-balik dari apartemen ke rumahku terus ke apartemennya lagi.
Reaksi Vino tadinya sangat mengejutkanku begitu aku memberitahu kalau aku berada di apartemen Sam. Apalagi ini sudah malam. Vino awalnya juga ragu ketika mau menjemputku ke apartemen kalangan elite yang di tempati Sam. Tapi setelah sampai keraguan Vino sepertinya langsung sirna sudah. Begitu sampai dia tak langsung menuju kamar Sam tapi malah asyik berfoto ria dahulu untuk di gunakan sebagai ajang pamer. Dasar human!
Aku menatap jam di layar ponsel, pukul sembilan malam. Aku haus, dan aku ingin mengambil minuman dingin di dapur. Aku berjalan menuruni tangga. Sampai di ujung tangga aku sedikit terkejut karena ternyata Papa dan Mama belum tidur dan malah tengah asyik berbincang di depan Tivi.
“Astagfirullah. Papa sama Mama ngangetin aja.” Aku mengelus dadaku sendiri.
Mama mencibir. “Dih, emang mikir apaan melihat kedua orang tuanya sampai kaget segala.”
“Bayangin aja, ini udah jam sembilan Adel kira sudah pada tidur.” Aku segera masuk ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Ketika hendak kembali ke kamar, Papa tiba-tiba menghentikan langkahku. Dan aku terpaksa harus mendekat.
“Kenapa, Pa?” Tanyaku.
“Sini dulu.” Papa menyuruhku mendekat. Aku segera meletakkan gelas ke meja lalu mendekat ke Papa. Papa masih terlihat fokus menatap Majalah Bisnis yang saat ini berada di depannya. “Del ...”
__ADS_1
“Apa?” Aku semakin mendekati Papa.
“Ini Sam, kan? Sam yang sering ke sini, yang katanya sekarang pacar kamu?” aku mengerutkan kedua alisku. Papa menunjukkan sebuah halaman majalah tersebut ke arahku.
Dalam halaman majalah itu terlihat jelas foto Sam bersama kakek Robert. Sam yang berdiri dengan menggunakan setelan jas rapi, sedangkan kakek Robert duduk di sebuah kursi. Aku semakin menyipitkan mataku ketika menatap headline majalah tersebut.
Terungkap sosok cucu Pengusaha terbesar di kota ini.
Ternyata inilah beberapa potret sosok tampan cucu pengusaha nomor satu di negeri ini.
Ah ... Apa tidak bisa membuat headline berita yang lain saja? Yang lebih bermutu begitu.
Aku mulai tersenyum. Bukan karena Papa dan Mama yang akhirnya tahu siapa Sam sebenarnya. Tetapi aku tersenyum karena melihat foto Sam yang ada di majalah tersebut. Dia tersenyum, manis sekali senyumnya. Mungkin benar kalau orang yang jarang tersenyum dan berwajah dingin, sekalinya tersenyum pasti bisa membuat melting alias meleleh.
Dan Sam memang seperti itu. Bisa senyum juga toh kalau di foto. Ok, sepertinya besok aku harus mencoba berfoto bersama Sam.
“Del ...” Mama memanggilku pelan.
“Hah? Iya?” aku langsung terkejut. “K-kenapa?”
“Hm, itu Cuma foto, Del. Cuma lihat foto kok sampai melongo begitu sih.” Ucap Mama sewot.
Wah ini tidak benar. “Mana mungkin! Adel lagi baca beritanya.” Sanggahku.
“Enggak percaya anaknya, Pa. Sudah tertangkap basah juga.” Mama makin mencibir.
Papa kembali menutup majalahnya dan meletakkannya ke atas meja. “Bacanya nanti saja.” Aku segera tersenyum ke arah Papa. “Sekarang kamu lap dulu air liurmu itu.”
“PAPA!” Jeritku. Papa dan Mama berhasil tertawa melihat tingkahku.
Itulah yang aku sukai dari sifat Papa dan Mama. Papa tak pernah suka berbasa-basi. Dan Mama, walaupun cerewet tetapi Mama juga tak pernah suka ikut campur dalam urusanku. Seperti malam ini, Papa dan Mama juga sudah mengetahui siapa Sam sebenarnya. Tetapi reaksi mereka terlihat biasa saja. Tidak yang berlebihan dan membuatku risih.
##
“Zal ... Nanti kalau keluar gue titip soft drink, dong.” Aku menatap Rizal yang hendak berdiri dari kursinya.
“Tapi gue lama, lho. Lo tau sendirikan?” Rizal menghampiri mejaku.
“Iya gak apa-apa. Yang penting jangan lupa bawain.” Sebenarnya aku sudah tak tahan ingin minum yang dingin-dingin sih. Tapi rasa malas untuk berjalan sangatlah berat.
Malas.
“Siap deh! Apa sih yang enggak buat lo, Del. Jangankan soft drink. Hati gue kalo lo minta, gue juga bakal kasih.” Rizal tersenyum lebar.
“Semua cewek aja lo kasih hati. Ada berapa banyak sih hati lo sebenarnya, Zal.” Ucap Mbak Sari. Emak satu itu terlihat sangat penasaran dengan jawaban Rizal.
Dan sepertinya bukan hanya Mbak Sari. Aku pun juga sama, bahkan Mas Angga dan Tiwi juga sudah menghentikan aktivitasnya. Bersiap untuk mendengar jawaban Rizal.
“Ya elah, Mbak. Hati gue Cuma satu. Kalaupun ada dua, berarti ... Satunya punya Adelia.” Detik itu juga seisi ruangan tertawa keras mendengar jawaban Rizal.
Definisi fakboy yang sesungguhnya.
“Parah! Kata-kata lo benar-benar nggak ada tandingannya, Zal. Seandainya gue bisa lebih muda beberapa tahun, pasti bakalan banyak cewek yang deket sama gue. Secara gue belajar langsung dari sang maestro.” Mas Angga memberikan tepuk tangan ke Rizal.
“Dih, maestro apaan? Maestro gila.” Kataku tak terima.
__ADS_1
“Hahaha ... Gue setuju, Mbak. Cowok kayak Mas Rizal itu bahaya. Bikin makan hati terus.” Tiwi membelaku.
“Siapa bilang? Gue setia dan tulus. Buktinya gue sekarang gak punya cewek banyak.” Rizal tak mau kalah. Mana mungkin dia rela harga dirinya di jatuhkan.
“Iya lah. Setia, setiap tikungan ada!” sahut Mbak Sari.
“Tanjakannya jangan lupa, Sar! Gue pernah lihat kok dia jalan ke tanjakan arah puncak.” celetuk Mas Angga.
Aku semakin tertawa. Membongkar aib Rizal memang tak akan pernah ada habisnya. Bukan hanya Mas Angga, bahkan aku, Mbak Sari dan juga Tiwi masing-masing juga memegang aib Rizal. Dari sini kita bisa belajar, bahwa betapa gobloknya Rizal bermain.
Rizal hanya tersenyum. “Enggaklah, kan yang paling gue setiain ada di sini. Ya kan, Del.” Rizal mencubit pipiku gemas.
“Rizal lepasin!” jeritku.
“Panggil sayang dulu dong, baru gue lepas.” Mataku membulat menatap Rizal.
“OGAH WOY! GILA!” Semua tertawa mendengar teriakanku.
Sampai aku dan yang lainnya tak menyadari kalau Sam sudah berdiri dan menyaksikan kehebohan yang anak buahnya ciptakan.
Mbak Sari memberi kode ke Rizal dan juga diriku kalau Sam sudah berdiri menatap kelakuan kami.
Rizal yang tanpa merasa berdosa segera menoleh. “Pak ...” sapanya ramah. Bahkan tangannya masih berada di pipiku. Aku hanya menatap Sam kaku ketika melihat ekspresinya saat ini.
“Kamu ngapain?” tanya Sam datar sembari berkacak pinggang.
“Um, anu, Pak. Nggak kenapa-kenapa.” Sorotan mata Sam semakin tajam apalagi Rizal belum sadar juga untuk melepas cubitannya pada pipiku.
Aku segera menampik tangan Rizal. Lalu menatap Sam takut-takut.
“Kalian bisa tidak, sih. Kalau bekerja jangan bermain-main terus! FOKUS!” Sam mulai marah. “Rizal, bukannya kamu tadi saya suruh ke lapangan kenapa masih di sini?”
Rizal menggaruk kepalanya sembari tersenyum ke arah Sam. “I-iya, Pak. Sekarang.” Dia mengangguk lalu melesat pergi.
Kilat amarah di wajah Sam masih terlihat jelas. Dia kembali menatap Tiwi, Mbak Sari, Mas Angga dan juga aku dengan tajamnya.
“Kerja!” dengan cepat perintah Bos yang mempunyai sifat sebelas dua belas dengan setan itu langsung kami kerjakan.
Aku kembali menatap layar komputerku. Sam masih berdiri di tempatnya belum menandakan pergerakan untuk segera beranjak. Hal tersebut mengundangku untuk meliriknya sekilas. Tetapi saat aku meliriknya tanpa sengaja tatapan mata kami langsung bertemu.
Aku terkejut. Membuat deru jantungku mulai mengeras.
Sam itu manusia apa bukan sih?
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1
##